Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 50 Penyakit Aneh Angga


__ADS_3

Angga merasakan tubuhnya tidak nyaman sejak pukul tiga dini hari, peluh membasahi sekujur tubuhnya serta rasa nyeri di bagian bawah perutnya. Asma yang tidur disampingnya terbangun karena merasa terganggu dengan keadaan ranjang yang bergerak sejak tadi.


" Mas, ada apa sih. Kok dari tadi gelisah banget, ganggu tau nggak. "


Angga memegangi perut serta pinggangnya yang semakin terasa sakit.


" Apaan sih Mas, ini nggak panas kok, baik- baik saja, jangan lebay deh. "


Asma menempelkan tangannya di kening suaminya, Ia semakin protes karena tidak merasakan sesuatu yang menghawatirkan. Tubuh Angga tidak panas tapi dia nampak menggigil dan kesakitan.


" Aww sakit. " Rintih Angga sembari memegang perutnya yang sakitnya semakin menjadi- jadi.


Asma yang mulai jenuh dan bingung langsung berlari ke kamar Ibu mertuanya, memanggil wanita itu yang baginya lebih berpengalaman.


" Bu, Ibu...... !" Panggil Asma sembari mengetuk pintu berulang kali.


Bu Aminah yang sedang merapikan tempat tidur bergegas keluar setelah mendengar seruan Asma.


" Ada apa Nak. " Tanya Bu Aminah


" Itu Bu, Mas Angga. Dari tadi merintih katanya perutnya mules dan pinggangnya sakit, entahlah Umi. Asma kurang tau. "


Bu Aminah langsung bergegas ke kamar anaknya, Ia terkejut melihat Putra semata wayangnya sudah berada di lantai.


" Eh Mas Angga, ngapain tidur disini segala. "


Berbeda dengan Asma yang malah protes karena suaminya tidur di lantai, Bu Aminah justru nampak panik melihat kondisi Putra semata wayangnya itu.


" Nak, cepat panggilkan satpam. Angga tidak sedang dalam kondisi baik, kita harus segera membawanya ke rumah sakit. "  Pinta Bu Aminah.


Asma masih kebingungan, Ia merasa kalau Ibu mertuanya terlalu berlebihan mentang- mentang itu adalah Putranya.


" Asma, apa kamu dengar apa yang Ibu katakan, cepat panggil satpam buat bantu mengangkat tubuh suami mu, Dia ini pingsan, bukan tidur. "


Asma baru beranjak ketika mendengar suara Ibu mertuanya sedikit meninggi.


" Baik Bu. "


Selang berapa saat satpam berlari tergopoh- gopoh memasuki kamar Asma dan juga Angga.


" Pak, cepat bantu. Kita harus segera membawanya kerumah sakit. "


Satpam, Bu Aminah dan juga Asma sama-sama mengangkat tubuh Angga, mereka awalnya kesulitan namun akhirnya mereka mampu membawanya kedalam mobil.


" Cepat Pak. "


Mobil melaju dengan kecepatan penuh, pagi ini mereka beruntung karena jalanan terbilang lancar, semua itu di karenakan hari masih telalu pagi.


Di perjalanan Bu Aminah langsung menghubungi Dimas guna mengabarkan kalau Angga pingsan dan sedang menuju ke rumah sakit. Bu Aminah tidak tau kalau antara Dimas dan Angga sedang berselisih paham, keduanya tidak saling akur beberapa bulan belakangan ini.


Dimas yang baru bangun nampak mondar-mandir, kalau menuruti egonya Ia males untuk bertemu dengan Pria yang menurutnya tidak bertanggung jawab itu.


" Ah menyebalkan saja. "


Jiwa menolong sesama ternyata lebih besar dalam dirinya, dengan mengesampingkan egonya Dimas segera bersiap- siap ke rumah sakit.

