Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 103 Diam Di Kira Sakit


__ADS_3

Ponsel Asma berdering saat Ia sedang merias wajahnya di depan cermin, senyumnya mengembang di bibirnya ketika melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya. Ia berlari kecil ke arah pintu dan menoleh ke kiri dan kanan, memastikan kalau tidak ada siapapun yang mendengar obrolan nya.


      " Ah iya sayang, kok kamu lama nggak menghubungi aku sih. Kamu seperti hilang di telan bumi tau nggak sih. "


Ia mendengarkan lawan bicaranya dengan wajah serius.


       " Tentu dong, aku pun sangat merindukan mu. Bahkan aku sangat gelisah karena kamu nggak ada kabar sama sekali. Baiklah sayang, kita ketemu nanti malam oke.....!! " Asma menutup telpon kemudian jingkrak- jingkrak karena merasa bahagia.


" Hmm, sekarang aku harus memikirkan alasan nya. Bagaimana caranya agar Mas Angga dan Ibunya yang cerewet itu tidak curiga. Ahaaaa sayang, tunggu aku, kita akan bersenang-senang malam ini. "


Asma membawa koper miliknya yang selalu Ia bawa kemana-mana kalau bepergian, Ia menariknya keluar kamar dan benar saja. Ia langsung berpapasan dengan Bu Aminah, Ibu mertuanya sendiri.


        " Asma, kamu mau kemana Nak. Sudah dan ini, kenapa bawa- bawa koper. " Tanya Bu Aminah.


" Hm ini Bu, Asma mau ke Banjarmasin, ada acara disana. Kalau Ibu tidak percaya, tanya saja sama Tante Lili. Tante yang nyuruh aku kesana, apa Ibu juga mau ikut. "


Bu Aminah menggeleng pelan, di umur tuanya seperti ini beliau malas untuk bepergian jauh.


      " Ya sudah Bu, kalau begitu Asma berangkat dulu. Ah iya Bu, tolong nanti bilang ke Mas Angga kalau aku pergi ke Banjarmasin. Aku tidak sempat ijin dan ini..... ini buat Ibu, terserah mau Ibu pakai buat apa. "


Asma merogoh tas selempang nya dan mengambil sepuluh lembar uang kertas berwarna merah.


Setelah berpamitan Asma buru-buru keluar, Ia berjalan beberapa meter dan melihat mobil yang sudah menjemputnya sejak tadi.


        " Maaf sayang, sudah lama ya. Biasa, aku harus ngasih alasan yang tepat buat Ibu mertua ku. "


Asma langsung menghadiahi ciuman di pipi dan juga bibir Pria yang selama ini sudah memenuhi kebutuhan nya. Baik itu urusan ranjang dan juga urusan financial.


       " Oke tidak apa apa sayang, pasang sabuk pengamanannya, kita berangkat sekarang. "


Asma bermanja-manja di lengan Danang, Ia menyenderkan kepalanya di bahu Pria itu. Tanpa Ia sadari kalau mobil mereka berpapasan dengan seseorang yang begitu mengenalnya.


        " Siapa tadi, bukannya dia Asma. Tapi kalau dia Asma, kenapa dia kelihatan mesra dengan Pria lain. Ah sudahlah, mungkin hanya wajahnya saja yang mirip. "

__ADS_1


" Assalamu'alaikum. "


" Waalaikum salam. "


Bu Aminah berlari kecil ke arah pintu dan membukanya, Ia tersenyum melihat ternyata itu adalah Angga Putranya.


      " Nak, kamu sudah pulang, mari masuk. " Bu Aminah mempersilahkan Angga untuk masuk.


" Sayang, kamu mau Ibu buatkan teh atau kopi. " Tanya Bu Aminah lagi.


Angga sedikit berpikir sebelum menjawab pertanyaan Ibunya.


      " Buatkan kopi saja Bu, nanti suruh Susi saja yang antar ke kamar. Soalnya Angga ingin mandi dulu sebentar. "


Bu Aminah mengangguk sambil tersenyum, beliau langsung menuju dapur membuatkan apa yang di inginkan Putranya.


      " Susi, tolong antarkan minuman ini pada Angga. Dia ada di kamarnya. "


Susi yang sedang memotong- motong wortel segera mengangguk, Ia mencuci tangannya dan mengeringkan nya sebelum menjalankan perintah majikannya.


