Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 46 Tidak Bisa Di Pertahankan


__ADS_3

Iris mata Kevin mengikuti gerak- gerik Aulia, sebelum wanita itu duduk di kursi kebesarannya.


" Mas Kevin dari mana saja, mengapa tidak ada kabar sama sekali. "


Kevin menatap heran pada Aulia, Ia bingung apa yang menjadi maksud dari wanita cantik itu. Masalahnya hubungan mereka tidak sedekat itu, sehingga bisa membuatnya marah karena tidak memberi kabar selama dua bulan ini.


" Sudahlah Mas, maafkan aku. Seharusnya aku tidak punya hak untuk marah padamu, ambillah ini dan cepat hubungi mereka. Mereka pasti akan sangat bahagia setelah dapat kabar darimu. "


Aulia memberikan ponselnya pada Kevin, Kevin menerimanya meskipun ragu. Setelah ponsel beralih ke tangan Kevin, Aulia pergi meninggalkan Pria itu seorang diri.


Di kota T


Ponsel Naya berdering namun sang empunya masih berada di kamar mandi, Umi yang mendengar segera memanggil Putrinya.


" Nak, ponselnya bunyi terus dari tadi. "


Ponsel berdering lagi untuk yang kelima kalinya, Umi kembali memanggil Naya namun yang di panggil tak kunjung keluar.


" Nak, ini dari Aulia loh Nak. "


" Angkat saja Umi, Naya lagi sakit perut. " Sahut Naya dari dalam kamar mandi.


Ia terpaksa menjawab karena kasihan pada Umi nya, sebenarnya dia sudah tau kalau Aulia akan menghubunginya. Namun karena perutnya sudah sakit sejak tadi jadi dia memutuskan ke kamar mandi.


" Kamu tidak apa- apa Nak. "


Naya menjawab kalau dirinya baik- baik saja, akhirnya Umi pun menerima panggilan masuk itu.


" Iya hallo Assalamu'alaikum Nak, maaf. Nak Naya sedang tidak ada, jadi Umi yang angkat. Kalau boleh tau ada apa ya, biar nanti Umi sampaikan sama Naya. "


Umi terkejut mendengar suara di seberang telpon, Ia kemudian tersenyum bahagia. Beliau bersyukur karena yang mereka tunggu- tunggu selama ini akhirnya memberi kabar juga.


" Umi sama Naya baik- baik saja kan, Kevin sudah kerumah tapi Umi tidak ada disana. Kevin coba tanya ke tetangga dan katanya Umi kemungkinan ke Jakarta, itu sebabnya Kevin datang ke Jakarta. Tapi.......  Ah sudahlah, sekarang Umi dan Adek ada dimana, biar Kevin kesana hari ini juga. "


Kevin sempat bersedih mengingat kabar menyedihkan yang Ia dapat di kediaman Angga, namun mengingat ucapan Bu Aminah dan juga Istri baru Angga membuatnya sedikit lega.


" Astaghfirullah, Umi dan Adek ada disana. Kok Kevin lupa, baiklah sekarang Kevin langsung berangkat. Sudah ya Umi, assalamu'alaikum. "


Kevin meletakkan ponsel Aulia di atas meja, bersamaan dengan itu Aulia datang membawakan dua cangkir kopi dan meletakkannya di atas meja.


" Mas, minumlah dulu. Habis itu baru Mas berangkat kesana. "


Kevin menatap Aulia masih dengan tatapan bingung.


" Tidak perlu bingung Mas, ayo diminum dulu sebelum kopinya dingin. "


Kevin mengangguk dan mulai menyesap kopi buatan Aulia.


" Makasih. " Ucap Kevin tulus dari hatinya yang paling dalam.


" Makasih buat apa Mas. "


Aulia susah payah menahan diri agar tidak terlihat memalukan, padahal jantungnya sudah bertalu-talu apalagi melihat senyum dari saudara kembar sahabatnya itu.

