Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 79 Memperbaiki Keadaan


__ADS_3

Asma membuka pintu kamar pelan, Ia melihat kamar mereka yang masih berantakan sementara suaminya duduk sambil menyenderkan kepalanya di sofa. Ia juga nampak memijat- mijat pelipisnya.


Asma menghampiri dan menyentuh kepala suaminya, dia menggantikan posisi tangan suaminya. Angga terkejut ketika merasakan ada yang menyentuh kepalanya. Ia membuka mata pelan dan heran melihat keberadaan Istrinya yang tersenyum manis padanya.


" Sudah Mas, Mas diam saja. Biar aku yang bekerja, Mas akan merasa nyaman setelah ini. "


Angga sebelumnya menolak namun akhirnya pasrah karena memang sentuhan Asma begitu nyaman.


" Maafkan aku Mas, maaf karena aku selalu membuat mu tidak nyaman. Semua itu karena aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kalau sampai Mas meninggalkan ku. "


Asma mulai memberikan pijatan lembut, namun semakin lama bukan lagi hanya di kepala namun mulai menuruni dada bidang suaminya yang di tumbuhi bulu- bulu halus. Angga menikmati setiap sentuhan Istrinya, yang makin lama makin terasa berbeda.


" Yang, pindah yuk. Disini takut Mas terkena pecahan yang belum di bersihkan. " Bisik Asma tepat di telinga suaminya.


Tentu saja Angga langsung setuju, kalau sudah menyangkut urusan yang satu itu dia pasti tidak akan bisa menolaknya.


" Sudah Mas, kali ini biarkan aku saja yang bekerja. Mas cukup nikmatin saja setiap servisan dariku. "


Lagi- lagi Asma berbisik di telinga suaminya, meminta suaminya untuk diam saja menikmati apa yang akan dia berikan.


Benar saja, Asma menjalankan aksinya dengan sedikit brutal, sehingga membuat Angga tidak mampu menahan bibirnya untuk tidak mendesah.


Asma tersenyum penuh kemenangan, Ia merasa kalau soal urusan ranjang memang selalu dirinya yang menjadi juara.


Makin lama ruangan itu semakin panas, apalagi Asma melakukan perannya dengan begitu baik. Membuat Angga


merem melek, sudah banyak gaya yang Asma mainkan dan semua gaya itu membuat Angga semakin menggila. Angga yang sudah tidak tahan akhirnya berganti posisi, Ia balas menggempur pertahanan Asma.


Akhirnya keduanya merasakan hal yang sama, Asma mendesah setiap kali Angga menghujamkan miliknya terlalu dalam. Meskipun begitu Asma sangat menyukainya.


Entah sudah berapa lama mereka menghabiskan waktu, Angga akhirnya mempercepat permainan mereka hingga sampai finis. Erangan panjang serta semburan panas menandai berakhirnya perjuangan mereka.


Angga terjatuh tepat di samping tubuh Asma dengan nafas yang tersengal- sengal. Keduanya memejamkan mata sembari menikmati sisa- sisa kenikmatan yang baru saja mereka dapat.

__ADS_1


~ Kruyuk ~ kruyuk ~


Bunyi cacing yang sedang melakukan demo di perut Angga membuat Asma membuka mata, Ia menatap suaminya dan baru teringat bahwa memang suaminya itu belum makan siang. Berbeda dengan dirinya yang sudah menghabiskan dua piring sebelum berperang.


" Kamu lapar sayang. " Tanya Asma pelan.


Angga mengangguk masih dengan mata terpejam.


" Ya sudah, sekarang Mas mandi dulu. Aku akan bersihkan kamar ini, setelah itu baru kita keluar untuk makan.... ah iya, makan siang yang tertunda. " Asma tertawa geli


Angga mengangguk dan menuruti apa yang di katakan Asma, Ia melangkah ke kamar mandi tanpa menggunakan apapun sebagai penutup tubuhnya.


" Hati- hati, jangan sampai pecahannya melukai kaki mu. " Ucap Asma.


Setelah Angga menghilang dari balik pintu Asma bersorak kegirangan, itu semua karena rencana pertamanya berhasil.


