
Angga terkejut ketika sebuah suara membuyarkan lamunannya.
" Kenapa Nak, apa kamu merindukannya. "
Angga menoleh ke asal suaraย dan ternyata itu adalah suara Ibunya yang perlahan melangkah kearahnya. Angga menghela nafas, tidak bisa di pungkiri kalau rasa rindu itu tetap ada.
" Kalau kamu rindu, lalu kenapa kamu tidak menjemputnya saja Angga. "
Angga mengerutkan keningnya, apa Ia tidak salah dengar kalau Ibunya sendiri yang memintanya menjemput Istri tuanya itu.
Di luar kamar ternyata Asma mendengar semua pembicaraan Bu Aminah dan juga Angga suaminya. Ia tidak suka mendengar rencana keduanya yang akan menjemput Naya dari kampung halamannya.
" Tidak, ini tidak boleh aku biarkan terjadi. Dia tidak boleh menyusul wanita itu kekampung halamannya, bisa- bisa mereka menghabiskan waktu bersama di luar pantauan ku dan itu tidak baik bagiku. Tapi Aku harus bagaimana sekarang, apa yang bisa aku lakukan untuk menggagalkan rencana mereka. "
Asma mondar-mandir di kamarnya memikirkan apa yang harus Ia lakukan. Ketika sedang panik Ia teringat seseorang, dengan cepat Asma mengambil ponselnya lalu menghubungi orang itu.
Asma menceritakan semua yang menjadi permasalahannya saat ini, dan dari saran orang itu akhirnya Asma bisa merasa lega dengan tersenyum lebar.
" Sudah Asma, kamu cukup lakukan apa yang Tante katakan. Selebihnya biar Tante yang urus. "
Sesudah makan malam Asma kembali ke kamarnya, selang beberapa menit Angga pun menyusul. Ia terperangah melihat penampilan Asma yang memakai busana tembus pandang, memperlihatkan lekuk tubuhnya, Ia bahkan tidak memakai pengaman segitiga bermudanya.
Angga sedikit kesulitan meneguk salivanya sendiri, sudah puasa beberapa hari tentu membuat miliknya yang masih dalam sangkar ikut bereaksi.
Asma melangkah pelan kearah Angga, Ia semakin nampak menggoda dimata suami hidung belangnya itu, apalagi Asma melangkah sembari menggigit bibir bawahnya pelan, membuatnya terlihat semakin menggairahkan.
" Mas. " Bisik Asma dibuat semenarik mungkin.
Asma membisikkan sesuatu di telinga Angga hingga membuat Pria itu memejamkan mata.
" Sayang, benarkah itu. Apa tidak apa- apa kalau kita melakukannya sekarang. Tapi kan kata Dokter kamu belum boleh melakukannya sampai trimester pertama lewat. " Ucap Angga.
Meskipun begitu Ia berharap apa yang dikatakan Asma benar, agar Ia bisa menyalurkan keinginan nya yang sudah berkarat malam ini.
" Boleh dong sayang, banyak jalan menuju roma benar kan. Kita bisa pakai ini dan juga ini, Aku akan melakukan apapun yang akan membuat Mas bahagia. "
Angga langsung menyerang Asma dengan begitu bersemangat ketika melihat Istri mudanya itu menunjuk bibir dan juga jari tangannya membentuk huruf 0.
Yang mengerti artinya pasti yang sudah punya pasangan, yang jomblo mohon bersabar. Bisa tanya yang sudah punya pasangan atau tunggu musim rambutan, oke.
Angga begitu bersemangat, meskipun tidak bisa merasakan kepuasan yang sesungguhnya paling tidak Ia tidak akan lagi bersolo karir sendiri melainkan di bantu oleh Istrinya.
Berulang kali Angga meracau dan mengucapkan kata-kata kasar setiap kali Asma melayani nya seperti sedang menikmati permen lolipop kesukaannya.
" Ah sial, ternyata mulut mu enak juga sayang. Terus sayang, yang kuat ah !. "
__ADS_1
Angga mendorong miliknya lebih dalam hingga membuat Asma terbatuk- batuk karena milik suaminya itu mampu menyentuh kerongkongannya.
Angga semakin gelonjotan ketika tangan Asma yang juga tidak tinggal diam, malam ini Ia benar-benar melayani Angga dengan sekuat tenaga nya yang tersisa.
Satu jam lamanya Asma memberikan servis terbaiknya, akhirnya Ia pun menyerah. Ia melucuti pakaian bawahnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang, Asma ingin merasakan sensasi panas yang berbeda dari suaminya malam ini.
Meskipun ragu tapi melihat benda berwarna pink terpampang indah di depannya, membuat Angga tidak bisa menolak. Perlahan Ia memasukkan miliknya dan memaju mundurkan dengan tempo yang beraturan.
Suara keduanya menggema mengisi ruangan itu, begitu juga dengan pertemuan keduanya yang mengeluarkan bunyi yang makin menambah kesan indah.
Dengan keringat yang mengucur deras akhirnya Angga menyudahi permainan nya. Angga menjatuhkan dirinya disamping Asma sembari mengelus perut wanita itu pelan.
