Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 82 Menunggu Jawaban Kanaya


__ADS_3

Kanaya merasa tak enak hati karena gagal menemani Sean makan siang, itu semua karena suasana hatinya yang buruk.


" Apa nggak apa- apa Mas telat makan, ini sudah jam satu. Kalau nunggu aku masak mau sampai jam berapa Mas akan makan, lebih baik kita kembali ke resto lagi ya. "


Bukannya menurut Sean justru tersenyum dan meyakinkan Kanaya kalau saat ini memang dia ingin menyantap masakan dari Ibu dia anak itu.


" Ya sudah kalau begitu Mas, kita mampir di supermarket yang dekat rumah dulu sebentar. Aku akan mencoba memasak secepat mungkin, semoga saja hasilnya tidak mengecewakan. "


Setelah berbelanja seandanya mereka kembali ke rumah Kanaya, lagi- lagi Kanaya merasa tak enak hati karena Sean juga yang melunasi semua belanjaannya kali ini.


" Mas, apa nggak apa- apa. Maksud ku Mas tuh terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk aku dan anak-anak, aku jadi merasa nggak enak hati. "


Kebiasaan Sean kalau sedang bersama Kanaya, semarah apapun itu dia akan berusaha menahannya dan selalu tersenyum. Hal itu Ia lakukan agar wanita itu merasa nyaman berada di dekatnya.


" Sudahlah tidak perlu di pikirkan, lagi pula ini kan aku yang mau. Pokoknya masakan sesuatu yang spesial untuk ku, agar rasa lapar ku tidak sia- sia. " Ucap Sean di sertai candaan.


Kanaya mengangguk, setiba di rumah Kanaya mulai sibuk mengolah beberapa bahan yang akan Ia jadikan makan siang untuk Sean sedangkan Sean memilih bermain dengan si kembar.


" Nak, sedang apa. " Tanya Umi Rahayu.


" Eh Umi, ini Umi. Naya sedang membuat makan siang untuk Mas Sean, tadi kami belum sempat makan siang karena ada sesuatu hal, jadi Naya buatkan saja sekalian disini. "


Umi Rahayu tersenyum mendengar jawaban Putrinya, sebenarnya ada sesuatu yang ingin di bicarakan wanita itu pada anaknya namun melihat saat iki Kanaya sedang sibuk jadi di urungkan nya.


" Sini biar Umi bantu biar cepat selesainya. "


Kedua Ibu dan anak itupun bersama-sama mengeksekusi semua bahan yang sudah tersedia di atas meja, karena kerjanya berdua jadi masakannya cepat selesai dengan cepat.


Kanaya menata semua hidangannya di atas meja dan memanggil Sean untuk makan siang yang tertunda..


" Mas, ayo makan siangnya sudah siap. "

__ADS_1


Sean mengangguk dan kembali menitipkan si kembar pada pengasuh yang Ia sewa khusus untuk merawat si kembar kalau Naya sedang berada di luar.


" Mbak, tolong titip anak- anak ya. " Pesan Sean sebelum menuju ruang makan.


Sean melihat ada Umi juga disana, Sean menyapa Ibu dari wanita yang Ia sukai itu.


" Silahkan Mas, semoga saja rasanya enak. "


" Sudah tentu, masakan kamu kan selalu enak. Oh ya, masakannya kan banyak ini gimana kalau kita makan rame- rame pasti akan semakin enak tuh. Yok Umi, Naya kita makan sama-sama saja. "


Akhirnya mereka pun makan bertiga, Sean sangat menikmati makan siangnya. Meskipun sedikit tertinda namun Ia tidak menyesal karena sudah terbayarkan dengan hidangan lezat yang sudah tersaji di depannya saat ini.


" Makan yang banyak Sean, itu nasinya tambah lagi. "


Sean mengangguk dan tersenyum, Ia memang begitu menyukai masakan rumahan. Masakan seperti ini mengingatkan nya pada almarhumah Ibunya yang sudah lebih dulu di panggil sang Khaliq.


