
Angga sudah berpakaian rapi dan menunggu di sebuah cafe, sesekali Ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Matanya memandang ke arah pintu mencari seseorang yang sedari tadi di tunggunya.
" Lama banget ya. " Gumam Angga mulai gelisah.
Setengah jam berlalu akhirnya yang di nanti datang juga, Kanaya langsung menuju ke meja miliknya karena sudah tau nomornya melalui pesan di aplikasi hijaunya.
" Maaf Mas, aku terlambat. Tadi ada di kendala sedikit di jalan. "
Kekesalannya hilang seketika setelah melihat kedatangan Kanaya, apalagi melihat senyum wanita yang menurutnya semakin terlihat cantik dan berwibawa di matanya.
" Ah tidak apa- apa Naya, tapi kamu tidak apa- apakan. Tidak ada hal buruk terjadi padamu kan. "
Kanaya tersenyum dan mengatakan kalau dirinya baik- baik saja.
" Oh syukurlah kalau begitu. "
Kanaya memesan minuman untuknya saja karena melihat kalau Angga sudah punya.
" Oh iya, ada apa Mas memanggil ku bertemu. Apa ada masalah penting. " Tanya Kanaya.
" Minumlah lebih dulu, kamu pasti haus apalagi tadi katanya ada kendala. " Angga tersenyum canggung.
Kanaya menurut dan menyesap minuman pesanannya. Angga menyerahkan sebuah amplop besar kepada Kanaya tanpa berbicara.
Kanaya mengambil amplop itu dan dengan ragu Ia membukanya, jantungnya bergemuruh. Ternyata yang Ia takutkan selama ini akan benar-benar terjadi.
" Apa maksudnya ini Mas. " Tanya Kanaya masih berusaha tenang.
" Aku rasa itu sudah cukup jelas, semua tercantum disana apa yang aku mau. "
Kanaya masih membaca isi surat yang berada di tangannya, jangan tanya soal hatinya. Saat ini benar-benar sudah tidak dalam keadaan baik.
" Naya, aku adalah Ayah dari si kembar jadi aku juga berhak untuk memperjuangkan mereka. "
Naya memandang ke sekeliling, kebetulan mereka berada di tempat yang cukup sepi.
" Memperjuangkan Mas, apa aku tidak salah dengar. Memperjuangkan seperti apa dan kemana saja Mas selama ini, kenapa baru sekarang Mas . "
__ADS_1
Selama beberapa tahun Angga berlaku tidak adil untuknya namun Ia masih berusaha sabar, bahkan sampai beberapa hari ini Ia masih berpikir untuk tetap memberi akses pada Angga agar Ia bisa menemui darah dagingnya. Semua itu Kanaya lakukan untuk kenyamanan kedua buah hatinya, agar kedepannya tidak terjadi perebutan hak asuh.
" Justru itu Naya, bukankah tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang baik. Sekarang aku ingin mencoba melakukan yang terbaik untuk darah daging ku sendiri, aku akan memperjuangkan mereka agar mereka mendapatkan yang terbaik kedepannya. "
Kanaya mendengus kesal, Ia tidak mengerti jalan pikir mantan suaminya itu.
" Apa maksudmu untuk kebaikan mereka, selama ini mereka baik- baik saja bersama ku. Semua kebutuhan mereka selalu terpenuhi, lalu apa yang yang harus di khawatirkan. "
Angga masih nampak santai, karena memang semua sudah Ia pikirkan matang- matang sebelumnya.
" Tentu saja aku khawatir karena belum semua kamu penuhi, mereka bukan hanya butuh materi saja namun mereka juga butuh kasih sayang Ayahnya. Perhatian dari orang tua yang lengkap. "
Kanaya menatap mantan suaminya yang sudah banyak berubah itu, semakin kesini Ia makin tidak mengenali suaminya itu. Sikapnya sudah sangat berubah drastis, ternyata waktu dan keadaan sudah mengubah semua hal baik yang ada pada Pria itu.