__ADS_1


" Makasih atas semua bantuanmu pada Umi dan juga Naya adik ku. Aku tidak tau bagaimana jadinya Naya disini kalau tanpa kamu. "


" Oh, tidak apa- apa, santai saja. Naya orang yang baik, dimana pun dia berada dia akan menemukan orang baik pula yang siap mendukungnya. Lagipula Naya adalah sahabat ku, sudah sepantasnya aku menolongnya. "


Hati dan pikiran yang tidak sinkron, Ia meminta Kevin untuk bersikap santai saja, sementara suasana hatinya saja saat ini sedang tidak beres.


" Makasih juga minumnya. "


Wajah Aulia sudah memerah seperti kepiting rebus, Ia bahkan menggaruk- garuk pelipisnya karena salah tingkah.


" Ya sudah Lia, aku pergi dulu. Sekali lagi, terima kasih. "


Aulia mengangguk dan mengikuti langkah kaki Kevin, sebelumnya Ia menghela nafas dan mengusap dadanya pelan.


Di tempat lain


Asma menghamburkan semua barang yang berada diatas meja, Ia tidak terima karena Umi membentaknya di depan orang lain.


" Brengsek, tua bangka sialan. Berani- beraninya mempermalukan aku. " Teriak Asma.


Ia berteriak sambil memaki-maki mertuanya karena marah dan juga tidak terima dengan semuanya. Seolah melupakan kalau kamar mereka bukan kamar yang di fasilitasi kedap suara. Tentu semua ucapannya langsung terdengar oleh mertuanya yang kamarnya berada tepat di samping kamar mereka.


" Awwww sakit....... ! "


Asma memegang perutnya yang tiba-tiba terasa kram, karena sakitnya tak kunjung berkurang akhirnya Asma mulai berteriak memanggil Ibu mertuanya dan penghuni rumah lainnya.


Mata Asma melotot ketika melihat ada darah mengalir di kakinya, Ia semakin histeris dan melangkah kearah pintu. Asma membuka pintu dan kembali berteriak memanggil penghuni rumah yang lain.


Satpam berlari masuk kedalam rumah dan melihat majikannya yang sudah jatuh ke lantai, Ia berteriak memanggil Bu Aminah setelah melihat darah yang mengalir di kaki majikan barunya itu.


" Ada apa sih Pak, kok teriak- teriak, ganggu orang lagi istrahat. "


" Maaf Bu, tapi ini. Ibu Asma pingsan dan ada darah di kakinya. "


Mendengar itu Bu Aminah pun mendadak panik, Ia segera meminta satpam untuk menggendong tubuh Asma dan langsung membawanya kedalam mobil.


" Astaghfirullah Asma, Pak cepat bantu angkat, bawa ke mobil. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit, semoga tidak terjadi apa- apa pada mereka. "


Satpam menggendong tubuh Asma dan berlari cepat keluar, sementara Bu Aminah yang panik langsung menghubungi Angga.


" Ish kamu dimana sih Nak, genting begini di hubungi nggak di angkat. "


Bu Aminah mengunci pintu sebelum meninggalkan rumah.


" Pak, cepat. Bapak saja yang bawa mobilnya. Kita tidak punya banyak waktu sekarang. "


Satpam yang juga sama-sama panik pun mengangguk dan duduk di depan kemudi. Mobil melaju dengan kecepatan terbatas karena lalu lintas sedang macet.


" Maaf Bu, tapi didepan sepertinya macet. Kita tidak bisa tiba dengan rapat waktu ke rumah sakit. "


Bu Aminah juga bingung, mereka harus bagaimana. Angga yang di hubungi sejak tadi pun tidak ada kabarnya sama sekali. Ponselnya aktif tapi tidak ada jawaban.


" Apa ada jalan alternatif lain Pak, kita harus secepatnya keluar dari sini. "

__ADS_1


Satpam tidak yakin untuk mengambil jalan lain, karena kalau memutar akan memakan waktu lama lagi dan belum tentu juga lancar.


" Sepertinya tidak ada Bu.  "


Keduanya menghela nafas karena tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu. Jalan yang harusnya mampu di tempuh selama kurang lebih tiga puluh menit saja, kini mereka baru tiba di rumah sakit setelah dua jam lamanya.


