Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 74 Melumpuhkan Robert


__ADS_3

Asma membawakan secangkir kopi untuk Angga, karena sejak tadi Ia mengintip suaminya yang nampak murung.


" Sayang, secangkir kopi untuk orang tersayang. " Asma meletakkan cangkir kopi buatannya di atas meja.


Ia memandangi Angga yang tetap melamun seolah tidak menyadari kehadirannya.


" Minumlah Mas, mungkin ini akan bisa membuat mood mu sedikit membaik. " Asma menyentuh pundak Angga.


Ia juga tersenyum manis pada suaminya itu.


" Ada apa ? Mas, kita ini adalah pasangan suami Istri, seharusnya Mas menceritakan kepadaku jika memang ada masalah serius. Tidak perlu ada yang di tutupi dan membuat Mas akhirnya seperti ini. "


Angga mendongakkan wajahnya menatap Asma.


" Meskipun jika aku tau kalau hal itu akan membuatmu terluka. Lalu bagaimana denganmu, apa kamu juga bisa terbuka padaku mengenai apa yang sudah kamu lakukan di belakang ku selama ini. "


Asma terkejut, Ia merasa tertohok. Hal itu membuatnya memilih diam.


Di tempat lain


Ray mengingat perkataan sang Kakak perempuan, bahwa kalau ingin bertemu saudaranya maka ruangannya berada di lantai atas. Karena penasaran Ray perlahan naik ke lantai atas, Ia mencari ruangan tempat sang kakak tertua berada.


Ray mengetuk pintu pelan, ketiga Pria yang ada di ruangan itu saling pandang. William ingin membuka pintu namun Sean melarangnya.


" Biar aku saja, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian. "


Sean membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang berada di depan pintu.


" Ada apa. "


Sean langsung luluh ketika melihat wajah adiknya, Ray tersenyum canggung. Ia takut sang kakak akan memarahinya.


" Boleh aku masuk Abang. " Tanya Ray.


Sean lama berdiri sebelum akhirnya mengangguk, Ia mempersilahkan Ray untuk masuk.


" Masuklah Dek. "


" Makasih Abang. "


William dan Haris melihat sekilas dan kemudian sibuk kembali dengan pekerjaan mereka.


" Duduklah. "


Sean mengambilkan sesuatu dari dalam lemari pendingin dan memberikannya kepada Adiknya.

__ADS_1


Sean duduk dengan menyilangkan kaki di atas kaki yang lain, begitu juga dengan tangannya.


" Abang, bolehkah aku ikut bersama Abang. Maaf, tadi Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Abang dengan yang lain. Aku.... aku bisa kok bantu Abang. "


Sean menggeleng pelan dengan raut wajah yang tiba-tiba tidak bersahabat.


" Tidak lion, ini sangat berbahaya. Kamu tinggal di rumah saja, biar Abang saja yang mengurus semuanya. " Ucap Sean.


" Tapi Abang, akan lebih baik kalau ada yang tau seluk beluk tempat itu dan aku. Aku tau dimana markas itu berada, apa yang Abang takutkan. Aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini, lagipula bukankah ada Abang. Abang akan selalu menjagaku kan, Abang pasti tidak akan menginginkan hal buruk terjadi padaku, bukankah begitu Abang. "


Haris dan William menyetujui apa yang di katakan Ray, bagaimana pun juga itulah yang mereka pikirkan sejak tadi.


Di markas klan Cobra.


Albert berusaha menjangkau langit- langit yang bisa membuatnya keluar dari tempat pengap itu. Sudah berapa kali Ia jatuh bahkan beberapa lukanya kembali berdarah ketika Ia terjatuh.


" Ah..... aku pasti bisa, sedikit lagi. " Gumam Albert.


Sekuat apapun Ia berusaha akhirnya Ia terjatuh untuk yang kesekian kalinya, Pria berparas tampan itu akhirnya menyerah dengan nafas tersengal- sengal sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.


Dari arah samping beberapa Pria nampak mengendap-endap.


" Stop Abang. " Mereka berempat bersembunyi di tempat yang aman.


" Ada apa Lion. " Tanya Sean.


Satu persatu kamera pengintai berhasil di lumpuhkan oleh Haris tanpa di sadari oleh para penghuni markas.


