Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 47 Menyalahkan Ibu Mertua


__ADS_3

Bu Aminah masuk lebih dulu kemudian di susul oleh Angga, mereka berdua menghampiri Asma yang masih terbaring di brangkar rumah sakit dengan wajah pucat. Melihat kedatangan Angga, Asma yang kala itu sudah siuman langsung meminta agar dibantu untuk duduk, Angga dengan sigap membantu Asma duduk dan bersandar disisi ranjang rumah sakit.


" Bagaimana keadaan mu sekarang, apa yang kamu rasakan. "


Asma menatap Ibu mertuanya dan juga Angga bergantian, Ia melihat wajah keduanya yang sepertinya tengah bersedih.


" Ibu sama Mas Angga kenapa, kok sedih begitu. " Tanya Asma.


Dia memang belum mengetahui apa yang terjadi padanya, Ia hanya merasa nyeri di bagian perutnya. Asma mengira memang rasa sakit itu biasa, seperti yang Ia rasakan sebelum dirinya ke rumah sakit.


" Asma, sebenarnya ada apa dengan mu. Kenapa kamu sampai ceroboh seperti ini, bukankah Dokter sudah memperingatkan agar kamu bisa mengendalikan diri, jangan mudah emosi dan akhirnya berakibat fatal pada calon bayinya. Lalu kenapa sampai ini masih saja terjadi, sekarang kita kehilangannya. "


Angga yang sejak tadi mencoba menahan amarah di hatinya, tak kuasa lagi untuk memendam semuanya. Ia menumpahkan kekesalannya, walau hanya melalui lisannya. Kalau menuruti kata hatinya mungkin rasanya Ia ingin mengamuk atas kelalaian Istri mudanya itu, namun mengingat apa yang di katakan Ibunya, Angga mencoba untuk tenang.


" Apa maksudmu Mas, kehilangan. Kehilangan apa, bagaimana mungkin. "


Asma melihat ke arah perutnya dan mengelus nya perlahan, memang sudah tidak ada tonjolan disana.


" Iya, dia sudah tidak ada Asma. "


Mendengar itu Asma mulai histeris, Ia menatap Ibu mertuanya dengan tatapan penuh amarah.


" Ini semua gara-gara Ibu dan juga mantan Ipar sialan mu itu Mas. Mereka yang sudah buat aku kehilangan anakku, Aku membenci kalian, kalian pembunuh. "


Asma histeris dan mencoba menggapai Bu Aminah untuk Ia buat perhitungan, Angga yang melihat Asma histeris langsung memeluk tubuh Istrinya itu.


" Bu, cepat panggil Dokter. " Pinta Angga.


Bu Aminah yang bingung segera berlari memanggil Dokter, beberapa menit kemudian Dokter datang dan langsung memberi penanganan. Terpaksa Dokter menyuntikkan obat penenang agar pasien tidak histeris lagi.


Angga bertanya pada Ibunya mengenai apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Asma mengatakan kalau semua kejadian hari ini terjadi karena Ibunya dan juga mantan iparnya.


Bu Aminah menghela nafas dan menceritakan semua yang terjadi sebenarnya.


" Iya Nak, tadi Kevin datang kerumah, kata Pak satpam Ia mencari Umi Rahayu dan juga Naya. "


Angga menatap Ibunya, ingin tau lebih lanjut apa yang sebenarnya terjadi.


" Apa Kevin yang menyakiti Asma sampai Ia mengalami hal seperti ini. "


Bu Aminah terdiam untuk sesaat lalu kemudian menggeleng pelan.


" Tidak Nak, dia langsung pulang setelah Ibu menjelaskan tentang semua yang terjadi pada kalian. "


" Lalu kenapa Asma sampai seperti ini. "


Bu Aminah lagi-lagi menggeleng karena beliau pun tidak tau apa penyebabnya.

__ADS_1


" Ibu juga tidak tau, tiba-tiba saja dia di temukan pingsan di depan pintu oleh satpam. Kami langsung membawanya kemari tapi di jalan tadi kami terjebak macet sehingga Asma terlambat mendapatkan penanganan. "


Kedua Ibu dan anak itu akhirnya sama-sama diam, Angga memandang Istrinya yang sedang tertidur karena di suntikkan obat penenang.


Sore hari Kevin tiba di kota T, Ia langsung menuju ke alamat yang sudah Ia tau tempatnya. Kevin membunyikan klakson mobilnya dan nampak seorang Pria berlari membukakan pintu pagar.


" Eh Mas Kevin, mari masuk Mas. Semua sudah menunggu di dalam. "


Kevin segera berlari masuk kedalam rumah, Ia sudah sangat merindukan keluarganya.


" Assalamu'alaikum Umi. "


" Waalaikum salam. " Jawab semua yang ada di dalam rumah serempak.


Kevin langsung memeluk Uminya dan meminta maaf atas kesalahannya, karena tidak memberi kabar selama dua bulan belakangan ini.


" Maafkan Kevin Umi, Kevin tidak memberi kabar dan pasti membuat Umi sangat khawatir. "


Umi mengelus punggung Putranya dengan lembut, Kevin mengurai pelukannya ketika melihat adiknya yang duduk di sofa.


" Hei. "ย Kevin langsung memeluk kembarannya itu.


Tiba-tiba Ia merasa ada yang aneh, Kevin mengurai pelukannya dan melihat kearah perut sangat adik.


" Apa ini. " Kevin dengan iseng mencolek perut sang adik yang nampak menonjol.


" Hallo Om Kevin, kenalin. Kita berdua keponakannya Om. " Naya berbicara menyerupai suara anak kecil.


