
Angga berlari kecil dari tempat parkir menuju ketangga lift, beberapa pasang mata memperhatikannya. Mereka heran melihat penampilan Pria tampan yang selama ini selalu rapi namun sekarang terlihat berantakan, meskipun tetap tidak mengurangi ketampanannya.
Angga langsung masuk kedalam ruangannya dimana disana Bima sang asisten sudah menunggunya.
Bima nampak bingung melihat tampilan atasannya pagi ini.
" Bima, apa mereka sudah datang. " Tanya Angga.
Bima mengangguk, Angga segera mengajak Bima untuk memulai meeting pagi itu.
" Maaf Pak, tapi apa Bapak akan menemui mereka dengan penampilan seperti ini. "
Dengan wajah bingung Angga memperhatikan penampilannya didepan cermin, Ia segera merapikan semampu yang Ia bisa.
***
Sementara Kanaya saat ini sedang berada dirumah sakit, pagi tadi Ia sudah menghubungi Dimas bahwa dirinya akan memeriksakan kandungannya hari ini.
" Ada apa Naya, apa ada masalah. " Tanya Dimas yang juga khawatir sejak tadi.
Naya mendadak bingung bagaimana cara Ia menyampaikan kegundahannya pada Dimas.
" Kenapa. " Tanya Dimas lagi.
Naya masih diam, namun Ia *******- ***** tangannya sendiri mengurangi kegelisahannya.
" Ya sudah kalau kamu nggak mau ngomong sama aku, kita keruangan Dokter Husna saja. Mungkin disana kamu bisa leluasa mengatakan keluhanmu padanya. "
Setelah di hubungi Dimas dan memastikan kalau Dokter Husna tidak punya pasien, Dimas menemani Naya keruangan Dokter Husna.
" Assalamu'alaikum. "
" Wa' alaikum salam. Mari silahkan masuk. "
Dimas ingin pamit namun Ia juga penasaran dengan apa yang dialami Istri dari sahabatnya itu.
" Ah kalau begitu, aku keluar dulu. " Dimas pamit pada kedua wanita itu.
Dokter Husna memandangi Naya dengan perasaan tak menentu, apalagi mengingat kejadian kemarin.
" Ada apa Bu, apa ada keluhan yang Ibu rasakan. " Tanya Dokter Husna ramah.
Naya akhirnya tersenyum setelah lama diam, Ia mengatakan apa yang menjadi keresahannya saat ini.
" Ah gini Dok, saya hanya ingin memeriksakan keadaan mereka. Masalahnya...... masalahnya malam tadi..... ! "
Dokter Husna mencoba menahan tawanya, rasanya Dokter itu ingin tertawa melihat raut wajah Kanaya saat ini.
" Oh, mari sini Bu, biar kita periksa dulu. "
Dengan menahan tawa agar tidak keluar, Dokter Husna membantu Naya naik keatas brangkar. Dokter mulai memeriksa kondisi Naya dan tersenyum, sementara Naya deg- degan menunggu hasilnya.
__ADS_1
" Tidak apa apa Bu, mereka baik- baik saja bahkan nampak sehat. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. "
" Oh alhamdulillah ya Allah, benarkah Bu mereka baik- baik saja. "
Dokter Husna mengangguk karena memang kondisi janinnya sangat sehat dan kuat. Naya kembali bersyukur karena janinnya tidak bermasalah meskipun malam tadi Angga menggempurnya dengan sangat kasar.
Meskipun begitu Ia harus mengingat pesan Dokter agar tidak terlalu stress, dan tidak lupa juga mengkonsumsi makanan yang bergizi serta susu untuk Ibu hamil.
Bersama Lia sahabatnya, Kanaya membeli berbagai macam merek susu untuk Ibu hamil. Karena Ia belum pernah meminum susu seperti itu dan belum tau mana yang enak dan mana yang tidak, jadinya Naya membeli banyak varian rasa agar bisa di gonta-ganti sesuai selera.
Naya juga sengaja membeli banyak untuk disimpan di butik dan untuk dia bawa pulang kerumah.
Di rumah Naya meminta Bi Nur menyimpan susunya agar tidak ketahuan Angga dan juga penghuni lainnya.
" Sayang. "
Naya yang tengah menyisir rambutnya terkejut dengan kehadiran suaminya yang langsung menyerahkan selembar kertas padanya.
" Apa ini Mas. " Tanya Nayabdengan wajah bingung namun tetap menerima lembaran kertas itu.
" Itu.... tanda tangan. " Angga sempat ragu dan kesulitan meneguk salivanya, namun semua sudah terlanjur.
Naya membaca apa isi surat yang harus Ia tanda tangani itu.
" Apa Mas serius dengan ini, apa... Mas tidak bisa mengubah keputusan Mas lagi. "
" Ya....! Apa ada alasan yang kuat hingga aku harus berubah pikiran. "
" Meskipun aku mengatakan kalau saat ini aku juga sedang mengandung anak kita, apa itu juga tidak cukup untuk mengurung kan niatmu. "
Angga langsung geram, Ia mengusap wajahnya kasar dengan gigi gemeretuk menahan amarahnya.
" Sudahlah, cukup omong kosong mu ini. Kamu itu mandul, jangan bermimpi bisa hamil seperti Asma. Naya, kalau kamu memang tidak bisa memberiku keturunan, setidaknya jangan halangi aku untuk mencari kebahagiaan ku. Jangan mempersulit aku untuk mendapatkan keturunan. "
Kanaya sedikit terkejut karena Angga berucap dengan suara keras dan sedikit membentak nya.