" Maafkan Umi kalau Umi mengganggu waktu kalian berdua, tapi Umi hanya ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting dan ini untuk kebaikan kita semua. "


" Tidak apa apa Umi. "


Sean dan juga Kanaya kompak mengatakan tidak apa apa, mereka berdua saling pandang dan khawatir kalau telah berbuat sesuatu yang menyakiti hati Umi Rahayu.


" Ini soal hubungan kalian, Umi tau kalau Nak Sean menyukai anaknya Umi. "


Baru juga mulai bicara Kanaya sudah merasa deg degan ketika mendengar apa yang di katakan Uminya, sedangkan Sean hanya mengangguk mengiyakan setiap apa yang di katakan Ibu dari Kanaya. Itu karena apa yang di katakan wanita itu adalah benar adanya, meskipun begitu tentu saja Sean was-was. Takut kalau Umi tidak memberikan restu untuk dirinya berjuang mendapatkan hati Kanaya.


" Maaf kalau Umi merasa terganggu, Naya akan mengikuti apa yang Umi mau. Kalau Umi merasa ini tidak.....


" Dengar dulu Nak, Umi sangat setuju kalian bersama. Untuk itu Umi mengajak kalian kemari, Umi hanya ingin tau bagaimana rencana kalian. Buat Nak Sean, apa kamu serius dengan niat mu untuk menjadikan anak Umi sebagai istri mu dengan segala kekurangan nya yang kamu sendiri sudah tau. Dia hanya seorang ja.....


" Tidak apa- apa Umi, bagi Sean Naya tetap wanita yang Sean kenal dulu. Tidak ada bedanya, dulu atau sekarang. Soal status semua sama saja Umi, yang penting bisa buat hati kita nyaman itu sudah cukup. "

__ADS_1


Sean langsung memotong ucapan Umi Rahayu yang ingin memperjelas status Kanaya yang hanya seorang janda beranak dua. Umi tersenyum lega, dari ucapan Sean Ia bisa melihat kejujuran disana.


" Sekarang tinggal Naya, apakah dia mau atau tidak. "


Sean seperti menunggu boom waktu yang siap meledak ketika menunggu jawaban dari wanita yang di cintainya itu. Sama halnya dengan Sean, Umi pun menunggu jawaban dari Putrinya. Umi sebenarnya menyerahkan semua keputusan pada Putrinya, karena dulu pernah gagal menjodohkan Kanaya dan berakhir penderitaan panjang yang di alami putrinya jadi kali ini Umi mendukung apapun yang membuat Putrinya itu bahagia.


" Naya..... Naya belum tau Umi, Mas Sean. "


Meskipun tidak bisa di pungkiri kalau selama beberapa tahun ini rasa itu mulai ada, namun Kanaya sadar siapa dia sebenarnya.


Sean menghela nafas, jujur Ia sedikit kecewa mendengar jawaban Kanaya namun Ia tetap berusaha tersenyum.


" Ah tidak apa- apa Naya, tidak perlu jawab sekarang. Aku akan menunggu kamu siap, kapanpun itu aku akan bersedia menunggu nya. "


Ruangan itu tiba-tiba sepi karena ketiganya kompak diam membisu.


" Maafkan aku Mas, sebenarnya......


" Tidak apa apa Naya, jangan di paksakan. "


Umi pun ikut diam, Ia berpikir kalau Naya akan menerima Sean tapi ternyata dugaannya salah. Alhasil semua yang ingin beliau bicarakan pun di urungkan nya.


Kanaya berdiri seorang diri di balkon kamarnya, memandangi jalanan yang mulai ramai di padati macam macam mobil karena para penghuni Ibukota mulai satu persatu kembali ke kediamannya setelah menghabiskan waktu berjam-jam dengan kesibukan mereka masing-masing.


" Ada apa Nak, apa ada masalah. "


Kanaya menoleh ke asal suara, ternyata itu adalah Uminya. Naya tersenyum menyambut kedatangan wanita yang sangat di hormati nya itu.


" Iya Umi. "


Naya tidak ingin membohongi Ibunya, mungkin dengan cara ini masalahnya akan cepat mendapatkan titik terang. Siapa tau setelah menceritakan semua masalahnya Uminya akan punya jalan keluar yang terbaik untuk nya.

__ADS_1


__ADS_2