Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 37 Angga Frustasi


__ADS_3

Mobil yang di kemudikan Angga perlahan memasuki area parkiran rumah mereka, Asma menginginkan pulang kerumah karena merasa tidak nyaman terlalu lama berada di rumah sakit. Satpam segera berlari membukakan pintu gerbang untuk majikannya.


Angga turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Ibunya, Ia juga membantu Asma turun dari mobil.


" Pelan- pelan sayang. "


Angga menuntun Asma perlahan masuk kedalam rumah.


" Istrahat dikamar saja ya sayang, kalau mau sesuatu nanti Mas yang ambilkan. "


Asma merasa bahagia karena di perlakukan seperti ratu di rumah itu, Angga membantu Asma mencari posisi duduk yang nyaman.


" Apa sudah merasa nyaman sayang. " Tanya Angga dan Asma pun mengangguk dengan senyum penuh kebahagiaan.


" Baiklah sayang, Mas ingin mandi sebentar. Kamu tunggu saja disini dan jangan kemana-mana. "


Angga memilih mandi di kamar lantai atas karena hampir semua pakaian gantinya tersimpan disana.


Sementara di luar satpam terkejut melihat kedatangan mobil Dokter Dimas, dengan cepat satpam membukakan pintu pagar.


" Pak Dokter, mari silahkan Pak. "


Dimas tersenyum dan mengemudikan mobilnya sampai di parkiran. Naya merasa ragu untuk turun, apalagi mengingat bahwa keberadaannya yang sama sekali tidak di inginkan lagi di rumah itu.


" Naya, apa kamu mau turun disini atau aku antar kamu pulang kekampung Umi Rahayu saja. "


Naya menggeleng, Ia tidak mungkin kembali kesana dan membuat Uminya curiga.


" Tidak Mas, aku turun disini saja. "


Naya menghela nafas dan akhirnya memutuskan untuk turun, Ia tidak mungkin menghindar atau lari dari semuanya. Bagaimana pun juga dirinya masih Istri sah dari sang empunya rumah, jadi akan sangat aneh kalau Ia pergi dari rumah itu untuk menghindari sesuatu yang belum pasti kebenarannya.


" Apa mau aku temani turun. "


Lagi-lagi Naya menggeleng, Ia sangat berterima kasih karena sahabat dari suaminya itu sudah banyak membantunya dan tidak ingin Pria itu terseret kedalam masalah rumah tangga mereka.


" Sebenarnya aku tidak yakin meninggalkan mu disini Naya, tapi ya sudah. Ini adalah keinginan mu, semoga kamu baik- baik saja disini. " Gumam Dimas.


Ia memandang langkah kaki Naya hingga masuk kedalam rumah, Dimas kemudian memutuskan kembali kerumahnya.


" Pak, buka gerbangnya lagi ya. " Pinta Dimas.


Satpam bingung karena Dokter sekaligus sahabat dari majikannya itu tidak jadi masuk, malah memilih putar balik.


" Lah, Pak Dokter tidak jadi masuk. "


Dokter menggeleng dan mengucapkan terima kasih. Bi Nur langsung berlari memeluk Naya ketika melihat majikan kesayangannya pulang dengan selamat.


" Nak Naya, benarkah ini kamu Nak. Alhamdulillah akhirnya kamu bisa pulang dengan selamat. "


Bi Nur memeriksa tubuh Naya dari depan hingga belakang, Ia kembali mengucap syukur karena ternyata Naya memang baik- baik saja.


Asma yang mendengar kehebohan diluar dibuat penasaran, perlahan Ia melangkah keluar dan terkejut melihat kehadiran saingannya di rumah itu.


" Mbak Naya, kok bisa Dia ada disini sih. " Matanya membulat sempurna.

__ADS_1


" Dasar tidak becus, mereka ternyata benar-benar tidak berhasil. Sial, ini tidak boleh dibiarkanย  terjadi. Wanita itu tidak boleh lama- lama berada disini, yang ada Mas Angga akan lebih memilih bersamanya di banding denganku. " Gumam Asma.


