
Ray membuka matanya perlahan, Ia terkejut mendapati dimana Ia berada saat ini. Lebih terkejut lagi ketika Ia melihat siapa yang sedang bersamanya.
" Dokter, kenapa Dokter ada disini, cepat pergi. Disini bukan tempat yang aman untuk orang seperti Dokter. " Ray merasa ketakutan.
Perasaan yang sudah lama tidak pernah Ia rasakan lagi, selama ini rasa itu seakan sudah mati. Namun entah mengapa saat ini muncul lagi, hanya karena melihat Dokter itu ada bersamanya.
" Jangan banyak bicara, bukannya kamu memang di tugaskan untuk menangkap aku dan membawanya kehadapan Pria itu. Tunggu apa lagi, cepat bawa aku kesana. Bersikaplah sewajarnya saja, anggap saja kalau kamu yang sudah menangkap ku. "
Ray masih berusaha menolak dan meminta Leony untuk meninggalkan tempat terkutuk yang sudah berada di depan mereka.
" Siapa disana. " Sebuah suara mengejutkan Ray, Ia sedikit gemetar.
" Ray, cepat. Jangan pikirkan keselamatan ku, aku tau apa yang harus aku lakukan. Cukup rileks dan lakukan apa yang harus kamu lakukan. "
Ray akhirnya menyerah, Ia keluar dari tempat persembunyian mereka. Ia menarik Leony yang sudah terikat.
" Ini aku, Ray. "
Para Pria tercengang melihat kedatangan Ray dan juga Leony.
" Kenapa diam, apa kamu ingin membuat mereka curiga. Cepat seret aku. " Bisik Leony.
Ray menghela nafas berat, akhirnya Ia menarik paksa tangan Leony. Leony sedikit menjerit sehingga membuat Ray menatap kearahnya.
" Jangan menoleh kearahku, aku sudah katakan padamu. Lakukan saja tugasmu dengan baik, jangan pedulikan apapun yang terjadi padaku nanti. "
Ray akhirnya menarik Leony, begitu juga dengan beberapa Pria yang telah lebih dulu masuk kedalam rumah.
" Wah, wah, wah..... salut, aku salut padamu Ray. Ternyata kamu bisa juga di andalkan, kamu bisa membawanya kemari seorang diri. "
Ray mengangguk pelan, jujur hatinya saat ini sedang tidak aman.
" Kalian boleh keluar. "
Albert meminta semuanya keluar dari ruangannya, satu persatu mereka keluar, hanya tertinggal Ray. Ia merasa takut untuk keluar, Pria itu tau bagaimana kejamnya Albert kalau sudah memberi hukuman.
Leony meminta Ray untuk segera keluar melalui kode, akhirnya walau ragu Ray keluar juga.
" Ya Allah, jangan sampai Albert menyakitinya. Apa yang harus aku lakukan, sebenarnya dia siapa. Kenapa aku begitu peduli padanya, rasanya aku tidak tega kalau sampai Ia disakiti Pria gila itu. "
Di dalam ruangan
Albert tertawa dengan keras, Ia merasa menang karena akhirnya bisa menangkap adik dari musuh bebuyutannya itu.
Albert menatap wajah Leony lekat- lekat, Ia diam- diam mengagumi kecantikan Leony.
" Ternyata cantik juga, tidak menyangka adik dari klan singa putih ini cantik. Tapi percuma, karenaย kecantikan mu tidak ada gunanya bagiku, aku harus segera membuat perhitungan denganmu secepatnya. "
Leony nampak santai saja, Ia bahkan tidak terlihat tertekan sama sekali.
" Apa kamu tidak takut padaku. " Tanya Albert sambal tangannya mengelus wajah Leony.
Bayangan beberapa tahun silam kembali berputar di benaknya sehingga membuat mata Albert membulat sempurna karena amarah yang memuncak.
