
Erlangga tiba di kantor miliknya dan langsung meminta Bimo untuk menemuinya. Bimo dengan sigap langsung memenuhi panggilan Angga dan menyerahkan apa yang di minta oleh Angga beberapa hari ini.
Angga terkejut ketika melihat beberapa foto yang di berikan Bimo sebagai bukti dari penyelidikan mereka.
" Pria ini, sepertinya wajahnya berasa tidak asing. Bukankah dia Pria yang sama, yang juga aku lihat waktu itu, ada apa ini. Apa..... .... " Batin Angga sembari mencoba mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
" Ada apa Angga, apa ada yang salah dengan itu ?. " Tanya Bimo yang sejak tadi memperhatikan reaksi atasannya itu.
" Iya Bimo, Pria ini sama persis dengan Pria yang waktu itu aku lihat menjemput Asma beberapa hari yang lalu. Hm...... apa kalian sudah selidiki latar belakang Pria itu. " Tanya Angga kemudian.
Bimo mengangguk dan mulai mengutarakan semua yang mereka dapatkan beberapa hari ini.
" Pria itu, apakah dia punya maksud lain selain dari itu. "
Bimo tidak menjawab karena Ia sendiri belum bisa memastikan soal itu, Ia hanya mengatakan apa yang sudah Ia yakini saja.
" Baiklah, minta mereka untuk tetap mengawasi Pria itu. Jangan sampai Ia melakukan sesuatu yang merugikan kita. "
Bimo hanya manggut-manggut mengiyakan apa yang di perintahkan oleh Angga.
" Dan untuk kamu Asma, berani- beraninya kamu bermain api di belakang ku. Tunggu sampai aku punya bukti kuat, akan aku buat kamu menyesali semua yang sudah kamu lakukan padaku selama ini. " Gumam Angga.
Di tempat lain.
Asma sedang bersantai di kamarnya, tiba-tiba Ia terkejut dan sontak ponselnya terlepas dari tangannya. Raut wajahnya langsung berubah, Ia menjadi gelisah.
" Tidak, itu bukan aku, itu pasti orang lain yang wajahnya mirip dengan Mas Danang. "
Berulang kali Asma mengatakan itu, lagi- lagi ponselnya kembali terlempar ketika Ia berusaha membaca sebuah artikel yang ada di ponsel miliknya itu.
" Asma, ada apa Nak, kok kamu histeris gitu. Suara mu sampai terdengar keluar. "
Bu Aminah yang mendengar teriakan menantunya langsung berlari ke kamar Asma, beliau bingung dan juga ikut khawatir melihat keadaan Asma.
" Ah Ibu, tidak apa- apa Bu. Asma tadi hanya lihat emm... emm kecoak Bu, ya Asma lihat kecoak. "
__ADS_1
Bu Aminah menarik nafas lega sambil tertawa kecil.
" Oh, kamu takut kecoak toh. Syukurlah Ibu kira kamu kenapa- kenapa, sudah nggak apa-apa, nanti tinggal di bersihkan lagi kamarnya biar nggak ada kotoran yang menjadi tempat bersarangnya kecoak ya. "
Asma mengangguk pelan masih dengan perasaan khawatir, Ia meminta agar Bu Aminah meninggalkan nya sendiri karena Ia baik- baik saja.
" Mas Danang, ya Mas Danang. Aku harus menghubunginya sekarang juga, aku harus tanyakan kenapa vidio ini sampai tersebar keluar. " Batin Asma.
Berulangkali Asma melakukan panggilan namun tidak ada satupun yang terjawab.
" Mas Danang, kamu dimana. "
Di kantor, Bimo terkejut ketika melihat ponselnya. Beberapa kali Ia mencoba mengenali apa yang Ia lihat saat ini, ada beberapa yang Ia ingat dengan sangat jelas.
Bimo segera menemui Angga dan memperlihatkan berita apa yang baru Ia dapatkan saat ini. Angga mengamati dengan seksama, tangannya mengepal dan dengan cepat Ia menyambar jas dan juga kunci mobilnya. Ia berlari keluar meninggalkan Bimo, Bimo berusaha mengejar langkah kaki Angga.
