
Setelah hari naas itu Asma sering di teror oleh sang Pria yang bertubuh tambun, meskipun tubuhnya sedikit subur dengan perut yang sedikit membuncit, namun soal urusan ranjang tidak usah di ragukan lagi. Asma saja sampai kesusahan mengimbangi permainan Pria itu.
" Terima kasih sayang, aku benar-benar merindukan mu, makasih juga karena kamu akhirnya mau menerima panggilan ku. "
Danang langsung memeluk tubuh Asma dan mencium bibir wanita itu.
" Lepaskan, aku kemari juga karena kamu mengancam ku. " Tepis Asma.
Ia langsung menghempaskan bokongnya di atas sofa dengan kedua tangan di lipat di dada.
" Sudahlah sayang, jangan ngambek gitu dong. Sebenarnya aku sangat merindukanmu, kalau aku tidak mengancam mu maka kamu tidak akan datang padaku. " Ucap Danang di sertai senyuman nakal.
Dari tadi jangkunnya sudah naik turun dan ada bagian tubuhnya yang sudah berkedut seolah ingin keluar dari sarangnya.
" Ah sial, si otong langsung bereaksi bahkan hanya melihat tubuh montoknya. " Batin Danang.
Berbagai rayuan keluar dari bibir Danang yang hasratnya sudah sampai ke ubun-ubun. Awalnya Asma menolak namun dengan berbagai pertimbangan akhirnya Ia pun melayani keinginan Pria itu. Alhasil terjadilah perang ranjang antara keduanya, Asma beberapa kali menggelinjang ketika mendapat serangan tiba-tiba dari Danang yang begitu lihai memainkan area- area sensitif di tubuhnya. Hampir dua jam mereka berperang di atas ranjang dengan keringat mengucur deras di tubuh mereka.
Aktivitas mereka berakhir seiring dengan hentakan keras dari Danang, tubuh keduanya ikut mengejang di sertai eragan panjang. Akhirnya Danang jatuh terkulai lemas di samping Asma, Asma sendiri masih memejamkan mata, menikmati sisa-sisa sensasi yang Ia rasakan.
Beberapa minggu ini Ia memang tidak mendapatkan kepuasan dari suaminya, bagaimana bisa puas. Angga selalu menolaknya ketika Ia menginginkannya.
" Sayang, terima kasih. Kamu memang sangat hebat, aku benar-benar menyukai mu. " Ucap Danang dan Asma hanya mengangguk pelan masih dengan mata terpejam.
Asma terkejut karena tiba-tiba Danang menggendongnya, refleks dia pun mengalungkan tangannya di leher Pria itu karena takut jatuh.
" Kita mau kemana. " Tanya Asma.
Masih dengan tubuh polos, Danang menggendong Asma ke kamar mandi.
" Arrrggghhh, kenapa aku jadi menginginkan mu lagi ketika melihat tubuh mu basah begini. " Ucap Danang yang langsung menyerang tubuh Asma tanpa ijin.
Asma yang memang menyukai aktivitas seperti ini akhirnya ikut terbuai oleh sentuhan Danang, berbagai gaya telah mereka lakukan hingga keduanya mencapai kepuasan bersama dan membersihkan diri setelah nya.
" Uangnya sudah aku transfer ya sayang, kamu bisa berbelanja sesuka hatimu. " Ucap Danang ketika selesai mengotak atik aplikasi yang ada di ponselnya.
Satu notif masuk di ponsel Asma, matanya berbinar melihat nominal uang Ia dapatkan. Sepadan dengan apa yang dia lakukan siang ini.
" Sayang, rasanya aku tidak ingin berpisah dengan mu. Pasti nanti aku akan merindukan mu lagi. "
Danang memeluk dan ******* kembali bibir Asma, kali ini Asma pun ikut membalasnya.
__ADS_1
" Apa kamu juga menginginkannya. " Tanya Danang setelah melihat reaksi Asma yang membalas ciumannya.
Asma hanya tersenyum, dan hal itu sudah menjadi jawaban untuk Danang.
" Baiklah sayang, terima kasih. Kalau aku merindukanmu aku akan menghubungi mu lagi, kita pulang yuk. "
Asma memejamkan matanya ketika tiba-tiba Danang mencium keningnya dan memeluk tubuhnya erat sebelum pergi. Ia masih berdiri mematung melihat kepergian Danang, Asma menyentuh keningnya sebelum akhirnya ikut pergi meninggalkan kamar hotel.
Lagi-lagi Asma senyam- senyum melihat nominal yang masuk di rekening pribadinya. Lumayan lah, dia bisa dapat uang sekaligus kepuasan yang sudah tidak Ia dapatkan dari suaminya.
Entah mengapa Angga selalu menolaknya ketika Ia menginginkannya, selalu saja ada alasan yang Ia lontarkan.
