
Angga patut berbahagia karena hal yang tidak pernah Ia bayangkan sebelumnya terjadi hari ini, ada hikmahnya juga Ia melepas semua beban masa lalunya. Kini kedua buah hatinya akhirnya mau memanggilnya sebagai Ayah.
" Sayang, kamu dari mana saja sih. Aku sejak tadi nungguin kamu loh, yuk temani aku memberikan ucapan selamat pada Kanaya. Lihatlah, sepertinya dia sangat bahagia di pernikahan nya kali ini. Mungkinkah dia sudah sangat mencintai suaminya itu. "
Asma menggandeng tangan Angga dengan senyum penuh kemenangan, Ia juga sengaja mengatakan banyak hal berharap terjadi sesuatu yang tentunya akan menguntungkan dirinya.
" Sudahlah Asma, kamu tidak usah memikirkan yang aneh- aneh. Dia berhak bahagia dan Pria yang di samping nya itu adalah orang yang baik, jadi wajar kalau Kanaya merasa nyaman bersamanya atau bahkan mencintai nya jauh lebih besar dari rasa cintanya padaku dulu. Sekarang lebih baik kamu mengucapkan selamat padanya mereka dengan tulus. "
Angga menepis tangan Asma dan memilih pergi menikmati hidangan yang di sediakan untuk para tamu undangan. Asma mendengus kesal, gagal Ia menggandeng tangan suaminya di depan mantan madunya.
" Mas Angga kenapa sih, selalu saja orang lain yang di bela. Sebenarnya siapa yang jadi istrinya, aku atau mereka. " Gumam Asma kesal.
Ia akhirnya memutuskan pergi karena sebenarnya Ia sama sekali tidak berniat untuk menemui kedua pasangan yang tengah berbahagia hari ini, apalagi memberikan ucapan selamat dan mendoakan kebahagiaan mereka.
Karena langkahnya yang terburu-buru Asma tak sengaja bertabrakan dengan seseorang, kemarahan nya semakin bertambah ketika melihat siapa yang kini sudah berada di depannya.
Sekuat tenaga Ia menarik tangan orang itu meskipun orang yang Ia tarik berusaha melepaskan genggaman tangannya.
" Diam Mas, Mas mau ikut dengan ku atau aku akan teriak sekarang agar semua orang melihat kita. "
Mendengar ancaman Asma akhirnya Danang mengikuti langkah kaki Asma, Asma menariknya ke sebuah tempat.
" Kamu darimana saja Mas, aku mencarimu kemana-mana. Apa Mas sengaja menghindari ku. "
Danang menepis tangan Asma karena merasa tidak nyaman.
" Aku bukan ingin menghindar tapi memang sudah seharusnya seperti ini. Asma, apa yang kita lakukan selama ini salah. Aku minta maaf padamu, aku minta kita sama-sama melupakan masa lalu. Kamu punya keluarga begitu juga dengan aku....... "
__ADS_1
" Apa maksud mu Mas, jadi gara-gara dia Mas menghindari ku. "
Danang enggan untuk berdebat, Ia lalu pergi meninggalkan Asma. Asma yang tidak terima dengan keputusan Danang mulai memikirkan banyak hal.
" Mas, tunggu. Mas Danang. "
Asma mengepalkan tangannya dengan mata memerah penuh amarah.
" Sialan kamu, aku akan buat perhitungan dengan mu. "
Tiba-tiba Ia merasa pandangannya burem dan mual, Asma segera berlari mencari toilet terdekat.
" Ueeeekkk. "
Asma terkejut ketika melihat pantulan dirinya di cermin, Ia mulai ketakutan dan menangis. Sementara di luar Bu Aminah tengah mencari keberadaan Asma.
Angga mengetuk pintu toilet dan memanggil nama istrinya itu berulang kali, begitu juga dengan Bu Aminah.
" Asma, apa kamu di dalam Nak. "
Asma yang mendengar suara Ibu mertua nya langsung panik, Ia mengambil tisu di dalam tas miliknya untuk membersihkan wajahnya.
" Gimana Bu, apa Asma di dalam. "
Bu Aminah menggeleng pelan, Ia tidak tau apa menantunya itu ada di dalam sana atau mungkin orang lain. Baru akan mendobrak pintu tiba-tiba pintu nya terbuka, nampak Asma dengan wajah pucat.
__ADS_1
" Nak, kamu tidak apa-apa kan. Wajah mu pucat sekali. "
Bu Aminah mulai panik melihat raut wajah Asma begitu juga dengan Angga.
" Iya Asma, wajah mu sangat pucat. Kita ke rumah sakit sekarang. "
Mendengar kata rumah sakit membuat Asma semakin panik, Ia mulai gelisah.
" Tidak apa-apa Mas, aku baik- baik saja. Istrahat saja sudah cukup. "
Angga menggeleng pelan, Ia tidak setuju dengan apa yang Asma katakan.
" Tidak Asma, kita harus ke rumah sakit sekarang. Bagaimana pun juga kamu saat ini tengah hamil, kamu mengandung anakku. Aku tidak mau hal buruk terjadi lagi padanya, ayo cepat kita ke rumah sakit sekarang. "
Angga menggandeng tangan Asma yang mulai ketakutan, Bu Aminah yang melihat ketakutan Asma merasa tidak tega.
" Sudahlah Angga, ini sudah malam. Mungkin benar Asma harus istrahat, kalau kamu masih ada urusan disini, biar Asma pulang sama Ibu saja. "
Angga akhirnya mengikuti perkataan Ibunya dan mereka kembali kerumah, Bu Aminah meminta Angga untuk tidur bersama Istrinya mengingat kondisinya saat ini. Angga lagi-lagi mengangguk dan ikut masuk ke kamar Asma, Asma tersenyum senang karena akhirnya suaminya kembali tidur sekamar dengan nya.
" Mas, Mas mau kemana. " Tanya Asma heran karena Angga mengambil bantal dan juga selimut miliknya, Ia melangkah ke arah sofa dan duduk disana.
" Tidak usah protes, aku memang ikut masuk ke kamar ini tapi jangan harap kalau hubungan kita akan kembali seperti dulu. Lagipula bukankah kamu sekarang sedang hamil muda, kata Dokter di trimester pertama di larang untuk melakukan hubungan intim jadi lebih baik sekarang kamu istrahat. Aku juga harus istrahat karena besok masih ada pekerjaan penting. "
Angga langsung memejamkan mata apalagi hari ini suasana hatinya sedang baik, bibirnya menyunggingkan senyum ketika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Perlahan Ia mulai memasuki alam mimpinya, berbeda dengan Asma yang sulit untuk memejamkan mata. Rasa takut dan juga amarah bercampur jadi satu.
__ADS_1
Ia memikirkan bagaimana nasibnya kedepannya, keputusan apa yang harus Ia ambil nanti. Pagi-pagi sekali Asma kembali masuk ke dalam kamar mandi dan lagi-lagi Ia melihat sesuatu yang keluar dari mulutnya, Ia segera membersihkan nya agar tidak kelihatan oleh orang lain.
......................