
Kanaya terkejut mendapatkan tamu yang tidak di sangka- sangka, sebelumnya seseorang mengetuk pintu ruangannya dan seperti biasa Ia langsung meminta tamunya untuk masuk tanpa memeriksa terlebih dahulu siapa tamunya.
" Hei Istri ku, kok bengong sih. Kamu pasti nggak menyangka kan kalau aku bisa sampai kemari. " Angga tersenyum seperti biasa.
Kanaya yang terkejut berusaha bersikap tenang, Ia mempersilahkan tamu yang sama sekali tidak di harapkan nya itu untuk duduk.
" Silahkan duduk Mas. "
Angga semakin berbangga hati, itu karena Kanaya menyambutnya dengan ramah.
" Wah aku tidak menyangka jalan ku untuk bersama dengan mu akan semudah ini, kamu ternyata masih sangat mencintai ku. " Batin Angga.
" Maaf Mas, saat ini saya sedang banyak pekerjaan. Kalau ada sesuatu hal yang penting sebaiknya Mas segera katakan secepatnya. "
Setelah lama terdiam akhirnya Kanaya buka suara, mendengar itu Angga justru tersenyum dan menganggap ucapan Kanaya hanya sekedar gurauan.
" Aku kemari ingin melihat Istri ku, bukankah cepat atau lambat kita akan kembali bersama lagi. Aku kemari ingin menemanimu bekerja. " Ucap Angga di sertai tawa kecilnya.
Kanaya berusaha menahan kekesalan nya dan berbicara baik- baik pada mantan suaminya itu.
" Maaf Mas, seperti nya tidak ada hal yang penting. Kalau begitu sebaiknya Mas kembali karena sebentar lagi aku ada rapat penting. "
Bukannya pergi Angga justru mengatakan akan tetap disana dan menunggu sampai Kanaya selesai dengan rapat pentingnya itu.
Kanaya benar-benar di uji kesabarannya, ingin rasanya Ia berbuat kasar dan memanggil petugas keamanan untuk menyeret Pria itu keluar dari ruangannya namun Kanaya masih berusaha sabar.
Saat Kanaya benar-benar kehilangan kesabarannya dan berniat memanggil satpam, tiba-tiba ponsel Angga berbunyi. Nampak Angga mengeluarkan benda pipihnya itu, tiba-tiba raut wajahnya berubah.
Tanpa pamit Angga langsung meninggalkan ruangan Kanaya, semua gerak geriknya tidak luput dari perhatian Kanaya yang menatapnya heran.
" Orang yang aneh, sudah kaya jelangkung. Datang tiba-tiba pulangnya juga tiba-tiba, tapi syukurlah kalau dia pulang. Baru juga aku mau memintanya pergi eh dia sudah pergi duluan. "
Kanaya geleng-geleng kepala, namun Ia merasa lega karena tidak ada lagi pengganggu di ruangannya. Ia kembali menyibukkan diri dengan setumpuk berkas di depannya yang rasanya seakan tidak pernah berkurang itu, hari ini Ia selamat dari gangguannya Angga karena ada notif di ponsel Pria itu.
__ADS_1
" Dasar tidak berguna. " Maki Angga, banyak kata- kata kasar keluar dari bibirnya.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju kediamannya, masih dengan amarah yang memuncak Angga masuk kedalam rumah. Disana Ia di sambut oleh Ibunya seperti biasa yang selalu menanyakan bagaimana kabar dirinya.
" Angga baik- baik saja Bu, oh ya Bu. Apa Asma ada di rumah. " Tanya Angga.
Bu Aminah menggeleng karena sejak menantunya itu pergi tanpa peduli padanya, sampai saat ini Bu Aminah belum melihat batang hidung wanita itu.
" Belum pulang Nak, tadi pagi keluar tergesa-gesa. Ibu tanya mau kemana tapi dia nggak jawab, apa ada masalah lagi Nak. " Tanya Bu Aminah
Angga menggeleng dan pamit masuk ke kamar.
" Nggak ada apa- apa Bu. Oh ya, Angga kedalam dulu, mau membersihkan diri dan istrahat, Angga lelah. "
Bu Aminah mengangguk dan memandangi kepergian anak semata wayangnya itu hingga hilang di balik pintu.
Berselang satu jam kemudian, terdengar suara mobil Asma.
