Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 105 Pulang Kampung


__ADS_3

Pagi-pagi Bu Aminah bangun dan seperti biasa beliau langsung menuju ke dapur, namun setelah disana beliau tidak menemukan keberadaan asisten rumah tangga nya.


       " Dimana Susi, apa dia belum bangun. Dia pasti merasa terpukul dengan kejadian semalam, sudahlah biarkan saja dia istrahat. " Batin Bu Aminah.


Setengah jam berlalu Bu Aminah menoleh karena mendengar langkah kaki pelan menuju kearahnya, wanita tua itu mengerutkan keningnya.


       " Susi, kamu mau kemana, kok bawa koper begini ?. " Tanya Bu Aminah seraya menghampiri asisten rumah tangganya itu.


Susi dengan wajah yang nampak masih sembab akhirnya mengatakan maksudnya pada Bu Aminah.


        " Susi ingin pulang kampung Bu. " Jawab Susi pelan.


" Pulang kampung, tapi kenapa Sus. Apa kamu pulang kampung karena masalah semalam, sudah jangan di pikirkan kalau soal itu. Kamu tidak usah pulang ya, Ibu sudah nyaman ada kamu disini. Ibu jadi ada temannya. "


Tidak bisa di pungkiri kalau Bu Aminah ternyata menyukai asisten rumah tangga nya itu, itu karena Susi memang selalu bersikap baik selama bekerja disana.


Tidak lama kemudian muncullah Angga yang juga ikut bertanya ada hal apa.


       " Ada apa ini. " Tanya Angga.


Susi dan juga Bu Aminah menoleh, berbeda dengan Bu Aminah yang langsung menghampiri Putranya, Susi justru menunduk karena melihat kehadiran Asma disana.


       " Ini Nak, Susi tiba-tiba pamit pulang kampung. Ibu sudah meminta nya untuk tetap disini tapi dia tetap bersikeras untuk pulang. Bagaimana ini Nak. "


Asma tersenyum senang karena ternyata Susi sudah memilih pulang terlebih dahulu sebelum Ia mengambil tindakan.


       " Syukurlah Bu, biarkan saja dia pulang kampung. Aku baru saja akan memecatnya, ternyata dia tau kalau dirinya bersalah dan memilih berhenti dari sini. " Ucap Asma.


Angga dan Bu Aminah menatap Asma dengan tatapan tidak senang.


       " Kenapa Mas, tidak suka. Mas masih ingin membela wanita selingkuhan mu ini. Ingat Mas, dia ini berada disini karena siapa. Aku yang sudah membawanya kemari dan aku juga yang membayar gajih bulanannya selama ini, itu berarti aku berhak memberhentikan nya dari sini kapan saja aku mau. "

__ADS_1


Bu Aminah menghela nafas, beliau tidak bisa berkutik karena memang yang di ucapkan Asma ada benarnya. Kalau bukan karena menantunya itu, Ia tidak akan mungkin bertemu dengan Susi.


Berbeda dengan Bu Aminah yang mulai merelakan Susi pulang ke kampung halamannya, Angga justru tidak terima dengan ucapan Asma.


       " Kamu jangan seenaknya begitu dong Asma, jangan mentang-mentang kamu yang sudah bawa Susi kemari lalu kamu seenaknya memecatnya. Kalau kamu tidak sanggup membayar gajih nya maka biar aku saja yang bayar, aku masih sanggup kok. "


Terjadilah perdebatan sengit antara Angga dan Asma, mereka sama-sama merasa benar.


       " Cukup Angga, Asma benar. Biarlah Susi pulang kampung, mungkin ini lebih baik buat dia. "


Sontak saja suara Bu Aminah menghentikan perdebatan pasangan suami istri itu, Asma merasa senang karena mertuanya membelanya kali ini. Berbeda dengan Angga, Ia menatap penuh tanya pada Ibunya.


      " Bu, kok Ibu setuju dengan Asma sih. Bukannya selama ini Ibu sangat nyaman dengan keberadaan Susi disini, Ibu jadi ada temannya bukan. "


Bu Aminah tersenyum karena apa yang di katakan Putranya adalah benar adanya.


