
Angga di buat heran oleh kedua wanita di rumahnya, mereka bertingkah aneh setelah dari supermarket.
" Ada apa dengan mereka berdua, sama sama aneh seperti melihat hantu saja. "
Angga yang sudah menahan lapar sejak tadi akhirnya harus memesan makanan lewat online.
Angga berlari kecil keluar rumah, Ia di buat penasaran dengan apa yang terjadi pada Ibunya.
" Amang. " Panggil Angga.
Satpam langsung menemui Angga setelah mendengar namanya di panggil.
" Amang, tadi selain dari supermarket Amang sama Ibu kemana saja. " Tanya Angga.
Amang satpam sedikit berpikir dan mulai menceritakan semuanya setelah mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
" Ngapain Ibu kesana, itukan lumayan jauh dari sini. "
Amang nampak menggaruk- garuk kepala, sejak tadi Pria itu sudah bingung dengan sikap majikannya. Wanita yang biasanya nampak lemah tapi bisa berlari ke tengah hutan tanpa tau apa yang di kejarnya.
" Amang juga kurang tau Pak. " Jawab Amang satpam.
Angga tersenyum, bukan salah Amang kalau Pria itu tidak tau apa yang terjadi.
" Baiklah Amang, tidak apa- apa, nanti aku tanya sendiri saja pada Ibu, terima kasih ya Mang. "
Amang mengangguk dan memilih kembali ke pos satpam.
Angga kembali kedalam rumah, Ia langsung ke kamar Ibunya. Tujuannya hanya ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
Angga mendapati Ibunya tengah berdiri di samping jendela, memandangi bunga- bunga yang ada di taman.
" Ada apa Bu. " Tanya Angga.
Bu Aminah menoleh dan menghela nafas panjang, Angga mengajak Ibunya untuk duduk di sofa bersamanya.
" Ada apa sebenarnya Bu. Tadi kata Amang, Ibu ke pinggiran kota bahkan berlari ke hutan. Ada apa sebenarnya, apa ada yang Ibu sembunyikan dari Angga. "
Bu Aminah menggeleng pelan, dapat terlihat kebingungan di wajahnya.
" Bukannya Ibu ingin sembunyikan ini Angga. Tapi Ibu sendiri sedang bingung, ini rasanya tidak masuk akal tapi Ibu benar-benar yakin kalau itu dia. Ibu benar-benar melihatnya Angga. "
Angga mengerutkan keningnya mendengar perkataan Ibunya yang seperti teka- teki.
__ADS_1
" Dia, dia siapa Bu. Siapa yang Ibu maksud. "
" Kanaya "
Angga terkejut mendengar nama sang mantan disebut, ada getaran aneh di hatinya.
" Naya !! apa Ibu yakin kalau itu dia ??. "
Bukan tanpa alasan Angga menyangsikan semua yang di katakan Ibunya, tapi Ia sudah mengerahkan beberapa anak buahnya untuk melacak keberadaan Istrinya selama ini, namun tidak ada hasilnya sama sekali sampai Ia memutuskan untuk menghentikan pencarian.
" Mungkin Ibu sudah tua, tapi Nak. Bukan hanya satu atau dua tahun kita bersama dengannya, Ibu sangat hapal dengan postur tubuhnya, gaya jalannya, semua yang ada padanya Ibu ingat. Untuk itulah, Ibu sangat yakin kalau itu adalah Naya. "
Angga manggut-manggut, apa yang di katakan Ibunya ada benarnya juga.
" Iya Bu, Angga percaya sama Ibu. Nanti Angga minta beberapa orang untuk memantau daerah itu, semoga kita bisa menemukan mereka. "
Bu Aminah mengangguk, setelah keduanya diam perut Bu Aminah tiba-tiba berbunyi, pertanda kalau cacing di dalam perut sedang meminta jatah.
" Astaghfirullah Nak, Ibu sampai lupa kalau Ibupp belum masak. Kamu pasti lapar, iyakan. "
Disaat yang bersamaan, pintu di ketuk dari luar.
" Pak, ini ada paket. "
***
Asma kembali ke rumah sakit, hari ini adalah jadwal dirinya mendapatkan hasil dari tes yang Ia jalani beberapa hari yang lalu.
Padahal Ia begitu takut kembali ke rumah sakit, namun karena Ia juga punya kepentingan akhirnya Ia memberanikan diri.
" Masuk. "
Asma mengetuk pintu dan baru masuk ketika di persilahkan, Ia meletakkan tas selempangnya di atas meja.
