Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 60 Menculik Sang Mafia


__ADS_3

Asma marah besar karena usahanya untuk melenyapkan anak dari Angga suaminya gagal. Sementara itu Umi, Naya dan juga si kembar beserta seluruh asisten rumah tangga terpaksa harus pindah tempat untuk yang kesekian kalinya, semua itu di lakukan agar mereka terhindar dari semua hal buruk yang tidak mereka inginkan.


" Maafkan aku Naya, tapi untuk saat ini, sepertinya kalian lebih baik tinggal disini. Tenang saja, disini InsyaAllah aman, karena tempat ini masih rahasia dan hanya beberapa dari kami saja yang tau. Meskipun begitu kalian tidak perlu khawatir, walau tertutup tapi tidak menyeramkan. Yuk, aku akan mengantarkan mu melihat seisi rumah ini. "


Sean mengajak Naya untuk melihat- lihat seisi rumah itu, tidak menyangka di pinggiran hutan ada tempat seperti ini.


Naya tersenyum, Ia begitu menyukai tempat itu. Tidak peduli dimana dan bagaimana tempat tinggalnya itu, yang terpenting saat ini adalah kenyamanan kedua bayi kembarnya dan juga orang- orang yang di cintainya.


Di tempat lain.


" Bagaimana Mas, apa Mas sudah menemukan dimana keberadaan wanita sialan itu. " Tanya Asma


Orang yang Ia temui menggeleng, Ia meneguk minuman beralkohol yang ada di tangannya.


" Mohon maaf Asma, Mas sudah mengerahkan semua team kita yang sudah terlatih hal ini, namun belum membuahkan hasil seperti yang kita inginkan. Sepertinya mereka memang sudah merencanakan ini semua dengan matang, atau kemungkinan besar ada organisasi yang melindungi mereka, sehingga sulit untuk di lacak. "


Asma nampak memaksa memutar otaknya, Ia harus bergerak lebih cepat sebelum menyesal nanti.


" Apa jangan- jangan mereka sudah tidak ada di dalam negeri, maksud Asma mereka semua pindah keluar negeri. Bukankah saudaranya yang songong itu masih berada disana. " Gumam Asma.


Pria yang di panggil Mas itu tidak sependapat dengannya, karena mereka sudah mengecek semua jadwal penerbangan, namun tidak ada yang menggunakan nama salah satu dari mereka.


***


Sean menyerahkan kertas yang Ia dapatkan dari Rara pada kedua pengawal kepercayaannya.


" Apa ini Bos. " Tanya Haris.


" Itu sketsa wajah dua orang yang kemarin sempat mengikuti Leony dari rumah sakit sampai di depan sana. Haris, coba kamu cocokan dengan semua foto- foto yang ada. "


Haris langsung melaksanakan tugasnya, Ia yang merupakan pawangnya komputer alias lacak- melacak tentu tidak sulit untuknya melakukan itu.


Tangan lihainya mulai berselancar di atas banyaknya deretan komputer di depannya.


" Ketemu. "


Sean dan William ikut melihat apa yang ada di depan layar, hampir sama persis dengan tangkapan CCTV yang ada di sekitar tempat itu.


" Adik dan kakak tidak beda jauh. " Gumam Haris.


William si kulkas nampak tidak berkomentar apapun, Ia adalah tipe lebih banyak bekerja dari pada bicara. Kelincahannya berpindah dari tempat satu ketempat yang lain tidak di ragukan lagi.


" Tunggu dulu, coba lihat dari kedua Pria ini. Yang ini terlihat seperti menyimpan amarah tapi coba lihat yang ini, sepertinya Ia berusaha menghalangi laju dari Pri di belakangnya. Bagaimana menurut kalian. "


William memicingkan matanya, dan Ia pun sependapat dengan apa yang di simpulkan oleh Haris.

__ADS_1


Di tempat lain


Lagi-lagi ada yang mendapat hukuman, kali ini cambukan.


" Bodoh, menangkap satu perempuan saja kalian berdua gagal. "


Salah satu di antara kedua yang mendapat hukuman cambuk itu sedikit memohon, tapi berbeda dengan Ray. Ia yang sudah sering mendapat perlakuan seperti itu memilih diam, baginya itu tidak ada apa- apanya.


" Aku berikan kalian kesempatan sekali lagi. tangkap wanita itu dan bawa dia kehadapan ku. Kalau kalian gagal lagi, maka nyawa kalian taruhannya. "


Petra mengucapkan terima kasih karena masih di berikan kesempatan untuk bekerja disana dan Ia berjanji, tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.


Lagi-lagi Leony merasa ada yang mengikutinya ketika Ia keluar dari rumah sakit.


" Baiklah kita akan lihat siapa mereka sebenarnya. " Gumam Leony.


Leony sengaja turun di sebuah pusat perbelanjaan, Ia dengan santai berpura-pura memilih barang seoalah akan membelinya.