" Sayang, gimana rasanya. Apa Dia kesakitan. " Tanya Angga.
Asma yang masih memejamkan mata dan menikmati sisa- sisa permainan mereka hanya bisa menggeleng pelan. Ia mengacungkan jempolnya di depan Angga sebagai jawaban kalau Ia baik- baik saja, Angga akhirnya bisa bernafas lega.
Pagi hari Angga menghubungi Naya, Ia mulai mengeluarkan gomabalan mautnya untuk meminta Naya agar bisa secepatnya kembali. Awalnya Naya menolak pulang karena Ia masih merasa nyaman di kampung Uminya, namun akhirnya Ia luluh karena Angga berjanji akan menjemputnya dan akan mengantarkannya kembali kerumah Umi kapan pun Istrinya itu mau berkunjung.
" Ya sudah sayang, kamu siap- siap saja dulu disana ya. Mas berangkat sekarang. "
Baru akan memutuskan panggilan telponnya, Angga di kejutkan dengan suara Asma yang merintih.
" Mas, awwhhsssttt, sakit Mas. "
Asma memegang perutnya sambil terus meringis membuat Anga langsung khawatir.
Angga mengangkat tubuh Asma namun Istrinya itu menolak.
" Tidak Mas, bukannya Mas ingin menjemput Mbak Naya. Pergilah, aku baik- baik saja, istrahat sebentar nanti juga baikan. "
Meskipun meminta Angga pergi namun wajahnya semakin meringis, hal itu membuat Angga semakin panik.
" Sudah, jangan pikirkan yang lain, kita harus kerumah sakit sekarang. Keselamatan mu dan bayi kita lebih utama bagiku. "
Angga menggendong tubuh Asma sambil berlari keluar, meletakkannya dengan pelan di kursi depan tepat di sampingnya.
" Sabar ya sayang. "
Ia berlari kecil memutari mobil dan duduk disamping kemudi, Ia mengemudi dengan kecepatan normal.
Di tempat lain.
Naya yang sudah selesai bersiap satu yang lalu, beberapa kali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Apa sudah ada kabar Nak. " Tanya Umi yang baru ikut bergabung.
__ADS_1
" Belum Umi, dari tadi Naya telpon aktif tapi tidak diangkat. "
Umi duduk disamping Naya dan mencoba memberi pengertian padanya.
" Mungkin sedang mengemudi sayang, tunggulah sebentar lagi. "
Naya masih setia menunggu hingga ponselnya berdering.
" Assalamu'alaikum sayang, maaf. Mas nggak bisa jemput kamu sekarang, tiba- tiba Umi sakit dan Mas harus membawanya ke rumah sakit. Ini juga Mas masih di rumah sakit jagain Umi, kalau bisa kamu pulang sekarang ya sayang. "
Mendengar itu Naya menjadi tidak tega, bagaimana pun juga Ia sudah menganggap Ibu Aminah itu seperti Ibu kandungnya sendiri.
" Baik Mas, Naya akan pulang sekarang, salam buat Ibu. "
" Ada apa Nak. " Tanya Umi Rahayu yang melihat perubahan diraut wajah Putrinya, Naya menghela nafas berat.
" Mas Angga tidak jadi jemput, Umi tiba-tiba sakit dan harus di bawa kerumah sakit. Naya harus pulang sekarang Umi, kasihan Mas Angga. Dia pasti kesulitan karena tidak ada yang membantunya menjaga Ibu. "
Umi mengiyakan, Ia hanya berpesan agar Putrinya itu berhati-hati di jalan. Apalagi saat ini Ia tidak sendiri melainkan bertiga.
Di Jakarta
Angga baru merasa tidak nyaman karena terus membohongi Naya, padahal tadinya Ia ingin menjemput Istrinya itu agar mereka bisa menghabiskan waktu berdua tanpa gangguan Asma.
" Bagaimana Mas, apa Dia mempercayai semua perkataan mu Mas. "
Angga mengangguk karena Ia yakin Naya pasti percaya padanya, Naya adalah sosok yang tidak mau berprasangka buruk pada orang lain.
" Tu kan benar, ya sudah senyum dong. Kenapa juga wajahnya kusut begitu. "
Angga berusaha tersenyum meskipun ada yang dirasa aneh, Ia merasakan sebuah firasat yang tidak enak namun Ia tidak tau apa itu.
***
Ketika akan memasuki area Jakarta, tiba-tiba mobil Naya berhenti dengan sendirinya. Naya mendadak bingung sendiri.
" Kenapa ya, kok mogok. Apa habis bensin, tapi kayanya nggak mungkin deh, kan baru di isi kemarin. " Gumam Naya.
Naya keluar dan terkejut mendapati ban depan mobilnya yang kempes.
" Duh, gimana nih. Kok bisa kempes begini sih, mana bengkel jauh lagi dari sini. "
Naya mendadak khawatir, Ia mencoba menghubungi Angga namun ponsel suaminya itu tidak aktif.
" Mas Angga, Mas ada dimana sih, kok ponselnya nggak aktif dari tadi. "
__ADS_1
Tidak ada jalan lain buat Naya selain menunggu orang lain yang bisa Ia mintai tolong.