Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 111 Menenangkan Diri


__ADS_3

Andin membuka mata perlahan, kepalanya terasa berat. Ia menoleh karena merasa ada yang menggenggam tangannya, Andin terkejut ketika melihat siapa yang sedang tertidur sambil menggenggam tangannya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang Ia lihat saat ini, mungkin dirinya terlalu berharap atau mungkin karena Ia baru bangun tidur dan nyawanya belum terkumpul semua.


Pintu terbuka perlahan, seorang wanita berseragam putih datang menghampiri nya. Andin menoleh kearah Danang dan juga kearah Suster bergantian. Suster nampak tersenyum, melihat raut wajah bingung Andin.


         " Bapak ini yang menjaga Ibu semalaman disini, sepertinya beliau begitu khawatir karena semalam suhu tubuh Ibu meningkat. " Jawab Suster.


Andin mengangguk pelan, Ia masih belum percaya apa yang Ia lihat dan dengar saat ini. Danang perlahan membuka mata, Ia melihat ada orang lain disana. Perlahan Ia menyentuh tangan Andin untuk memastikan kalau kondisinya sudah membaik.


       " Suster, bagaimana kondisi Istri saya. " Tanya Danang.


Andin terkejut mendengar ucapan yang keluar dari bibir Danang, baru kali ini Pria itu menyebutnya sebagai Istri. Suster tersenyum melihat wajah kusut Danang.


           " Alhamdulillah Pak, kondisi Bu Andin sudah mulai membaik. Mungkin hari ini sudah di perbolehkan pulang. "


Danang menghela nafas lega, Ia berterima kasih kepada Suster yang sudah merawat Andin. Suster berpamitan karena harus memeriksa pasien yang lain.


Andin menunduk ketika di ruangan itu hanya tinggal mereka berdua, Ia terkejut ketika tangan Danang mendekat kearahnya. Mungkin ada rasa trauma karena selama ini Pria itu selalu bersikap kasar padanya bahkan sering main tangan.


Andin melindungi wajahnya dengan tangannya hal itu membuat Danang menghentikan tangannya untuk tidak menyentuh Istrinya.


          " Untuk apa Mas Danang kemari. " Tanya Andin.


Danang merasakan ada yang aneh di hatinya, seakan ada ribuan jarum yang menusuk jantung nya hanya dengan mendengar pertanyaan Andin.


          " Maafkan aku. "


Meskipun kata itu terasa sulit untuk Ia ucapkan namun akhirnya dengan susah payah bisa keluar dari mulutnya. Andin memalingkan wajahnya kearah lain, semata-mata hanya untuk menyembunyikan kesedihan di wajahnya.


          " Maaf ! Untuk kesalahan yang mana ?. " Tanya Andin.


Setiap kata yang keluar dari mulut Andin seperti sebuah kilatan petir yang begitu menakutkan bagi Danang.


" Maaf dari semua perbuatan buruk ku. "


Danang mengatakan satu persatu hal buruk yang pernah Ia lakukan pada Istrinya itu.


" Cukup Mas ! Sekarang pergilah, anggap saja aku sudah memaafkan mu. Mulai sekarang Mas bebas kemana saja, bersama siapa saja, karena aku tidak akan pernah melarang mu. "

__ADS_1


Danang mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa sakit, Ia menghampiri Andin dan ingin mengatakan perasaan yang Ia rasakan saat ini namun Andin dengan pelan memintanya meninggalkan nya.


" A, aku....


" Aku ingin sendiri Mas, pergilah. "


Akhirnya Danang meninggalkan Andin sendirian di ruangan nya, sepeninggal Danang Arman yang sejak tadi bersembunyi karena melihat interaksi kedua sahabatnya langsung keluar dari persembunyiannya dan menemui Andin.


" Aku sudah bilang pergi Mas, kenapa.....


Andin tidak meneruskan ucapannya setelah melihat siapa yang datang. Arman tersenyum seraya menghampiri Andin.


" Masih pagi sudah marah-marah, marah sama siapa, apa aku melakukan kesalahan padamu hm.... "


Bukannya Ia tidak tau apa penyebab kemarahan Andin, namun Arman memang sengaja agar suasana ruangan itu tidak mencekam.