Dokter mulai memeriksa keadaan Asma sedangkan Bu Aminah menunggu di luar dengan harap- harap cemas. Angga yang baru melihat ponsel nya dan langsung menghubungi Ibunya, setelah tau kabar mengenai istrinya Ia langsung tancap gas menuju rumah sakit yang di sebutkan oleh Ibunya.


" Ibu, bagaimana keadaan Asma, kenapa ini bisa terjadi. " Angga sangat khawatir takut terjadi sesuatu pada kandungan Asma.


Bu Aminah menggeleng pelan, Ia juga tidak tau apa penyebab menantunya itu pingsan, tiba-tiba saja satpam sudah teriak- teriak memanggilnya.


Pintu ruangan pun terbuka dan nampak Dokter Husna dan dua wanita cantik di belakangnya.


" Dok, bagaimana dengan kondisi Istri saya. Apa janinnya baik- baik saja. "


Dokter nampak bingung menyampaikan kondisi pasien di tengah keramaian.


" Pak Angga, bisa ikut ke ruangan saya. "


Angga langsung mengangguk begitu juga dengan Bu Aminah. Keduanya berlari kecil mengikuti langkah kaki Dokter Husna.


" Silahkan duduk. "


Dokter Husna mempersilahkan keduanya untuk duduk, Angga duduk gelisah dengan kondisi harap- harap cemas.


" Sebelumnya saya minta maaf, kepada Pak Angga dan juga Ibu. Saya juga sangat menyayangkan kejadian ini, bukankah sebelumnya saya pernah mengingatkan kepada Bapak agar kehamilannya di jaga dengan baik. Pasien juga tidak boleh berada dalam tekanan karena kandungannya yang sangat lemah. "


" Jadi maksudnya, janinnya tidak bisa di pertahankan begitu Dok. "


Angga bertanya dengan suara yang tercekat di kerongkongannya, apalagi melihat reaksi Dokter yang berulang kali menghela nafas.


" Mohon maaf Pak, kita harus melakukan tindakan secepatnya. Harus segera di lakukan operasi secepatnya demi menyelamatkan Ibunya, atau kehilangan keduanya. "


Angga terkejut, dunianya seakan runtuh ketika mendengar ucapan Dokter Husna.


" Apa tidak ada lagi yang bisa di lakukan Dok, untuk menyelamatkan janinnya. "


Dokter Husna menggeleng dengan wajah datar, meskipun Ia tau cerita mengenai hadirnya bayi itu tapi sebagai seorang Dokter tentu Ia ingin menyelamatkan bayi tidak berdosa itu, namun sayang sekali. Untuk saat ini hanya itu yang bisa mereka lakukan.


" Sayang sekali tidak ada Pak, janinnya sudah hilang setengah jam sebelum pasien tiba dirumah sakit ini. "


Angga tidak dapat menahan kesediaanya, Ia akhirnya menangis di depan Dokter dan juga Ibunya.


Tanpa mengucapkan apapun Angga langsung keluar meninggalkan ruangan Dokter Husna, hanya Bu Aminah yang berpamitan secara baik- baik.


" Lakukan saja yang terbaik Bu, terima kasih untuk semua bantuannya. Mohon maaf atas ketidak sopanan anak saya.


Bu Aminah keluar dan mendapati Angga sudah menunggu di ruang tunggu dengan wajah sedih.


" Ibu, kenapa semua ini terjadi padaku. Aku bahkan belum sempat melihat wajahnya tapi Allah sudah mengambilnya kembali, apa aku memang tidak pantas mempunyai keturunan Bu. "


Bu Aminah menggeleng pelan, meskipun Ia juga bersedih atas hilangnya calon cucunya tapi beliau harus berusaha tegar demi Putranya agar tidak terpuruk terlalu dalam.

__ADS_1


" Nak, stttt. Jangan bicara seperti itu, tidak baik. Asma kan sudah pernah hamil, berarti tidak menutup kemungkinan kalau nanti dia hamil lagi. Kalian bisa coba lagi, sabarlah jangan pesimis dulu. "


Bu Aminah menemani Angga di ruang tunggu dan membujuknya sebelum akhirnya mereka menemui Asma di ruangannya.


__ADS_2