
Angga uring- uringan semenjak kembali dari pertemuan bersama beberapa rekan bisnisnya, pasalnya Ia tidak seberuntung sebelumnya. Hari ini dirinya harus merelakan kalau tendernya dimenangkan oleh orang lain.
Kembali kerumah Ia juga tidak mendapatkan suasana romantis seperti sebelumnya, tidak ada yang menawarkan apa dia sudah makan atau belum. Benar- benar ada yang hilang dirumah itu.
" Sayang, aku lapar. Tolong siapkan makan dong, soalnya Bibi lagi ke supermarket katanya ada yang mau Bibi cari disana. "
Asma tidak mengindahkan permintaan Angga, Ia justru sibuk dengan ponselnya hingga Angga mengulang permintaannya.
" Mas, apa Mas nggak punya tangan. Nggak bisa ambil sendiri, kalau tidak bisa maka tunggu saja Bibi. Kenapa Mas selalu meributkan setiap hal- hal kecil. " Protes Asma yang merasa kesenangannya terganggu.
Angga menatap Asma dengan tatapan sulit di artikan, bukan hanya Angga tapi juga Ibunya. Beliau mengetuk kamar Angga dan langsung mengutarakan maksudnya.
" Angga, kemana Naya. Kenapa teko Ibu tidak di bersihkan juga, kan semuanya jadi tumpah. "
Lagi-lagi Naya yang selalu disalahkan atas semua kekacauan di rumah itu.
" Ibu, Naya sedang pulang kampung. Kemarin Uminya nelpon katanya mau kemari tapi aku melarangnya, jadinya Naya yang harus pulang. "
Umi menatap Asma dan juga Angga bergantian.
" Asma, kamu saja yang bersihkan kamar Umi. Kamu kan juga Istrinya Angga, karena Naya tidak ada sekarang berarti kamu yang harus menggantikan tugasnya. "
Asma ingin protes tapi tidak enak sama Umi Aminah.
" Tapi Umi, mana bisa Asma mengerjakan hal seperti itu. Asma kan berbeda dengan Naya, Naya bisa mengerjakan apa saja sedangkan Asma. Angga nggak yakin kalau Dia bisa. "
Mendengar ucapan Angha yang lagi-lagi membedakan dirinya dan bahkan cenderung merendahkannya membuat Asma tidak terima, Ia turun dari ranjang dan meletakkan ponselnya di atas nakas.
" Siapa bilang kalau aku tidak bisa, hanya membersihkan kamar saja kan. Baiklah, lihat saja aku pasti bisa dan hasilnya akan mengalahkan Mbak Naya.
"
Angga menatap tak percaya pada ucapan Asma, tapi sudahlah. Mungkin memang Asma juga harus merasakan bagaimana merawat Ibunya sama seperti Naya, agar kedepannya Ia bisa terbiasa.
" Apa kamu yakin sayang. " Tanya Angga.
Asma mengangguk mantap, Ia yakin kalau dirinya akan bisa menyelesaikan tugas yang di berikan padanya.
" Ya sudah, kamu sekarang kekamar Ibu biar Ibu disini saja. Kalau semuanya sudah selesai kamu langsung panggil Ibu lagi. "
Asma melangkah kekamar sebelah, Ia mulai membuka pintu pelan dan alangkah terkejutnya ketika melihat kekacauan di kamar Ibu mertuanya.
" Ih bau apa ini. " Asma menjepit hidungnya menggunakan tangan kirinya.
Ia melihat kesana kemari dan ada genangan air berwarna kuning di lantai.
" Apa- apaan ini, kok bau sih. "
Asma tidak tahan lagi, Ia berlari kekamar mandi dan mulai mengeluarkan sebagian isi perutnya.
__ADS_1
Ueeek uekkk ohoook ohoookkk
" Bau apa sih, jorok banget tuh orang tua. Apa tadi, apa itu kencing. Astaga, jadi si tua itu kencing disana. Haish manusia pemalas, kamar mandi sedekat ini malah kencing di samping tempat tidur, lebih parah dari anak kecil. " Maki Asma.
Setelah merasa nyaman Asma memutuskan keluar, namun ketika melihat genangan air berwarna kuning itu kepalanya kembali pusing dan mulai oleng, Ia akhirnya jatuh pingsan tak jauh dari tempat jorok itu.
Di kamar sebelah Bu Aminah tengah duduk santai di sofa ditemani Angga, namun beberapa kali Angga melihat arloji ditangannya keresahan mulai muncul.
" Bu, ini sudah hampir satu jam namun Asma belum juga kemari. Jangan- jangan terjadi sesuatu padanya. "
Bu Aminah mencibir mendengar ucapan Angga
" Hilih, jangan terlalu dimanja. Masa membereskan kamar Ibu saja harus memakan waktu satu jam, jangan- jangan dia bukan ngeberesin kamar tapi malah tidur. "Ucap Bu Aminah sinis.
Akhirnya karena khawatir Angga memutuskan melihat keberadaan Asma. Angga membuka pintu pelan dan seperti Asma, Angga juga langsung menutup hidungnya karena bau yang sangat menyengat.
Dengan satu tangan Ia menjepit hidungnya, Angga melangkah masuk lebih dalam dan terkejut melihat Asma yang tertidur di lantai.
Ia langsung membangunkan Istri keduanya itu, menepuk-nepuk pipinya namun tidak ada pergerakan. Angga mulai berteriak memanggil Ibunya karena panik.
" Bu......, Ibu...... ! " Panggil Angga.