" Oh tidak ! Mas darimana saja, kenapa baru datang. "


Arman meminta maaf dan mencari alasan yang masuk akal agar bisa di terima oleh Andin.


" Maaf, malam tadi aku pulang karena ada sedikit urusan. Pagi ini sedikit terlambat karena aku menunggu Ibu selesai membuatkan sarapan untuk mu. Apa kamu marah. "


" Baiklah kalau begitu, bagaimana kalau sekarang kamu sarapan dulu, biar aku yang suapin ya. "


Andin awalnya menolak karena Ia masih bisa melakukan nya sendiri namun karena Arman sedikit memaksa akhirnya Andin pun setuju.


***


Setelah selesai sarapan Suster pun masuk ke ruangan Andin dan memberitahukan kalau Andin sudah di ijinkan pulang karena kondisinya sudah membaik. Andin pulang bersama Arman, di dalam mobil Andin memilih diam.


" Ada apa Dini, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu. " Tanya Arman.


Andin menghela nafas dan kemudian mengangguk pelan.


" Tadi pagi Mas Danang menemui ku, lebih tepatnya tadi malam. Kata Suster dia menunggu ku semalaman karena malam tadi suhu tubuhku sedang demam. "


Arman mencoba tersenyum menyembunyikan perasaan sakitnya.

__ADS_1


" Bukankah itu bagus Dini, lalu kenapa kamu bersedih. "


" Entahlah Mas. " Jawab Andin karena memang saat ini Ia tidak merasakan apapun lagi


" Sudah tidak perlu di pikirkan lagi, sekarang aku antar kerumah mu ya. "


Andin langsung menolak, untuk saat ini Ia ingin menyendiri. Rasanya Ia belum siap bertemu langsung dengan suaminya, Pria yang begitu Ia cintai selama ini namun sudah menorehkan sejuta luka di hatinya.


" Tidak Mas, saat ini aku belum ingin bertemu siapapun. Aku masih ingin sendiri, kalau Mas Arman tidak keberatan bolehkah aku minta bantuan. "


Meskipun Arman menginginkan agar Andin dan juga sahabatnya bisa segera menyelesaikan masalah rumah tangga mereka namun Arman tidak akan tega menolak permintaan Andin. Mungkin benar kalau saat ini yang Andin butuhkan adalah ketenangan.


Arman mengangguk, Ia kembali mengemudikan mobilnya ke suatu tempat.


" Kita sudah sampai. "


Andin memandang sebuah rumah di depannya, Ia menatap Arman. Arman tersenyum karena mengetahui apa maksud dari tatapan Andin.


" Masuklah, kamu aman disini. "


Keduanya pun melangkah masuk, Arman membuka pintu dan keduanya langsung di sambut oleh seorang wanita yang langsung tersenyum melihat Andin.


" Hmmm.... kamu pasti Nak Andin ya. " Tanyanya ramah.


Andin mengangguk dan tersenyum, meskipun Ia masih bingung darimana wanita itu mengetahui namanya.


" Iya Bu, aku Andin. Maaf Bu, apa aku boleh menginap disini beberapa hari. "


Bu Rini tertawa kecil dan langsung menggenggam tangan Andin dan membimbing nya masuk kedalam rumah.


" Boleh dong Nak, sebelum nya Nak Arman sudah cerita kalau ada temannya yang masuk rumah sakit. "


" Oh, Ibu..... ??


" Nama Bibi Rini, panggil saja Bi Rini. Bibi sudah lama kerja disini, ini rumah Nak Arman. Kata Nak Arman, Nak Andin bisa tinggal disini sampai kapan pun Nak Andin mau, bebas mah gitu maksudnya. Jadi Istri Nak Arman juga boleh. "


Andin ikutan tertawa kecil mendengar ucapan Bu Rini.

__ADS_1


" Ah Ibu bisa saja, aku hanya numpang beberapa hari saja Bu, sebelum aku dapat tempat tinggal baru. "


Keduanya sama-sama tersenyum, Bu Rini merasa senang karena akhirnya Ia punya teman di rumah itu.


__ADS_2