
Angga meregangkan otot-ototnya ketika bangun tidurnya, samar- samar terdengar ketukan pintu dari luar. Ia memandang Istrinya yang masih terlelap dalam tidurnya dengan selimut hampir menutup seluruh tubuhnya.
Perlahan Angga melangkah turun dan membuka pintu, nampak sang Ibu yang masih menggunakan celemek.
" Nak, buruan siap- siap, habis itu sarapan. Ibu khawatir kamu telat lagi seperti kemarin. "
Angga mengangguk, Ia kembali kedalam kamar guna untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
Karena kondisi mereka saat ini kurang baik dan tidak memungkinkan untuk menggunakan jasa asisten rumah tangga, terpaksa Bu Aminah yang selama ini cuti panjang di dapur harus kembali berkutat dengan alat masak dan juga alat bersih- bersih yang lain.
Angga keluar dari kamar dan melihat Ibunya tengah sibuk merapikan peralatan masak.
" Eh Nak, duduklah. Biar Ibu ambilkan sarapannya. "
Bu Aminah mengambilkan nasi dan juga lauk untuk Angga, Angga menatap wajah Ibunya dengan penuh rasa bersalah. Ia tau kalau sang Ibu sangat lelah mengerjakan semua pekerjaan rumah.
" Maafkan Angga Ibu, Angga belum bisa mencari asisten rumah tangga buat bantu- bantu di rumah ini. Doakan saja Bu, semoga ada rezeki sehingga Angga bisa bahagiakan Ibu lagi. "
Bu Aminah mengangguk dan tersenyum, awalnya memang terasa berat dan sering terjadi drama, tapi kini tidak lagi. Bu Aminah mengerjakan semua dengan senang hati.
" Ya sudah Nak, sekarang kamu sarapan dulu, nanti telat lagi. "
Saat sedang sarapan mereka di kejutkan dengan sebuah suara.
" Mas ih, kok aku nggak di bangunin sih. Aku kan juga laper, bukan hanya aku sih tapi nih cabang bayi yang sudah minta makan. "
Bu Aminah menghela nafas berat, Ia harus banyak bersabar menghadapi semuanya.
" Sudah Asma, tidak perlu marah- marah. Kalau laper tinggal makan, kan nggak susah. Suamimu harus segera berangkat bekerja, apa kamu mau manghalanginya lagi dan akhirnya Ia harus kehilangan sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya.
Asma merasa tidak senang, Ia tidak terima kalau dirinya disebut sebagai penyebab Angga harus kehilangan beberapa kerjasamanya. Bahkanย banyak rekan bisnisnya yang menarik sahamnya disana, sehingga suaminya itu mengalami begitu banyak kerugian.
" Ibu jangan asal bicara, itu bukan karena aku. Semuanya karena Mas Angga, dia saja yang malas. Coba kalau dia rajin seperti pengusaha yang lain, pasti nggak akan seperti itu. "
Setiap hari selalu saja ada yang di perdebatkan di rumah itu, rumah yang awalnya tentram kini sudah seperti kandang hewan.
Di kota T
Kanaya mulai bisa menikmati suasana di tempat yang baru, disana Ia juga membuka toko pakaian, namun lebih memilih menjual pakaian muslim dan juga sedikit pakaian untuk bayi.
" Umi, gimana. Apa sudah ada kabar dari Mas Kevin, ini sudah dua bulan kita disini tapi belum ada kabar apapun juga. "
Umi menggeleng pelan, hampir setiap hari Umi menghubungi nomor Putranya itu, tapi tetap saja nomornya tidak pernah aktif.
" Apa kita cek kerumah lama saja dulu Umi, siapa tau ada tetangga yang melihat Mas Kevin pulang. "
Umi lagi-lagi menggeleng, wanita itu tidak ingin lagi kembali ke tempat itu, meskipun rumah itu menyimpan banyak kenangan dari almarhum suaminya, namun saat ini kenyamanan Putri dan juga calon cucunya itu yang lebih utama.
__ADS_1
" Sepertinya tidak perlu Nak, Mas mu kan memang sudah biasa begitu. Oh ya sayang, bagaimana dengan hasil pemeriksaannya tadi Nak, apa kata Dokter. Mereka baik- baik saja kan. "
Naya mengangguk, bibirnya menyunggingkan senyum ketika mengingat hal mengharukan pagi tadi. Untuk pertama kali Ia mendengar detak jantung buah hatinya dan rasanya itu bagaikan mimpi. Mengingat bagaimana perjuangannya selama ini, rasanya masih belum sepenuhnya Ia percaya kalau di rahimnya kini ada buah hati yang selama sepuluh tahun Ia nantikan itu.
" Mereka baik Umi, alhamdulillah kata Dokter mereka sehat. "
Naya mengusap perutnya dengan lembut, Ia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan kedua buah hatinya itu.
" Alhamdulillah Nak, tapi apa boleh Umi saranin. Sebaiknya kamu tetap dirumah saja Nak. Umi takut kamu kelelahan lagi seperti kemarin, apa yang kamu pikirkan, toh hasil dari warung nasi Umi juga cukup untuk kebutuhan kita sehari-hari. Belum lagi hasil dari butik mu yang di Jakarta juga Umi dengar lumayan loh. "
Sebenarnya bukan karena kekurangan biaya, pundi- pundinya selalu terisi dari hasil butik yang di kelola sahabatnya. Belum lagi mereka sudah mengembangkan cabang di beberapa daerah yang lain. Hanya saja entah mengapa selama kehamilannya itu, Ia ingin selalu bekerja, rasanya tidak nyaman kalau hanya berdiam diri saja di rumah.
***
Di tempat lain.
