
Pagi ini Kanaya bangun dengan tubuh yang lebih segar, Ia menatap Uminya yang masih memejamkan mata.
Naya turun kebawah dan ikut menyiapkan sarapan buat semua penghuni rumah.
" Neng Naya, sebaiknya Neng duduk saja, nggak usah ikutan masak. Biar Bibi sama Bi Nur saja yang masak, sebentar lagi juga kelar. Apa Neng Naya mau sesuatu, biar Bibi masakan buat Neng. "
Naya berpikir sejenak lalu menggeleng, sepertinya Dia tidak ingin apa - apa.
" Nggak Bi, Naya makan apa saja yang Bibi masak. "
Pagi itu mereka sarapan setelah semuanya berkumpul termasuk Umi, di rumah itu tidak di bedakan antara asisten rumah tangga dan juga majikan. Waktunya makan, maka semua akan makan bersama dan di meja yang sama.
" Nak, bagaimana kalau kita pindah dari sini saja. Setidaknya sampai kamu melahirkan, kita butuh suasana yang baru dan tenang sampai cucu kembar Umi lahir, bagaimana Nak. "
Setelah sarapan Umi mengajak semuanya duduk di ruang tengah untuk membahas tentang masa depan Naya, semalaman Umi sudah memikirkan serta mempertimbangkan semuanya dengan matang dan beliau yakin inilah yang terbaik untuk Putri dan kedua buah hatinya yang masih dalam kandungan itu.
" Naya terserah Umi saja, kalau Umi merasa itu baik untuk Naya pasti Naya akan ikut. Hanya saja Naya kepikiran sesuatu. "
Umi dan yang lainnya saling pandang, mereka setuju dengan semua usul Umi barusan.
" Kepikiran apa Nak. " Tanya Umi
" Bukan apa- apa Umi, hanya mikirin butik Naya saja. Kalau kita meninggalkan tempat ini bagaimana dengan butik Naya disana, kasihan Aulia kalau dia harus mengelolanya sendiri. "
Aulia tertawa kecil, Ia pikir apa yang membuat sahabatnya itu ragu ternyata soal butik yang selama ini mereka kelola bersama.
" Soal butik kamu tidak perlu khawatirkan Naya, bukankah selama ini semuanya baik- baik saja, InsyaAllah Aku dan yang lainnya akan mengelola butik itu dengan baik. Saat ini yang terpenting adalah kebahagiaan mu, kamu butuh ketenangan agar perkembangan baby twins maksimal sampai melahirkan nanti. "
Semua setuju dengan apa yang dikatakan Umi dan juga Aulia, akhirnya Naya menyerahkan semua pada Uminya.
" Tapi Nak, sebenarnya Umi ada sedikit kendala. "
Naya dan yang lainnya kompak menatap Umi, mereka penasaran dengan apa yang akan di katakan oleh Umi setelah nya.
" Ini soal Mas Mu Nak, dia baru dari sini tiga hari yang lalu, tapi sampai sekarang Umi hubungi ponselnya tidak pernah aktif. Untuk pindah dari sini kita harus memberitahu Mas mu lebih dulu agar dia tidak bingung mencari keberadaan kita nanti, tapi gimana caranya memberitahu. "
Aulia tersenyum mendengar kegundahan hati Umi dari sahabatnya.
" Nggak apa- apa Umi, yang penting pindahannya dulu. Nanti sambil Umi dan juga Naya menghubungi Kevin, siapa tau sekarang Kevin sedang ada pekerjaan di luar kota, jadi ponselnya tidak aktif. Tapi Aulia yakin kok kalau Kevin pasti baik- baik saja. "
Pagi itu setelah mereka diskusi akhirnya Umi memutuskan pindah rumah, Aulia ikut membantu kepindahan Naya sebelum Ia kembali ke Jakarta.
Di Jakarta
__ADS_1
Umi lagi- lagi membuat kegaduhan, wanita berumur kurang lebih enam puluh tahun itu tanpa sengaja menumpahkan teko air seninya lagi. Ia mulai berteriak memanggil- manggil penghuni rumah.
" Naya....... Nur...... kemari, cepat bersihkan kekacauan ini. Naya...... ish dasar pemalas, kemana saja mereka. " Teriak Umi Aminah yang masih merasa kalau kedua orang yang di panggil masih berada di rumah itu.
Tentu saja yang di panggil tidak akan mendengar, ketika akan memanggil untuk yang ketiga kalinya, Umi baru tersadar bahwa yang Ia cari sudah tidak ada disana lagi.
" Dasar menantu tidak becus, pembantu pemalas. Di panggil- panggil dari tadi tidak ada yang dengar, apa sudah pada budek ya. Nur.... Na..... "
Umi terdiam untuk beberapa saat sembari menatap kekacauan yang Ia buat, perlahan Umi berdiri dan mengambil teko serta membawanya langsung kekamar mandi, wajahnya berubah pucat ketika mencium air seninya sendiri.
Tentu saja baunya tidak nyaman karena sudah ada di dalam teko selama sehari semalam.
Dengan langkah gontai Umi melangkah keluar setelah selesai merapikan kamar tidurnya. Pekerjaan yang biasa di lakukan oleh orang lain, kini harus di lakukannya sendiri.
Umi menuju dapur karena perutnya mulai keroncongan, biasanya sarapan sudah tersaji diatas meja. Umi mengangkat tutup saji namun tidak ada apapun disana.
Di arahkannya pandangannya pada kamar menantu keduanya, namun pintu itu masih tertutup rapat.