" Pak, tolong bantu bawakan semua barang belanjaannya kedalam. Oh ya Pak, tolong hati- hati, jangan sampai ada yang rusak. Kalau sampai itu terjadi maka siap- siap gajih bulan ini tidak akan bisa Bapak nikmati bersama keluarga Bapak. "
Asma melangkah kedalam rumah dengan perasaan senang, hari ini Ia begitu bahagia karena beberapa barang yang Ia inginkan selama ini mampu Ia beli.
" Darimana saja kamu. "
Baru juga membuka pintu kamar, Asma sudah di sambut dengan suara bariton suaminya.
Wajah yang tadi nampak sumringah tiba-tiba berubah pucat, Ia berpikir kalau suaminya belum pulang hingga dia punya waktu menyembunyikan semua barang belanjaannya di tempat yang aman.
Asma berusaha cuek dan masuk kedalam, di belakang satpam mengetuk pintu dan terpaksa Asma menghentikan langkahnya.
" Maaf Bu ganggu, ini mau di letakkan dimana Bu. " Tanya satpam.
Asma menunjuk ke atas sofa dan satpam pun mengangguk, dengan hati-hati beliau meletakkan semua barang belanjaan Asma di atas sofa tersebut.
__ADS_1
" Asma, kamu belum jawab pertanyaan ku. Kamu darimana saja, kata Ibu kamu pergi dari pagi dan baru pulang jam segini. " Suara Angga mulai meninggi.
Asma berusaha biasa saja seolah tidak melakukan kesalahan apapun.
" Ya aku jalan- jalan dong Mas, masa aku harus diam di rumah saja sepanjang hari. Aku juga bosan Mas, aku ingin menghibur diri. " Jawab Asma.
Erlangga mendengus kesal mendengar jawaban Istrinya.
" Jalan- jalan katamu, dengan menghabiskan uang sebanyak lima puluh juta lebih begitu. " lagi- lagi suara Erlangga terdengar nyaring sampai keluar kamar.
Bu Aminah menggeleng pelan dengan helaan nafas panjang, selama beberapa tahun terakhir ini rasanya rumah itu sudah jauh dari kata tentram. Setiap hari ada- ada saja yang di ributkan.
Karena kegaduhan di kamar Angga semakin tidak terkendali, akhirnya Bu Aminah memutuskan ke kamar Angga.
" Ada apa lagi Angga, Asma. Suara kalian itu bisa di dengar sampai beberapa rumah dari sini, apa tidak bisa kalian itu sehari saja tidak ribut. Ibu sampai bingung dengan kalian. "
Asma berdiri dengan tangan di letakkan di kedua pinggangnya.
" Ibu tanyakan saja pada anak Ibu itu, kenapa dia selalu saja marah-marah. Apapun yang Asma lakukan selalu saja salah. " Jawab Asma.
Bu Aminah menatap Angga, meminta penjelasan pada Putranya.
" Bu, siapa yang tidak akan marah. Ibu lihat saja sendiri, sejak pagi dia keluar dan kembali dengan semua barang belanjaan yang Ibu bisa lihat sendiri. "
Bu Aminah memandang seluruh barang-barang yang ada di atas sofa dimana arah tangan Angga.
" Kan biasa itu Bu, seorang Istri berbelanja kebutuhannya. Lagipula aku sudah beberapa bulan ini tidak pernah belanja, anak Ibu saja itu yang pelit nya minta ampun. "
Asma lagi- lagi keluar, meninggalkan Ibu mertua dan juga suaminya itu.
" Sudahlah Angga, biarkan saja dia belanja. Kan dia juga punya kebutuhan sendiri, Asma benar Nak. Dia sangat jarang berbelanja barang kebutuhannya sendiri. "
Angga mengusap wajahnya kasar, bukan maksudnya untuk perhitungan. Tapi memang beberapa tahun ini mereka sedang berusaha menghemat pengeluaran, mereka hanya mengunakan uang untuk sesuatu yang penting saja.
__ADS_1
" Bu, aku tidak akan marah kalau dia mengeluarkan uang sewajarnya. Coba Ibu lihat dia menghabiskan dana berapa hari ini, lima puluh juta lebih Bu. " Ucap Angga frustasi.
Bu Aminah terkejut mendengar nominal yang di sebutkan Angga, pantas saja kalau Putranya itu marah besar. Selama ini mereka memang tengah berhemat, bahkan beliau sampai rela mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga, itu semua untuk mengurangi beban Putranya.