
Asma masih saja mencari cara agar suaminya membatalkan niatnya, hal itu membuat mereka selalu bertengkar. Bu Aminah yang merasa tak nyaman mendengar itu terpaksa buka suara.
" Angga, Asma. Ibu dengar sejak kemarin kalian selalu saja ribut, sebenarnya kalian berdua itu ngeributin apa, tidak bisakah kalian akur. Kalau ada masalah sebaiknya di selesaikan secara baik- baik, jangan selalu ribut seperti ini. "
Asma yang sudah siap ingin mengambil sarapan paginya tiba-tiba mengurungkan niatnya.
" Ibu tanya saja sendiri pada anak Ibu ini, apa yang sudah dia lakukan. "
Asma langsung melangkah pergi meninggalkan meja makan, dari kemarin selera makannya hilang. Bahkan sejak kemarin Ia belum menyentuh makanan apapun, itu semua karena kegelisahan hatinya.
" Angga, katakan pada Ibu ada apa sebenarnya. "
Angga menghela nafas panjang, bahkan untuk sarapan saja Ia tidak bisa di biarkan tenang.
" Bu, Angga ingin sarapan. Ibu bisa lihat ini sudah jam berapa, Angga pagi ini ada pertemuan penting. Sangat penting dan kalau Angga gagal lagi maka semua kenyamanan yang kita rasakan saat ini akan hilang juga. "
Ingin rasanya Angga lari dari rumahnya namun tidak tega pada Ibunya.
" Baiklah Nak, kalau begitu sarapan saja. Kamu bisa ceritakan sama Ibu nanti kalau sudah ada waktu, tapi kalau Ibu boleh minta tolong, tolonglah Nak. Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin, jangan selalu tanggapi sebuah permasalahan dengan amarah karena amarah tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. "
Di dalam kamar Asma histeris sembari memegang kepalanya, seolah ada suara jahat yang mentertawakan dirinya dan itu membuatnya frustasi.
" Asma, kamu mau kemana Nak. "
Bu Aminah langsung bertanya kepada menantunya karena melihat Asma keluar dengan terburu-buru. Asma hanya melihat sekilas dan kemudian melangkah pergi tanpa berniat menjawab pertanyaan Ibu mertuanya.
" Dosa apa sih yang aku perbuatan dulu, sehingga aku dapat mertua yang cerewet. Selalu saja ikut campur urusan ku, memang dia pikir aku ini anak kecil, harus di tanya mau kemana setiap akan pergi. " Gerutu Asma.
Asma turun di depan sebuah rumah sakit, Ia memakai penutup wajah untuk menyamarkan wajahnya agar tidak di kenali oleh orang lain.
Asma melangkah terburu-buru mencari sebuah kamar rawat inap. Ia masuk dengan tergesa-gesa setelah melihat papan nama yang Ia cari.
__ADS_1
" Si.... siapa kamu. " Tanya Albert yang terkejut melihat kedatangan seseorang secara tiba-tiba dengan penampilan yang mencurigakan.
Albert ingin meminta bantuan dengan memencet tombol di samping nya namun Asma dengan cepat melarangnya dan membuka maskernya.
" Mas, ini aku Asma. "
Albert menatap wajah Asma, tiba-tiba semua ucapan Robert terngiang kembali di benaknya.
" Ada hal apa yang begitu penting hingga membuat mu datang kemari. "
Asma terkejut mendengar pertanyaan Albert, tidak biasanya Pria itu bersikap dingin padanya seperti saat ini.
" Mas, kok nanya gitu. Mas aneh tau nggak sih, tentu saja aku kemari. Aku ini adalah adikmu, ada atau tidak ada hal yang penting tetap saja kalau aku harus mengunjungi mu bukan. "
Albert mendengus kesal, bukan kesal pada Asma tapi kesal pada Pria yang selama ini sudah membohongi mereka.
" Ya sudah, sekarang katakan Asma. Apa maksudmu datang kemari, kamu sudah lihat kan kalau Mas sekarang sedang sakit dan tidak bisa kemana-mana. Mas juga tidak bisa membantu apapun kalau memang kamu kemari untuk meminta bantuan. "
Di saat sedang mengobrol tiba-tiba terdengar suara dari luar, Asma mendadak panik karena mendengar bunyi pintu di buka.