" Apa masih jauh, kita harus secepatnya bergerak sebelum salah satu dari mereka mengetahui keberadaan kita. " Saran Haris.


Ray mengatakan dimana markas besar klan Cobra, ruangan khusus buat ketua dari klan itu.


William melesat lebih dulu, Pria berpangkat kolonel itu dengan lincah berhasil masuk keruangan Robert.


Robert terkejut ketika melihat ada orang asing tiba-tiba berada di ruangannya.


" Brengsek, siapa kau. Berani- beraninya kau menyelinap di ruang terlarang ku, sudah bosan hidup ya rupanya. "


Robert menyeringai, Ia tersenyum sinis menatap William. Sedangkan yang di tatap nampak santai saja tidak ada perubahan di raut wajahnya.


" Besar juga nyalimu, sepertinya kamu tidak sedikit pun merasa takut padaku. "


" Sudah cukup bicaranya, lihatlah siapa disini yang takut. Aku atau Anda, Tuan Robert Anumerta. "


Robert melihat layar monitor yang ada di hadapannya, matanya membulat sempurna.

__ADS_1


" Kenapaย  ? Tempat ini sudah di kepung. Anda bisa lihat kalau saat ini Anda hanya tinggal seorang diri. Semua kaki tangan mu sudah di taklukkan oleh pihak berwajib. Kini tinggal giliranmu Tuan. "


" Pengecut, kalian main keroyokan. Tidak berani sendiri- sendiri, takut ya. "


William juga tersenyum sinis


" Lalu apa yang sudah kamu lakukan selama ini, bukankah kamu lebih pengecut dari kami. Sekarang Tuan Robert, tanpa buang- buang waktu silahkan Anda pilih. Melakukan perlawanan atau mundur pelan- pelan pengecut. "


Robert melancarkan serangan namun dengan di tepis oleh Albert. Pria berkepala plontos itu mengulang serangan namun lagi- lagi dapat di hindari oleh William.


Merasa malu, Robert menyerang dengan membabi buta. William dengan santai menangkis serangan Robert, hingga Pria itu mulai kelelahan.


" Kenapa Tuan Robert, apa hanya sampai disini saja kemampuan yang Tuan miliki. Sayang sekali, padahal aku masih ingin bersenang-senang, ternyata selama ini Anda hanya berlindung di bawah ketiak kaki tangan Anda yaitu. "


Robert mulai menyerang membabi buta hingga membuatnya kewalahan.


" Ahhh.....


Robert menjerit berulang kali ketika William dengan tanpa belas kasih melumpuhkannya.


" Cukup, jangan bunuh aku. Kau akan menyesal kalau sampai nyawaku lenyap. "


Robert menyalakan ponselnya dan dengan bangga Ia memperlihatkan sesuatu pada William, namun bukan William yang ketakutan melainkan dirinya.


William tersenyum sinis, tidak lama kemudian terdengar dentuman keras di sertai suara tawa dari Robert.


" Kalian yang ingin main- main denganku, sekarang kalian rasakan saja sendiri akibatnya. "


William menarik lengan Robert yang sudah Ia pasangi borgol, sampai pada rekan sesama profesi Ia menyerahkan Robert agar di tangani oleh pihak berwajib.


Di rumah sakit


Leony sedang menunggu pasien, beberapa waktu lalu sang Kakak telah menghubunginya, bahwa ada pasien yang sedang terluka parah.


Leony terkejut ketika melihat pasien yang dimaksud Sean.


" Albert, ada apa dengannya. " Gumam Leony.


Tubuh Albert dengan cepat di pindahkan ke atas brangkar dorong, Ia langsung di masukkan ke unit gawat darurat.


Leony begitu miris melihat banyaknya luka di tubuhย  Albert. Albert langsung mendapatkan penanganan serius, Leony juga langsung turun tangan merawat Pria tampan itu.


Robert berteriak minta di lepaskan, Ia juga mengucapkan sumpah serapah yang di tujukan pada William.


" Pria brengsek, awas saja kalau aku sampai keluar dari sini. Aku akan membuat perhitungan dengan mu. "

__ADS_1


" Diam Pak kalau Bapak tidak mau diam maka kami akan memberikan hukuman yang lebih berat dari yang harusnya Bapak dapatkan. "


__ADS_2