
Leony baru selesai memeriksa beberapa pasien, Ia ingin kembali ke ruangannya untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya. Tapi ternyata keinginannya tidak selancar apa yang ada di pikirannya.
" Dokter Leony, Dok. "
Leony menoleh, Ia melihat Suster Mega sedang berlari kearahnya.
" Iya, ada apa Sus. " Tanya Leony.
" Itu Dok, ada pasien yang terluka parah di kamar mawar, tapi pasien tidak mau di tangani oleh Dokter lain selain Dokter Leony. "
Leony mengerutkan keningnya, selama Ia bertugas disana, belum pernah Ia mendapati ada pasien seperti itu.
" Baiklah, ayo. "
Mega jalan lebih dulu sampai di depan kamar yang di sebutkan. Mega membukakan pintu untuk Leony, Leony masuk dan terkejut melihat siapa pasien yang di maksud. Ia hampir saja memaki Pria di depannya namun terhenti oleh suara Mega.
" Maaf Dok, saya......
" Tidak apa- apa Sus, pergilah. "
Mega mengangguk dan pamit undur diri, Ia memang sudah lapar dan ingin mencicipi bekal makan siang dari Ibunya.
Leony melangkah mendekat tanpa bicara, si pasien menatap Leony seakan ingin menerkam, apalagi pandangannya sejak tadi tertuju pada bibir Leony.
" Manis, sangat manis. " Gumamnya.
Tangannya di angkat ingin menyentuh bibir merekah milik sang Dokter, dengan sigap Leony menangkap tangan pasiennya dan menguncinya.
" Jaga sikap mu. "
" Awwhsss, ish cantik- cantik kok galak. Bukankah aku sudah mengecap rasanya kemarin. "
Bughhhh !!!!
" Awwwhhhh. " Rintih Albert ketika Leony memukul dengan keras lengannya yang terluka.
Bahkan saking kerasnya pukulannya, lengannya itu kembali mengeluarkan darah segar.
" Silahkan pergi dari sini, sepertinya luka mu ini hanya rekayasa, sama seperti kehidupan mu. Kau sudah mengganggu jam makan siang ku. "
Leony melangkah pergi namun di kejar oleh Albert, sambil merintih Ia meminta Leony untuk berhenti dan tidak meninggalkannya.
" Dokter, jangan pergi. Tolong aku. " Rintih Albert.
Tiba-tiba terdengar seperti benda jatuh, Leony langsung menoleh dan terkejut melihat Albert sudah tersungkur di lantai rumah sakit.
Ingin pergi namun tidak bisa, sumpahnya sebagai Dokter yang ingin menyelamatkan siapa pun orang yang membutuhkan tanpa memandang status membuatnya tidak bisa berkutik.
" Bangunlah, tubuhmu berat. Aku tidak bisa mengangkatnya sendiri. "
Albert dengan sekuat tenaga berpegangan pada tangan Leony, Ia berdiri dan menuju ranjang rumah sakit di tuntun oleh Leony.
Leony mulai memeriksa Pria itu, Ia terkejut melihat banyaknya luka di tubuh Albert.
" Ada apa dengannya, dapat dari mana semua luka ini. Tapi Ini lumayan dalam. " Batin Leony.
Ia mulai memasangkan infus ke tangan Albert dan mulai mengobati semua luka yang ada di tubuh Pria itu.
__ADS_1
" Namaku Albert. "
" Diam, aku sudah tau. Sebaiknya kamu diam atau aku akan membuatmu lumpuh seperti kemarin. "
Mendengar ancaman Leony, nyali Albert menciut. Ia akhirnya diam sambil memperhatikan wajah serius Leony yang sedang mengobati luka di beberapa bagian tubuhnya.
Leony merasa heran pada pasiennya, luka sedalam ini dan Ia menjahit nya tanpa lebih dulu menyuntikkan pereda rasa sakit.
Leony mencuci tangannya setelah selesai, Albert masih memandangi kepergian Leony tanpa lepas dari pandangannya.
" Hei Dokter, apa ini sudah selesai. " Tanya Albert.
Lagi - lagi Leony di buat bingung melihat tingkah Albert.
" Istrahatlah, aku pergi dulu. "
" Dokter Leony. " Panggil Albert lagi.
Leony menoleh, Ia melihat Albert yang memaksakan diri untuk berdiri. Leony segera berbalik membantu Albert.
" Istrahatlah, jangan banyak bergerak. Lukamu baru saja di obati dan belum sepenuhnya pulih. Kalau kau seperti ini lagi, jahitannya akan terbuka lagi. "
Leony kembali meninggalkan Albert, namun lagi- lagi langkahnya terhenti.
" Leony.....
Leony terkejut karena Albert memanggilnya dengan nama saja tanpa embel- embel pekerjaannya.