Susi mengucap salam sebelum masuk, tidak ada jawaban. Susi masuk perlahan dan meletakkan nampan di atas meja, Ia memandangi seisi ruangan dan tidak ada siapapun. Ketika Ia berencana keluar tiba-tiba terdengar suara dari kamar mandi.


      " Siapa di luar, tolong ambilkan handuk di lemari. Aku lupa membawanya. "


Susi menghampiri lemari dan mengambil handuk yang di minta, Ia mengetuk pintu perlahan dan memberikan handuk ketika pintu terbuka. Tiba-tiba tangannya di tarik dengan keras dan Ia pun masuk ke dalam kamar mandi.


Alangkah terkejutnya ketika melihat pemandangan di depannya, tubuh polos tanpa sehelai benang pun. Bukan hanya itu, belut yang sangat besar pun begitu terlihat sangat jelas.


       " Susi langsung menjerit namun Angga dengan cepat menutup mulut Susi, sontak saja si belut mengenai tubuh Susi. "


Angga pun mendesis karena ada rasa seperti kesentrum yang menjalar sampai ke ubun-ubun nya.


Bukan hanya Susi yang terkejut tapi juga Angga, Ia mengira kalau itu adalah Istrinya ketika melihat tangan mulus yang muncul di pintu.

__ADS_1


Keduanya terpana untuk beberapa saat, mungkin karena terkejut. Susi langsung memberikan handuk yang Ia bawa pada Angga dan segera berlari keluar.


Pipinya sudah memerah seperti tomat dengan jantung berdebar- debar, hal yang sama pun terjadi pada Angga. Ia menggenggam belut miliknya dan mendesis hebat, matanya merem melek merasakan sensasi menggelegar di seluruh tubuhnya.


      " Susi, ada apa dengan wajah mu, kenapa memerah seperti itu, apa kamu demam. "


wajahnya yang memerah jelas terlihat karena kulit Susi yang memang Putih mulus. Wanita yang memang masih keturunan Tionghoa itu memang cantik dengan mata sipot dan kulit yang putih.


       " Ah tidak apa- apa Bu. " Jawab Susi masih mencoba menguasai dirinya agar bisa tenang.


" Ya sudah kamu bisa lanjutkan potong wortel nya, tapi kalau kamu tidak enak badan lebih baik kamu istrahat. Kalau kamu nanti tambah parah kan kasihan sama saudara mu dan juga nenek mu yang ada di kampung, mereka pasti akan sangat khawatir. "


Susi menggeleng pelan, Ia kembali melanjutkan pekerjaan nya. Tidak mungkin Ia selalu beristirahat dan meninggalkan pekerjaannya di kerjakan oleh Nyonya besar di dalam rumah itu.


      " Aduh bagaimana ini. " Batin Susi kemudian.


Ia masih saja memikirkan semuanya sampai makan malam berlangsung, Susi menundukkan kepalanya ketika matanya tidak sengaja berpapasan langsung dengan mata Angga.


Berbeda dengan Angga, Ia justru tersenyum melihat tingkah Susi yang menurutnya sangat menggemaskan.


      " Makan yang benar Susi. " Tegur Angga.


Bu Aminah menoleh dan sedikit heran, pasalnya sejak sore tadi Susi banyak diam. Ia hanya menjawab pertanyaan Bu Aminah sekenanya. Tidak seperti biasanya mereka semangat membicarakan banyak hal.


 Seusai makan malam Bu Aminah meminta Angga untuk menemaninya duduk- duduk santai di sofa.


       " Nak, apa mungkin Susi merindukan keluarganya. Bagaimana kalau kita ngasih cuti dia untuk pulang kampung sebentar, kasihan juga lihatnya. "


Sikap Susi yang banyak diam, Bu Aminah mengira kalau asisten rumah tangga mereka itu sedang sakit atau merindukan keluarga nya. Angga nampak berpikir, Ia baru teringat satu hal.


" Bu, sejak tadi aku tidak melihat Asma, kemana dia. " Tanya Angga.


" Oh Asma, tadi sore dia pamit sama Ibu ingin ke Banjarmasin. Katanya sih ada acara disana dan Tante Lili yang memintanya untuk pulang. " Jawab Bu Aminah.

__ADS_1


Angga kembali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, saat Ia berpapasan dengan seseorang yang mirip dengan Istrinya.


__ADS_2