Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 94 Gagal Kabur


__ADS_3

Erlangga sudah rapi dengan pakaian kantornya, Ia mencari Istrinya namun tidak juga di temukannya di dalam kamar mereka.


" Bu...... ! Bu...... ! " Panggil Angga pada Ibunya.


" Iya, eh Nak kamu sudah pulang Nak. Mari Nak, sarapan dulu. "


Angga mengangguk dan menarik kursi untuk dirinya sendiri.


" Iya Bu, Angga pulang malam tadi. Oh ya Bu, dimana Asma. Sejak malam tadi aku tidak melihat dia. "


" Ah Asma, kemarin dia telpon katanya ada pekerjaan di luar kota jadi tidak pulang. Mungkin hari ini dia pulang atau besok. " Jawab Bu Aminah sambil menyendokkan nasi ke piring Putranya.


Angga hanya menjawab Oh dan manggut-manggut, dia memindai seisi dapur mencari sesuatu namun tidak nampak olehnya.


" Cari apa Nak. " Tanya Bu Aminah


Angga gugup karena ketahuan Ibunya tengah memindai seisi dapur.


" Ehemm nggak, nggak ada apa apa sih Bu. Oh ya, apa Ibu hanya sendiri. Maksud Angga, apa tadi Ibu masak sendiri. Soalnya Angga tidak lihat siapa pun soalnya. "


Bu Aminah tersenyum


" Nggak Nak, tadi sih sama Susi, tapi dia Ibu suruh istirahat. " Jawab Bu Aminah.


Angga semakin penasaran mengenai penyebab asisten rumah tangganya yang di minta istirahat.


" Maksud Ibu apa, kenapa dia di suruh istirahat terus semua kerjaan Ibu yang kerjakan begitu. "


Lagi- lagi Bu Aminah tertawa kecil.


" Kamu tau nggak, pagi ini Susi aneh tau nggak. Dia seperti orang ketakutan, dia bahkan menjatuhkan piring dan juga melukai tangannya sendiri. Pas Ibu tanya dia kenapa, kamu tau apa jawabannya. Masa dia bilang kalau dia habis mimpi buruk makanya dia ketakutan. Kan lucu, masa iya mimpi buruk sampai segitunya. "


Angga semakin gelisah namun Ia berusaha menutupinya, Ia langsung menyantap sarapannya dengan cepat.


" Nak, pelan- pelan makannya. Ini juga baru jam berapa, masih banyak waktu. " Tegur Bu Aminah sembari melihat jam yang di gantung di dinding.


Angga mengambil tisu untuk mengeringkan mulut dan tangannya. Dia juga segera berpamitan pada Ibunya.

__ADS_1


" Ah iya Bu, Angga lupa. Angga pagi ini ada rapat penting, Angga lupa belum mempelajari semua materinya. Oh ya Bu, Angga berangkat dulu ya, assalamualaikum. "


Bu Aminah yang bingung hanya manggut-manggut dan menatap kepergian Putranya. Angga segera berlari keluar dan mengendarai mobilnya. Namun setelah keluar pagar bukannya pergi ke kantor, Dia justru berbelok ke arah belakang. Angga mengendap-endap melalui pintu belakang.


Di dalam kamar Susi sedang mengemasi pakaiannya, Ia berniat untuk pergi dari tempat itu.


" Aku harus pergi dari sini, maaf Dek. Kakak nggak bisa mengabulkan permintaan mu sekarang. Tapi Kakak janji, kakak akan secepatnya cari kerjaan agar bisa mengirimkan mu uang untuk melunasi uang sekolah mu. " Gumam Susi.


Tiba-tiba pintu di buka dan juga di tutup langsung, Susi terkejut melihat siapa yang datang. Ia ingin berteriak namun dengan cepat Angga membungkam mulutnya menggunakan tangannya.


" Ssttttt diam. " Bisik Angga dengan menempelkan satu tangannya di bibirnya.


Lagi- lagi Susi ingin berteriak namun kali ini Angga langsung membungkam mulut Susi dengan bibirnya. Susi gemetar ketakutan.


