Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 122 Bekerja tanpa syarat


__ADS_3

Bu Aminah dan juga Erlangga masih setia menunggu Asma di rumah sakit, tiba-tiba ponsel nya berdering. Angga minta ijin pada Ibunya untuk keluar sebentar menerima panggilan.


" Ah iya hallo. "


" Iya, bantu aku ya. Kamu tau bagaimana kondisinya sekarang, tolong sampaikan maaf dan juga rasa terima kasih ku padanya. "


" Baiklah kalau begitu aku tutup dulu ya, makasih. " Sambung Angga lagi sebelum mengakhiri panggilan nya.


Angga kembali kedalam ruangan tempat Asma di rawat.


" Dari kantor ya Nak, emm sebaiknya kamu berangkat ke kantor saja, mengenai Asma disini biar Ibu yang jaga. Lagipula siang ini Tante mu juga akan tiba disini jadi kita bisa gantian. "


Angga berpikir sejenak dan kemudian mengangguk karena Ia memang punya pertemuan penting hari ini.


" Baiklah Bu, kalau ada apa-apa Ibu jangan lupa hubungi aku ya, atau minta bantuan Dimas langsung. "


Di kediaman baru Susi.


Susi tengah menikmati sarapan bersama Nenek dan juga adiknya, tiba-tiba terdengar bel rumah berbunyi.


" Biar Kakak saja Tia, kamu selesaikan saja sarapan mu. " Ucap Susi.


Ia melangkah keluar untuk membuka pintu, namun sedikit bingung melihat siapa yang datang.


" Ah kamu pasti Susi kan, kenalkan aku Kanaya. " Kanaya mengulurkan tangannya.


Susi tersenyum dan segera meminta tamunya untuk masuk.

__ADS_1


" Ah Ibu, Ibu yang punya rumah ini ya dan yang menawarkan pekerjaan. "


Kanaya sedikit ragu namun kemudian Ia pun mengangguk.


" Ah mari masuk Bu, maaf kami masuk ke rumah Ibu tanpa ijin dulu pada Ibu. "



" Tidak apa-apa, ini memang di sediakan untuk kalian. Ah iya, panggil Naya saja nggak usah panggil Ibu, seperti nya umur kita tidak terlalu selisih jauh. "


Susi merasa tak enak hati memanggil nama, sedangkan Kanaya mengamati penampilan Susi.


" Siapa dia, kenapa Ibu dan Mas Angga ingin sekali membantunya. " Batin Kanaya.


" Ah maaf Mbak, saya ambilkan minum dulu ya untuk Mbak nya. "


Baru saja Susi berdiri, Kanaya sudah menahannya dan memintanya untuk duduk saja.


Kanaya menyerahkan kartu namanya dan juga sebuah amplop pada Sisi, Susi menerimanya sambil tersenyum.


" Ah iya Mbak, terima kasih. Apa syarat yang harus saya bawa Mbak, saya hanya punya ijasah SMA saja. "


Kanaya tersenyum, kalau bukan karena permintaan orang lain tentu saja banyak syarat yang harus di bawa oleh Susi.


" Tidak perlu Susi, kamu hanya datang kesana saja kapan pun kamu siap bekerja. Setelah itu yang harus kamu lakukan hanyalah bekerja dengan baik, buktikan kalau kamu memang layak untuk pekerjaan itu. "


Susi mengangguk dan kembali berterima kasih, Kanaya kemudian berpamitan untuk pulang karena ada pekerjaan lain. Susi mengantarkan Kanaya sampai di depan pagar, Ia baru masuk setelah Kanaya pergi.

__ADS_1


Susi memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, siapa yang sudah begitu baik hati memberinya pekerjaan bahkan dengan bebas memilih pekerjaan yang Ia sukai tanpa membawa persyaratan lengkap.


Nenek Kasih dan juga Mutia juga saling pandang, mereka juga heran melihat raut wajah Susi.


" Ada apa Kak, kok kaya bingung gitu. " Tanya Mutia.


" Ah iya Nak, terus tadi tamunya siapa dan dimana, kok nggak di suruh masuk atau di sediakan minum gitu. "


Susi menggeleng pelan sambil memandang amplop yang ada di tangannya, Ia membuka amplop tersebut dan membaca satu persatu yang tertera disana.


" Ah ini Nek, tadi itu Mbak yang punya rumah ini, aku sudah memintanya masuk dan ingin menawarkan minum tapi Mbak nya nggak mau, katanya Mbak nya kemari cuma sebentar buat ngasih ini. "


Nenek Kasih melihat kertas yang ada di tangan Susi dan menanyakan apa isi kertas itu.


" Susi sebenarnya merasa aneh Nek. "


" Aneh kenapa Sus. " Tanya Nenek Kasih.


" Aneh saja Nek, Susi tidak mengenal Mbak tadi bahkan belum pernah bertemu sebelumnya, tapi orang tadi kok baik banget. Coba Nenek lihat ini, mereka menawarkan banyak pekerjaan dan Susi bebas memilih pekerjaan apa yang Susi sukai. Apa itu tidak aneh Nek, bukan hanya itu saja. Susi bahkan di bebaskan untuk datang kesana kapan saja Susi ingin bekerja dan juga tidak membawa syarat apapun, bukankah itu sangat aneh. "


Mutia juga sependapat dengan sang Kakak, bahwa memang semua yang terjadi pada mereka itu terasa ganjil.


" Iya Nek, seperti nya ini memang aneh. Apa mereka orang jahat, atau jangan-jangan ada orang yang menyukai Kak Susi secara diam-diam. Nek, apa lebih baik kita pergi saja dari sini. Mutia nggak mau kalau sampai ada yang berbuat jahat pada Kak Susi, biarlah kita hidup seadanya di kampung asal kita semua selalu sama-sama. "


Susi terdiam, Ia mengingat kejadian yang Ia alami beberapa bulan yang lalu, apa yang di katakan adiknya pun tidak sepenuhnya salah, Ia pernah mengalami hal itu sebelumnya.


" Ah, jangan terlalu berpikir buruk pada orang lain. Tidak semua orang di dunia ini jahat, berbaik sangka lah pada orang lain maka InsyaAllah kebaikan yang kita dapat. Lagipula tidak baik juga kalau kita kabur dari sini diam-diam, kalau menurut Nenek, sebaiknya kita coba dulu disini. Kamu coba dulu temui mereka dan bekerja dengan baik, kalau memang tidak nyaman baru kita pikirkan nanti bagaimana kedepannya. "

__ADS_1


Susi yang menyimak apa yang di katakan Neneknya pun akhirnya mengangguk, Ia setuju untuk menjalani semuanya dan berharap yang terbaik untuk mereka


...****************...


__ADS_2