
Mobil yang di kemudikan Aulia tiba di kediaman orang tua Kanaya, Aulia turun dan memanggil satpam untuk membukakan pintu, karena sejak tadi satpam tidak kunjung menghampiri mereka.
" Pak, buka pintu pagarnya. " Pinta Aulia.
Satpam nampak memindai penampilan Aulia membuat wanita cantik itu tersenyum.
" Saya temannya Naya Pak, Nayanya ada didalam mobil sedang tidur sama Bi Nur. Kalau Bapak nggak percaya, Bapak bisa lihat sendiri. "
Mendengar nama Naya di sebut, dengan cepat satpam membukakan pintu pagar dan memeriksa kebenaran tentang apa yang di ucapkan wanita cantik di depannya itu.
" Ah Neng Naya, ayo Mbak silahkan masuk. " Satpam meminta Aulia memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
Aulia membangunkan Bi Nur, wanita berumur hampir lima puluh tahun itu membuka mata pelan.
Bibirnya menyunggingkan senyum, akhirnya setelah bertahun-tahun Ia bisa sampai ketempat itu lagi.
Naya pun ikut mengerjabkan mata memindai sekeliling.
" Eh sudah sampai ya Bi. "
Naya bangun dan membenarkan duduknya, Ia masih mengumpulkan nyawanya karena kesadarannya belum kembali sepenuhnya.
" Maaf Nak, gara-gara Bibi gerak- gerak Naya jadi kebangun. " Bi Nur merasa tidak nyaman karena membangunkan Naya yang nampak masih mengantuk.
Naya menggeleng pelan, justru Ia merasa tak nyaman karena membiarkan sahabatnya dan juga Bibi tetap berada di mobil.
" Nggak Bi, seharusnya Bibi bangunkan Naya sejak tadi. Yuk, kita masuk. Disini kan pengap. "
Naya turun disusul Aulia dan juga Bibi yang mengeluarkan koper Naya dan juga tas besar miliknya.
" Biar Mamang saja yang angkat, Bibi Nur ajak saja Neng Naya sama temannya masuk. "
Bi Nur mengangguk dan masuk kedalam rumah bertiga.
" Assalamu'alaikum, Umi, Naya pulang. "
" Waalaikum salam, Eh Neng Naya pulang. "
Bukan Umi yang menyambutnya tapi satu- satunya asisten rumah tangga yang di pekerjaan Naya untuk membantu Uminya.
" Iya Bi, oh ya Bi, Umi kemana kok nggak nampak. "
Bi Asnah tertawa kecil
" Biasa Neng, Umi mah di kebun belakang. Mau Bibi panggilkan Neng. " Tawa Bibi Asnah.
Naya menggeleng, Ia ingin bertemu dengan Uminya langsung.
" Bibi ikut Nak. "
Bi Nur dan juga Aulia ikut penasaran, mereka juga ingin melihat kebun Umi. Memang dari dulu Umi sangat suka berkebun dan tanamannya selalu tumbuh subur.
" Assalamu'alaikum Umi. "
" Waalaikum salam. " Jawab Umi.
Beliau menoleh dan langsung menghambur memeluk Putri nya.
" Nak, kapan sampainya. Kok nggak ngabarin kalau mau kemari. "
Umi mengurai pelukannya setelah melihat ada orang lain yang bersama Naya.
" Umi. " Bi Nur menghampiri Umi dan ikut memeluknya.
" Umi, Umi apa kabar. Masih ingat aku kan. "
Umi menatap Aulia intens dan tersenyum
" Tentu saja ingat, kamu Lia kan, temannya anak Umi. "
__ADS_1
Aulia memeluk Umi, Ia tidak menyangka kalau orang tua dari sahabatnya itu masih mengenalinya.
" Wah, nggak nyangka kalau Umi masih ingat sama aku, senang deh. "
Naya tersenyum melihat interaksi sahabatnya dengan sang Umi.
" Yuk kita kedalam, kalian pasti lelah perjalanan jauh. "
Mereka mengikuti langkah kaki Umi, Umi meminta Bi Asnah membuatkan minuman dan juga cemilan. Kebetulan pagi tadi Umi baru membuat gorengan dari singkong yang baru di cabut langsung dari kebun belakang.
Bi Nur ikut menyiapkan, keduanya nampak bahagia bisa bertemu lagi.
" Wah, nggak nyangka ya Asnah, kita bisa ketemu lagi. "
Asnah pun bahagia, Ia juga tidak menyangka akan bertemu lagi dengan temannya.
