
Angga memarkirkan mobilnya di depan butik Kanaya, Ia harus mencari dimana keberadaan Naya dan juga anaknya saat ini.
Baru saja masuk, Ia sudah disambut oleh seorang pegawai cantik.
" Maaf Pak, mau cari gaun buat Istrinya ya. Disini kami punya banyak koleksi gaun, dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Mari biar saya antarkan kedalam ya. "
Angga menahan kepergian wanita di depannya.
" Tunggu dulu, saya kemari bukan mau cari baju. Saya kemari hanya ingin bertemu dengan pemilik butik ini, apa saya bisa bertemu dengannya sekarang. "
Wanita itu nampak berpikir, namun akhirnya Ia mengaggukan kepalanya.
" Tentu, silahkan Bapak tunggu disana saja dulu. Saya akan segera memanggil Bu Desi. "
Angga mengerutkan keningnya mendengar wanita itu menyebut nama seseorang.
" Tunggu Mbak. "
Wanita yang bernama Desi itu menghentikan langkahnya, Ia menoleh pada Angga.
" Iya Pak, ada apa. "
" Ah tadi kalau tidak salah kamu bilang Desi, siapa Desi. " Tanya Angga.
Desi tersenyum, Ia terpaksa mengatakan namanya sendiri karena bingung dengan nama siapa yang harus Ia sebut.
" Ah iya Pak, Bu Desi adalah pemilik butik ini. Bukankah tadi Bapak bilang ingin bertemu dengan beliau. "
Angga bingung, Ia memandang wajah wanita di depannya. Mencoba memastikan kalau wanita itu berkata benar atau hanya bercanda saja.
" Bukankah pemilik Butik ini namanya Bu Kanaya. Ah iya, Bu Aulia. Apa saya juga bisa bertemu dengannya. "
Kini giliran Desi yang di buat bingung.
" Maaf Pak, memang benar ini dulu butik milik Bu Kanaya tapi itu dulu. Sekarang pemilik barunya adalah Bu Desi, saya kurang tau pasti bagaimana Butik ini bisa berpindah tangan. Hanya memang saya pernah dengar, bahwa butik ini sudah di jual oleh pemiliknya yang lama. "
Angga akhirnya pulang dengan membawa kekecewaan, Lagi-lagi dirinya tidak mendapatkan petunjuk apapun mengenai keberadaan Istri tuanya itu.
" Kamu pergi kemana Naya, apa benar kalau kamu memang sengaja melakukan ini padaku. Kamu sengaja menjauhiku karena kamu sudah mengandung bahkan melahirkan anak kita. Aku akan menemukan mu, kemanapun kamu bersembunyi, bahkan di dalam lubang semut pun aku berjanji suatu saat pasti akan menemukan mu. " Gumam Angga.
Tangannya berpegangan pada setiran mobil, Ia berjanji akan mencari Istrinya walau apapun yang terjadi.
__ADS_1
Merasa tidak ada gunanya lagi Ia berada disana, Angga mengemudi kembali dan meninggalkan parkiran di butik tersebut.
" Des, gimana. Aman nggak. "
Sejak tadi Aulia ternyata hanya mengintip saja, Ia malas keluar karena tau kalau mantan suami dari sahabatnya itu pasti akan menanyakan dirinya tentang banyak hal, termasuk apa yang terjadi hari ini. "
" Ah aman Bu, alhamdulillah. " Jawab Desi.
" Oh ya Bu, Desi minta maaf. Maaf tadi Desi berbuat salah karena sudah mengaku sebagai pemilik butik ini. Tolong ya, Desi jangan di pecat. "
Aulia tersenyum ketika melihat ketakutan yang tergambar di raut wajah Desi.
" Hei, slowly. Siapa juga yang mau memecat kamu, yang ada justru aku yang ingin mengucapkan terima kasih padamu karena kamu sudah mau memberi alasan yang masuk akal pada tamu kita tadi. "
Angga kembali melajukan mobilnya, kali ini tujuannya adalah rumah sakit, Ia yakin kalau Dimas pasti tau dimana keberadaan Naya sekarang.
Di kediaman Angga
Asma yang sedang di kuasai rasa takut sekaligus amarah, langsung menghubungi Tantenya, Ia menceritakan semua tentang apa yang sedang terjadi padanya saat ini.
" Kamu tenang saja, jangan takut. Pura-pura saja bahwa kamu siap menerima apapun yang suami mu inginkan. "
Asma tidak terima, Ia tidak mau berpura-pura melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hatinya.
Di kota T
Umi Rahayu sedang menimang sang cucu kesayangan.
