Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 83 Siasat Sean


__ADS_3

Terdengar sebuah ketukan di pintu, Sean langsung meminta tamunya untuk masuk.


" Masuk. " Suara bariton Sean.


Ternyata itu adalah Alvaro Adijaya, seorang yang masih termasuk kerabat dekat dengan Sean. Sean terkejut melihat kedatangan Alvaro, tidak biasanya saudara sepupunya itu datang mengunjunginya. Hal seperti ini sangat jarang terjadi kalau tidak ada yang penting.


" Hei Varo, mimpi apa aku semalam. Setelah sekian abad akhirnya saudaraku datang juga mengunjungi ku, mari silahkan duduk. "


Sean mempersilahkan Alvaro untuk duduk, tak lupa juga Ia menyajikan minuman yang selalu tersedia di lemari pendingin yang ada di ruangannya. Tak ketinggalan juga cemilan yang memang selalu tersedia disana.


" Ayo minum dulu Bro...! "


Sean menuangkan minuman bersoda itu kedalam gelas, mereka pun minum bersama.


" Tumben kamu datang kemari, kalau boleh tau ada hal apa yang begitu penting sehingga membuat mu mengunjungi tempat ku ini. "


Alvaro tersenyum, memang Ia sangat jarang menemui saudaranya itu. Itu semua karena kesibukannya yang begitu padat, apalagi belakangan ini Ia sedang membuka cabang yang baru dan itu membutuhkan perhatian penuh darinya.


Alvaro menceritakan maksud kedatangan nya ke tempat itu, nampak perbincangan keduanya cukup serius.


" Kamu yakin kalau itu adalah perusahaan miliknya. " Tanya Sean mencoba memastikan.


Alvaro mengangguk yakin, meskipun hanya kaki tangannya yang ikut hadir waktu itu, tapi Ia yakin dengan apa yang di sampaikan nya saat ini.


" Bagus sekali Varo, lakukan apa yang aku katakan. Aku ingin lihat, bagaimana caranya Ia tetap bisa menyombongkan harta kekayaan yang Ia punya saat semua itu tidak Ia miliki lagi. "


Di kediaman Angga


Asma mendapat pesan singkat dari seseorang, wanita itu terkejut melihat apa yang ada di layar ponsel nya. Asma mendadak gelisah, Ia mondar-mandir sambil bergumam tidak jelas.


Sean memarkirkan mobilnya di parkiran rumah Kanaya, Ia langsung ke tempat itu setelah mendapat telpon langsung dari Umi.


Sean berlari kecil masuk ke dalam rumah tersebut, Ia yakin kalau ada sesuatu hal yang penting sehingga wanita yang sangat di hormati Naya itu memanggilnya langsung.

__ADS_1


" Assalamu'alaikum. " Sean mengucap salam dan langsung di jawab oleh Umi Rahayu yang memang sudah menunggu kedatangan Sean.


" Waalaikum salam, ah Nak Sean. Cepat sekali datangnya, kamu nggak ngebut kan. "


" Nggak Umi, hanya saja memang tadi kebetulan Sean ada acara di sekitar sini. Pas Umi telpon acaranya selesai, jadi Sean langsung kemari. "


Sean sambil tersenyum, Ia terpaksa berbohong. Padahal yang sebenarnya dirinya memang ngebut agar bisa cepat tiba di tempat ini.


" Oh syukurlah kalau begitu, apa kamu sudah makan. Kalau belum biar Umi siapkan dulu, kamu makan dulu baru kita bicara. "


Sean menggeleng dan mengatakan kalau Ia baru saja selesai makan siang,


hingga akhirnya Umi mengajak Sean duduk di ruang tengah. Sean menurut saja, meskipun jujur Ia sedikit was- was dengan hal penting yang akan di bicarakan Umi Rahayu.


" Kamu pasti bertanya- tanya kenapa Umi meminta mu kemari. "


Sean terdiam, Ia mendengarkan dengan seksama apa yang di katakan Umi Rahayu.


Umi Rahayu menceritakan semua apa yang menjadi beban pikiran nya saat ini.