Albert langsung tersenyum ketika melihat siapa yang datang, apalagi melihat wanita impiannya tersenyum begitu manis padanya.
" Aku, alhamdulillah sudah agak mendingan. Apalagi kalau kamu selalu ada di sampingku tentu kondisiku pasti akan lebih cepat lagi pulihnya. "
Leony memeriksa kondisi Albert tanpa terpengaruh dengan gombalan Pria yang sedang terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada dirinya.
" Cantik. " Gumam Albert.
Matanya tak lepas menatap wajah cantik Leony, mulutnya juga tidak berhenti memuji kecantikan gadis cantik itu.
" Baiklah, sepertinya kondisimu sudah lebih baik. Kalau sampai terus seperti ini mungkin besok kamu sudah bisa di ijinkan pulang. " Ucap Leony.
__ADS_1
Ia kemudian berpamitan karena harus menjalankan tugasnya yang lain, tentu Albert melarang namun Ia akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa karena memang Leony harus menjalankan aktivitasnya yang lain.
Asma keluar dari tempat persembunyian nya, sejak tadi Ia penasaran dengan siapa yang tiba-tiba sajal datang ke ruangan Albert sampai membuatnya terpaksa bersembunyi.
" Siapa tadi Mas. " Tanya Asma masih berusaha mencari siapa teman bicara Albert barusan.
" Maksudmu. " Tanya Albert.
" Itu yang tadi masuk kemari, sepertinya aku pernah mengenalnya, tapi siapa ya. Suaranya sepertinya tidak asing bagiku, seperti pernah aku dengar tapi aku lupa siapa ya. " Ucap Asma sambil berusaha mengingat- ingat dimana dirinya pernah mendengar suara itu.
Albert menatap Asma dengan tatapan heran dan juga curiga, bukan tanpa alasan. Setelah tau siapa Asma sebenarnya tidak menutup kemungkinan kalau Asma juga mewarisi watak seperti orang tuanya.
" Sudahlah Asma, tidak perlu sampai segitunya. Cuma suara bukan, banyak di luar sana orang yang suaranya secara kebetulan sama jadi lupakan saja. "
Asma manggut-manggut, mungkin benar apa yang di katakan oleh Albert.
" Sekarang cepat katakan apa maksudmu sebenarnya datang kemari, kalau tidak ada yang penting bisa tinggalkan Mas sendiri, Mas ingin istrahat. "
Asma akhirnya menceritakan maksud kedatangan nya menemui saudaranya itu.
" Maaf Asma, kalau soal itu Mas tidak bisa bantu. Bagaimana caranya Mas bantu kalau Mas sendiri masih ada disini. "
" Mas, Mas kan tau siapa Pria itu. Mas bisa meminta dia untuk mencabut laporan nya agar Papa bisa bebas. "
Asma terus mendesak agar Albert mau membantunya.
Asma mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah sakit tempat Albert di rawat, Ia masih mencoba mengingat- ingat suara seseorang yang berbicara dengan Albert beberapa menit yang lalu.
" Siapa sih dia, kok aku begitu yakin pernah mendengar suara itu tapi dimana. Sebenarnya ada apa dengan semua yang terjadi belakanga ini, kok semua jadi aneh. Apalagi Mas Albert, ada apa dengan nya, jangan bilang kalau dia lupa ingatan, masa sama saudara sendiri saja dia seperti itu, ini tidak seperti biasanya. "Gumam Asma.
Di sebuah pusat perbelanjaan Asma menghabiskan waktunya disana, membeli banyak hal yang Ia mau.
__ADS_1
" Daripada aku pusing mikirin mereka lebih baik aku bersenang-senang, sudah lama juga aku tidak melakukan ini. " Gumam Asma.
Ia mengambil semua barang- barang kebutuhannya, bahkan banyak barang yang sebenarnya tidak penting, namun seperti biasa. Ia selalu kalap jika sudah berada di tempat seperti itu.