" Naya, sepertinya aku lebih berhak merawat mereka di banding bersama kamu. Bagaimana pun juga aku punya keluarga lengkap sedangkan kamu, kamu bisa lihat sendiri. Kamu justru membawa laki-laki tidak jelas dan itu akan membawa pengaruh buruk pada anak-anak ku nanti. "
Kanaya mulai terbawa emosi mendengar ucapan Angga, bagaimana mungkin Angga mempunyai penilaian seperti itu. Padahal selama ini kedua buah hatinya hidup dengan baik bersamanya.
" Kamu benar-benar berubah Mas. "
" Sebenarnya aku ada syarat lain sih, itu juga kalau kamu mau. "
Kanaya tidak begitu bersemangat ingin mendengar syarat yang akan di ajukan oleh Angga, baginya apapun syarat yang di ajukan Pria itu pasti tidak akan ada untungnya baginya.
" Eh kamu mau kemana Naya, apa kamu tidak ingin mendengar syarat dariku. Ini mudah loh dan kamu tetap akan bersama buah hati kita tanpa gangguan dari orang lain lagi. "
Kanaya yang ingin pergi meninggalkan cafe akhirnya mengurungkan niatnya, Ia kembali duduk.
" Nah gitu dong. "
" Cepat katakan apa syaratnya. "
" Santai saja Naya, tidak perlu buru- buru seperti itu. "
Angga tersenyum senang karena hatinya saat ini sedang berbunga-bunga. Berbeda dengan Kanaya yang saat ini perasaannya tak menentu, antara marah kecewa dan muak semua jadi satu.
" Oke- oke, aku akan katakan. Sebenarnya syaratnya gampang, kamu cukup kembali padaku lagi. Kita bisa jadi suami istri lagi dan hidup bersama membesarkan si kembar. Gampang kan, jadi si kembar punya orang tua yang utuh. "
__ADS_1
Kanaya terkejut mendengar syarat yang di ajukan Angga, dugaannya benar. Syarat yang di ajukan Angga pasti tidak akan ada untungnya baginya.
" Maaf, aku harus kembali. Aku lupa ada janji penting dengan seseorang dan ini sudah lewat dari waktu yang di janjikan. "
Kanaya melangkah pergi meninggalkan cafe, Angga berusaha mengejarnya karena Ia masih penasaran karena belum mendapatkan jawaban atas syarat yang Ia ajukan.
" Naya, tunggu Nay.... !!! " Panggil Angga.
Sayang sekali meskipun Ia sudah berlari namun tidak juga mampu mengejar kepergian Kanaya.
" Ah, sial. Cepat sekali sih perginya, dia bahkan belum memberikan jawaban atas pertanyaan ku tadi. " Umpat Angga
Angga berusaha mengejar Kanaya sampai di kediamannya namun ternyata mobil Kanaya tidak ada disana, akhirnya Angga memilih kembali ke kantornya.
Kanaya menghempaskan bokongnya dengan kasar, hal itu membuat Sean terkejut. Ia heran melihat wajah kusut Kanaya, tidak seperti biasanya yang selalu terlihat ceria ketika bertemu dengan nya.
" Hati-hati duduknya Naya, nanti kalau kamu kenapa- kenapa gimana. "
Kanaya menghela nafas, Ia masih diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sean melihat amplop yang ada di tangan Kanaya, Ia mengambilnya dan membukanya.
" Apa ini Naya. "
Sean membaca isi amplop itu, keningnya berkerut. Muncul senyum menyeramkan di sudut bibirnya.
" Hm.... rupanya dia belum menyerah juga. Baiklah, sekarang aku akan tunjukkan siapa dirinya sebenarnya. " Batin Sean.
" Hm... sudahlah Naya, gimana kalau kita pulang sekarang. "
Naya menatap Sean, Ia baru sadar kalau saat ini Ia masih berada di luar rumah dan alasannya berada disana karena memang ada janji makan siang bersama.
" Eh, maaf Mas. Oh ya, Mas sudah makan belum, yuk pesan makannya dulu. "
Sean tertawa kecil melihat perubahan raut wajah Kanaya.
" Nggak apa- apa, tiba-tiba aku ingin makan di rumah. Maukah kamu memasak untuk ku, rasanya sudah lama sejak terakhir kali aku makan masakan buatan mu. "
Akhirnya mereka memilih pulang setelah di bujuk oleh Sean dengan alasan si kembar.
__ADS_1