
Dengan penampilan modis dan setelan lengkap yang bisa membuat dirinya terlihat sangat cantik dan lebih muda dari umurnya, bahkan tidak nampak kalau dirinya adalah seorang Ibu dari dua orang anak.
Kanaya melangkah dengan senyum menghiasi bibirnya ke dalam sebuah cafe, namun senyum itu hilang ketika bertemu seseorang disana.
Angga sejak tadi begitu terkesima menatap penampilan wanita yang pernah mengisi relung hatinya dan juga hari- harinya selama sepuluh tahun, kini benar-benar berada di depannya setelah menghilang beberapa tahun tanpa memberi kabar.
Melihat penampilan Naya saat ini seperti mengingatkannya pada saat dulu Ia jatuh cinta pertama kali pada wanita itu.
" Mari silahkan duduk. "
Angga menarik kursi untuk di tempati oleh Kanaya, Naya duduk dengan tenang. Berbeda dengan Angga, Ia sangat gelisah. Ada rasa dihatinya yang membuncah, rasanya Ia ingin memeluk Naya dan mengatakan mengatakan pada semua orang kalau wanita cantik dan modis itu adalah Istrinya.
" Baiklah Mas Angga, aku memenuhi panggilan mu tapi maaf aku tidak bisa lama- lama. Katakan apa yang ingin kamu katakan, aku akan mendengarkannya. "
Angga menjadi tidak fokus, apalagi sejak tadi pandangannya tertuju pada bibir Istrinya ketika sedang berbicara.
" A, aku hanya ingin bertemu mereka, bisakah kamu ijinkan aku bertemu. " Tanya Angga grogi.
Naya tersenyum kecil, Ia sudah mengira akan hal ini.
" Apa Mas Angga merasa berhak untuk bertemu mereka, setelah semua yang Mas dan juga Ibu lakukan. "
Angga tidak menyangka kalau Istrinya akan berubah seperti ini, penampilannya memang mampu membuatnya terpesona tapi pribadinya terasa sangat dingin dan susah untuk di jangkau.
" Tentu saja aku berhak Naya, bagaimana pun juga mereka itu adalah anak-anakku. "
Lagi-lagi Naya tersenyum, bagi orang lain akan terlihat cantik tapi tidak bagi Angga. Ia merasa terintimidasi melihat senyum wanita itu.
" Baiklah, ini alamatnya. Datanglah kesana. "
Naya memberikan sebuah alamat rumah pada Angga dan Angga menerimanya dengan senang hati.
" Ingat, aku tidak pernah mentolerir sekecil apapun kesalahan yang kamu buat kepada mereka. "
Angga meneguk salivanya sendiri, entah mengapa bertemu langsung dengan Naya membuatnya merasa tidak berdaya.
Angga kembali kerumah, Ia mengambil semua barang yang sudah Ia beli untuk anak-anaknya sehari sebelumnya. Bu Aminah yang melihat raut bahagia di wajah Angga segera ikut berlari kelantai dua.
" Angga, kamu mau kemana. Ini semua mau di bawa kemana Nak. " Tanya Bu Aminah.
Angga dengan perasaan bahagia menceritakan pertemuannya dengan Kanaya, setelah semua yang Ia lakukan bersama sang pengacara, akhirnya Naya bersedia menemuinya dan juga bersedia menunjukkan wajah kedua buah hati mereka.
" Apa ! Jadi...
" Iya Bu, hari ini aku ingin bertemu dengan kedua anak- anakku. Ini aku mau bawa semua mainan ini kesana, mereka pasti senang Bu. "
__ADS_1
Nampak jelas kebahagiaan di wajah Pria berumur tiga puluh lima tahun itu.
" Alhamdulillah kalau begitu Nak, Ibu... Apa Ibu boleh ikut, Ibu juga ingin melihat mereka, boleh ya Nak. "
Angga terdiam sejenak hingga akhirnya Ia mengangguk.
" Baiklah Bu, ayo bantu Angga bawa semua ini ke mobil. "
Bu Aminah mengangguk dan langsung membawa sejumlah barang yang bisa Ia bawa. Keduanya tersenyum sumringah, ketika berada di lantai bawa mereka berpapasan dengan Asma.
Asma bingung melihat suami dan mertuanya yang nampak kesusahan membawa begitu banyak barang di tangan mereka.
" Ibu, sayang. Kalian mau kemana, ini... bawa apaan, kok banyak banget. "
Bu Aminah terkejut dan kemudian seperti ketakutan, berbeda dengan Angga yang tetap tersenyum lebar.
" Ah ini sayang, Mas ingin....
" Ke panti asuhan Asma, Ibu dan Angga ingin membagikan sedikit rezeki kita pada anak-anak yang membutuhkan disana. " Potong Bu Aminah.