Mereka berbincang-bincang di ruang tengah sambil menikmati cemilan yang sangat enak. Umi merasa ada yang tidak beres, tidak pernah Putrinya itu pulang dengan membawa serta pengasuhnya.
" Nur, apa ada masalah. "
Umi langsung menemui Bi Nur setelah Naya mengantarkan Aulia untuk beristirahat di kamarnya.
Bi Nur bingung, ini bukan rananya menceritakan semua masalah yang di alami Naya.
" Nur, kok kamu diam. "
Semakin diam, Umi semakin di buat penasaran. Ia tahu sifat Bi Nur, wanita itu tidak pandai berbohong. Dengan diamnya Bi Nur, Umi makin meyakini kalau ada masalah serius yang terjadi pada putrinya.
" Baiklah Nur, biar Umi tanyakan saja pada Naya apa yang terjadi. "
Bi Nur mengangguk pelan, Umi menaiki anak tangga menuju kamar Putrinya.
" Assalamu'alaikum sayang, boleh Umi masuk. "
" Waalaikum salam Umi, boleh dong Umi. Sini....! "
" Bagaimana kabar cucu- cucu Umi Nak. " Umi mengelus perut Naya pelan.
Naya tersenyum, ada rasa bahagia di hatinya setiap kali membicarakan buah hatinya.
" Mereka baik Umi, sehat alhamdulillah. " Jawab anaya dengan senyum merekah.
" Syukurlah Nak, oh ya Nak. Maaf kalau Umi banyak tanya, apa ada masalah Nak. "
Naya terdiam, sama halnya dengan Bi Nur, Naya bingung bagaimana caranya menceritakan semuanya pada Uminya. Ia menghawatirkan kesehatan Uminya kalau sampai mendengar kabar kurang baik yang Ia bawa.
" Kamu juga diam Nak, berati kamu benar dalam masalah Nak. Apa Umi mu ini tidak boleh tau. "
Naya menggeleng pelan, Ia meraih kedua tangan Umi dan menggenggamnya.
" Maafkan Naya Umi, Naya tidak bisa menjalankan pesan Umi. Tidak sesabar dan sekuat Umi. "
Umi mencoba tersenyum, kali ini Ia yakin Putri nya saat ini sedang dalam kondisi tidak mengenakkan.
" Tidak apa- apa Nak, tidak semua orang sama Nak. Katakan pada Umi, ada apa. "
Naya menghirup banyak oksigen dan menghembuskannya dengan kasar, berulang kali Ia melakukan itu.
" Tidak apa- apa Nak, ada Umi. Apapun itu percayalah bahwa kita bisa melalui semuanya sama- sama. "
Umi mengelus kepala Naya pelan agar membuat Putri nya itu merasa nyaman.
" Mas Angga Umi, Mas Angga menikah lagi. "
Perasaan Ibu mana yang tidak terkejut sekaligus merasa sakit ketika Putrinya tertimpa masalah seperti saat ini.
" Menikah Nak, tapi kenapa ? terus sama siapa ?. " Tanya Umi lembut, jujur saat ini Ia benar-benar shock namun berusaha baik- baik saja.
" Iya Umi, Mas Angga menikah dengan keponakan Amang Usman yang ada di Banjarmasin. Mas Angga menikahinya karena wanita itu sudah hamil duluan. "
__ADS_1
Bak disambar gledek, Umi benar-benar terkejut dengan kabar yang di bawa Putrinya.
" Hamil, kok bisa Nak. "
Naya menceritakan semuanya tanpa ada yang di sembunyikan pada Uminya, karena percuma juga berbohong. Uminya pasti akan terus menanyakan masalah apa yang Ia alami.
" Mas Angga melakukannya pada Asma saat pertama kali Mas Angga ke Banjarmasin, waktu itu katanya hanya kecelakaan namun setelah sebulan berlalu Asma hamil. Mendengar Asma hamil, Mas Angga dan Umi menginginkan cucu itu karena waktu itu Naya di vonis Dokter tidak bisa hamil. "
Hati Umi campur aduk. Ingin marah, menangis jadi satu. Ia kecewa pada besannya karena tega menyia- nyiakan Putri nya.
" Lalu apa Angga tau tentang kehamilan mu Nak. " Tanya Umi.
Naya menggeleng, hatinya sakit mengingat masa depan buah hatinya kelak.