" Apa Dia sudah sarapan. " Gumam Umi.
Umi mulai berkutat dengan peralatan masak, benda yang sudah tidak pernah di seutuhnya selama beberapa tahun belakangan ini, pagi ini perdana Umi kembali memasak.
Satu jam kemudian semua hidangan sudah tersaji di meja, Umi mengetuk pintu kamar Asma untuk mengajaknya sarapan.
Pintu kamar terbuka dan nampak Asma dengan penampilan acak- acakan, maklum baru bangun tidur.
Tidak berselang lama Angga pun bangun, Umi sedikit mengernyitkan kening.
" Angga, kamu belum berangkat kerja. " Tanya Umi heran.
Angga merenggangkan otot-otot tubuhnya dan terlihat santai.
" Kerja Umi, nanti jam sembi..... "
Angga terkejut melihat jam ditangannya sudah menunjukkan pukul sembilan tepat.
" Astaghfirullah, jam sembilan. Bagaimana ini, aku sudah telat. "
Angga mendadak gusar, Ia berlari kedalam kamar mandi. Hanya mencuci wajahnya saja, Ia kembali berlari naik ke lantai atas mencari pakaian kerjanya. Sambil mulutnya komat- kamit.
" Ya Tuhan, aku telat lagi. Ah semoga kali ini aku tidak kehilangan tender lagi, kalau selalu kehilangan seperti ini, lama-lama aku bisa bangkrut. "
Angga lari keluar dengan tergesa-gesa, Ia melihat sekilas Umi dan juga Istrinya sedang berada di meja makan.
__ADS_1
" Angga, sini. Sarapan dulu Nak. ". Panggil Umi.
Orang kaya ya, sarapan jam sembilan lewat. Angga ingin pergi namun Umi kembali memanggilnya.
" Angga, nanti kamu tolong cari asisten rumah tangga yang baru ya. Umi tidak bisa terus- terusan masak setiap pagi seperti ini. Istrimu juga, lihatlah. Dia bahkan tidak bisa di andalkan. "
Umi melirik sekilas pada menantu kesayangannya yang tengah menikmati sarapannya dengan lahap.
" Umi, Asma bukannya tidak bisa di andalkan, tapi sekarang kan Asma sedang hamil. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan bayinya, apa Umi mau tanggung jawab. Umi mau kehilangan cucu yang Umi sudah lama nantikan selama ini. "
Angga mengusap wajahnya kasar, sudah dirinya telat malah yang di bahas pembantu.
" Iya Umi, nanti Angga coba- coba nyari. Sekarang Angga berangkat dulu, ini sudah telat. "
Angga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, namun lagi- lagi Ia harus di uji kesabarannya karena terjebak kemacetan.
" Ah sial, kenapa harus macet sih. Biasanya juga lancar, giliran telat begini malah macet. "
Angga gelisah, setir yang tidak tau apa- apa pun jadi sasaran kemarahannya. Ia baru tiba di kantornya setelah jam sepuluh, dari dalam mobil Angga melihat beberapa Pria yang sangat Ia kenali keluar dari pintu utama.
" Oh tidak, jangan sampai mereka kembali sebelum menyepakati kerja samanya itu. "
Angga keluar dari mobil dan setengah berlari menghampiri beberapa rekan bisnisnya itu.
" Pak Mandar, bagaimana. Apa perjanjian kita sudah di sepakati. "
Pak Mandar berdiri dengan wajah menyiratkan kemarahan.
" Kerja sama apa, apa yang harus di sepakati. Perjanjiannya batal, perusahaan kami tidak bisa bekerjasama dengan orang lelet dan tidak bisa menghargai waktu seperti Anda. Mohon maaf, kami harus pergi, ada banyak kolega lain yang menunggu. "
Angga benar-benar frustasi, Dia mengejar Pak Mandar dan rombongannya namun tentu saja dirinya mendapatkan penolakan. Bukan hanya penolakan tapi juga rasa malu, karena banyak pasang mata yang melihat aksinya.
Karena tidak berhasil, Angga naik keruangannya. Ia memporak-porandakan isi ruangannya itu.
" Sialan kamu Mandar, bisa- bisanya kamu memutuskan kerja sama itu. Kamu sudah berjanji akan menerima kerja sama dengan perusahan ku, tapi apa yang kamu lakukan. Aku akan buat perhitungan dengan mu. "
Setelah ruangan menjadi seperti kapal pecah, barulah Angga menyadari perbuatannya.
" Apa yang sudah aku lakukan, rasa- rasanya hidupku semakin hari semakin kacau. Semua rasanya seakan berada di luar kendali dan sulit aku raih. "
Saat sedang frustasi ponselnya berdering dan ternyata itu dari Umi nya yang mengingatkannya untuk mencari asisten rumah tangga, bukan hanya satu tapi dua atau tiga sekaligus.
" Jangan lupa Angga, kamu segera cari secepatnya orang yang mau bekerja disini. Jangan hanya satu, kamu harus cari dua atau tiga. Satu untuk Umi, satu untuk Istrimu dan satu lagi buat masak dan bersih- bersih rumah. Umimu ini sudah tua, tidak mungkin mengerjakan itu semua. "
__ADS_1
Ingin rasanya Angga melempar ponselnya karena pikirannya yang sedang kalut, kalau sampai Ia tidak dapatkan jalan keluar yang lain maka siap- siap masalah lain yang akan Ia hadapi kedepannya nanti.