" Kamu harus merasakan bagaimana penderitaannya bocah kecil. "
Albert memaksa mencium bibir Leony, Leony mengatupkan bibirnya agar tidak bersentuhan dengan bibir Pria itu.
" Buka mulutmu, tidak usah sok jual mahal. " Bentak Albert, Ia mencengkram dagu Leony dengan kuat hingga membuat gadis cantik itu meringis. "
Leony tersenyum sinis Ia mencoba santai walau tubuhnya mulai terasa sakit karena Albert benar-benar memperlakukannya seperti seorang laki-laki.
" Sepertinya kalau aku langsung membunuhmu rasanya itu tidak sepadan, bagaimana perasaan saudaramu itu setelah tau adik- adiknya menderita di tangan ku. Bahkan yang paling menyakitkan kalau Ia tau aku sudah menikmati mu lebih dulu sebelum ku bunuh. "
Di tempat yang berbeda
__ADS_1
William dan juga Haris terkejut dengan bunyi kaca mobil yang pecah, William hampir saja menabrak pembatas jalan.
" William tambah kecepatan, kita harus segera tiba disana. " Titah Sean
William langsung ngebut, Ia tau pasti ada sesuatu hal yang buruk telah terjadi pada saudara dari Bos besar mereka.
Haris menatap raut wajah Sean, benar-benar mengerikan, rahanganya mengeras.
" Bos, tangannya berdarah. Biar saya obati dulu. "
Melihat wajah Sean yang sudah tidak bersahabat lagi, Haris tidak berani menganggunya. Bukan hanya setahun atau dua tahun Ia menjadi bodyguard Pria itu, jadi baik dan buruknya Ia sudah tau.
" Hummmptt, ohh ternyata kamu bisa buat aku gila. "
Sean mengepalkan tangannya tanpa Ia sadari kalau sedari tadi kuku- kuku tangannya sudah melukai telapak tangannya sendiri.
" William, cepat kebelakang. "
Sean melompat kedepan mengambil alih kemudi, Ia melajukan mobilnya sampai batas maksimal. William dan Haris hanya bisa saling pandang, mereka berdua tidak berani berargumen.
Sean semakin kehilangan kendali ketika di ruang dengarnya mendengar sesuatu yang sangat mengerikan.
" Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhh........ "
Mereka tiba di tempat tujuan bertepatan dengan suara ******* panjang, membuat Sean langsung membabi buta. Sean melumpuhkan semua yang menghalanginya, dengan teriakannya yang begitu mengerikan.
" William, cepat masuk dan lindungi Bos, cari Nona Leony sampai ketemu. Biar disini aku yang tangani. " Pintar Haris.
Sean dan William benar-benar tidak mampu mengendalikan diri, mereka menyerang anak buah dari klan Cobra yang sepertinya tidak ada habis - habisnya itu.
Beberapa luka tidak dirasakan Sean lagi, Ia mematahkan beberapa leher dari para Pria yang mencoba menghalanginya.
Didalam juga terjadi kegaduhan, Ray juga sudah babak belur karena Ia sejak tadi di kepung oleh para Pria yang sebelumnya menjadi teman-temannya.
" Ahhhhhh..... Sssshhhttt. "
" Sial kau Pria brengsek, kau sudah mengambil ciuman pertama ku. "
Leony mendengar keributan di luar, Ia pun keluar dan melihat Ray sedang kewalahan menghadapi para Pria.
" Suittttt. " Leony memanggil satu persatu Pria dengan menggodanya.
Satu persatu Pria yang masuk tidak kembali keluar lagi.
" Ah, ternyata enak juga kerjaan seperti ini. Coba kemarin aku ambil jurusan kepolisian, wah aku pasti sudah gebukin mereka. "
Leony perlahan keluar dan membantu Ray yang mulai kelelahan.
" Hai, ikut aku. Kita bersenang-senang, mau nggak. "
Dua orang Pria yang melihat godaan Leony langsung mengikuti wanita itu.