Bu Aminah yang mendengar kegaduhan di kamarnya dengan malas melangkah keluar, Ia masuk kedalam kamarnya dan heran melihat Angga yang nampak panik.
" Itukan benar, dia ketiduran. Tapi kenapa tidur di bawah. "
Angga menatap Ibunya dengan perasaan campur aduk.
Angga mengangkat tubuh Asma dan membawanya keluar, Ia juga memanggil satpam untuk membukakan pintu mobil. Dengan cepat kilat Angga mengemudikan roda empatnya meninggalkan kediamannya.
Sementara itu didalam kamar Bu Aminah masih mengomel- ngomel tidak jelas.
" Bersihkan ini saja tidak becus, terlalu manja. Ini lagi si Naya, ngapain juga harus pulang kampung. Sudah tidak bisa memberikan keturunan setidaknya bisa sedikit berguna dirumah ini, merawat Ibu mertuanya biar hidupnya nggak selalu merugikan orang lain. "
Bu Aminah melangkah dengan kaki menjijit, menghindari air seninya yang tumpah di lantai. Berjalan keluar sambil menyerukan nama Bibi.
Bibi yang baru tiba dari supermarket dan lanjut menata barang belanjaannya di dalam kulkas sontak menoleh ke asal suara.
" Nur...... Bi.... Bi Nur " Panggil Bu Aminah.
" Iya Bu, ada apa. " Tanya Bi Nur sambil tangannya menutup pintu lemari pendingin.
" Kamu dari mana saja, cepat bersihkan kamar Ibu sekarang juga. "
Bi Nur mengelus dadanya pelan melihat mertua dari Naya itu. Andai bukan karena permintaan Naya, Bi Nur juga ogah tetap berada dirumah itu.
" Maaf Bu, tadi Bibi habis dari supermarket. Banyak stock di dalam kulkas yang habis. " Jawab Bi Nur.
Bu Aminah melihat barang- barang yang masih tergeletak di lantai karena belum semuanya masuk kedalam kulkas.
__ADS_1
" Sudah, tidak usah banyak alasan. Itu... cepat bersihkan kamar Ibu dulu, nanti baru lanjut masak. Ibu sudah ngin istrahat. "
Bi Nur mengangguk dan melangkah kekamar Bu Aminah, Ia pun melakukan hal yang sama. Menjepit hidungnya karena bau yang menyengat ketika pintu kamar terbuka.
Bi Nur dengan sigap membersihkan semua kekacauan yang ada di kamar itu, tak lupa juga Ia menyemprotkan pengharum ruangan agar kamar Bu Aminah terbebas dari bau tak sedap itu. Setelah selesai Ia bergegs keluar, karena pekerjaannya masih sangat banyak.
" Apa sudah selesai Bi. " Tanya Bu Aminah.
" Sudah Bu, Ibu bisa langsung istrahat di kamar saja. Bibi mau lanjut masak, buat makan malam. "
Tanpa mengucapkan apapun Bu Aminah langsung meninggalkan Bi Nur di dapur bersama beberapa asisten yang lain.
" Ada apa Bi, kok tadi gaduh banget. " Tanya salah satu asisten rumah tangga yang paling mudah.
" Biasa. " Jawab Bi Nur sambil menggerakkan bahunya.
" Kencing lagi. " Tanya yang lain.
Bi Nur hanya mengangguk dan meminta mereka untuk fokus pada masakan yang harus mereka olah untuk makan malam di keluarga itu.
" Yuk kita lanjut masaknya, nanti kalau terlambat bisa kena omelan lagi, mau kalau gajihnya nggak di bayar. "
Keduanya menggeleng, tentu saja mereka tidak ingin. Banyak kebutuhan bulanan yang harus mereka penuhi dengan gajih mereka.
Di rumah sakit.
Angga yang menggendong tubuh Asma terus berteriak minta bantuan dan beberapa suster yang melihatnya segera memberikan bantuan.
" Angga. " Gumam Dimas.
Ia melihat Angga yang nampak panik sambil menggendong seseorang, dengan cepat Dimas berlari masuk keruangan dimana Angga masuk.
" Angga, ada apa dengan Naya. Kamu apakan Dia. " Tanya Dimas yang mengira kalau itu adalah Naya.
Angga terkejut, Ia lupa kalau di rumah sakit itu tempat sahabatnya bekerja. Tanpa menunggu jawaban dari Angga, Dimas segera menghampiri brangkar dimana disana sudah ada seseorang yang terbaring dan beberapa perawat mengelilinginya.
Keningnya berkerut ketika melihat bahwa bukan wajah Naya tapi orang lain, Ia menatap wajah sahabatnya yang sudah seperti mayat hidup.
Ingin bertanya namun keselamatan wanita itu lebih menjadi prioritasnya saat ini.
" Apa yang terjadi dengannya Sus. " Tanya Dimas. .
Suster mengatakan apa yang ada di pikirannya saat ini, melalui analis yang Ia dapatkan ketika memeriksa Ibu hamil muda itu.
" Baiklah, berikan perawatan yang terbaik saja pada pasien. Saya ingin berbicara dengan suami pasien sebentar. "
Dimas mengatakan itu dengan mata menatap tajam pada sahabatnya yang berdiri tidak jauh darinya.
" Ikut aku keruangan ku sekarang. " Ajak Dimas dengan suara penuh penekanan.
__ADS_1
Angga mendadak gugup, Ia ragu apa akan ikut dengan Dimas atau tidak. Setelah mengusap wajahnya kasar akhirnya Ia pun keluar menuju ruangan sahabatnya itu.