__ADS_1


Dimas tiba di rumah sakit dan mendapati Angga sudah berada di ruang perawatan dan di tangani oleh Dokter yang lain.


" Bagaimana kondisinya Dok. " Tanya Dimas setelah lama terdiam.


Dokter itu tersenyum sambil terus memeriksa kondisi Angga, di sofa nampak Bu Aminah yang begitu khawatir melihat kondisi Angga putranya.


" Semuanya baik Dok, tidak ada yang menghawatirkan. " Jawab Dokter yang memeriksa kondisi Angga.


" Bisa di periksa lagi nggak Dok, mungkin analisahnya salah. Kalau memang tidak apa- apa tidak mungkin Angga kesakitan dan parahnya lagi sampai pingsan seperti tadi. "


Bu Aminah yang sedari tadi hanya diam langsung ikut bicara.


" Memangnya Angga mengeluh sakit apa Bu. " Tanya Dimas.


" Dia tadi mengeluhkan perut dan juga pinggangnya yang sakit, begitu kata Istrinya. "


Dimas kembali harus menahan amarahnya ketika mendengar kata Istri, namun Ia juga ikutan bingung. Bagaimana mungkin kondisinya baik- baik saja tapi Ia merasa kesakitan, tidak mungkin rekan Dokternya itu salah menyimpulkan.


" Apa ini couvade syndrom Dok. " Tanya Dimas pada rekannya.


" Maksudnya. "


Dimas menggaruk- garuk kepalanya dan terlihat menghitung- hitung jarinya sendiri.


" Jangan-jangan Istrinya sudah melahirkan dan pasien yang merasakan sakit yang saat ini di rasakan oleh Istrinya. " Gumam Dimas pelan namun sayang gumamannya itu masih terdengar ditelinga Bu Aminah dan juga rekan Dokternya.


Bu Aminah heran mendengar ucapan Dimas, bagaimana sahabat dari Putranya itu bisa mengatakan itu, sedangkan Ia tau kalau Istrinya sudah mengalami keguguran beberapa bulan yang lalu.


" Apa maksud mu Dimas, Istrinya melahirkan. Apa kamu nggak salahh, bukankah kamu tau sendiri kalau Asma keguguran, bagaimana mungkin Ia melahirkan. "


" Ah tidak apa- apa, iya juga ya. Saya sampai lupa kalau Istrinya yang sekarang keguguran dan belum hamil- hamil juga. " Ucap Dimas.


Bersamaan dengan itu Asma masuk kedalam ruangan, Ia merasa tidak senang mendengar ucapan Dimas yang kelihatan sekali tidak menyukai dirinya.


" Apa maksudnya ini Dok, kenapa jadi ke saya masalahnya. Saya juga ingin hamil tapi bagaimana kalau yang kuasa belum menghendaki. "


Ingin sekali Dimas menjawab apa yang barusan di katakan Asma, bahwa itulah yang di rasakan Kanaya dulu. Ia sudah melakukan berbagai cara namun tidak berhasil, ternyata Allah memberinya kepercayaan di waktu yang tepat disaat semua menghianati dan menghinanya.


Di kota T


Naya yang merasa nyeri di bagian jalan lahirnya langsung meminta pendapat Umi nya.


" Umi, kayanya perut Naya terasa nyeri deh. "


" Benarkah Nak, ya sudah sekarang kita kerumah sakit dulu buat periksa. "


Umi menuntun Naya jalan karena perutnya yang memang lumayan besar dan sedikit menghalangi lengkapnya.


" Pelan- pelan saja sayang. "


Naya melangkah pelan sambil sesekali menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, Ia menuruti apa yang selama ini di ajarkan Dokter padanya.


" Eh Naya, Umi ini mau kemana. " Tanya Bi Nur.


" Ini Nur, Umi mau antar Naya periksa ke rumah sakit, katanya perutnya terasa nyeri. " Jawab Umi.

