
Asma mondar-mandir di kamarnya sesaat setelah Ia menerima panggilan telpon dari seseorang.
" Duh bagaimana ini, aku harus bagaimana sekarang. " Gumam Asma seraya meremas ponsel di tangannya.
Asma beberapa kali memeriksa keluar kamar namun ternyata disana masih ada Bu Aminah yang tengah sibuk membersihkan rumah.
" Aku harus pergi dari sini sekarang juga, kapan sih wanita tua itu selesai beres- beres. Kalau aku memaksa keluar sekarang, alasan apa yang harus aku katakan padanya kalau si tua itu bertanya. " Gumam Asma gelisah.
Asma pergi meninggalkan kediamannya setelah ada kesempatan, namun kemudian di tengah perjalanan Ia menepikan mobilnya di pinggir jalan. Lama Ia berperang dengan pikirannya sendiri.
" Ah......... !! " Geram Asma sambil memukul setir mobilnya.
Akhirnya wanita muda itu membatalkan semua rencana yang sudah Ia pikirkan matang matang sejak tadi dan kembali lagi kerumahnya.
Bu Aminah heran melihat menantunya datang dari arah luar, keningnya berkerut.
" Asma, kamu dari mana saja, bukankah perasaan tadi kamu ada di kamar. "
Asma terkejut padahal Ia sudah mengendap-endap seperti maling, agar tidak di ketahui oleh mertuanya itu, namun ternyata masih juga ketahuan.
" Ah Ibu, oh itu Bu. Tadi Asma keluar sebentar ke apotek soalnya ada yang Asma cari. " Jawab Asma memberi alasan.
Bu Aminah manggut-manggut masih dengan lap di tangannya.
" Lalu apa yang kamu cari sudah kamu beli. " Tanya Bu Aminah lagi.
Asma mengangguk dengan cepat dan segera berpamitan untuk menghindari agar Ibu dari suaminya itu tidak semakin menanyakan banyak hal yang akan menyulitkan dirinya.
" Aneh, ada apa dengannya. " Gumam Bu Aminah yang melihat aneh tingkah menantunya.
Di kantor
Angga sedang melamun sembari mengetuk ngetukan jarinya di atas meja, memikirkan syarat yang di ajukan Naya sungguh Ia tidak rela.
Setelah sadar dari lamunannya Angga segera berlari keluar.
" Pak. "
Angga menghentikan langkahnya dan memalingkan tubuhnya.
" Ah Bimo, kebetulan kamu disini. Aku ada acara penting di luar sebentar, tolong kamu handle semua yang ada disini dulu selagi aku tidak ada. " Angga langsung melangkah pergi setelah berbicara dengan orang kepercayaannya.
" Eh tapi Pak. "
Bimo berusaha menahannya namun Angga sudah melesat dan hilang di balik lift.
__ADS_1
" Ah begini amat jadi bawahan, nasib..... " Gumam Bimo, Ia tak bisa berbuat apa-apa selain menjalankan apa yang sudah di amanatkan padanya.
Angga melajukan mobilnya kesebuah tempat, Ia segera memarkirkan mobilnya ketika tiba disana. Dengan langkah pasti Angga memasuki sebuah gedung yang lumayan besar di depan matanya. Namun sayang sungguh sayang, kedatangannya ketempat itu tidak berjalan lancar.
" Permisi Mbak, saya ingin bertemu dengan Bu Kanaya, apa Dia ada di tempat. "
Seorang resepsionis mulai memindai penampilan Angg.
" Apa Bapak, apa Bapak sudah ada janji sebelumnya dengan beliau. " Tanya resepsionis cantik itu.
Angga menggeleng, Ia merasa heran. Kenapa harus membuat janji terlebih dulu, kenapa tidak langsung bertemu saja kalau ada keperluan penting.
" Mohon maaf kalau begitu Pak, Anda tidak bisa bertemu dengan Ibu Kanaya. "
Angga memohon pada resepsionis agar mengijinkannya bertemu dengan Naya, namun beberapa pegawai dengan sigap menarik Angga keluar.
Angga terus meronta, sungguh pemandangan yang miris. Seorang Pria berpakaian rapi namun tetap di perlakuan tidak terhormat.
" Ada apa ini, kenapa ribut-ribut. "
Sebuah suara mengejutkan mereka, Angga tersenyum ketika melihat wanita yang ingin Ia jumpai.
" Orang ini memaksa ingin bertemu Ibu tapi dia bilang belum ada janji, makanya kami ingin mengusirnya keluar. " Jawab kedua pegawai yang tadinya menyeret Angga keluar.
Nayatersenyum pada pegawainya, Ia meminta keduanya untuk melepaskan Angga.
Keduanya pria itu pun akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya pada Angga, mereka mengangguk dan kembali pada pekerjaannya masing-masing.
