Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 99 Salah Faham


__ADS_3

Masih dengan menahan amarahnya, Sean di sambut oleh Sonia, dengan senyum menggoda.


      " Ah sayang, akhirnya kamu kembali juga. Aku pikir tadi kamu akan pergi ninggalin aku sendiri disini. "


Lagi-lagi Sean menepis tangan Sonia, kali ini kesabaran nya semakin menipis. Ia melangkah mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya dan melemparkan nya ke atas meja tepat di depan Sonia.


        " Ambil itu dan pergi dari hadapan ku sekarang juga. " Ucap Sean dengan suara bariton nya.


Mata Sonia membelalak sempurna ketika melihat segepok uang berwarna merah.


      " Sayang, aku..... aku tidak perlu uang ini


. Aku kemari karena aku perlu kamu. " Ucap Sonia


Sean tersenyum devil, Ia sudah tau bagaimana watak wanita di hadapannya saat ini.


        " Terserah padamu, mau kamu ambil dan pergi dengan baik- baik atau aku panggil satpam untuk menyeret mu pergi dari sini. "


Mendengar ucapan Sean tentu saja Sonia gentar, Ia segera mengambil uang yang di berikan Sean untuk nya.


        " Baiklah, kali ini aku ambil. Tapi Sean asal kamu tau saja, aku kemari karena mencintai mu, bukan mencintai uang mu. Aku akan kemari lagi nanti, terima kasih. "


Sonia ingin memeluk tubuh Sean untuk berpamitan namun Sean segera menghindar, membuat Sonia hanya memeluk udara saja.


Sonia keluar dari ruangan Sean, Ia melihat uang yang ada di tangannya. Dengan senyum penuh kebahagiaan Ia mengibas- ngibaskan uang itu ke wajahnya.


      " Ah lumayan. " Gumamnya seraya mengecup uang yang Ia peroleh saat ini.


Sean kembali menghela nafas, Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesaran nya. Matanya terpejam sembari merasakan kepalanya yang berdenyut hebat, rasanya ingin pecah.

__ADS_1


Sean merogoh ponselnya untuk menghubungi Kanaya, sekali dua kali panggilan tidak juga ada jawaban.


         " Naya, angkat dong. Kamu pasti salah faham masalah tadi, makanya kamu langsung pergi. " Gumam Sean frustasi.


Sean terus mencoba menghubungi Kanaya sampai akhirnya membuahkan hasil, Kanaya akhirnya merasakan ponselnya bergetar ketika Ia turun.


        " Mas Sean. " Gumam Kanaya dengan kening berkerut.


" Iya Mas. "


Sean tersenyum dan menghela nafas lega ketika panggilannya tersambung.


        " Ah tidak apa- apa Mas, Naya.... ini kebetulan mau ada sedikit urusan di luar. "


Baru saja sambungan telpon berakhir, Kanaya melihat kedatangan Angga yang sedikit berlari ke arahnya.


       " Ah Naya....... kebetulan kamu disini. Ah ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, apakah kamu punya waktu, maksud ku... bisakah kita keluar sebentar atau makan siang begitu. "


Kanaya baru membuka suara ingin menolak ajakan Erlangga namun dengan cepat mantan suaminya itu memotong pembicaraan nya.


" Hanya sebentar saja Naya, cukup jam makan siang. Aku janji habis makan kita langsung balik. "


Akhirnya Kanaya pun mengangguk, Angga kembali menawarkan untuk satu mobil berdua namun Kanaya menolaknya.


" Maaf Mas, mau mobil masing-masing atau tidak sama sekali. " Ucap Kanaya sembari melihat jam yang berada di pergelangan tangannya.


Angga terpaksa mengiyakan daripada tidak jadi jalan bersama, Kanaya lagi-lagi memilih restoran terdekat dari kantor miliknya, itu untuk memudahkannya kembali.


" Katakan Mas, apa yang ingin Mas katakan. "

__ADS_1


Kanaya langsung menanyakan alasan apa yang melandasi mantan suaminya itu mengajaknya bertemu di luar.


" Naya, kita bahkan belum makan siang. Aku pesan dulu ya. " Ucap Angga


" Maaf Mas, tapi saat ini aku tidak ingin makan. Aku masih kenyang, kalau bisa Mas katakan saja apa yang ingin Mas katakan padaku. "


Angga sedikit kecewa namun tidak bisa memaksakan kehendaknya pada sang mantan Istri.


" Baiklah, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu. "


Kanaya mengerutkan keningnya, Ia tidak mengerti apa maksud dari ucapan Angga.


" Oh iya aku lupa, perusahan ku sudah kembali stabil dan ini semua berkat kamu. Makasih karena ternyata kamu masih peduli padaku, aku tidak tau kalau tidak ada kamu, akan bagaimana nasib perusahan ku saat ini. "


Angga ingin meraih tangan Kanaya namun dengan cepat Kanaya menarik tangannya.


" Sudahlah Mas, nggak usah berterima kasih padaku, itu semua karena semata-mata kebaikan Mas Sean. Satu lagi Mas, jangan pernah berpikir bahwa aku masih peduli padamu. Di antara kita sudah selesai, aku harap Mas masih ingat itu. Kalau sudah tidak ada hal lain yang ingin di bicarakan, aku ijin pamit. Masih ada pekerjaan lain yang harus aku selesaikan secepatnya. "


Angga terkejut mendengar jawaban Kanaya, Ia tidak menyangka akan mendengar kata itu dari mulut sang mantan.


" Baiklah sepertinya sudah tidak ada, aku pamit dulu, assalamu'alaikum. "


Kanaya meraih tas nya dan melangkah pergi meninggalkan Angga yang masih tidak percaya kalau Kanaya akan meninggalkan nya begitu saja.


Kanaya menghela nafas sebelum mengemudikan roda empat nya, Ia kembali ke kantornya. Sampai di ruangannya Kanaya meletakkan tasnya begitu saja, Ia menghempaskan bokongnya di atas sofa.


Kanaya kembali mengingat semua yang Ia lihat beberapa jam yang lalu.


" Konyol skali. " Gumam Kanaya di sertai tawa kecil, Ia menertawakan kebodohannya sendiri.

__ADS_1


" Bagaimana bisa aku mengira kalau Sean akan mencintai ku, apalah aku ini. hahaha.... hanya seorang janda. Sean sangat baik, dia juga tampan dan mapan. Dia bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. " Gumam Kanaya lagi.


Setelah merasa sedikit tenang, Kanaya kembali melanjutkan pekerjaannya. Beberapa kali Ia menghela nafas untuk mengurangi rasa sesak di dadanya, hal yang sama juga berlaku pada Sean. Ia ingin menemui Kanaya untuk menjelaskan kesalahan fahaman yang ada, namun kondisi saat ini tidak memungkinkan. Pertemuan yang harus melibatkan dirinya tidak bisa Ia tinggalkan begitu saja.


__ADS_2