Kevin terkejut, Ia ingat betul apa yang di katakan Ibu dan juga Istri dari mantan Iparnya beberapa jam lalu.


" Maksudnya apa Dek, sekarang kamu hamil ?."


Naya mengangguk dengan senyum lebar, begitu juga dengan Umi yang memang begitu bahagia selama mereka pindah ke kota itu.


" Tapi kata wanita itu. " Kevin mengacungkan jari telunjuknya mengingat- ingat kejadian beberapa jam yang lalu.


" Wanita siapa Mas. " Tanya Naya.


" Wanita yang berada di rumahmu itu loh De. " Jawab Kevin.


" Maksud Mas di Jakarta, jadi Mas sudah kesana. "


Kevin mengangguk, Ia menceritakan semua yang Ia dengar di rumah mewah itu pada Umi dan juga Naya.


" Iya Vin, Umi juga sebenarnya kecewa. Sangat kecewa pada Bu Aminah, karena dia tidak mempercayai apa yang adikmu katakan. Mereka malah mentertawakan adikmu ketika dia berulang kali mengatakan kalau Ia sedang hamil, lebih kecewa lagi karena ternyata Angga tega menjatuhkan talak pada adikmu saat dia sedang hamil. "


Kevinpp menggeleng pelan, Ia memang menyayangkan sikap mertua dari adiknya itu, namun Ia merasa lega adik kesayangannya bisa keluar dari rumah itu. Kevin bisa membayangkan bagaimana tertekan nya sang adik seandainya masih berada di rumah itu. Tinggal serumah bersama seorang madu bukanlah hal yang mudah.

__ADS_1


" Tidak apa- apa De, Mas justru bersyukur kamu pulang. Melihat bagaimana sikap wanita itu tadi, kamu memang lebih baik disini. Apa mereka menyakitimu selama ini De. "


Kanaya menatap Uminya yang hanya terdiam, kemudian Ia menggeleng berulang kali. Naya tidak mau membuat masalah baru karena Ia tau pasti bagaimana saudaranya itu, Ia pasti akan membuat perhitungan pada orang yang berani menyakitinya.


" Nggak Mas, mereka tidak menyakiti Naya. Naya saja yang tidak mau dimadu oleh Mas Angga, jadi Mas Angga akhirnya menjatuhi talak karena Istri keduanya juga sedang hamil. "


Kevin yang mengambil cuti alias ijin pada sekertarisnya selama seminggu tidak ingin menyia- nyiakan momen bersama adiknya. Ia menuruti semua yang di inginkan Naya.


Di Jakarta


Asma sudah di ijinkan pulang namun Ia masih menyalahkan Ibu mertuanya sebagai penyebab terjadinya tragedi yang Ia alami.


" Jagalah makanan mu Asma, kamu baru saja keguguran dan tidak boleh makan sembarangan. "


Bu Aminah yang berasal dari banjarmasin tentu masih memegang teguh tradisi disana, tidak boleh wanita baru melahirkan atau keguguran makan makanan yang berlemak.


" Apa urusannya Bu, Ibu selalu saja mengatur apa yang boleh atau tidak boleh aku makan. Bilang saja kalau Umi takut makanannya habis aku makan dan Ibu merasa rugi untuk itu. " Jawab Asma ketus.


Angga yang mendengar itu langsung menegur Asma karena berbicara kasar pada Ibunya.


" Asma, tolong jaga bicaramu. " Hardik Angga.


Asma yang terkejut langsung menghempaskan sendok yang ada di tangannya, Ia mengakhiri makannya dan berlari ke kamar. Angga ingin menyusul namun Ibunya melarangnya.


" Angga, sudah biarkan saja. Kita harus memakluminya, bagaimana pun juga dia baru saja mengalami kejadian yang buruk. Butuh kebesaran hati untuk menerima semuanya. "


Angga tidak sependapat dengan apa yang di ucapkan Ibunya.


" Tapi Umi, ini tidak bisa dijadikan alasan untuk dia berkata kasar pada Ibu. "


" Sudah, tidak apa- apa. Ibu juga tidak apa- apa, lanjutkan saja makannya. "


Angga kembali melanjutkan makannya begitupun dengan Ibunya.


Angga kembali ke kamar, Ia mendapati Asma yang sedang berdiri di samping jendela. Sebenarnya Ia ingin marah namun ditahannya mengingat apa yang dikatakan Ibunya bahwa Ia harus bersabar.


" Asma, lanjutkan makannya. Tadi kamu baru makan sedikit.ย  "


Asma menatap Angga dengan tatapan penuh kemarahan.


" Tidak perlu pura-pura baik, Mas Angga pasti senang kan melihat aku seperti ini. Setelah ini pasti Mas punya alasan untuk kembali lagi pada Mbak Naya, iyakan. Dasar pengecut. "


Asma berkata sinis pada Angga, Angga mengepalkan tangannya mencoba menahan amarahnya agar tidak terlampiaskan saat itu juga.


" Hentikan omong kosongmu Asma, itu hal yang tidak mungkin meskipun aku juga ingin. Cobalah untuk bicara baik- baik dan jangan selalu marah- marah, bukan hanya kamu yang sedih atas kejadian yang kamu rasakan saat ini. Ibu bahkan aku juga sedih tapi lihatlah, kami bisa sabar menerima semua itu. "


Melihat perubahan di raut wajah Angga akhirnya Asma memilih diam, Ia tidak bisa terus - terusan seperti ini sebelum semuanya hilang dari jangkauannya.

__ADS_1


__ADS_2