
Angga tiba di tempat yang diminta Istrinya, Ia memindai seisi pengunjung cafe namun tidak menemukan keberadaan Naya.
Kembali Angga melirik jam di tangannya dan mulai gelisah, di rogohnya ponselnya berniat menghubungi Naya, namun sebuah pesan masuk membuatnya mengurungkan niatnya.
" Aku di pojok, meja nomor sebelas Mas. " Isi pesan yang ternyata itu dari Naya
Angga mencari meja nomor sebelas dan merasa heran, namun tetap melangkah mendekat.
" Sayang, ini kamu. Kenapa berpakaian seperti ini, ini nggak lucu tau, kaya orang kampung. "
Naya membuka maskernya dan meminta Angga duduk di depannya.
" Tidak apa- apa Mas, Mas aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Ini mengenai Asma. "
Mendengar nama Istri keduanya di sebut, Angga jadi sedikit penasaran.
" Asma..... memangnya ada apa dengannya. Apa ada masalah, Dia baik- baik saja kan. "
Angga mulai nampak khawatir dan berpikir hal yang buruk sudah terjadi pada Istrinya itu.
" Ah tidak Mas, Dia baik- baik saja. "
Naya jadi ragu mengatakan pada suaminya mengenai ancaman Asma, melihat Angga yang
seperti menghawatirkan Istri mudanya itu dari pada dirinya.
" Lalu ada apa dengannya. "
" Mas, maafkan aku. Tapi apa tidak sebaiknya kalau Asma dibelikan rumah yang baru saja atau di kembalikan ke Banjarmasin. "
Angga mengerutkan keningnya, Ia bingung dengan apa yang dimaksud Naya.
" Apa maksudmu, apa kamu masih belum bisa menerima dia sebagai Istri kedua Mas. Naya, kamu benar-benar egois. Dia saja mau berbagi dan mau di jadikan yang kedua, kenapa kamu tidak bisa menerimanya. "
Naya terkejut mendengar ucapan Angga, bisa- bisanya suaminya mempunyai penilaian seperti itu.
" Mas, bukan begitu. Justru aku yang harusnya mengatakan itu, Asma yang tidak mau berbagi atau di jadikan yang kedua. "
Terjadilah perdebatan di antara keduanya karena kesalah paham itu.
" Apa maksudmu Naya, kamu menuduh kalau Asma punya pikiran ingin memiliki aku seutuhnya dan ingin menyingkirkan mu begitu. "
Naya mengangguk dan mengatakan yang sebenarnya pada suaminya.
" Asma memintaku menjauhimu Mas, dia meminta agar aku mundur dan merelakan Mas padanya. "
" Itu tidak mungkin Naya, Asma tidak mungkin seperti itu. Selama tinggal bersama kita, Dia selalu baik sama kamu dan tidak pernah menunjukkan kalau Dia tidak suka, bahkan waktu kemarin kamu hilang. Dia yang terus meminta aku menghubungi kamu karena khawatir kamu kenapa- kenapa. "
Naya kecewa mendengar jawaban Angga, niatnya menyampaikan semua pada suaminya agar suaminya memberikan jalan keluar untuknya, tapi ternyata Dia salah. Justru dimata suaminya Dialah yang bersalah.
" Mas, tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Asma memintaku meninggalkan mu kalau tidak, dia akan membuat perhitungan denganku dan juga keluarga ku. "
__ADS_1
Angga yang mulai terbawa emosi akhirnya memilih pulang.
" Sudahlah Naya, hentikan omong kosongmu ini. Sekarang sebaiknya kamu pulang dan kita akan bahas nanti di rumah. "
Angga langsung meninggalkan Naya seorang diri disana, Ia kembali ke mobilnya dengan hati yang kesal.
" Bisa- bisanya Naya berkata seperti itu. Kalau belum ikhlas kenapa nggak ngomong, kenapa juga harus memfitnah orang lain. " Gumam Angga.
Naya ikut pulang, sebelumnya Ia mampir ke butik untuk mengembalikan kunci mobil dan juga mengganti pakaiannya.
" Bagaimana Naya, apa semuanya lancar. " Tanya Aulia.
Setelah kembali dari cafe Naya lebih banyak diam, Ia masih belum percaya sepenuhnya kalau suaminya ternyata tidak mempercayai ucapannya sama sekali.
" Naya, sudah sore. Kita pulang yuk, aku antar. "
" Pulang, memangnya sudah jam berapa Lia. " Tanya Naya.
" Sudah jam lima Naya, kita pulang sekarang yuk. "
Naya mengambil tasnya dan berlalu keluar, niatnya hanya ingin mengembalikan kunci mobil malah sampai sore Ia berada di butik.
" Tidak perlu di antar Lia, aku masih bisa pulang sendiri. "
Naya berpamitan dan mengendarai motor matic nya sampai kerumahnya. Satpam buru-buru membukakan pintu untuk Naya, ketika melihat motor majikannya ada di luar.
Naya melangkah gontai kedalam rumah, ternyata Ia sudah disambut oleh suami, pelakor dan juga Uminya.
Dari suaranya sudah bisa di tebak kalau pria itu sedang memendam amarah yang cukup besar.
" Mas, aku capek mau istirahat dulu. Kalau ada yang mau dibicarakan, boleh besok saja atau Mas temui saja aku di kamar. "
Asma menarik pelan lengan Angga, memintanya memberikan hukuman pada istri tuanya itu.