" Nak, apa kamu sudah punya namanya untuk mereka berdua. Lah masa iya mereka berdua mau kita panggil baby twins sampai besar, kan nggak mungkin. "
Naya mengangguk pelan
" Sebenarnya sih Naya sudah punya namanya buat mereka. Tapi Umi, Naya takut kalau namanya tidak bagus. "
" Kamu itu Nak, belum di katakan sudah bilang nggak bagus. Memangnya namanya apa Nak. "
Naya menatap wajah gemes bayi kembarnya.
" Abidzar Hamzah Putra Wardhana dan untuk adek mama kasih nama Adiba Khanza Putri Wardhana. "
Umi tersenyum bahagia mendengar nama yang sudah disematkan Kanaya untuk kedua cucunya.
__ADS_1
" Hai Abi, tumbuhlah dengan kesabaran yang kuat. Hadapi apapun cobaan yang terjadi kelak dengan berani, selalu rendah hati dan juga penyayang. Semoga kelak kamu menjadi anak yang sukses, baik di dunia maupun di akhirat. "
" Aamiin. "
Naya langsung mengamini do'a dan harapan Uminya untuk kedua buah hatinya. Umi mendoakan keduanya agar menjadi orang yang hebat di masa yang akan datang.
" Umi, apa tidak masalah kalau aku sematkan nama Ayah kandungnya. "
Umi tersenyum dan menggeleng, beliau juga mengelus tangan Kanaya.
" Tidak apa- apa Nak, bagaimana pun juga memang putra putrimu itu adalah anak dari Pria itu. Kita tidak mungkin bisa menyembunyikan kenyataan kalau Pria itu adalah Ayah kandung dari kedua putra dan putrimu ini. "
Kedua Ibu dan anak itu nampak bahagia menimang- nimang baby Abi dan Adiba.
***
" Dimas, aku ingin bicara dengan mu. "
Dimas pun mengangguk dan mengajak Angga ke ruangannya.
" Dim, aku kemari hanya ingin minta tolong padamu. Tolong Dim, tolong beritahu aku dimana keberadaan Naya dan juga anakku. Aku yakin kamu tau banyak mengenai mereka. "
Dimas tersenyum sinis, Ia juga berulang kali menghela nafas yang terdengar berat.
" Kenapa kamu menanyakan alamat Naya padaku. Aku ini bukan supirnya, sehingga mewajibkan aku harus tau kemana majikan ku itu pergi. "
" Kumohon Dim, aku yakin kalau kamu mengetahui semua tentang Naya. Aku mohon beritahu aku, aku harus bertemu dengannya dan juga minta maaf atas semua yang sudah aku lakukan kepadanya selama ini. "
Mendengar itu Dimas terdiam untuk sesaat.
" Maaf Angga, aku memang tidak tau dimana keberadaan Naya sekarang. Semenjak Ia meninggalkan rumah mu semenjak itu pula aku tidak dengar kabarnya. Tapi Angga, kalau boleh aku minta, tolong kamu lupakan Dia, bukankah kamu juga sudah punya Istri yang baru sekarang dan nampaknya kamu sangat mencintai nya. Angga, lepaskan Dia. Sudah cukup kamu menyakitinya selama ini, biarkan Dia bahagia. "
Angga menggeleng pelan, Ia tidak setuju dengan permintaan Dimas.
" Tidak Dimas, aku tidak akan melepaskannya. Apalagi kalau sampai benar dia mengandung darah daging ku, kamu tentu tahu kalau seorang anak kelak pasti menginginkan keluarganya yang lengkap. Sudahlah Dimas, cepat berikan padaku alamatnya yang baru. "
Dimas tertawa keras, Ia merasa lucu dengan jalan pikiran sahabatnya.
" Kalau begitu maaf, aku tidak bisa membantu mu. Silahkan kamu usaha sendiri, buktikan kalau memang kamu benar-benar serius. Tapi ingat Angga, kamu harus pikirkan hati Istrimu yang sekarang, jangan sampai karena kamu terlalu sibuk memperjuangkan yang satu kamu jadi melupakan yang lain. Hal itu akan muncul rasa iri dan akan berakibat kurang baik pada hubungan kalian. "
Dimas kembali membuka laptopnya dan melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
" Alahhh sudahlah, kalau kamu tidak ingin membatuku atau memberi alamat Naya tidak apa- apa, aku akan mencarinya sendiri. Tapi ingat kalau tidak bisa membantu orang lain, setidaknya jangan pernah menilai orang lain dengan sebelah mata. "
Angga kembali meninggalkan ruangan Dimas, Lagi-lagi Ia kecewa karena tidak mendapatkan apapun dalam pencariannya.