Tiba-tiba seseorang menariknya kesebuah tempat tersembunyi.


" Diam, jangan buat sesuatu yang mencurigakan. " Bisik seseorang itu.


Leony menatap Pria yang sedang memegang lengannya, matanya beradu dengan mata seseorang itu yang ternyata adalah seorang Pria.


" Syukurlah. " Gumam sang Pria ketika seseorang yang menyebabkan Ia bersembunyi menjauh dari mereka.


" Cepat pergi dari sini, nyawamu sedang dalam bahaya. " Bisik Pria itu.


Tanpa sengaja Leony melihat tanda merah di tubuh Pria itu.


" Kau terluka. " Tanya Leony sembari memandang lengan Pria di depannya.


Dengan kelincahan tangannya Leony menyingkap sedikit baju yang di kenakan sang Pria, matanya membelakak sempurna ketika melihat banyak luka, baik yang sudah berbekas sampai yang masih mengeluarkan darah.


" Jangan pedulikan aku, cepat pergi dari sini, sebelum mereka menemukan mu. "


Leony mencoba kuat berdiri, meskipun Pria itu dengan susah payah mendorongnya agar pergi dari tempat itu.


" Aku adalah seorang Dokter, dan aku tidak bisa menelantarkan orang yang sedang terluka begitu saja, tanpa mendapatkan pengobatan terlebih dahulu. "


Keduanya nampak berdebat tidak ada yang mau mengalah. Pria yang tak lain adalah Ray mendadak gugup melihat rekannya melangkah kearah mereka.


" Cepat pergi dari sini. " Pinta Ray sedikit memohon.


" Aku tidak akan pergi, ada masalah apa sebenarnya anda dengan mereka. " Tanya Leony.

__ADS_1


" Mereka orang- orang yang sangat berbahaya, aku meminta kamu segera pergi. "


Leony si keras kepala menggeleng, Ia mengabaikan permintaan Ray.


" Aku hanya akan pergi dari sini bersamamu, kamu harus mendapatkan perawatan lebih dulu. Sekarang atau aku panggil mereka kemari. "


Terbalik, seharusnya seorang mafia yang mengancam targetnya, namun kali ini justru yang terjadi sebaliknya.


Kedua Pria dengan berseragam hitam saling memberi kode, dalam hitungan ketiga mereka nampak ancang-ancang menangkap seseorang namun gagal.


" Eh kok kosong, padahal tadi aku jelas- jelas melihatnya disini. " Ujar salah satu dari mereka.


" Sudahlah, ayo kita lanjut cari mereka lagi. "


Leony menculik Ray, dengan kelihaian yang Ia pelajari dari saudaranya membuatnya tidak mengalami kesulitan mencapai tujuan.


Mobil melesat dengan kecepatan penuh menuju sebuah tempat.


" Cepat masuk. "


Ray menatap wajah Leony, entah mengapa Ia tidak bisa menolak perintah gadis di depannya.


Ray melangkah masuk kedalam sebuah rumah, Ia menatap sekeliling sebelum akhirnya duduk.


" Buka bajumu. " Suara Leony terdengar sangat menyeramkan di telinga Ray, bahkan lebih menyeramkan dari Pria yang selama ini menyiksanya, itu yang ada di pikiran Ray.


" Kamu mau buka sendiri atau harus aku yang harus membukanya. "


Ray menggigil merasa di intimidasi oleh gadis di depannya. Baru kali ini Ia merasa takut pada terget yang seharusnya Ia culik. Dengan perlahan Ia mulai membuka pakaian bagian atasnya.


Leony memejamkan matanya, Ia merasa ngilu ketika melihat banyaknya luka di tubuh Pria itu.


" Ya Allah, datang darimana Pria ini, kenapa begitu banyak luka di tubuhnya. " Batin Leony. 


" Aku akan mengobati mu, tolong tahan sedikit ya, ini mungkin akan sedikit sakit. "


Leony mulai membersihkan luka yang ada di tubuh Pria itu, Ray sedikit meringis. Sekuat apapun Ia mencoba menahannya, tetap saja rasa sakitnya terasa.


" Kenapa kamu tidak berontak, kenapa kamu mengijinkan orang itu selalu menyiksamu. "


Ketika akan marah, Leony sengaja menekan kapas di bagian luka Ray, hal itu membuat Pria itu meringis.


" Cepat selesaikan pekerjaan mu, aku harus cepat pergi dari sini. "


" Kalau kamu tidak mau lumpuh sebaiknya kamu diam, aku bisa membuatmu tidak bisa bicara saat ini juga. " Ancam Leony.

__ADS_1


Ray terpaksa diam, hanya dia yang tau perasaannya saat ini. Semuanya campur aduk, ingin pergi namun kata hatinya menolak.


__ADS_2