__ADS_1


Bi Nut nampak sumringah, Ia sudah membayangkan kehadiran baby twins.


" Ah jangan- jangan sudah waktunya buka casing Umi, kan ini memang sudah masuk bulan terakhir dari perhitungan persalinan Naya. Bibi ikut ya. "


Naya menolak, Ia merasa tidak apa- apa, mungkin hanya nyeri biasa saja.


" Bibi di rumah saja, Naya belum waktunya melahirkan. Ini juga tidak terlalu sakit kok Bi, Naya hanya mau periksa saja. "


Bi Nur pun menurut, Ia hanya berpesan pada sopir untuk berhati-hati dalam mengemudi, agar mereka selamat sampai tujuan.


" Iya deh Nak, Umi. Bibi tinggal saja di rumah, kalau ada apa-apa jangan lupa untuk hubungi Bibi ya. Mang, bawa mobilnya hati- hati jangan ngebut. " Pesan Bibi.


Mobil melaju setelah Umi dan Naya berhasil duduk dengan benar, Naya mulai merasakan nyeri kembali dan Ia pun melakukan hal yang sama hingga mereka tiba di rumah sakit.


" Pelan sayang, apa perlu kursi roda Nak. "


Naya menggeleng pelan, Ia masih bisa berjalan. Lagi pula Ia ingat betul apa yang di katakan Dokter bahwa lebih baik kalau Ia jalan- jalan saat kontraksi, itu akan mempercepat pembukaan untuk Ibu yang ingin melahirkan.


" Assalamu'alaikum. "


" Waalaikum salam, masuk. "


Umi membuka pintu ruangan Dokter Citra, Dokter yang selama ini menangani kehamilan Naya.


" Ah Ibu Kanaya, mari silahkan duduk. "


Dokter Citra menuntun Naya duduk di sofa yang lebih nyaman.


" Ada apa Bu, apa ada keluhan. " Tanya Dokter Citra.


" Katanya perutnya kadang terasa nyeri, kami kemari untuk memeriksanya. Takut terjadi apa -apa. " Umi yang menjawab pertanyaan Dokter.


Dokter Citra tersenyum dan meminta Naya untuk berbaring di atas ranjang yang ada di ruangan itu.


" Mari Bu, rebahan ya biar kita periksa dulu. "


Sementara di Jakarta


Angga semakin menjerit karena perutnya semakin terasa sakit dan itu sangat menyiksanya.


" Bu, ini sakit banget, rasanya Angga mau mati saja. "


Bu Aminah menenangkan Angga, wanita itu merelakan tangannya di remas Putranya dengan kuat. Angga mencengkram pinggiran ranjang rumah sakit ketika rasa sakit itu tiba-tiba datang menyerangnya, hal itu membuat Bu Aminah semakin heran. Wanita itu teringat dengan apa yang di katakan Dimas beberapa jam yang lalu.


" Melihat kondisi Angga sekarang sangat persis dengan seorang wanita yang mau melahirkan, ada apa ini. Istri yang melahirkan, kalau bukan Asma berarti...... Astaghfirullah. "


Bu Aminah menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Angga yang heran melihat Ibunya langsung bertanya.


" Ada apa Bu, kenapa Ibu terkejut seperti itu. "


Bu Aminah menggeleng pelan, Ia juga belum terlalu yakin dengan semuanya. Tiba-tiba Angga kembali menjerit dan terpaksa Bu Aminah memintanya untuk tenang.


" Tenang Nak, tarik nafas panjang dan hembuskan melalui hidung, lakukan itu kalau sakitnya datang. "


Angga yang sudah merasa frustasi menurut saja dengan apa yang di katakan Ibunya, ternyata benar Ia merasa sedikit nyaman.

__ADS_1


Bu Aminah menatap Angga sambil tersenyum, Ia terus menyemangati Putranya agar bersabar dalam menjalani penyakit anehnya itu.


__ADS_2