" Naya, tunggu. "
Angga mengejar langkah kaki Naya hingga berjalan sejajar dengannya, Naya berhenti pada sebuah ruangan dan menarik kursi untuk duduk. Angga pun melakukan hal yang sama.
" Ada keperluan apa Mas. " Tanya Kanaya.
Angga memperhatikan penampilan Naya yang memang sudah sangat berbeda jauh dari ketika masih menjadi Istrinya, melihat penampilan dan pembawaan Naya saat ini seperti melihat Naya tiga belas tahun yang lalu ketika dirinya sedang mati- matian mengejar cinta gadis itu.
" Cantik. " Gumam Angga.
" Ada apa Mas, kalau tidak ada yang penting mohon maaf, aku....
Angga langsung berdiri menahan kepergian Kanaya.
" Tunggu dulu Naya, duduk dulu. "
Naya kembali duduk, Ia siap mendengarkan apapun yang di katakan Pria itu.
__ADS_1
" Naya, soal syarat itu. Aku mohon bisakah jangan itu, maksud ku aku tidak bisa melepaskan mu. Aku masih sangat mencintaimu, bisakah kita kembali seperti dulu. Kita bisa membesarkan anak-anak kita bersama- sama. "
Angga mengatakan banyak hal sementara Naya hanya diam mendengarkan.
" Soal talak waktu itu, itu tidak sah Naya. Aku sudah bertanya pada kyai Hasyim yang ada di depan rumah kita waktu itu. Beliau bilang kalau talak itu tidak Sah karena aku mengucapkannya pada saat tidak sadar, bukan hanya itu. Waktu itu kamu juga sedang mengandung anakku, jadi talak itu tidak Sah atau bisa di kategorikan masih talak satu. Kita masih bisa rujuk kembali Naya. "
Angga begitu bersemangat menjelaskan semua yang ada di otaknya, Ia yakin kalau Naya pasti akan membenarkan apa yang baru saja Ia katakan.
" Silahkan Mas bertemu mereka, maaf Mas. Aku harus pergi, aku ada urusan penting. Kalau sudah selesai Mas bisa pulang, nanti aku kabari kapan Mas bisa bertemu dengan mereka. "
Naya meninggalkan Angga seorang diri karena memang Ia ada janji dengan seseorang.
" Yes, aku berhasil. Angga, kamu memang hebat. Siapa yang bisa menolak pesonamu, kamu sangat tampan dan juga hebat. Wanita seperti Naya pasti tidak akan secepat itu melupakan mu. "
Angga tersenyum sumringah, Ia meninggalkan tempat itu dengan hati bahagia. Wajahnya terpancar kebahagiaan, dengan gaya angkuh Ia melewati para pegawai yang berpapasan dengannya.
Namun ketika hendak masuk kedalam mobil miliknya, Ia melihat Naya sedang bersama seorang Pria. Lebih tepatnya Ia di jemput seseorang yang nampak begitu akrab dengannya, mereka bahkan berpelukan.
" Ah sudahlah, nggak penting juga siapa dia. "
Hanya sesaat saja wajahnya murung lalu kembali ceria lagi, memikirkan apa yang di katakan Kanaya padanya beberapa saat sebelumnya.
" Ada apa Naya, apa ada masalah. " Tanya Sean yang melihat Naya tidak seceria seperti biasanya.
" Ah tidak apa- apa Mas. " Jawab Sean.
Di tempat lain
Umi dan juga Bi Nur sedang asyik bermain bersama si kembar yang sudah sangat aktif bergerak kesana kemari, Umi bahkan sampai ngos- ngosan kalau harus mengejar keduanya.
" Assalamu'alaikum Umi. "
Dari luar terdengar suara orang memberi salam, Umi tersenyum melihat siapa yang datang.
" Wah- wah, anaknya uncle pada happy ya. "
Kedua bocah menggemaskan itu beralih berlari memeluk saudara dari Ibunya itu.
" Uncellllll. " Panggil keduanya bersamaan.
Kevin merentangkan kedua tangannya dan jongkok di depan kedua ponakan kesayangannya itu.
Mereka berpelukan, terdengar keduanya mengoceh yang menimbulkan keramaian di rumah itu.
" Sayang, tidak boleh lari- lari seperti tadi. Kasihan Oma sudah tua, Oma tidak bisa berlari kencang seperti kita. " Bisik Kevin pada keduanya.
__ADS_1
Kedua bocah kembar nan menggemaskan itu serentak menoleh kemana Oma mereka duduk, seperti di komando keduanya mengangguk bersamaan. Hal itu membuat Kevin tersenyum bahagia, Ia juga ingin cepat- cepat memiliki penerus yang lucu dan mengemaskan seperti si kembar.