Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 78 Perdebatan Angga dan Sang Istri


__ADS_3

Asma mondar-mandir di kamarnya, kali ini Ia tidak bisa menahan amarahnya meskipun sudah di beri nasihat oleh Tantenya.


Hal yang sama juga di rasakan Angga, sepanjang jalan Ia terus menggerutu. Itu semua di sebabkan oleh penolakan kedua buah hatinya. Ia juga tidak terima karena si kembar ternyata lebih memilih orang lain yang tidak memiliki hubungan darah ketimbang dirinya, Ayah biologis mereka.


Baru juga membuka pintu kamar, Ia langsung di sambut dengan suara keras dari Istrinya.


" Bagus.... ! senang ya hari ini menghabiskan waktu di luar. "


Angga menarik dasi dan juga melepas jas yang Ia pakai, merasa suaminya tidak menghiraukan ucapannya dan seolah menganggap dirinya tidak ada, Asma langsung melangkah dengan cepat dan menarik lengan suaminya.


" Mas belum tuli kan. Jangan pura-pura tidak dengar Mas, hanya karena tidak ingin keburukan mu di luar sana ketahuan, benar begitu kan. "


Karena terus di desak oleh Asma akhirnya Angga tak mampu menahan amarahnya lagi.


~ Prang !!! ~


Asma baru berhenti bicara ketika mendengar bunyi sesuatu yang pecah, mulutnya melongo sempurna setelah melihat kaca lemari pecah. Angga yang tidak mampu menahan amarahnya akhirnya melampiaskan kemarahannya itu pada kaca lemari.


" Hei, apa apaan ini Mas, apa Mas sudah gila. " Seru Asma yang tidak terima dengan apa yang di lakukan suaminya.


" Cukup Asma, aku bilang diam. " Bentak Angga.


Bu Aminah yang berada di kamar sebelah bergegas keluar, takut telah terjadi sesuatu karena mendengar kegaduhan di kamar sebelah. Ia masuk ke kamar anaknya dan terkejut melihat kamar yang sudah berantakan, pecahan kaca berserakan dimana-mana.


" Ada apa ini Nak, ada apa dengan kalian. " Tanya Bu Aminah khawatir.


" Tanyakan saja pada anak kesayangan Ibu itu, apa yang sudah Ia lakukan hari ini. "


Asma melipat kedua tangannya di depan dada, Bu Aminah menatap Putranya. Beliau ingin tau apa yang sebenarnya terjadi.


" Ada apa Nak. " Tanya Bu Aminah pelan, Asma tertawa sinis seolah mengejek.

__ADS_1


" Dia tidak akan bisa menjawab pertanyaan Ibu, itulah sebabnya dia marah dan memecahkan kaca karena aku bertanya apa yang dia lakukan hari ini. "


Angga berusaha menahan diri, kalau tidak mungkin sudah terjadi perang dunia kedua.


"Asal Ibu tau, hari ini Mas Angga berbohong padaku. Dia sudah menghianati aku, katanya berangkat kerja ternyata tidak. Hari ini Dia bersenang-senang di luar sana, pakaian rapi itu hanya menutupi kedoknya saja.


"


Bu Aminah memandang Angga dan juga Asma bergantian, Ia tidak tau mana yang benar di antara mereka berdua.


" Aku bilang diam Asma, kalau kamu tidak tau apa apa lebih baik kamu diam, sebelum aku kehilangan kesabaran ku. "


Terjadilah perdebatan di antara keduanya dan Bu Aminah hanya berlaku sebagai wasitnya.


" Mas bilang kalau aku tidak tau, Mas aku bukan anak kecil lagi. Asal Mas tau saja ya. Aku siang tadi ke kantor Mas Angga dan kata sekertaris Mas, kalau Mas hari ini tidak masuk. Mas ijin pergi kesuatu tempat, sedangkan hari ini Mas tidak punya schedule apapun di luar. "


Angga terkejut ketika mendengar ucapan Asma.


Asma tertawa mendengar ucapan Angga.