Sebuah mobil berhenti didepan rumah mewah, tidak lama sang pengemudi pun turun. Pengemudi yang tak lain adalah Kevin, masih memindai rumah mewah yang nampak sepi di depannya.
" Kok di gembok, kemana Umi dan yang lainnya. "
Kevin membunyikan bel berkali-kali namun tidak ada jawaban, Ia juga membenturkan- benturkan gembok pagar hingga mengeluarkan bunyi. Tak lupa Ia memanggil- manggil Umi, satpam dan juga Bi Asnah tapi tetap saja tidak ada jawaban.
" Eh Mas Kevin, cari siapa Mas. "
Seorang tetangga menghampiri Kevin, karena sejak tadi Ia memperhatikan gerak- gerik Pria tampan itu. Akhirnya si Ibu memberanikan diri mendekat untuk menanyakan perihal Pria itu membuat kehebohan.
Wanita itu nampak bingung namun kemudian Ia mengatakan apa yang Ia tau.
" Ah ini Mas, rumah ini memang sudah kosong dari dua bulan yang lalu. Dengar- dengar sih rumah ini di jual sama Umi. "
Kevin terkejut, bagaimana mungkin Uminya menjual rumah peninggalan sang suami. Dia tau bagaimana beratinya rumah itu bagi Umi.
" Di jual Bu, tapi rasanya tidak mungkin. "
" Ya, Ibu juga nggak tau jelas. Hanya itu yang Ibu tau, rumah ini di jual. Tapi kenapa Mas Kevin tidak menghubungi Umi langsung dan menanyakan dimana keberadaan mereka. "
Kevin menggaruk- garuk kepalanya, itulah yang jadi masalahnya sekarang. Andai Dia bisa menghubungi Uminya, mungkin belum waktunya Ia pulang kampung.
" Itulah Bu masalahnya, ponsel saya hilang dua bulan yang lalu. Saya tidak punya nomor Umi atau yang lainnya. "
Si Ibu mendadak diam, Ia merasa kasihan juga pada Kevin namun juga tidak bisa membantu apa- apa.
" Ah ya Bu, Kira-kira Ibu tau nggak dimana Umi dan lainnya pindah. "
Si Ibu nampak berpikir dan akhirnya sedikit bersorak ketika mengingat sesuatu.
" Ah iya, Ibu ingat. Apa mungkin Umi dan yang lainnya pindah ke Jakarta Mas. Soalnya sehari sebelum mereka pindah, Neng Naya datang kemari bersama Bi Nur. "
__ADS_1
Kevin mengucapkan terima kasih pada Ibu yang sudah memberitahu tentang kabar Umi dan juga Adiknya, Ia kembali ke mobilnya.
Lama melamun akhirnya Kevin memutuskan menyusul ke Jakarta, sekalian saja silaturahim karena sudah lama tidak bertemu dengan keluarga dari Angga, yang tak lain adalah suami dari adiknya.
Kevin kembali melajukan mobilnya, Ia harus sampai ke Ibukota sebelum malam menjelang. Tapi ternyata niatnya tidak kesampaian, Kevin berhenti di lampu merah.
" Ah apa aku kesana saja dulu, besok baru aku aku ketempat adek. Semoga saja Dia ada dirumahnya. "
Kevin memilih belok kearah kanan, setelah mengemudi selama kurang lebih setengah jam Kevin akhirnya berhenti di depan sebuah rumah mewah.
" Assalamu'alaikum Bro. "
Kevin berhasil masuk setelah melalui penjaga yang menyodorkannya begitu banyak pertanyaan padanya. Kevin tidak menyangka kalau sekarang Ia begitu sulit bertemu dengan teman lamanya itu.
" Waalaikum salam. " Jawab sang penghuni rumah.
Pria itu menoleh dan terkejut melihat siapa yang datang.
" Hei Bro, dari mana saja lu. Lama menghilang, sudah kaya di telan bumi saja. "
Kevin tertawa kecil, bukan dia yang di telan bumi tapi Pria yang ada di hadapannya itu.
" Bukannya kamu yang hilang di telan bumi, aku sudah mencarimu ke mana-mana tapi nggak ketemu. "
Si Pria mengerutkan keningnya, rumahnya masih tetap disana, hanya saja memang dirinya jarang berada di rumah itu.
" Sudahlah, ayolah duduk. Jangan berdiri mulu, takutnya barang yang kamu gantung tambah panjang lagi. "
Keduanya tertawa bersama, mengingat kebersamaan mereka waktu dulu.
" Eh kamu ada di Jakarta, apa ada acara atau kamu memang sekarang tinggal di kota ini. "
Kevin menggeleng mendengar pertanyaan temannya itu.
" Nggak, aku masih di negara A. Aku kemari ingin menemui Umi, katanya sih mengunjungi Adikku. Tapi pas ingat kamu, iseng iseng saja aku kemari, siapa tau ketemu. Ternyata benar, kamu akhirnya ada dirumah. "
" Apa, Adikmu. Maksudmu si keong, apa Dia ada di Jakarta juga. "
Kevin melongo, ternyata teman lamanya itu masih saja memanggil adiknya dengan panggilan si keong.
" Namanya ada Bro, nanti kalau dia dengar kamu panggil keong bisa- bisa kalian ribut lagi. "
Sang Pria justru tertawa, Ia justru merindukan keributan itu.
" Wah itu malah bagus Bro, aku juga sudah kangen ingin taruhan dengannya. "
Kevin hanya bisa geleng- geleng kepala. Ternyata umur tidak mampu merubah semuanya, sifat gokil nya masih saja nampak, meskipun Ia terkenal bengis.
__ADS_1