" Bagaimana hasilnya Dok, saya harap hasilnya baik dan saya jadi punya harapan untuk hamil. "
Dokter Husna melepas kaca mata yang Ia pakai, Dokter wanita itu menghela nafas.
" Mohon maaf Bu Asma, sebenarnya ini sangat sulit untuk saya ucapkan, tapi bagaimana pun juga Anda berhak tau. "
" Tidak usah berbelit-belit Dokter, katakan saja ada apa sebenarnya. "
Dokter Husna menghela nafas sebelum mengatakan yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
" Mohon maaf Bu, sepertinya Ibu Asma akan sangat susah untuk hamil lagi. "
Asma terkejut, bukan ini kabar yang Ia harapkan saat ini.
" Apa maksud Dokter, bagaimana mungkin saya tidak bisa hamil lagi. Dokter pasti salah mendiagnosa, coba tes sekali lagi. "
Dokter menggeleng, hasil pemeriksaannya sudah failed sebelum di konfirmasi kepada pasien.
" Maaf Bu, tapi inilah kenyataannya. Ada masalah pada mulut rahim, ini di sebabkan atas cidera paska keguguran. Bukan hanya itu, sepertinya Ibu Asma mengkonsumsi sesuatu yang membuat rahim Ibu mengering. "
Asma terkejut, Ia tidak percaya mengenai hal ini. Ingatannya melayang jauh pada dua tahun yang lalu, dimana dirinya menghina mantan Istri suaminya yang pada saat itu di vonis mandul.
" Tidak, ini tidak mungkin. Bagaimana bisa ini semua harus terjadi padaku. "
Asma melamun seorang diri ketiga kembali ke rumah. Bagaimana caranya Ia menyampaikan berita ini pada suami bahkan mertuanya. Ia juga ingat apa yang dulu pernah di katakan Angga, bahwa suaminya itu akan menikah lagi kalau dirinya tak kunjung memberinya keturunan.
" Apa yang harus aku lakukan, apa aku harus mengatakan semuanya pada Ibu atau Mas Angga. Tidak, aku belum ingin kehilangan dia. " Gumam Asma.
Berulang kali Asma mencoba menghubungi seseorang namun panggilan teleponnya tidak terhubung.
Ceklek bunyi pintu di buka perlahan, nampak Angga yang masuk. Asma dengan cepat mengubah raut wajahnya, Ia bermanja di lengan kokoh suaminya.
" Sayang, gimana kerjanya hari ini, apa lancar. "
Angga menggeleng- gelengkan kepalanya yang terasa tegang, Ia juga memijat kepalanya yang terasa sakit. Sebenarnya hari ini Ia tidak bekerja, seharian Ia habiskan duduk di dalam mobil hanya untuk membuktikan apa yang di katakan Ibunya.
Sayangnya waktunya terbuang sia-sia karena Ia tidak menemukan apapun yang mencurigakan disana.
" Capek ya, mau aku pijit atau mau berendam dengan air hangat. Mau yang mana sayang. " Tawar Asma.
Angga merasa bersemangat mendengar tawaran Istrinya, boleh juga untuk mengurangi stress. Kebetulan Ia sudah puasa selama hampir seminggu belakangan ini, entah mengapa dirinya tidak begitu berminat dalam berhubungan intim. Padahal dulu hal ini adalah sesuatu yang paling Ia sukai, rasanya dirinya tidak bisa sehari tidak melakukan senam yang menguji adrenalin itu.
" Apa boleh dua-duanya sayang. " Goda Angga sembari mengerlingkan matanya.
Asma langsung berdiri, Ia juga menginginkan hal yang sama. Dengan cepat Ia melangkah masuk kekamar mandi, mengisi bathup dengan air hangat.
" Sayang, yuk. "
Angga menyusul, Ia melihat Asma sudah masuk lebih dulu tanpa menggunakan sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
" Masuklah sayang, aku akan membuatmu nyaman. "
Benar saja Asma bisa membuktikan kehebatannya, Ia memijat bagian-bagian sensitif suaminya hingga Pria itu merasa rileks.
__ADS_1
Malam itu mereka menghabiskan waktu untuk bersenang-senang, dari kamar mandi sampai keatas ranjang. Asma berusaha melayani suaminya dengan baik, berharap apa yang di katakan Dokter itu salah. Seperti yang terjadi pada Naya, bahwa wanita itu bisa hamil meskipun sudah di vonis mandul oleh Dokter yang sama.