Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 40 Talak Karena Amarah


__ADS_3

Angga akhirnya bisa meminta Asma dan juga Ibunya keluar sebentar karena Ia ingin berbicara dengan Kanaya Istrinya. Meskipun awalnya menolak akhirnya mereka keluar juga.


" Naya, apa kamu akan benar-benar pergi dari sini. " Tanya Angga yang membuat Naya mendadak bingung.


" Apa maksudmu Mas, bukannya Mas sendiri yang meminta agar aku pergi meninggalkan Mas dan pulang ke kampung. Lalu kenapa Mas berbicara seperti ini sekarang. "


Angga mengusap wajahnya kasar, Ia mendadak gusar.


" Bukan maksudku begitu Naya, maksudku..... kita masih bisa bersama bukan. Apa susahnya kamu minta maaf pada Asma dan mengakui semua kesalahan mu, katakan padanya kalau kamu mau berbagi dan..... kalau perlu kamu menganggapnya sebagai adik mu sendiri, aku rasa itu tidak terlalu sulit bagimu. "


Naya semakin kecewa pada suaminya, sepuluh tahun bersama nyatanya tidak cukup bagi Pria itu untuk mengenal bagaimana dirinya.


" Maaf Mas, sepertinya memang berpisah adalah jalan terbaik untuk kita berdua saat ini. Selama berpisah kita akan sama- sama belajar menyelami hati kita masing-masing, apakah hubungan ini masih pantas di lanjutkan atau memang harus berhenti di tengah jalan. "


Susah payah Naya menahan rasa sesak dihatinya, sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk mereka berdua. Pernikahan yang hadir karena perjodohan toh mampu Naya lewati, meskipun tidak ada cinta di awal pernikahan mereka.


Naya yang kala itu sudah mencintai seseorang dan menunggu Pria masa lalunya itu melamarnya, terpaksa harus menerima lamaran dari keluarga Wardhana.


Seiring berjalannya waktu Naya akhirnya bisa menerima kenyataan dan mencintai Pria yang kala itu sudah sah menjadi suaminya.


" Apa maksudmu Naya, kamu.... kamu benar-benar menginginkan ini terjadi ?. " Tiba-tiba hadir perasaan aneh di hati Angga, apalagi melihat Naya seolah baik- baik saja saat akan meninggalkan dirinya.


" Untuk apa menanyakan pertanyaan yang jawabannya bahkan Mas sendiri sudah tau. "


Naya menyeret kopernya menuruni anak tangga, Angga mengejar Naya dan memintanya berhenti. Naya melewati Ibu mertuanya dan juga Asma, sakit hati Naya karena tidak bisa berpamitan secara baik- baik pada Ibu mertuanya. Wanita yang selama ini sudah di anggapnya sebagai orang tuanya sendiri.


" Kanaya Putri wulandari binti machmud Aziz, berhenti atau kamu akan menyesali semuanya. "


Naya tetap melangkahkan kakinya karena sudah tidak ada yang di bicarakan lagi di antara mereka, untuk apa bersama kalau diantara mereka sudah rasa percaya sudah terkikis.


" Baiklah kalau itu maumu, dengarkanlah wahai engkau ' Kanaya Putri Wulandari binti machmud Aziz ' mulai sekarang aku bebaskan engkau memilih jalan mu sendiri. Pergilah kemana pun kamu mau, karena mulai saat ini kamu bukan Istriku lagi, aku talak kamu dengan talak satu, dua dan tiga. "


Suara Angga menggelegar memenuhi seisi rumah, banyak saksi yang mendengarkan apa yang di lontarkan Angga.


Naya memejamkan matanya, air matanya jatuh membasahi pipinya, mengiringi talak yang di ucapkan suaminya itu. Selesai sudah perjuangannya didalam rumah itu.


" Angga....... ! "


Bu Aminah terkejut mendengar kata- kata yang keluar dari mulut Putranya, entah mengapa hatinya merasakan sakit. Meskipun selama ini dirinyalah yang sudah menyarankan Angga untuk menceraikan Istrinya namun setelah sampai di titik ini entah ada sesuatu yang terasa mengganjal dihatinya.


Naya menghapus air mata di pipinya, dengan sisa kekuatannya Ia berbalik melangkah menghampiri Ibu mertuanya.

__ADS_1


Dari arah dapur Bi Nur berlari memeluk Naya sambil menangis.


" Nak, Bibi ikut ya. "


Naya menatap Bi Nur dan mengangguk


" Iya Bi, Bibi cepat bereskan semua barang- barang Bibi. Kita akan pergi dari sini. "


Bi Nur langsung mengusap air matanya, senyum langsung terbit di bibirnya walau masih bercampur kesedihan. Wanita paru bayah itu berlari kecil ke kamarnya untuk menyiapkan semua barang- barang berharga miliknya.


" Bu, maaf karena Naya tidak bisa menjadi menantu terbaik seperti yang Ibu inginkan. Terima kasih untuk kasih sayang Ibu selama sepuluh tahun ini, tolong halalkan semua yang sudah Naya nikmati di rumah ini. Semoga Ibu selalu bahagia, selalu jaga kesehatan juga ya Bu. "


Naya beralih menatap Asma, senyum terbit di sudut bibirnya.


" Selamat ya, perjuangan ku disini sudah selesai. Terima kasih karena kamu sudah menyambung perjuangan ku selama ini. Pesanku hanya satu, lakukan segala sesuatu dengan ikhlas bukan karena ada apanya. Ingatlah bahwa apapun yang kamu lakukan, kebaikan atau kejahatan sekecil apapun yang kamu lakukan kelak kamu akan menuai hasilnya. "


Naya beralih menatap suaminya yang sudah membersamainya selama ini, bibirnya menyunggingkan senyum kebahagiaan.


