Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 71 Syarat yang Sulit


__ADS_3

Mata Robert memerah menahan amarah, Ia melemparkan gelas tempat Ia minum ke sembarang arah dan berteriak histeris.


" Kenapa diam, apa paman sudah puas. "


Robert terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulut Albert.


" Oh, rupanya kamu sudah tau siapa aku. Baguslah kalau begitu, akhirnya aku tidak lagi harus berpura-pura baik di hadapan mu lagi. "


Albert menatap Robert dengan tatapan sinis, Pria itu tidak menyangka kalau selama ini dirinya hanya di peralat oleh Pria itu untuk balas dendam.


" Sekarang aku perintahkan kamu cepat tangkap gadis itu dan bawa kehadapan ku. "


Albert tertawa keras


" Aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh lagi apalagi mencelakai nyawa orang lain. Aku ingin hidup normal seperti orang lain pada umumnya.



" Kau berani melawan ku, ingat Albert. Aku masih punya Adikmu, kalau kau menolak apa yang aku perintahkan, aku tidak akan segan - segan membunuhnya sebagai gantinya. "


Bukannya takut, Albert malah tertawa keras mendengar ancaman yang sudah sering kali Ia dengar selama ini.


" Silahkan, lagipula aku juga ingin melihat bagaimana seorang Ayah bisa membunuh darah dagingnya sendiri hanya karena balas dendam yang tidak ada gunanya. "


Robert kembali murka, Ia tidak percaya kalau Albert akan mengetahui semua rahasia yang Ia coba tutupi selama ini.


" Kenapa, bukankah benar apa yang aku katakan. Asma bukan saudara ku, bukan Adikku. Kalian memang sangat kejam, memanfaatkan orang lain untuk kepentingan kalian sendiri. " Albert tidak ingin di tindas lagi seperti dulu, apalagi setelah Ia tau siapa dia sebenarnya.


Di tempat lain.


Ray menghampiri Leony yang nampak murung. " Ada apa kak, kok sejak tadi Lion perhatikan sepertinya kakak sedang memikirkan sesuatu. Apa boleh Lion tau masalahnya apa, siapa tau Lion bisa bantu atau sekedar memberi jalan keluar. "


Leony menggeleng, Ia mengatakan kalau dirinya baik- baik saja. Mungkin dengan ini semua akan merasakan baik- baik saja.


Di tempat lain.


Naya yang sedang berbelanja kebutuhan bulanan tiba-tiba di kejutkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya pelan. Ia sontak menoleh dan terkejut melihat siapa yang sudah berdiri di belakangnya.


" Ternyata benar itu kamu, sudah beberapa hari ini aku mengintaimu tapi tidak pernah ada hasilnya. "


Naya tersenyum ramah untuk menutupi kegundahan hatinya.


" Oh Mas Angga, hai bagaimana kabar mu Mas. "

__ADS_1


Giliran Angga yang terkesima, Ia tidak menyangka kalau Istrinya itu masih bisa bersikap ramah padanya setelah semua masalah yang mereka telah lalui bersama.


" Aku baik- baik saja, bagaimana dengan mu. "


Angga jadi luluh, Ia jadi lupa apa tujuan utamanya sebenarnya.


" Alhamdulillah kalau begitu. "


Obrolan mereka mengalir mulus, seakan di antara mereka tidak pernah ada masalah.


" Biar aku yang bayar. " Angga menawarkan diri.


Naya mengangguk saja, Ia takut Pria itu menjadi marah kalau mengingat semuanya.


" Ya sudah Mas, terima kasih atas traktirannya. Aku pulang dulu ya, sampai ketemu nanti, jaga dirimu dan salam untuk Ibu. "


Naya melangkah dengan cepat tanpa memandang kebelakang, Ia segera masuk ke mobilnya dan meninggalkan tempat itu.


Angga yang dari tadi senyam senyum baru sadar dengan apa yang Ia lakukan.


" Eh tadi itu kan Kanaya. " Keningnya berkerut.


Ia bingung dengan apa yang terjadi.


" Lalu kenapa aku masih berdiri disini, bukannya seharusnya aku mengejarnya. Mengikutinya agar tau dimana Ia bersembunyi selama ini. "


Tanpa pikir panjang Angga mengemudikan roda empat nya, Ia melaju menembus keramaian kota seraya melirik kanan dan kiri.


Kanaya menghela nafas lega setelah Angga melewatinya, tadi Ia mengambil jalan kecil agar Angga tidak mengenalinya.