Ia segera membuka laci meja, mengambil bolpoin agar Ia bisa segera membubuhkan tanda tangannya disana.
" Baiklah, jika ini yang bisa buat kamu bahagia. "
Dengan tarikan nafas panjang Naya berhasil membubuhkan tanda tangannya disana. Angga langsung mengambil kertas yang sudah di bubuhi tanda tangan Naya dan tersenyum melihat semuanya karena sudah sesuai keinginannya.
" Makasih sayang. Oh ya, besok kamu jangan kemana-mana. Aku tidak mau kalau sampai ada yang menganggap kalau aku menikah tanpa ijin darimu, dan itu akan berpengaruh pada penilaian orang lain tentang Asma. "
Kanaya hanya diam mendengarkan, tidak ada niat untuk sekedar menanggapi perkataan Angga.
" Oh ya, satu lagi. Malam ini aku tidur di bawah karena Asma membutuhkan ku. Kamu kan sehat dan juga tidak hamil jadi tidak apa- apa kalau tidur sendiri. " Ucap Angga lagi sebelum meninggalkan kamar mereka.
Tangis Naya pecah setelah mendengar pintu di tutup, tangan kanannya mengepal sedangkan tangan kirinya memegang kuar pinggiran meja.
Ia menjerit meluapkan kekecewaannya, berulang kali Ia mengatakan kalau dirinya juga sedang hamil, tapi tidak ada satu orang pun yang percaya. Baik itu Ibu dan juga suaminya sendiri.
__ADS_1
Bayangan hari- hari bahagia beberapa tahun silam semakin membuatnya menjerit.
" Nak....... Nak Naya Astaghfirullah Nak. "
Bi Nur yang sejak tadi menaruh curiga setelah melihat Angga turun tergesa-gesa, membuatnya terburu-buru masuk kekamar Naya karena takut terjadi sesuatu padanya dan ternyata benar.
" Sini Nak. "
Bi Nur menarik tubuh Naya masuk dalam pelukannya, Ia mengelus- elus punggung Naya yang berguncang karena menangis.
" Ada apa Nak, Apa Pak Angga menyakitimu lagi. " Tanya Bi Nur
Kanaya mengangkat wajahnya, mata merah dan juga air mata membasahi wajahnya yang mulai sembab.
" Bi, kenapa Mas Angga begitu kejam padaku. Kenapa...... kenapa dia tega melakukan ini semua. "
Bi Nur ikutan menangis, beliau menggeleng- geleng berulang kali.
" Memangnya Pak Angga berbuat apalagi Naya. "
" Mas Angga akan menikahi Asma besok, Dia bahkan tidak percaya kalau aku juga sedang mengandung anaknya Bi, padahal aku sudah mengatakannya berulang kali. "
Bi Nur kembali menarik Naya kedalam pelukannya sembari mengelus pundak Naya pelan.
Malam itu Naya tidur bersama Bi Nur, Bi Nur tidak tega meninggalkan Naya didalam kamar sendirian.
Sangat ingin Bi Nur mengatakan semuanya pada Umi Rahayu namun Naya melarangnya. Naya tidak ingin membuat Umi nya itu bersedih atau membuat saudara kembarnya marah.
Pagi hari rumah sudah di sulap sedemikian rupa, Naya yang sudah terbangun ikut membantu menyiapkan semua keperluan yang di butuhkan.
" Kak, bisa nggak aku bicara dengan Mbak Arlin sebelum acaranya di mulai. "
Angga mengangguk mengiyakan, Ia keluar dan memanggil Naya yang tengah sibuk membantu para asisten rumah tangga menata ruang tengah agar terlihat rapi.
Angga sudah mempersiapkan segalanya bahkan untuk Catering, karena tamu yang di undang pun tidak banyak.
" Makasih. " Ucap Asma pada Naya ketika tinggal mereka berdua.
" Makasih buat apa. "
" Makasih karena sudah mengijinkan Mas Angga bertanggung jawab pada darah dagingnya sendiri. Sepertinya Dia lebih bahagia bersamaku di banding dengan Mbak Naya. Jadi aku minta Mbak Naya untuk mengalah selama aku hamil, aku sangat ingin bermanja-manja dengan suamiku Mbak. Eh....maksudku suami kita. "
Kanaya menggigit bibir bawahnya pelan, sudah bisa Ia bayangkan bagaimana nasib pernikahannya setelah ini.
" Kenapa diam Mbak, apa Mbak keberatan dengan permintaan ku. Apa permintaan ku ini terlalu berlebihan, bukankah Mbak sudah hidup bersama dengannya selama bertahun-tahun dan aku hanya meminta untuk beberapa bulan kedepan saja, tapi kenapa Mbak keberatan mengabulkan permintaan kecilku ini. "
Kanaya menguatkan hatinya, Ia mengelus perutnya pelan.
" Sayang...... bantu Mama, kita pasti bisa melewati ini semua Nak. " Batin Naya.
" Lakukan apapun yang membuatmu bahagia, aku tidak akan menghalangimu. Oh ya, satu lagi. Tolong jaga kandungan mu itu, jangan sampai kamu mengecewakan Mas Angga, karena sekali Ia kecewa maka akan sangat sulit untukmu mengembalikan semuanya. "
__ADS_1
Naya segera berlalu keluar meninggalkan Asma yang masih mengartikan apa maksud dari ucapan Naya padanya.