" Istrahatlah, aku hanya keluar sebentar. "
" Bu tolong bungkuskan satu yang seperti ini ya. "
Meskipun Ia tidak menyukai Albert karena sudah mengambil bagian yang berarti dalam hidupnya, namun Leony merasa tidak tega. Ia tau Pria itu belum makan sama sekali.
***
Di tempat lain
Asma merasa tidak enak badan, sudah dua hari Ia mual- mual.
" Ada apa Asma, apa kamu sakit. " Tanya Bu Aminah.
Asma menggeleng, Ia tidak merasa sakit namun perutnya yang tidak nyaman, itu membuatnya ingin mengeluarkan semua isi di perutnya.
" Asma, kapan terakhir kalinya kamu menstruasi, Jangan-jangan kamu....
Asma sedikit terkejut mendengar ucapan Ibu mertuanya, Ia mencoba ngingat- ingat tanggal terakhir tamu bulanannya datang.
" Sudah, tidak perlu kebanyakan mikir. Langsung saja ke rumah sakit, disana lebih akurat. Kita akan tau apa kamu hamil atau tidak. "
Asma tersenyum sumringah, Ia menyetujui apa yang disarankan oleh Bu Aminah. Ia berlari kecil kekamar, mengambil pensel dan juga kunci mobil.
" Ibu temani ya. "
Asma menolak, Ia ingin memeriksakan kondisinya sendiri.
" Bu, Ibu biar di rumah saja, nanti Asma kasih kabar kalau hasilnya sudah keluar. "
__ADS_1
Bu Aminah akhirnya mengangguk, Ia hanya berpesan pada Asma agar hati- hati di jalan.
Asma begitu bahagia, Ia sudah tidak sabar ingin sampai kerumah sakit. Asma bergegas masuk dan mencari Dokter yang pernah Ia temui beberapa pekan lalu.
" Eh kok nggak ada. "
Asma mengintip melalui jendela kaca namun tidak melihat siapa pun disana.
" Maaf Bu, anda sedang apa disini. " Tanya seseorang pada Asma karena sejak tadi Ia memperhatikan tingkah Asma.
Asma menoleh dan terkejut melihat kalau yang ada di belakangnya adalah Dokter Husna, Dokter yang dulu menanganinya ketika keguguran.
" Ah tidak apa- apa Dok, saya hanya ingin bertemu Dokter perempuan yang punya ruangan ini. "
Raut wajah Bu Husna langsung berubah, Ia menarik tangan Asma menjauhi ruangan itu.
" Maaf Bu, apa Ibu bisa ikut saya sebentar. "
Asma menurut karena Dokter Husna menarik tangannya.
" Ada apa sih Bu, kaya lihat hantu saja. "
Dokter Husna mencoba tersenyum, kelihatan sekali kalau Ia terpaksa.
" Bu, sekarang saya tanya Ibu Asma. Apa Ibu pernah bertemu dengan wanita yang ada di ruangan itu.
Asma mengangguk, karena memang Ia pernah bertemu. " Bukan hanya bertemu saja tapi saya...."
" Cukup Bu, sepertinya Ibu belum tau kisah tentang ruangan itu. Bu, ruangan itu sudah lama tutup, tidak pernah ada yang berani menggunakan ruangan itu lagi. "
Asma bingung, jelas- jelas Dia pernah keruangan itu sebelumnya.
" Apa Anda bercanda Bu, saya baru beberapa pekan ini bertemu seorang Dokter cantik disana. "
Kini Dokter Husna yang di buat merinding dengan apa yang di ucapkan Asma.
" Dokter cantik Bu, apa boleh tau siapa namanya. " Tanya Dokter Husna.
Asma mencoba mengingat- ingat siapa nama Dokter wanita yang Ia temui dulu.
" Ah namanya Dokter Rara, dia sangat baik. "
" A, apa !!!! Dokter Rara. " Dokter Husna terkejut dan sontak pulpen yang ada di tangannya terlempar.
Dokter Husna berusaha mengatur nafasnya sebelum akhirnya bicara.
" Bu Asma, sebaiknya Ibu jauhi ruangan itu karena pemilik ruangan itu atau Dokter Rara sebenarnya sudah tidak ada. Beliau sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. "
Asma terkejut, Ia menggeleng berulang kali, karena jelas- jelas Ia bertemu bahkan berbicara langsung dengan Dokter itu.
" Benar Bu, mungkin ini terdengar aneh, tapi sebaiknya anda lupakan saja semua yang berkaitan dengan ruangan itu. Ya sudah, sekarang Ibu Asma ada keperluan apa kerumah sakit dan ingin bertemu dengan pemilik ruangan itu. "
Asma menceritakan apa yang membuatnya datang kembali kerumah sakit itu.
" Baiklah Bu Asma, mari kita lakukan pemeriksaan lebih dulu ya, disana kita akan tau apa hasilnya. "
Asma menurut saja dan berbaring di ranjang yang berada diruangan Dokter Husna.
__ADS_1