" Halo Mas. " Naya menerima panggilan masuk dari ponselnya.


Meskipun bingung akhirnya Ia hanya mengangguk seolah sedang berhadapan dengan sang penelepon.


Benar saja apa yang mereka perkirakan terjadi, tidak jauh dari mereka mobil Angga sudah menunggu untuk mematai- matai dirinya.


Angga melangkah mendekat kearah mobil, niatnya ingin melihat sang pemilik mobil. Namun akhirnya Angga hanya bisa melongo melihat pasangan yang ada di dalam mobil itu.


" Sial, aku menunggu sejak tadi ternyata hanya untuk menonton pasangan suami istri yang sedang bermesraan. " Umpat Angga penuh emosi.


Ia meninju ruang hampa karena kesal. Ponselnya berdering dan ternyata itu dari sekertarisnya.


" Baik, aku akan segera kesana. "

__ADS_1


Angga meninggalkan tempat itu masih dengan perasaan kesal, sementara Sean hanya bisa tertawa dalam hati. Mungkin hari ini mereka lolos


Di ruangan khusus bawah tanah Sean menemui Naya dan juga Umi, mereka ingin membahas soal kelanjutan rencana mereka sebelumnya.


" Nak Sean, bagaimana. Apa Nak Sean sudah mengirimkan surat itu untuknya. "


Sean mengangguk, Ia menarik salah satu kursi dan duduk di hadapan kedua wanita itu.


" Sudah Umi. "


" Lalu, bagaimana tanggapannya. " Naya harap- harap cemas, sebenarnya firasatnya sedang tidak baik.


" Naya, sepertinya untuk berpisah dengannya tidak akan semudah yang kita pikirkan. "


Sean menceritakan apa yang di katakan oleh pengacaranya.


" Maksudnya apa, bukankah Naya tidak menuntut harta gono- gini. Seharusnya di permudah dong. "


Sean tersenyum, ini memang sedikit sulit.


" Dia mau menandatangani suratnya tapi dengan syarat, kamu harus mempertemukannya dengan kedua anak kalian. Bukan hanya itu, dia juga meminta hak asuh salah satu dari anak kalian. "


Naya terkejut, ternyata pirasatnya adalah benar. Itulah sebabnya Naya tidak pernah mengungkit soal perceraian. Mantan suaminya itu akan menjadikan hal ini sebagai senjata untuk melawannya.


" Aku tidak akan tega memisahkan anakku satu dengan yang lain, mereka akan selalu hidup bersama sampai mereka dewasa nanti dan menemukan jodohnya masing-masing. " Ujar Naya.


Umi setuju dengan apa yang di katakan Naya, kedua cucunya akan tetap bersama. Tidak peduli apapun yang terjadi.


" Sayangnya itu akan lebih tidak masuk akal lagi Naya, dia meminta mu untuk rujuk dengannya dengan alasan bahwa si kembar masih membutuhkan seorang Ayah. "


Naya dan juga Umi sama- sama menghela nafas.


" Apa dia sudah gila, bagaimana dia bisa meminta rujuk dengan Naya. Sedangkan dia sudah menjatuhkan talak tiga padanya. "


Umi geleng-geleng kepala, beliau tidak menyangka kalau jaman sekarang masih ada seorang yang egois. Entah egois atau memang bodoh.


" Tidak bisalah mereka rujuk, kalaupun rujuk mereka harus mengikuti hukum yang berlaku. Naya harus melalui pernikahan baru, dalam kata lain Naya harus menikah lagi dengan Pria lain, bagaimana sih. " Umi Rahayu mulai terbawa emosi.


Naya menghampiri sang Ibu seraya mengelus lengan wanita itu. Ia khawatir kesehatan Uminya akan terganggu karena masalah ini.


" Sabar Umi, Naya tidak mau Umi kenapa- kenapa. Sean, makasih atas bantuannya. Nanti kita bahas lagi, maaf karena selalu merepotkan mu. "


Di tempat berbeda, Angga tetap merasa kalau yang Ia lakukan adalah benar.

__ADS_1


" Lakukan apapun agar aku bisa bersama dengan anak-anak ku, tidak peduli berapapun biayanya aku tidak masalah. "


Lotus hanya bisa menghela nafas, tapi apalah dayanya. Ia hanya seorang pengacara, bagaimana pun caranya dia akan mencoba memenangkan kasus yang sedang Ia tangani saat ini.


__ADS_2