" Jelas saja aku tidak percaya, bukan tidak mungkin kamu melakukan hal yang sama. Kamu kan memang Pria tidak berperasaan, dulu saja kamu bisa nyakitin Mbak Kanaya yang sudah menemani mu selama puluhan tahun, apalagi aku. Kamu akan selalu punya alasan yang sama untuk melakukan itu. "


Bu Aminah menatap Asma, jujur Ia tidak suka dengan apa yang di katakan Asma saat ini. Ucapannya bisa saja seperti do'a untuk suaminya.


" Asma, cukup. "


Asma akhirnya memilih diam dan pergi meninggalkan kamar mereka. Selepas kepergian Asma, Bu Aminah menghampiri Angga dan bertanya mengenai penyebab terjadinya masalah hari ini.


" Apa kamu menemui mereka lagi Nak. " Tanya Bu Aminah.


Akhirnya Angga mengangguk dan menceritakan semua yang terjadi hari ini pada Ibunya.

__ADS_1


" Iya Bu, aku menemui mereka hari ini tapi mereka menolak ku. "


Dari wajah dan juga intonasi suaranya jelas terlihat kalau Ia sedang memendam kekecewaan dan juga amarah.


" Ini semua pasti karena Pria itu, dia sudah merebut perhatian anakku sehingga mereka berdua tidak ingin berada dekat dengan ku Bu. Bukan hanya itu, aku yakin kalau selama ini Kanaya juga mengajarkan pada mereka untuk membenciku, sebagai balas dendam karena aku dulu sudah menyia- nyiakan mereka. "


Sampai pada titik ini Angga masih saja selalu menyalahkan orang lain atas ketidaknyamanan yang Ia terima. Tanpa mereka tau kalau sedari Asma masih mencuri dengar apa yang mereka katakan.


" Sial, jadi wanita itu bersama kedua anaknya masih hidup sampai saat ini, dan mereka juga ada di kota ini. Bukan hanya itu, ternyata Mas Angga yang lebih dulu menemukan mereka di banding Mas Albert. Sial- sial, ternyata wanita itu memiliki banyak nyawa. " Batin Asma geram.


Di dalam kamar, Bu Aminah masih mencoba menasihati Angga agar tidak terlalu kecewa atas penolakan kedua buah hatinya.


" Sudahlah Nak, jangan terlalu di masukin hati. Ini sudah biasa, mereka bukan menolak Ayahnya, tapi mereka hanya belum terbiasa saja. Mereka itu masih terlalu kecil Nak, butuh waktu bagi mereka untuk menerima hal yang baru. Pelan pelan saja, rebut hati dan buat mereka nyaman. Ibu yakin kalau kelak mereka pasti akan bisa menerima kita. "


Angga akhirnya bisa sedikit tenang ketika mendengar saran dari Ibunya, mungkin benar apa yang di katakan sang Ibu.


" Baiklah Bu, semoga saja. Oh ya Bu, Angga ingin sendiri. Bisakah Ibu tinggalkan Angga sebentar. "


Bu Aminah mengangguk, Ia keluar setelah memberi semangat pada Angga dengan mengelus pundak Putranya itu.


Bu Aminah menoleh ke kiri dan kanan, mencari keberadaan menantunya namun tidak ada. Ketika menuju dapur ternyata menantunya ada disana, duduk sambil menikmati makan siangnya.


" Aku lapar Bu, apalagi setelah berdebat dengan Mas Angga. Apa Ibu juga mau makan. " Tanya Asma.


Bu Aminah menggeleng pelan, Ia tidak akan bisa menikmati makan siangnya dalam keadaan seperti ini.


" Tidak Asma, kamu makan sendiri saja. Ibu akan makan nanti bersama Angga. "


Asma mengangguk dan lanjut menikmati makan siangnya.


" Oh, ya sudah. Bodoh amat, bukan urusan ku juga mereka mau makan atau tidak, toh yang lapar juga bukan aku. " Batin Asma.

__ADS_1


Ia terus menikmati masakan buatan Ibu mertuanya yang menurutnya sangat pas di lidahnya, ya setidaknya di banding dengan masakannya yang bisa membuat setiap orang yang memakannya darah tinggi.


__ADS_2