" Terima kasih untuk semua waktunya selama ini, maaf kalau selama jadi Istrimu aku melakukan banyak kesalahan. Jaga Dia yang saat ini menjadi pilihanmu, jangan pernah ulangi kesalahan yang sama, sebelum kamu menyesali semuanya disaat semua yang kamu miliki satu persatu pergi meninggalkan mu. "


Di waktu yang bersamaan Bi Nur datang dengan menenteng tas miliknya.


" Bi, kalau sudah siap kita berangkat sekarang. " Bi Nur mengangguk karena memang semua barangnya sudah Ia bawa tanpa satupun yang tertinggal.


Aulia muncul dari balik pintu, Ia menatap semua yang ada disana. Bukan amarah yang tersimpan tapi justru rasa iba, Ia tau apa yang akan mereka rasakan kelak jika tau kebenarannya.


" Naya, apa semuanya sudah siap. "  Tanya Aulia.


Naya mengangguk dan tersenyum, Ia menatap Ibu mertuanya dan juga Angga untuk terakhir kali.


" Sudah Lia, yuk kita berangkat sekarang. " Ajak Naya.


Aulia membantu Naya menarik kopernya karena Ia tau itu berat dan saat ini sahabatnya itu sedang hamil.


" Biar aku saja yang bawa Naya. "


Naya sekali lagi memalingkan wajahnya, ada sedikit rasa berat meninggalkan rumah itu. Bagaimana pun juga, banyak kenangan yang tersimpan disana.


" Naya pergi Bu, Assalamu'alaikum. " Pamit Naya sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah besar itu tanpa menoleh lagi.


Naya menatap keluar jendela, ingin menangis namun malu pada sahabatnya yang sedang mengemudi. Aulia yang tau perasaan sahabatnya sontak menepikan mobilnya.

__ADS_1


" Menangislah kalau itu bisa buat hatimu lega, jangan ditahan karena akan berpengaruh pada mereka. "


" Aku, aku tidak sedih Lia, untuk apa aku menangis. "


Mulutnya berkata lain tapi tidak dengan matanya, mata indah itu tidak mampu lagi menahan air mata yang tadi sudah susah payah Ia tahan. Bi Nur dengan cepat meraih tubuh Naya dan menariknya kedalam pelukannya.


" Sabar Nak, mungkin memang lebih baik seperti ini. Untuk apa bertahan dengan seseorang yang tidak bisa menghargai kita, ada banyak yang menyayangi mu Nak. Kita akan terus bersama, Bibi akan membantu Naya merawat si kembar, mereka pasti tidak akan kekurangan kasih sayang. "


Aulia pun mengatakan hal serupa, Ia juga bersedia menjadi Tantenya yang siap siaga menjaga mereka.


" Jangan lupa, ada aku juga Tante Aulia. Tante yang akan menjaga kalian dengan sepenuh hati Tante, gratis tanpa bayaran. "


Naya akhirnya bisa tersenyum setelah mendengar guyonan Bibi dan juga Aulia sahabatnya, Ia juga sedikit lega ketika selesai menangis.


" Nah gitu dong, senyum. Ini baru namanya Naya, sahabat ku yang dulu sudah kembali. "


Setelah berkendara selama setengah jam, Aulia baru kepikiran akan kemana tujuan mereka hari ini.


" Naya, ngomong- ngomong kita mau kemana sekarang. Apa langsung mudik kerumah Umi saja. " Tanya Aulia.


Naya bingung harus kemana, sebenarnya Ia belum siap menemui Uminya. Menceritakan semua kisah pahit yang Ia alami sekarang, namun saran dari Bibi sepertinya lebih baik.


Akhirnya mereka sepakat pulang kampung, apapun yang terjadi kedepannya Ia tidak ingin membohongi Uminya. Cepat atau lambat, Umi Rahayu pasti akan tau meskipun Ia coba sembunyikan.


Aulia dan juga Bi Nur menatap wajah sembab Naya yang tertidur lelap di pangkuan Bi Nur. Keduanya ikut merasakan kesedihan mendalam yang di alami oleh Naya.


Di kediaman Angga.


Angga memilih masuk kekamar utamanya bersama Naya, Ia melarang Asma untuk menganggunya.


Angga memandang seisi kamar itu, ada rasa sesak di hatinya karena di setiap sudut kamar itu menyimpan ceritanya tersendiri. Tidak ada satu sudut ruangan itu yang tidak membuatnya sesak.


Ia beralih ke arah meja dan membuka laci lemari, Ia terkejut karena ternyata Naya meninggalkan semua pasilitas yang Ia berikan selama ini. Termasuk cincin pernikahan mereka.


" Apa ini Naya, kamu meninggalkan ini semua. " Gumam Angga.


Angga mencoba menghubungi Naya namun nomor ponselnya tidak aktif. Angga masuk kedalam kamar mandi, disana pun sama. Banyak kenangan Istrinya tertinggal disana, membuat Angga menghela nafas berulang kali.


Nasi sudah jadi bubur, karena tidak mampu menahan amarah di hatinya, Ia mengucapkan kata talak yang seharusnya tidak boleh Ia ucapkan.


Berbeda dengan Angga dan juga Naya, Asma justru bersorak di kamarnya. Ia memberitahu kabar bahagia itu pada Tantenya yang berada di Banjarmasin.

__ADS_1


Saat ini semua keinginannya sudah tercapai, menjadi satu-satunya ratu di rumah itu. Membayangkan kemewahan yang akan Ia nikmati setelah ini membuat wajahnya berseri-seri.


__ADS_2