" Iya Umi, Sean juga sudah tau mengenai hal itu. Umi tidak perlu khawatir, Sean akan melakukan apapun agar kembar tetap bersama Kanaya dan juga Umi. InsyaAllah Sean sudah punya rencana untuk menghadapi Pria itu, Umi do'akan saja semoga semuanya lancar. "


Umi tidak pernah meragukan semua yang di lakukan Sean, karena kenyataannya selama ini Pria itu sudah banyak membantu mereka dalam segala hal.


" Baiklah Nak, Umi percaya padamu. Semoga semua usaha kita tidak sia- sia, tapi kamu harus tetap hati- hati, dia itu bukan Pria yang mudah untuk di kalahkan. Ia akan melakukan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. "


Pagi hari di kantor Erlangga Saputra Wardhana, Angga mendapatkan kabar baik dari Bimo sekretaris sekaligus orang kepercayaan nya dan juga sahabatnya sendiri.


" Syukurlah, akhirnya mereka mau menerima tawaran kerja sama kita. Bimo, usahakan agar kita terpilih bekerja sama dengan mereka. Kamu bisa bayangkan kalau perusahaan kita bisa menjadi bagian dari perusahaan itu maka akan banyak keuntungan yang akan kita dapat. Lakukan apapun dan kali ini jangan sampai gagal. "


Bimo mengangguk, Ia akan melakukan apapun yang di perintahkan oleh Angga meskipun kadang semuanya nampak mustahil untuk di raih.


***

__ADS_1


Asma langsung menyambut kedatangan suaminya, sejak tadi Ia sudah mondar-mandir seperti setrikaan hanya untuk menunggu kepulangan suaminya itu.


" Mas, bagaimana soal rencanamu. Apa Mas sudah bertemu dengan Mbak Kanaya. "


Angga tersenyum, hari ini Ia memang sedang bahagia.


" Sudah dan semuanya lancar, aku yakin akan bisa mendapatkan semuanya. Apalagi sepertinya dewi fortuna memang sedang berpihak kepadaku, kali ini aku yakin pasti menang. "


Asma menghela nafas berat, wajahnya semakin pucat dan gelisah.


" Mas, apa sebaiknya kita batalkan saja soal merebut mereka dari Mbak Kanaya. "


Angga mentap Asma dengan tatapan bingung dan juga tidak suka.


" Apa maksud mu Asma, bukannya kamu sendiri yang memberi saran ini agar aku memperjuangkan hak ku sebagai seorang Ayah. Lalu kenapa sekarang kamu meminta aku untuk menghentikan rencanaku. "


Asma gugup namun berusaha menutupi semuanya dengan bersikap biasa saja.


" Asma, apa ada yang kamu sembunyikan dari aku. " Tanya Angga penuh selidik.


Asma semakin ketakutan dan merasa terpojok, Ia berusaha mencari alasan yang masuk akal untuk di katakan pada suaminya agar Pria itu tidak semakin mencurigainya.


" Ah itu Mas, sebenarnya aku hanya kasihan pada anak-anak. Mas kan masih bisa menemui mereka meskipun tidak harus mendapatkan hak asuh mereka sepenuhnya, dan Mbak Kanaya juga tidak melarang Mas untuk menemui mereka kan. Aku juga janji tidak akan mengganggu mereka, Mas bisa menemui darah daging Mas tanpa ada gangguan. "


Angga menatap curiga pada Asma, tumben ucapannya kali ini benar.


" Tidak bisa Asma, aku harus memperjuangkan mereka. Bagaimana pun juga selama ini Naya sudah menyembunyikan kehamilannya dariku, dia juga menghalangi aku bertemu dengan mereka. Bukan hanya itu, Naya juga sengaja mengajarkan hal buruk pada anakku agar mereka membenci ayahnya sendiri. "


Asma masih berusaha meyakinkan Angga agar mengurungkan niatnya, namun suaminya itu keras dengan pendiriannya.


" Cukup Asma, kamu lebih baik diam dan sebaiknya kamu lakukan sesuatu yang berguna untuk ku. Siapkan air hangat karena aku ingin berendam. "


Asma akhirnya dengan berat hati melakukan apa yang di minta oleh suaminya.

__ADS_1


__ADS_2