Angga menatap Ibunya bingung, Ia heran mengapa Ibunya membuat alasan lain seperti itu.
" Oh ya. " Asma menanggapi dengan ekspresi datar.
Asma menaik turunkan bahunya, Ia tidak begitu menyukai tempat seperti itu.
" Maaf sayang, kalian pergi saja. Aku hari ini ada janji dengan seseorang, nggak apa- apakan sayang. "
Angga mengangkat bahunya sebelah, Ia tidak mempermasalahkan kemana perginya Istrinya. Sedangkan Bu Aminah, wanita itu menghela nafas lega karena akhirnya menantunya tidak memaksa ikut bersama mereka.
" Bu, kenapa tadi Ibu mengatakan kalau kita akan pergi ke panti asuhan. Coba kalau Ibu bilang jujur kalau kita akan bertemu anak-anak ku, Asma pasti akan ikut bersama kita. "
Bu Aminah menata barang yang Ia bawa di kursi belakang.
" Angga, bukannya tadi katamu Naya sudah memberi peringatan. Jangan sampai terjadi satu kesalahan dan dia tidak akan mentolerir hal itu, apa kamu yakin kalau Asma nanti tidak akan menyakiti atau bahkan menyerang Naya kalau tau kamu dekat dengannya. "
Angga manggut-manggut, Ia juga membenarkan mengenai hal itu.
" Baiklah Bu, Ibu benar juga. "
Mobil melaju ke alamat yang di berikan Naya, ternyata lumayan jauh. Mereka menempuh perjalanan dua puluh menit hingga tiba di sebuah rumah megah berpagar besi menjulang tinggi.
Angga dan juga Ibunya turun dari dalam mobil, mereka mengamati bangunan di depan mereka.
" Angga, coba periksa alamatnya. Apa benar disini, tapi kayaknya nggak mungkin. Masa Iya sih, Naya punya rumah sebesar ini. "
__ADS_1
Angga mengangguk dan memeriksa kembali alamat yang di berikan Naya, Ia membacanya berulang kali dan mencocokkan nama yang ada di kertas serta nama yang ada di depan pagar.
" Benar ini Bu, alamatnya sama persis kok. "
Bu Aminah pun melakukan hal yang sama dan hasilnya sama seperti yang Angga katakan.
Keduanya mengintip dari sela- sela pagar besi.
" Angga, itu disana. Sepertinya ada seseorang disana. " Tunjuk Bu Aminah ke arah pos satpam.
Angga berusaha memanggil namun tidak ada jawaban, keduanya mendadak bingung. Bagaimana cara keduanya bisa masuk kedalam rumah besar itu.
" Nak, itu ada bel, cepat pencet. "
Angga mendekat dan membunyikan bel beberapa kali, satpam berlari keluar. Pria yang nampak masih muda itu terlihat bingung melihat kehadiran Bu Aminah dan juga Angga.
" Ah, maaf Bu, Pak. Cari siapa ya. " Tanya satpam ramah.
Angga tersenyum ramah pada kedua satpam yang ada di depan mereka.
" Oh, aku. Aku Angga dan ini Ibuku. Kami berdua kemari ingin bertemu Bu Kanaya, apa benar ini rumahnya. "
Satpam mengamati penampilan Angga dan Ibunya. kedua Pria itu tidak akan sembarangan menerima tamu luar.
" Aku tadi bertemu dengannya dan dia sendiri yang memberikan alamat ini untuk ku. "
Salah satu satpam mengambil kertas yang di berikan Angga dan menunjukkannya pada rekan kerjanya.
" Baiklah, tunggu sebentar. "
Salah satunya pergi menjauh dan nampak sedang menghubungi seseorang. Tidak berselang lama akhirnya satpam itu kembali dan membukakan pintu untuk keduanya.
" Mari Pak, Bu. Saya akan antar Bapak dan Ibu kedalam, Bu Naya sudah menunggu didalam. "
Angga dan juga Ibunya melangkah masuk, satpam langsung menutup gerbang agar tidak ada yang bisa masuk dengan tiba-tiba.
" Mari Pak, Bu. "
Bu Aminah memindai seisi rumah mewah itu, beliau berdecak kagum dengan interior yang ada di dalam rumah itu.
Setelah berjalan cukup jauh akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang juga sangat luas dan rapi, semua pernak- pernik yang ada disana terlihat sangat mahal dan bukan kaleng- kaleng.
" Silahkan duduk Pak, Bu. Sambil menunggu Ibu turun, silahkan di nikmati cemilannya, ini di peruntukkan untuk Bapak dan juga Ibu. "
Bu Aminah mengangguk dengan tersenyum canggung, wanita paruh baya itu kembali memindai seisi ruangan itu. Tidak menyangka kalau menantu yang Ia sia- siakan akan menjadi pemilik rumah mewah itu.
__ADS_1