Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 108 Pertengkaran Dua rumah tangga


__ADS_3

Andini meringis kesakitan karena tangannya di cengkraman begitu kuat oleh Danang, bukan hanya itu saja. Ia juga masih harus berusaha mengikuti langkah kaki Danang agar tidak tersandung dan jatuh.


      " Mas, lepasin aku Mas, ini sakit tau. "


Danang yang sudah di selimuti amarah langsung mendorong tubuh Andini sehingga wanita cantik itu hampir saja membentur tembok pembatas.


         " Apa kamu sudah gila ya Mas. " Teriak Andini tidak terima, matanya juga memerah karena sama memendam amarah.


Keduanya sama-sama merasa berada di posisi yang paling benar.


       " Kamu masih berani berbicara seperti itu padaku hm..... Asal kamu tau saja Andin, aku bahkan bisa lebih gila lagi daripada yang kamu lihat saat ini. "


Andini meringis kesakitan karena Danang mencengkram rahangnya dengan sangat kuat.


      " Rupanya kamu tidak takut padaku ya, baiklah aku akan tunjukkan padamu bagaimana gilanya aku. "


Danang melepas ikat pinggangnya dan dengan mata memerah Ia menatap Andin dengan tatapan ingin membunuh. Andin ketakutan, selama mereka bersama Ia belum pernah melihat Danang semarah itu.


        " Apa yang akan Mas lakukan dengan ikat pinggang itu. " Tanya Andini sembari melangkah mundur karena ketakutan.


Danang tersenyum devil, Ia begitu bahagia melihat wajah ketakutan Andini.


      " Kenapa, bukannya kamu tidak takut padaku hmmm... aku akan menunjukkan padamu bagaimana kamu harusnya bersikap seperti wanita yang baik. Agar kelak kamu tidak selalu mencampuri urusan orang lain, aku sudah berulang kali memperingatkan ini padamu tapi kamu tidak pernah mengindahkan peringatan ku. Kamu justru membuat banyak hal sesuka hati mu dan malah mempermalukan aku di depan banyak orang. "


Danang mengayunkan sabuk pengaman miliknya kedepan dan membuat Andini menjerit sembari melindungi wajahnya dari kemarahan Danang.


Di tempat yang berbeda hal yang sama juga sedang terjadi pada Asma dan juga Erlangga.


         " Jangan mencari- cari alasan untuk membenarkan semua perbuatan bejat mu di luar sana Asma, kamu sudah berbuat sesuatu di luar batasan yang tidak seharusnya seorang istri lakukan. "

__ADS_1


Asma tertawa kecil, Ia menertawakan apa yang di katakan Angga barusan. Hal itu membuat Angga semakin di selimuti amarah, Ia hampir saja mengatakan sesuatu yang fatal, beruntung Bu Aminah masuk dan langsung menghentikan perdebatan mereka.


" Cukup Angga. "


Bu Aminah menatap Asma dan memintanya segera meninggalkan kamar mereka.


" Asma, kamu pasti belum makan. Sebaiknya kamu ke dapur dan cari apa saja yang bisa kamu makan, jangan sampai kamu sakit nanti. "


Asma menatap suaminya dan kemudian menatap Bu Aminah sebelum akhirnya Ia keluar.


" Angga, Ibu tahu saat ini kamu sedang kecewa dan marah. Tapi Ibu minta sama kamu, tolong kamu bersabar. Jangan pernah memutuskan sesuatu disaat kamu sedang marah, apalagi sembarangan bicara dan mengulangi kejadian yang lalu. Jangan pernah mengatakan hal yang akan kamu sesali di lain waktu. "


Angga menghela nafas, Ia menatap wajah Ibunya dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin sangat Ibu masih membela istrinya yang sudah jelas- jelas salah.


" Ibu, tapi apa yang di lakukan Asma kali ini sudah benar-benar keterlaluan. Dia sudah.......!!


" Ibu tahu Nak, dan Ibu juga sangat menyayangkan semua yang terjadi pada kalian. Tapi Nak, apa yang di katakan Asma itu ada benarnya juga. Mungkin ini karma dari semua perbuatan kita di masa lalu, dulu kita menyakiti Kanaya dan memilih menggantikan nya dengan Asma. Nak, Ibu minta sama kamu agar kamu bisa berpikiran jernih mengenai masalah ini. Kalau kamu masih menginginkan nya maka bicarakan ini semua secara baik- baik, jangan sampai kamu menyesalinya kelak. Jadikan kesalahan di masa lalu sebagai pelajaran dan jangan sampai terulang lagi. "


***


Andini menjerit dan memohon ampun pada Danang agar Pria itu tidak semakin menyakitinya.


" Mas, cukup. Tolong hentikan, aku mohon lepaskan aku. "


Danang tertawa keras, Ia kembali mencengkram rahang Andini dan membuat wanita itu semakin meringis kesakitan.


" Melepaskan mu ha..... setelah itu kamu bebas berbuat ulah lagi, mempermalukan ku di luar sana. "


Andini menggeleng cepat " Tolong Mas, tolong kasihanilah aku. "

__ADS_1


Melihat Andini mengemis- ngemis padanya, Danang pun melepaskan cengkraman tangannya dan kembali mendorong tubuh Andini hingga wanita cantik itu jatuh ke lantai.


" Kali ini aku masih berbaik hati dan melepaskan mu, tapi aku peringatkan padamu untuk tidak mencampuri urusan ku. Kalau sampai hal itu terjadi maka aku akan dengan senang hati membuat perhitungan dengan mu. "


Danang meninggalkan Andini di kamarnya dan keluar menemui beberapa orang kepercayaan nya.


" Awasi wanita itu, jangan sampai Ia berbuat ulah lagi. "


Seorang Pria berlari kecil ke sebuah cafe, Ia mengedarkan pandangannya ke semua pengunjung tempat itu, akhirnya Ia menemukan orang yang Ia cari. Arman menatap wajah temannya yang nampak murung.


" Ada apalagi Danang. " Tanya Arman.


Danang menghela nafas dan meminta Arman untuk meminum kopi yang sudah Ia pesan sebelumnya.


" Minumlah. "


Arman menatap Pria yang ada di depannya sebelum akhirnya meminum kopi miliknya.


" Apa kamu menyakitinya lagi Danang. " Tanya Arman pelan.


Danang menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong, lalu kemudian menghela nafas panjang.


" Dia selalu saja mempermalukan ku Arman. " Jawab Danang.


" Danang, tidak bisakah kamu sedikit saja peduli padanya. Dia begitu karena rasa cintanya padamu yang begitu besar, selama ini kamu selalu menyakiti nya namun Dia tetap setia di samping mu. Mungkin Dia melakukan kesalahan besar karena menemui wanita mu itu, tapi cobalah kamu pikirkan Danang, bagaimana kalau kamu jadi Dia. Bagaimana membayangkan orang yang kita cintai justru menghabiskan waktu bersama wanita lain. "


Danang menatap Arman dengan berbagai macam gejolak yang hanya Ia sendiri yang dapat merasakan nya.


" Apakah itu yang kamu rasakan selama ini Arman. ? " Tanya Danang.

__ADS_1


Arman terkejut, Ia menjadi gugup dan salah tingkah. Benaknya bertanya- tanya kenapa temannya itu bisa menanyakan hal seperti itu padanya.


__ADS_2