" Oke Asma, sekarang lanjutkan rencana berikutnya. Jangan sampai salah kalau kamu tidak ingin kehilangan semua yang kamu impikan selama ini. " Asma menyemangati dirinya sendiri.


Ia turun dan mengenakan pakaiannya kembali, setelah nya Ia keluar mengambil untuk mengambil alat bersih- bersih.


Semua persendian nya rasanya ingin rontok saja, semua itu karena tadi Ia benar-benar menghabiskan semua kekuatannya untuk melayani suaminya.


" Asma, sedang apa. Angga mana, dia belum makan loh dari tadi. "


Asma menoleh dengan helaan nafas Ia mencoba bersikap baik pada mertuanya.


" Ah iya Bu, sebentar lagi. Mas Angga masih di kamar mandi, nanti setelah mandi baru makan. "


Bu Aminah mengangguk dan kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang di sore hari untuk mereka. Dengan hati dongkol Asma membersihkan kamar mereka dari semua kekacauan yang ada.


" Ah, kamu belum selesai juga tertanya. "


Angga mengelus perutnya yang lagi- lagi mengeluarkan bunyi, Asma tersenyum melihat ke arah suaminya.

__ADS_1


" Mas sudah lapar ya, sebaiknya Mas keluar saja lebih dulu. Kemungkinan Ibu sudah menunggu Mas di meja makan, karena Ibu juga belum makan. Aku akan menyusul nanti setelah semua pekerjaan ini selesai. "


Angga mengangguk dan melangkah keluar, benar saja di meja makan sang Ibu sudah menunggu kedatangannya dan semua hidangan sudah tersaji di meja makan.


" Ah Nak, akhirnya kamu keluar juga. Ayo Nak kita makan sekarang, kamu pasti sudah lapar kan. "


Bu Aminah menarik kursi untuk Angga dan mengambilkan nasi serta lauk untuk di nikmati oleh Putranya itu.


" Kenapa Ibu tidak makan saja, kenapa harus nungguin Angga. Ibu juga pasti sudah lapar, maafkan Angga ya Bu. " Angga merasa tidak nyaman pada Ibunya karena ikut menanggung lapar karena dirinya.



" Tidak apa- apa Nak, sudah nggak perlu minta maaf. Sekarang nikmati saja makan siangnya karena ini sudah sore. "


Keduanya makan dalam diam, hanya terdengar bunyi dentingan sendok yang bersentuhan dengan piring.


Asma keluar setelah Bu Aminah dan juga Angga hampir usai menikmati makan siangnya.


" Ah tidak apa- apa. "


Asma menarik kursinya dan duduk di sebelah suaminya, Ia mengambil makanannya sendiri. Meskipun sebelumnya Ia sudah menghabiskan dua piring namun perutnya kembali merasakan lapar karena pergulatan mereka tadi sudah menghabiskan begitu banyak energinya.


" Biar Asma saja Bu, Ibu istrahat saja. "


Asma meminta Ibu mertuanya istrahat dari pekerjaannya hari ini, meskipun tidak yakin namun akhirnya Bu Aminah mengikuti apa yang di minta menantunya.


Kapan lagi Asma mau mengerjakan pekerjaan rumah, hiting- hitung belajar begitulah pikir Bu Aminah.


Ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat, sementara Asma menyelesaikan sisa- sisa mereka makan sebelumnya.


" Sabar Asma, kamu tidak boleh marah. Ini semua demi kebaikan mu juga. " Batin Asma.


Sebelumnya Asma menghubungi Tantenya dan semua hal baik yang terjadi setelah kekacauan, itu semua adalah usul dari Tante Lili. Ia harus memperbaiki semuanya sebelum bertambah kacau.

__ADS_1


Asma bukannya tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah, karena dia juga bukan berasal dari orang yang berada. Hanya saja setelah menikah dengan Angga, dia ingin merasakan bagaimana menjadi orang kaya. Yang ada di benaknya waktu dulu adalah semua orang kaya di rumahnya hanya duduk santai saja, pekerjaan apapun di lakukan oleh asisten rumah tangga dan dia hanya cukup menikmatinya saja.


__ADS_2