
Kanaya melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, Ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Meskipun dalam hatinya masih menyimpan rasa kecewa pada Dokter itu, namun rasanya Ia tak nyaman menolak panggilan Pria itu apalagi katanya masalahnya sangat penting.
" Lia, aku pergi dulu ya. Ada keperluan penting soalnya, habis dari sana aku langsung pulang kerumah, jadi kalau mau tutup di tutup saja ya butiknya. "
Kanaya memasukkan semua barang- barang yang penting kedalam tas selempangnya.
" Naya, sebenarnya kamu mau kemana, aku ikut dong. "
Kanaya akhirnya setuju mengajak Aulia, kalau di pikir- pikir nggak ada ruginya juga kalau Dia mengajak sahabatnya itu ikut dengannya. Paling tidak Ia tidak akan takut lagi kalau sampai Dokter itu mengganggunya.
" Ayo. "
" Yes ! . "
Aulia bersorak senang, akhirnya sahabatnya itu mengijinkannya ikut bersamanya. Keduanya pergi menggunakan mobil Kanaya, kebetulan rumah sakit itu tidak terlalu jauh hanya butuh waktu sepuluh menit dari butik Kanaya.
" Rumah sakit Naya, apa kamu sakit. Kamu sakit apa, kenapa nggak bilang. "
Aulia bertanya setelah mereka tiba di lobby rumah sakit. Kanaya menggeleng, sambil melangkah masuk di iringi Aulia.
" Nggak juga Lia, tapi Dokter Dimas meminta kami datang kemari, katanya ada kabar soal pemeriksaan kami beberapa bulan yang lalu. "
Aulia mengangguk- angguk mengerti, Ia bisa bernafas lega. Mereka melangkah beriringan hingga tiba di ruangan Dokter Dimas.
" Assalamu'alaikum. "
" Wa' alaikum salam, masuk. "
Dimas langsung berdiri ketika melihat siapa yang datang.
" Masuk Naya dan...
" Aulia Dok... ! " Lia menyebut namanya sendiri.
" Ah iya Mbak Aulia. Mari silahkan duduk. "
Keduanya duduk di kursi tepat di depan meja Dimas, Dimas menatap kedua wanita itu heran sembari menghubungi seseorang agar datang ke ruangannya.
" Ada apa Dok, kenapa kami di panggil kemari. " Kanaya langsung menanyakan perihal penting apa yang disampaikan Dokter padanya.
Kening Dimas berkerut mendengar panggilan Kanaya, biasanya Ia memanggil tanpa embel Dokter.
" Apa kalian kemari hanya berdua, maksudku apa Angga tidak ikut dengan mu. "
Raut wajah Kanaya langsung berubah murung, Ia ingat suaminya yang ternyata memilih jalan bersama wanita lain di banding menemaninya kerumah sakit.
" Hm.... Mas Angga sedang sibuk di kantor, hari ini ada rapat penting yang tidak bisa Ia tinggalkan, jadi tidak bisa ikut kemari. "
__ADS_1
Aulia menyentuh punggung tangan Kanaya yang duduk disampingnya.
" Hustt jangan sedih, ada aku. Senyumlah. " Bisik Aulia.
Kanaya akhirnya tersenyum kembali, berbeda dengan Dokter Dimas. Ia sampai mengepalkan tangannya, dengan gigi gemeretak menahan amarah yang sudah sampai ubun- ubun. Bersamaan dengan itu pintu di ketuk dari luar dan nampak seorang wanita memasuki ruangan.
" Assalamu'alaikum Dok, Ibu Kanaya dan Mbak.... ! " Sapa Dokter Husna dengan senyum ramah khas seorang Dokter.
Kanaya dan yang lainnya menjawab salam Dokter yang masih nampak seger bugar meski sudah berumur itu.
" Apa Ibu datang sendiri, tidak di temani Pak Angga. "
Kanaya mengangguk dan kembali menjelaskan alasan suaminya tidak bisa menemaninya saat ini.
" Ya sudah, tidak apa- apa. Meskipun sebenarnya lebih baik kalau kabar ini di dengar oleh keduanya, tapi mau bagaimana lagi. Pekerjaan juga sangat penting. "
Nampak Dimas dan juga Dokter Husna mendiskusikan sesuatu hal yang tidak di ketahui oleh Kanaya maupun Aulia, karena keduanya sangat fokus pada lembaran kertas yang ada di tangan Dokter Husna.
" Baiklah, pasti Ibu bertanya-tanya mengapa kami meminta Ibu untuk datang kemari. Awalnya kami juga tidak percaya dengan hal ini, karena selama saya berkecimpung di bidang ini baru kali ini saya mendapatkan kasus yang seperti ini. Ini benar-benar diluar nalar, ternyata sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin kalau Allah menghendaki. "
Kanaya mencoba menyimak meskipun hati dan pikirannya saat ini sedang tidak sinkron, Ia masih memikirkan apa yang di lakukan suaminya ketika berdua dengan Asma.
" Jadi maksud Dokter. " Kali ini Aulia yang bertanya karena mulai penasaran.
Dokter wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangannya kedepan Kanaya.
" Selamat ya Bu Kanaya, Ibu positif hamil. "
" Say, kamu hamil. Dokternya mengucapkan selamat padamu. " Bisik Aulia yang sudah terharu lebih dulu, Ia mengelus- elus pundak Kanaya.