" Angga, tunggu. Kamu mau kemana. "Tanya Bimo.
" Aku harus menemuinya dan menanyakan masalah ini secara langsung padanya. "
Bimo mencoba memberi pengertian pada Angga, hingga akhirnya Angga mulai manggut-manggut dan mengikuti apa yang di katakan Bimo.
Di tempat lain.
Terdengar kegaduhan di salah satu ruangan, dua orang yang berbeda jenis saling beradu mulut.
" Bisa- bisanya kamu membandingkan aku dengan wanita ja*ang itu. "
Sebuah suara menggema mengisi seluruh ruangan di dalam rumah itu.
" Tutup mulut mu Dini, tidak pantas kamu berteriak seperti itu padaku. Dan apa katamu tadi, ja*ang ?, lalu apa bedanya dia dengan kamu. Jangan sok suci, ingatlah kondisi mu sekarang ini Dini, masih tetap disini meskipun sudah tidak ada hubungan apapun lagi. "
Dini tidak terima dengan apa yang di katakan Danang, bisa- bisanya Pria itu lebih membela wanita asing dibandingkan dirinya.
" Mas, aku tidak mau hubungan ini berakhir. Mas ngerti nggak sih, kalau sampai kapan pun aku tidak akan pernah meninggalkan mu. "
__ADS_1
Danang tertawa keras di sertai gelengan kepala mendengar pengakuan Dini.
" Itu urusan mu sendiri Dini, kalau kamu masih punya muka lebih baik kamu pergi dari sini secepatnya. Karena aku tidak mau memungut barang bekas milik orang lain. " Bisik Danang tepat di telinga Dini.
Danang langsung mengambil jas kerjanya dan pergi meninggalkan Dini sendiri, Dini yang tidak terima dengan perlakuan Danang, langsung berteriak histeris dan melempar apa saja yang berada di dekatnya.
" Danang brengsek, egois, tidak tau diri. " Teriak Dini histeris.
Dadanya naik turun dengan nafas tersengal karena amarah yang memuncak di dadanya.
" Tidak, aku tidak akan mengijinkan siapapun mengambil milikku. Aku akan buat perhitungan dengan mu hai wanita ja\*ang. " Teriak Dini lagi dengan mata memerah.
Asma terus menghubungi Danang sampai akhirnya usahanya berhasil.
" Mas, kamu dimana. Aku ingin bertemu sekarang, di tempat biasa ya. " Ucap Asma.
Ia menutup panggilan tanpa mendengar jawaban dari seberang telpon, sembari menghela nafas panjang Asma mengemudikan roda empat nya ke tempat yang biasa mereka tuju.
Asma berlari kecil menuju sebuah tempat, Ia masih di landa gelisah. Beberapa kali Asma melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Mas Danang, kamu dimana sih, ayo dong, cepat kemari. "
Seorang wanita berdiri tak jauh dari tempat Asma duduk saat ini, tiba-tiba saja Ia mendapat serangan dari seorang wanita yang sama sekali tidak Ia kenal.
Asma meringis ketika pipinya yang cantik mendapat tamparan dan juga cakaran secara tiba-tiba.
" Ah..... kamu siapa sih, gila ya datang- datang main serang saja. " Tanya Asma setelah berhasil melepaskan diri.
Nampak begitu jelas kemarahan di wajah wanita yang berada di depannya saat ini.
" Dasar wanita ja\*ang, kamu sungguh ingin tau aku siapa. Aku, aku adalah Istri dari Pria yang selama ini kamu jajakan barang murahan mu itu. Aku akan membunuh mu sekarang juga. "
Lagi-lagi Asma mendapat serangan mendadak, namun kali ini Ia tidak tinggal diam. Asma membalas serangan Dini dan terjadilah aksi jambak- jambakan antara keduanya.
Keduanya sama-sama meringis kesakitan, dengan penampilan yang sudah acak- acakan. Bukan hanya pakaian saja, namun juga rambut bahkan wajah keduanya pun mengeluarkan darah segar.
__ADS_1
Asma menatap wanita di depannya, Ia tidak mengira akan di labrak oleh wanita lain yang mengaku istri dari kekasih gelapnya selama ini.
***