
Karena mereka harus menghadiri acara resepsi pernikahan Kanaya, Bu Aminah dan Erlangga memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Sebelum kembali mereka menyempatkan mengunjungi Susi dan juga adiknya, Bu Aminah berpesan agar mereka tidak terlalu bersedih.
" Ibu sama Angga kembali ke Jakarta dulu karena ada sesuatu yang penting, kalian jangan terlalu bersedih. Yakinlah kalau Nenek kalian akan baik- baik saja. "
Susi mengangguk dan kembali berterima kasih kepada Bu Aminah yang sudah begitu baik pada mereka, Bu Aminah juga berpamitan pada Nenek Kasih yang juga turut merasa tidak enak hati karena sudah merepotkan orang lain.
" Tia, kamu jaga Nenek sebentar. Kakak kedepan dulu ngantar Bu Aminah sama Pak Angga ya. "
Mutia mengangguk, dan melangkah keluar bersama Angga dan juga Ibunya. Bu Aminah melangkah lebih dulu ke mobil, sedangkan Angga masih berdiri di halaman rumah Susi.
" Ini untuk mu Susi, gunakan untuk keperluan kalian. "
Angga merogoh sesuatu dari dalam kantong celananya dan menyerahkan nya kepada Susi, Susi enggan untuk menerimanya karena Ia tau apa itu. Angga meraih tangan Susi dan memberikan nya langsung.
" Tapi Pak....
" Tidak ada tapi- tapian Susi, ambillah. Oh ya, jangan lupa hubungi Aku atau Ibu kalau kamu butuh sesuatu. "
Susi menatap amplop yang sudah berada di tangannya dan berpikir percuma juga Ia menolak, karena Angga pasti akan memaksanya.
" Baiklah, amplopnya saya terima Pak, tapi.... Ah gini, anggap saja saat ini saya berhutang kepada Bapak. Jika saya punya uang nanti saya akan menyicilnya untuk Bapak. "
Angga tersenyum dan terpaksa mengangguk agar Susi mau menerima pemberiannya. Sementara di dalam mobil Bu Aminah hanya tersenyum melihat interaksi Putranya dan juga mantan asisten rumah tangga nya itu.
Susi melambaikan tangannya dan tetap memandangi mobil Angga sampai hilang dari pandangannya. Susi menghela nafas kemudian masuk kedalam rumah, Ia di sambut oleh Neneknya.
" Nenek, kok Nenek bangun sih. Nenek kan belum pulih, ayo Susi bantu rebahan lagi. "
Nenek Kasih menolak, Ia ingin duduk bersama kedua cucunya. Rasanya tidak enak kalau terus rebahan, sakitnya akan bertambah parah menurutnya.
" Susi, siapa mereka. Nenek belum pernah melihat mereka sebelumnya, tapi sepertinya mereka sangat baik. Apalagi anaknya, apa dia masih.....
__ADS_1
" Husssttt Nenek jangan berpikiran macam- macam, Pak Angga itu sudah punya Istri, lagipula mereka itu orang terpandang, sungguh berbanding terbalik dengan kita. Ya, mereka memang baik Nek, bahkan sangat baik. Sudahlah Nek, lebih baik Nenek istrahat sekarang. "
Susi dan juga Mutia menggandeng Nenek Kasih untuk kembali ke tempat tidurnya, mereka keluar setelah menyelimuti tubuh sang Nenek.
" Susi, apa Pak Angga sama sekali tidak menyukai mu. "
Susi menghela nafas berat mendengar pertanyaan sang Nenek, Ia tidak berani bersuara keras pada wanita yang selama ini menggantikan keberadaan kedua orang tuanya.
" Istirahatlah Nek, Susi ingin masak sebentar. Nenek dan Mutia pasti sudah lapar kan. "
Mutia mengangguk cepat karena memang saat ini cacing di dalam perutnya sudah meronta- ronta minta jatah.
***
Ponsel Asma berdering ketika Ia sedang mengemudikan mobilnya, Asma merogoh ponselnya itu dan segera menerima panggilan masuknya.
" Iya Dok, bagaimana hasilnya. Apa sudah keluar. " Tanya Asma langsung.
" Ah iya baik Dok, saya sekarang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. "
Sementara Bu Aminah dan juga Angga sudah tiba lebih dulu di rumah mereka, Angga mengingat ucapan Kanaya di telpon bahwa Ia sudah mengirim undangan ke rumah.
" Bu, Ibu masuk saja ke dalam lebih dulu. "
Bu Aminah mengangguk dan melangkah masuk, sedangkan Angga menghampiri kotak surat yang ada di pojok rumahnya. Ia bingung karena mendapati ada dua amplop disana, akhirnya Ia membawa keduanya. Angga meletakkan nya di atas meja dan langsung ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Bu Aminah yang baru dari kamar melihat dua buah amplop yang tergeletak di atas meja, Ia tersenyum sebelum mengambil amplop itu.
" Ada dua, ini undangan dari Kanaya lalu yang satu ini surat apa. " Gumam Bu Aminah.
Ia memanggil Angga untuk bertanya kemungkinan itu surat penting dari perusahaan.
__ADS_1
" Angga, ini yang satunya mungkin dari perusahaan. Coba kamu lihat Nak, siapa tau ada yang penting. "
Maklumlah, mereka sudah beberapa hari di luar kota. Mungkin ada hal penting yang mereka tidak tau. Angga menerima amplop yang di berikan Ibunya dan membukanya perlahan.
" Dari rumah sakit Bu. " Ucap Angga.
Bu Aminah mengerutkan keningnya dan menunggu Angga membaca isi suratnya, namun ternyata Angga justru memberikan nya pada Ibunya.
Bu Aminah terkejut setelah mengetahui isi surat itu, beliau bingung bagaimana caranya menyembunyikan semua itu dari Putranya.
" Apa isinya Bu. " Tanya Angga.
Dalam kepanikan Bu Aminah tiba-tiba Asma muncul dan langsung merebut surat itu dari tangan Bu Aminah.
" Ibu lancang sekali membuka sesuatu yang bukan milik Ibu. "
Angga terkejut melihat reaksi Asma yang datang tiba-tiba dan langsung marah- marah tidak jelas.
" Asma, apa- apaan sih kamu. Datang- datang langsung marah, sama Ibu lagi. Minta maaf nggak sama Ibu. "
Asma tidak peduli, Ia langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam, sementara wajah Bu Aminah sudah pucat pasi seperti mayat hidup.
" Bu, Ibu kenapa, apa Ibu sakit. Dimas, iya Dimas, bentar Angga telpon Dimas dulu ya. "
Angga yang panik ingin menghubungi Dimas sahabatnya yang berprofesi sebagai Dokter namun Bu Aminah melarang nya.
" Tidak apa-apa Nak, Ibu baik- baik saja. Ibu hanya ingin istrahat sebentar Nak. "
Angga yang bingung pun mengangguk dan menuntun Ibunya ke kamarnya. Angga menarik selimut menutupi tubuh sang Ibu sebelum meninggalkan nya.
" Nak, Ibu ingin istrahat. Tolong jangan buat keributan dengan Istri mu, kalau kamu Istrahat maka istirahatlah di kamar atas. Jangan di permasalahkan soal tadi, Ibu tidak apa-apa. "
__ADS_1
Permintaan Ibunya justru membuat Angga semakin bingung, Ia bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi pada Ibunya. Mengapa beliau sangat shock ketika melihat isi surat yang tiba-tiba di rebut Istrinya itu.