" Naya, aku bilang berhenti. "
Naya akhirnya berhenti karena mendengar suara Angga yang memanggilnya dengan sedikit keras.
Ia melangkah pelan dan duduk bergabung dengan yang lain.
" Aku dengar dari Asma kalau kamu sudah mengancamnya pagi tadi, apa itu benar Naya. "
Naya mendongak, Ia menatap kearah suaminya.
" Mas, kamu percaya padanya. Justru dialah yang mengancam aku tadi pagi, bukan aku. Hei kamu Asma, berani- beraninya kamu memutar balikan fakta. Sudah jelas- jelas kamu yang meminta aku menjauhi Mas Angga. "
Angga berdiri dan menatap Naya dengan penuh amarah.
" Cukup Naya, cepat minta maaf pada Asma sekarang juga atau kamu bisa kemasi semua barang- barangmu malam ini, besok minta antar supir agar mengantarkan mu pulang kerumah Umi. "
Naya menatap suaminya lekat- lekat, memastikan kalau semua yang Ia dengar itu salah.
__ADS_1
" Mas, tapi kenapa. "
" Tidak perlu pura-pura tidak mengerti Naya. "
Lama terdiam akhirnya Naya pamit kembali kamarnya, sampai di dalam kamar Ia melamun di depan cermin.
" Apa yang harus aku katakan pada Umi nanti, kalau seandainya Umi menanyakan alasan aku pulang dengan tas besar. Pasti Umi akan sangat kecewa karena tau hubunganku sedang berada di ambang kehancuran. "
Naya tidak bisa memejamkan mata, ucapan Asma dan Angga memenuhi pikiran nya. Dari pada minta maaf dengan kesalahan yang sama sekali tidak Ia lakukan, Naya memutuskan merapikan semua barang- barangnya.
Sebelumnya dia meminta agar Asma di belikan rumah yang baru atau di kembalikan ke kampung halamannya, agar tidak terjadi perdebatan terus menerus. Angga bisa menemui Istri keduanya itu kapan saja di luar rumah itu, tapi akhirnya dialah yang di paksa meninggalkan rumahnya sendiri.
Pintu kamar terbuka dari luar, Naya terkejut karena yang masuk adalah suaminya.
" Kanaya. "
Tanpa rasa malu Angga melangkah cepat dan mencium bibir Naya, membuat wanita itu kelabakan karena hampir kehabisan oksigen.
Tangannya meremas kedua bukit kembar Naya, Naya berusaha menolak dengan mencoba mendorong tubuh Arhan namun sia- sia saja.
" Jangan menolak ku Naya, layani aku untuk yang terakhir sebelum kamu pergi dari rumah ini. "
Angga memaksa Naya untuk melayaninya, Ia duduk di sisi ranjang dan meminta Naya untuk jongkok di depannya. Di raihnya tangan Naya dan kemudian meletakkan nya di atas barang pusaka miliknya.
Malam itu Angga meminta jatahnya sampai puas, Ia tidak bisa menghitung lagi sudah yang keberapa kali mencapai puncak.
Begitu juga dengan Naya, malam itu meskipun hatinya kecewa tapi Ia melayani suaminya sebaik mungkin. Ia malah merasa puas mendengar umpatan- umpatan kasar yang keluar dari bibir suaminya.
Angga benar-benar di buat gila ketika bercinta dengan Naya, ada sensasi berbeda di banding ketika bercinta dengan Asma. Meskipun begitu, tetap saja tidak bisa mengubah keputusannya.
Kehadiran anak lebih penting baginya dan Naya sampai kapanpun tidak akan bisa mengabulkan mimpinya itu.
Naya bangun dan langsung kekamar mandi, memakai pakaian yang agak tertutup karena hari ini Ia akan pulang kampung.
Di liriknya suaminya yang masih tertidur pulas paska pergumulan panas mereka. Tiba-tiba pintu kamar di ketuk dan Naya tau itu siapa, karena terdengar suara Asma dan juga Bu Aminah.
Dengan menarik kopernya Naya membuka pintu pelan, nampak Asma dan Bu Aminah yang sudah berdiri di depan pintu.
" Dimana kamu sembunyikan suamiku. " Asma langsung marah- marah tidak jelas.
Naya enggan berdebat, toh apapun yang Ia katakan tetap saja salah dimata ketiga manusia tak berperasaan itu.
Naya hanya menunjuk ke arah ranjang tanpa bersuara, Asma melangkah ke arah ranjang dan dengan kasar menarik selimut yang menutupi tubuh Angga.
Ia terpekik ketika melihat suaminya tidak memakai sehelai benang pun di tubuhnya, darahnya langsung mendidih ketika membayangkan apa yang terjadi semalam.
" Apa yang sudah kamu lakukan padanya ha, pasti kamu yang sudah menggoda Mas Angga agar mau melayani mu. Berharap bisa hamil setelah di usir, jangan mimpi. "
Angga mengambil handuk untuk menutup bagian bawahnya, Ia melihat Naya yang sudah rapi dengan koper di tangannya.
" Bu, Asma, bisa kalian keluar sebentar. "
__ADS_1
Asma keberatan namun Angga meminta dengan sangat agar kedua wanita itu keluar, dengan berat hati Asma pun meninggalkan kamar dengan menghentakkan kakinya ke lantai.