Naya menerima uluran tangan Dokter wanita itu dengan mimik bingung, meskipun begitu jantungnya berdegub lebih kencang setelah mendengar kata hamil dari sahabatnya.
" Hamil Dok, maksud Dokter Sa.... Saya ha....hamil begitu. " Tanya Kanaya memastikan.
Ia berharap telinganya masih normal, sehingga apa yang dikatakan Aulia itu benar adanya.
" Iya Bu, Ibu Kanaya saat ini sedang mengandung dan untuk memastikan itu bagaimana kalau kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut. "
Tanpa terasa air mata Naya jatuh membasahi pipinya, hadiah penantiannya selama sepuluh tahun akhirnya membuahkan hasil. Ia mengelus perutnya yang masih rata.
" Benarkah sayang, kamu sudah ada di dalam perut Mama. " Naya seolah berbicara dengan janin yang ada di rahimnya.
Aulia yang melihat sahabatnya menangis pun ikut menangis.
" Naya, kita periksa dulu yuk. Tuh Dokternya sudah nungguin. "
Aulia mengusap air mata di pipi Naya, Ia tahu kalau ini adalah kabar bahagia yang sudah lama di tunggu- tunggu oleh sahabatnya itu. Sempat di vonis tidak bisa memiliki keturunan ternyata Allah berkehendak lain.
__ADS_1
Naya mengangguk, Ia melafalkan do'a do'a di dalam hati ketika Dokter wanita itu mengoleskan jel dan juga alat pendeteksi di perutnya.
Dokter Dimas dan juga Dokter Husna tersenyum, ternyata diagnosa mereka benar.
" Dok, apa yang berbentuk kacang itu. " Tanya Aulia.
Dokter Husna tersenyum begitu juga dengan Dokter Dimas.
" Itu calon bayinya Bu, dan ada kabar baik lagi ternyata. Selamat Bu, Ibu bukan hanya positif hamil tapi calon Ibu dari dua bayi sekaligus. " Ucap Dokter Husna yang membuat Aulia langsung melongo.
Dokter membantu Kanaya untuk duduk, begitu juga dengan Aulia yang langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.
" Lia, aku hamil. Ya Allah, alhamdulillah.... ! " Ucap Kanaya menangis haru.
Aulia pun sama, Ia juga menangis sambil mengusap punggung sahabatnya.
Dokter menjelaskan apa yang harus dan tidak boleh di lakukan oleh Kanaya. Naya menyimak dengan seksama semua nasihat Dokter, bagaimana pun Ini adalah berkah yang Ia tunggu- tunggu selama bertahun-tahun dan akan Ia jaga dengan setulus hatinya.
" Dok, apa boleh aku minta sesuatu. " Tanya Naya pada Dimas ketika mereka tinggal berdua saja di ruangan Dokter itu.
Dokter Husna sudah kembali menjalankan tugasnya yang lain sedangkan Aulia, Ia pergi mengambil obat yang sudah di resep kan untuk Kanaya.
" Boleh Nayap, apa itu. "
Naya bingung bagaimana mengatakannya pada Dimas, apa Pria itu akan membantunya sedangkan dia adalah sahabat suaminya.
" Naya, kamu mau minta apa. " Dimas mengulang pertanyaannya karena Naya memilih diam.
" Emmm, apa boleh aku minta tolong. Kalau boleh jangan bilang ke Mas Angga soal kabar kehamilan aku ini, biar aku saja nanti yang menyampaikannya. Apa boleh. "
Kanaya memicingkan matanya, menunggu jawaban Dias. Tidak lama kemudian Pria tampan itu tersenyum.
" Jangankan minta tolong soal itu, minta jadi suamimu juga aku tidak akan menolak. " Jawab Dimas dengan wajah serius.
Kanaya melongo mendengar candaan Dimas, Ia memandang sekeliling tapi ternyata tidak ada siapa pun disana. Ish bisa- bisanya Dokter itu menggodanya pada saat mereka hanya berdua di ruangan itu.
" Kamu apa - apaan sih Dim, ini nggak lucu tau. "
Dimas langsung tertawa keras, Ia merasa lucu melihat wajah Kanaya, namun Ia senang akhirnya Naya memanggilnya dengan panggilan Dim, saja tanpa embe- embel Dokter.
" Memang nggak lucu sih Naya, tapi aku siap kok kalau kamu meminta aku buat jadi Papanya si kembar. " Lagi-lagi ucapan Dimas membuat Kanaya merinding.
Ia langsung berdiri dan berniat pergi, Lama-lama diruangan itu bisa- bisa jantungnya tidak sehat.
" Hei sayang, slowly.... Tenang, ingat anak- anak. Apa kata Dokter Husna tadi, kamu tidak boleh marah- marah atau ini. Lihatlah, kamu berdiri tidak hati- hati. Bagaimana kalau mereka terbentur pinggiran meja, apa kamu mau...
Kanaya menggeleng berulang kali, Ia menyesal dan mengelus- elus perutnya.
__ADS_1
" Maaf, maafin Mama sayang. Kalian tidak apa- apakan, Mama janji akan hati- hati. " Batin Naya.
Ia memilih duduk kembali menunggu Aulia yang sedang mengantri di depan apotek. Dimas menatap wajah lucu Istri dari sahabatnya itu, namun juga Ia bingung jika mengingat apa yang Ia lihat beberapa jam sebelumnya.