Asma memilih kembali ke rumahnya, Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya setelah bekerja melayani Danang. Meskipun begitu seolah tidak adalagi penyesalan di hatinya seperti awal- awal ketika pertama kali Pria itu menyiksanya.
" Nak, kamu sudah pulang. " Asma langsung di sambut oleh Ibu mertuanya.
Asma mengangguk dan merogoh tasnya, Ia mengambil lima lembar uang ratusan dan memberikan nya pada mertuanya.
" Ini buat Ibu, terserah mau Ibu pakai buat apa. "
Bu Aminah menatap uang yang ada di tangan Asma, Ia enggan menerimanya.
" Ini uang Ibu, aku dapat kerjaan sambilan Bu. Maaf, aku tidak cerita pada Ibu kalau aku sudah dua minggu ini bekerja di luar. Hari ini aku gajihan, dan ini aku memberikan sedikit buat Ibu. "
Bu Aminah akhirnya menerimanya dan berterima kasih atas kebaikan menantunya.
" Makasih Nak, tapi apa ini tidak kebanyakan. "
Asma menggeleng pelan, dengan tersenyum Ia melangkah masuk ke kamar.
" Oh ya Bu, besok akan ada seseorang yang bekerja disini. Jadi besok Ibu tidak akan repot sendiri lagi mengurusi semuanya. " Ucap Asma sebelum membuka pintu kamarnya.
Bu Aminah hanya mengangguk meskipun masih bingung dengan perubahan Asma.
" Sudahlah, ada baiknya juga dia bekerja. Daripada dia mengurung diri terus di kamar, paling tidak dia bisa belanja apapun yang dia inginkan. " Gumam Bu Aminah.
***
Benar saja, pagi hari ketika semuanya sedang sarapan, dari luar terdengar ketukan di pintu. Bu Aminah yang membukakan pintu untuk tamunya.
" Ah maaf Bu, tapi itu ada tamu. Katanya tamunya datang atas permintaan Bu Asma. " Ucap satpam.
__ADS_1
Bu Aminah menatap seorang wanita yang masih tergolong cantik, beliau ingat apa yang di katakan menantunya semalam.
" Ah apa ini asisten rumah tangga yang di bilang Asma. " Batin Bu Aminah.
" Ah Pak, biarkan dia masuk. "
Satpam mengangguk pelan dan berlari untuk membukakan pintu pagar.
" Mari silahkan masuk Mbak. "
Sang wanita tersenyum ramah dengan dua lesung pipit menghiasi wajahnya, sungguh menambah kecantikannya.
" Terima kasih Pak. "
Bu Aminah pun tersenyum dan mengajak tamunya masuk, di meja makan Angga pun menoleh melihat kedatangan Ibunya.
" Siapa Bu. " Tanya Angga yang sudah menyelesaikan sarapannya.
" Ah ini tamunya Asma Nak. " Jawab Bu Aminah.
Angga memindai penampilan tamu dari istrinya, dari kepala sampai kaki dan balik lagi dari kepala sampai kaki. Ia menggeleng pelan mencoba menepis sesuatu di benaknya, hingga akhirnya Ia pun berpamitan karena sudah waktunya Ia harus berangkat bekerja.
" Angga berangkat kerja dulu Bu, Assalamu'alaikum. "
Angga pamit bergantian pada Ibu dan juga Istrinya, Ia masih sempat melirik sekilas pada tamu Istrinya dengan melemparkan senyum juga.
" Waalaikum salam, hati- hati di jalan. " Jawab Bu Aminah dan juga Asma hampir bersamaan.
Asma kemudian meminta tamunya untuk memperkenalkan diri, begitupun sebaliknya. Ia memperkenalkan Ibu mertuanya.
" Saya Susi Bu, dari agen resmi Ketenagakerjaan. Kemarin Bu Asma menghubungi ketua yayasan dan meminta seorang asisten rumah tangga, saya kemari untuk itu. " Ucap Susi ramah.
Bu Aminah tersenyum ramah, beliau menyukai keramahan wanita itu.
" Baiklah Sus. Ini Bu Aminah, Ibu mertua ku. Karena aku mulai bekerja jadi aku ingin kamu yang membantu Ibuku mengerjakan pekerjaan rumah, seperti pada umumnya. Kamu pasti sudah mengerti kan. "
Susi mengangguk sopan dan tersenyum ramah pada majikannya.
" Baiklah, biar nanti Ibu yang tunjukkan kamar mu dimana. Aku harus bersiap- siap dulu, ini sudah hampir telat. " Ucap Asma melirik ponsel dan juga jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Susi kembali mengangguk hormat, Bu Aminah pun mengajak Susi untuk menuju ke kamarnya agar wanita itu bisa beristirahat sejenak sebelum nanti di sibukkan dengan pekerjaannya.
__ADS_1