" Aku bilang diam, kalau kamu terus teriak aku akan melakukan yang lebih dari ini. " Ancam Angga


Susi yang ketakutan akhirnya memilih diam, Angga melihat tas milik Susi dan beberapa pakaian nya yang lain yang masih belum masuk semua.


" Apa ini, apa kamu berpikir untuk kabur hm. Apa kamu pikir bisa kabur begitu saja, apa alasan yang akan kamu katakan pada Ibu kalau kamu pulang mendadak ha. "


Susi gemetaran ketika Angga kembali menghampirinya.


Susi semakin ketakutan, matanya sudah berkaca- kaca. Tiba-tiba ponselnya berdering, Susi yang ketakutan segera mengambil ponselnya.


" Dek Salma. " Gumam Susi.


" Kenapa tidak di angkat. " Tanya Angga ketika melihat Susi mengabaikan panggilan masuk di ponselnya.


" Susi, aku minta kamu lupakan semuanya dan bersikap biasa saja. Aku akan memberimu...... ah ini, ambillah untuk mu. Tapi dengan syarat, lupakan semua yang terjadi. "


Angga mengeluarkan uang ratusan dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Susi.


" Itu ada satu juta, itu dulu karena hanya itu uang cesh yang aku punya. Nanti aku tambahin lagi. "


Di meja makan, Bu Aminah yang ingin merapikan meja makan tiba-tiba teringat kepada Susi yang sebelum nya Ia suruh istirahat.


" Ah, Susi kan belum sarapan. Dia pasti lapar, lebih baik aku panggil saja biar bisa sarapan sama-sama. "

__ADS_1


Bu Aminah melangkah ke kamar belakang, Ia mengetuk pintu kamar Susi.


" Sus, Susi. Ini Ibu, yuk kita sarapan sama-sama. "


Susi dan juga Angga terkejut, Angga yang tau kalau itu Ibunya benar-benar bingung harus bagaimana.


" Aku akan sembunyi, kamu silahkan temui Ibu dan ingat apa yang aku katakan. "


Angga mencari tempat persembunyian, sementara Susi mencoba mengatur nafasnya agar tidak gugup. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering, di luar juga Bu Aminah terus mengetuk pintu karena tidak ada respon dari Susi.


Susi segera memasukkan tasnya kebawah ranjang, Ia juga mengambil ponselnya. Ia bingung harus mana yang Ia dahulukan.


" Ah iya Dek. "


Pintu tiba-tiba di buka dari luar, Bu Aminah tersenyum melihat Susi baik- baik saja.


" Baik Dek, nanti agak siangan ya. Maaf ya Dek, sudah dulu ya, kakak ingin bekerja dulu. "


Susi memutuskan panggilan telponnya, Ia meminta maaf pada Bu Aminah karena tadi sedang menerima telpon dari kerabatnya di kampung.


" Maaf Bu, tadi saya terima telpon dari adik saya di kampung. "


" Ah tidak apa apa, yang penting kamu baik- baik saja. Oh ya, kita sarapan yuk, kamu kan belum sarapan. "


Susi langsung menyetujui ajakan Bu Aminah karena takut keberadaan Angga ketahuan oleh Ibunya.


" Oh iya Bu, ayo. "


Angga segera keluar sesaat setelah Susi dan juga Bu Aminah keluar dari kamar itu, dengan langkah cepat Ia segera kembali ke mobilnya sebelum ada seseorang yang menyadari keberadaan nya.


Bu Aminah mengambilkan nasi untuk Susi namun Susi menolaknya.


" Biar saya saja Bu, Ibu duduk saja disana. Oh ya, Ibu mau makan apa, biar Susi yang ambilkan. "


Keduanya sarapan dalam diam, Bu Aminah bersyukur karena melihat asisten rumah tangganya baik- baik saja.


" Oh ya Susi, habis ini temani Ibu ya belanja ke pasar. Seperti nya stok bulanan kita di kulkas sudah banyak yang habis. "

__ADS_1


Susi mengangguk senang, kebetulan sekali Ia bisa keluar rumah. Hal itu memungkinkan Ia mengirim uang untuk keperluan adiknya di kampung yang tinggal bersama sang nenek.


__ADS_2