" Dasar hidung belang, langsung nurut saja ketika akan di ajak bersenang-senang. " Batin Leony.ย
Setelah melewati banyak rintangan akhirnya Sean tiba di depan Ray.
" Kau..... kau..... Lionel. "
Sean berbicara sambil melawan beberapa Pria yang masih menyerang ketiganya.
" Lionel. " Gumam Ray.
" Sudah, tidak perlu bingung. Dimana Leony. " Tanya Sean.
Ray mengedarkan pandangannya kesana kemari namun tidak menemukan Dokter yang bersamanya sebelumnya.
__ADS_1
" Tunjukkan dimana ruangan Albert " Pinta Sean.
Ray menunjuk salah satu ruangan yang ada di tempat itu. Sean dan juga William segera keruangan yang di tunjuk oleh Ray.
William menendang pintu, pintu langsung terbuka namun tidak bisa di buka lebar.
Keduanya masuk kedalam ruangan itu, kening Sean berkerut melihat keadaan ruangan itu.
" Rara, kamu dimana De, ini Abang datang, Abang sudah ada disini. "
William memindai satu persatu orang yang sudah tertidur di lantai bahkan ada yang tumpuk- tumpukan.
" Sepertinya semuanya Pria Bos, tidak ada wanita sama sekali, saya tidak menemukan Nona Leony Bos. "
William memeriksa satu persatu Pria yang menempel ke lantai
" Aneh, sepertinya mereka semua pingsan Bos. Ini, saya temukan ini. "
William menyerahkan apa yang Ia temukan.
" Mereka semua pingsan, seperti sengaja di bius. "
" Di bius. " Tanya Sean, William mengangguk.
" Berarti Nona baik- baik saja Bos, dia sengaja mengumpulkan mereka semua disini. "
Mendengar itu Sean sedikit lega.
" Ayo berpencar dan temukan Leony secepatnya. "
Keduanya langsung keluar mencari keberadaan Leony, Sean juga ikut mencari Adiknya.
" Dokter, Dokter. " Panggil Ray
Ia terus mencari keberadaan Leony, Sean mendengar ada suara di dalam sebuah ruangan.
" Leony. " Panggil Sean.
Ia berlari menghambur kedalam pelukan sang Adik.
" Abang, kok Abang ada disini. " Tanya Leony.
Sean tidak menjawab pertanyaan Leony, Ia hanya memeriksa keadaan adik perempuan satu- satunya yang Ia miliki itu.
" Mana yang sakit, ada yang luka. Apa Pria itu sudah kurang ajar padamu. "
Leony memeluk tubuh sang kakak setelah melihat raut wajah Sean, Ia tau kalau saat ini Sean sedang sulit mengendalikan diri.
" Abang, Rara baik- baik saja. Tenang Abang, tenang. Rara baik- baik saja. " Bisik Rara di telinga Sean, Ia juga mengelus- ngelus pundak Sean.
" Tenang..... Abang, lihat aku. Aku seorang Dokter, aku juga seperti Abang. Bagaimana caranya mereka bisa menyakiti ku. "
Sean masih memeluk adiknya tanpa ingin melepaskan, sedangkan William masih menangani para Pria yang masih ingin beradu jotos.
" Rara, lain kali jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi. Kamu tau kalau tadi Abang hampir gila karena mendengar suara kamu, Abang kira dia menyakitimu. "
Rara mengelus pundak Sean pelan, memberi Pria itu ketenangan.
" Abang, Ray mana Abang. "
Leony melepaskan pelukannya ketika mengingat Ray, Ray yang sejak tadi berdiri di luar bersama yang lain perlahan masuk
" Aku disini Dok. "
Sean menatap wajah Ray dan tiba-tiba langsung memeluknya, hal itu membuat Ray dan Leony bingung.
__ADS_1
Sean menarik Leony dan juga Ray kedalam pelukannya.