" Tidak ada yang percaya Umi, meskipun Naya sudah berulang kali mengatakan yang sebenarnya bahwa Naya juga tengah hamil anak dari Pak Angga. "
Bi Nur yang sejak tadi menguping pembicaraan Umi dan juga Naya tidak tahan untuk berdiam diri saja.
" Apa...... ? Bagaimana bisa mereka tidak percaya pada kehamilan Putriku Nur. "
Umi mulai terusik dengan sikap besan dan juga menantunya yang menurutnya benar-benar tidak adil.
" Itu semua karena vonis Dokter yang menyebutkan Naya mandul Umi. " Jawab Naya.
Umi mengepalkan tangannya, Ia tidak menyangka kalau orang yang mengerti agama seperti besannya itu bisa punya pikiran picik seperti itu.
" Memangnya Dokter itu Tuhan apa, Dokter juga manusia biasa, bisa melakukan kesalahan. Lagi pula siapa yang bisa melawan kehendak Allah, buktinya sekarang Putriku sedang hamil. Itukan pertanda kalau Allah sudah berkehendak apapun bisa terjadi. "
Bi Nur dan juga Naya diam sambil menunduk, keduanya yang selama ini merasakan langsung bagaimana perlakuan Angga dan juga Uminya.
" Sudahlah Nak, lalu sekarang bagaimana rencanamu selanjutnya Nak. Apa kamu akan tinggal disini atau kembali ke rumah itu. "
Naya akhirnya meneteskan air matanya, Ia sudah tidak kuat di posisi ini menceritakan semua yang terjadi.
" Naya sudah tidak bisa kembali kerumah itu Umi, karena...... karena Pak Angga sudah menjatuhkan talak tiga pada Naya. "
Duarrrrrrrrrt. ! !
Umi mengelus dadanya yang terasa sesak, Ia menatap Putri nya yang sudah menangis sambil menunduk.
Umi menarik tubuh Naya dan memeluknya, di elusnya pundak Putrinya dengan sayang.
" Tidak apa- apa Nak, tidak apa- apa. Sudah jangan menangis, Umi sedih melihatmu menangis seperti ini. Maafkan Umi, semua ini salah Umi. Umi yang sudah menjodohkan mu dengannya. Umi kira Dia Pria yang bertanggung jawab. Maafkan Umi Nak. "
Keduanya saling berpelukan, Umi mengusap air matanya yang jatuh di pipinya yang sudah mulai keriput itu. Hal itu disaksikan oleh Bi Nur yang juga ikut menangis.
" Tidak apa- apa sayang, sudah jangan menangis lagi. Ingat Nak, ada cucu- cucu Umi didalam sini. Mereka pasti ikut menangis kalau Mamanya menangis, iyakan Bi. "
Bi Nur mengangguk membenarkan, nampak kedua wanita itu berusaha tersenyum agar Naya tidak terus merasa terpuruk.
Malam itu Umi tidur bersama Naya, beliau tidak ingin meninggalkan Putrinya seorang diri. Bahkan sampai malam Umi tidak juga memejamkan mata, sebelum Naya tertidur.
" Umi, sudah malam. Apa Umi tidak ngantuk. "
Umi mengelus kepala Naya dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.
" Tidurlah Nak, Umi akan temani kamu disini. "
Naya yang memang lelah karena perjalanan siang tadi, belum lagi masalah yang menimpanya membuat matanya terasa berat dan akhirnya tertidur.
Umi mengelus kepala Naya pelan, air matanya akhirnya mengalir deras sembari menatap wajah lelah Naya.
" Jangan takut sayang, ada Umi Nak. Umi akan selalu menjagamu, kita akan sama-sama memikirkan masa depan mereka. "
Umi turun dari ranjang, masih berdiri dan menatap lekat- lekat wajah Putrinya.
" Aminah, kamu sudah menyia- nyiakan Putriku. Tanpa memberinya kesempatan mengatakan yang sebenarnya, kita lihat saja bagaimana jika kau tau kalau Putriku juga sedang mengandung darah daging Putramu itu. Semoga kau tidak menyesal dengan apa yang sudah kau perbuat padanya. " Batin Umi
Sekuat apa pun seorang Ibu berusaha tegar tetap saja akan merasakan kesedihan seperti yang Umi rasakan saat ini, hatinya benar-benar kecewa. Setidaknya untuk saat ini, dan mungkin hanya waktu yang akan menyembuhkan kekecewaan itu.
__ADS_1