        " Sudahlah Angga. "


        " Berikan gajihnya bulan ini Angga, kalau perlu kasih dia pesangon lebih, bagaimana pun juga Susi sudah bekerja dengan baik selama ini disini. "


Angga mengangguk pelan, meskipun dengan berat hati Ia akhirnya mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya.


      " Ini untuk mu, kamu bisa pulang setelah sarapan. Aku yang akan mengantarkan mu langsung ke kampung halaman mu Susi. "


Asma terkejut begitu juga dengan Susi.


       " Nggak bisa gitu dong Mas, aku tidak akan mengijinkan kalian pergi berduaan. Aku tidak menjamin kalau kalian tidak akan melakukan sesuatu di luaran sana. Sudahlah Mas, biarkan dia pulang sendiri. Apa kamu punya kewajiban untuk mengantarkan dia pulang, nggak usah modus Mas Angga, lagipula bukanlah Mas juga harus bekerja. "


Susi mengangguk setuju dengan ucapan Asma, Ia bisa pulang sendiri dan baginya akan lebih baik kalau Ia pulang sendiri.


      " Terima kasih Pak, Bu. Tapi saya bisa pulang sendiri. "

__ADS_1


Bu Aminah pun setuju dengan apa yang di ucapkan Asma.


      " Sudahlah Angga, apa yang di ucapkan Istri mu itu ada benarnya. Lebih baik sekarang kita sarapan, bukankah kalian juga harus bekerja. "


Akhirnya Angga hanya bisa menghela nafas, Ia sarapan dengan cepat dan langsung berpamitan.


          " Bimo, apa yang aku minta sudah kalian dapatkan. " Tanya Angga pada sambungan telpon.


Ia mendengarkan dengan seksama sembari manggut-manggut.


      " Baiklah kalau begitu, oh ya apa ada orang suruhan mu yang saat ini berada di sekitar rumah ku. "


Angga mengatakan apa yang Ia inginkan pada Bimo asistennya dan kemudian tersenyum sebelum masuk kedalam mobilnya dan melesat pergi meninggalkan parkiran.


Di dalam rumah, Susi yang sudah selesai sarapan mulai berpamitan pada Bu Aminah dan juga pada Asma. Tak lupa Ia juga meminta maaf karena sudah membuat suasana tidak nyaman di rumah itu.


      " Tidak apa apa Susi, kamu hati- hati di jalan ya. "


Bu Aminah mengantarkan Susi sampai di gerbang, Ia baru masuk ke dalam rumah setelah mobil yang membawa Susi pulang kampung datang.


Asma bersorak kegirangan di dalam kamar karena pada akhirnya Susi pergi meninggalkan kediamannya.


      " Ah lega rasanya, akhirnya pelakor pergi juga. Bisa- bisa dia menggoda suami ku, berharap jadi upik abu, jangan mimpi. Sekali gadis kampung akan tetap jadi gadis kampung, jangan mimpi jadi Nyonya rumah. " Gumam Asma dengan tawa sinis.


Sementara di dalam mobil Susi berulang kali menghela nafas, sebenarnya Ia merasa berat meninggalkan kediaman Bu Aminah. Susi sudah merasa nyaman bekerja di rumah Bu Aminah, karena Bu Aminah selalu memperlakukan nya dengan baik selama ini. Beliau memperlakukan Susi seperti anak sendiri bukan seperti asisten rumah tangga pada umumnya.


      " Mbak, apa Mbak baik- baik saja. " Tanya Pak sopir.


" Ah iya Pak, saya baik- baik saja. " Jawab Susi sambil tersenyum.


" Alhamdulillah kalau begitu, oh ya kalau Mbak ingin istrahat tidak apa- apa. Mbak bisa tidur saja dulu, nanti kalau sudah mendekati tujuan baru Bapak bangunkan. "

__ADS_1


Susi mengangguk dan mengucapkan terima kasih, memang benar kalau dirinya saat ini sedang di landa ngantuk berat. Semalaman Ia memang susah tidur karena memikirkan keputusan apa yang harus Ia ambil.


__ADS_2