Ia melangkah pelan menghampiri Naya dan berdiri tepat di belakang Naya.


" Mbak Naya, benarkah ini Mbak. Wah syukurlah kalau Mbak baik- baik saja. Mas Angga sampai hampir frustasi tau karena mendengar kalau Mbak kecelakaan di jalan. Tapi alhamdulillah Mbak baik- baik saja. "


Dari atas Angga tersenyum melihat kepedulian Asma pada Istri pertamanya, Ia bergegas menuruni anak tangga dan langsung memeluk tubuh Istri tuanya itu.


" Kamu kemana saja sayang, bagaimana keadaan mu sekarang. Apa mereka menyakiti mu. "


Naya di buat bingung melihat tingkah suami dan juga pelakor yang merebut suaminya itu, Naya sampai berpikir kalau mereka berdua amnesia.


Asma memalingkan wajahnya kearah lain dengan menahan amarah melihat kemesraan suaminya dan juga Istri pertamanya itu.


" Aku baik- baik saja Mas, buktinya sekarang aku ada disini. Oh ya Mas, aku capek dan ingin istrahat. Aku naik keatas dulu ya, Assalamu'alaikum. "


Naya tersenyum pada Angga, Asma dan menyentuh lengan Bi Nur pelan sebelum naik ke lantai atas.


Sesampai dikamar Naya menutup pintu dan bersandar di balik pintu itu, Ia mengelus dadanya pelan. Saat ini keadaan memaksanya untuk menjadi wanita yang kuat, bersabar demi kedua buah hatinya.


Naya patut bersyukur karena di tengah masalah sulit yang harus Ia hadapi saat ini, kedua buah hatinya tidak menyusahkannya. Mereka bahkan baik- baik saja dan tumbuh sehat disana.


" Ayolah Naya, semangat lagi. Kamu pasti bisa, tidak akan ada yang bisa menyakiti mu. " Naya menyemangati dirinya sendiri.


Sedangkan di lantai bawah, Asma semakin merasa tidak nyaman, apalagi suaminya meminta ijin menemui Naya di lantai atas.


" Sayang, kamu disiniย  dulu ya. "


" Mas mau kemana. " Tanya Asma.


" Asma, Mas mau menemui Naya. Hanya sebentar saja, Mas janji. "


Asma akhirnya mengijinkan Angga menemui Naya, Ia tidak mau kalau sampai suaminya tidak respect padanya lagi.


" Iya Mas, tidak apa- apa. Tapi jangan lama- lama ya, anak kita tidak bisa tidur kalau tanpa Papanya. "


Angga mengangguk dan mencium puncak kepala Asma sebelum keluar menemui Istri pertamanya.


" Aaaaaahhhhhhhh.......! " Pekik Asma ketika gagal menahan Angga menemui Naya yang kini menjadi musuh bebuyutannya.


Angga membuka pintu pelan, dan langsung disambut aroma yang sangat menyenangkan diruangan itu. Naya memang berbeda, Ia sangat suka dengan kebersihan. Itulah sebabnya ruangan mereka selalu rapi dan wangi.


" Sayang. "


Angga langsung memeluk tubuh Naha yang masih mengenakan jubah mandi, karena memang Naya baru selesai membersihkan diri.


" Sayang, aku merindukan mu. "Bisik Angga lagi.


Angga mencium leher putih mulus dan jenjang milik Istri pertamanya, aroma khas menguar di indra penciumannya, membuat Ia ingin berlama-lama memeluk tubuh Istrinya itu.


Tangannya mulai nakal, meremas dua gundukan kembar yang hanya terbalut oleh jubah mandi. Naya tidak menolaknya, Ia ingin memastikan sesuatu.


" Benarkah sayang, Mas benar- benar merindukan ku. "


Suara merdu Naya spontan membangunkan sang junior yang sudah berpuasa selama dua hari.

__ADS_1


" Iya sayang, lihatlah dia juga merindukan mu. "


Angga meraih tangan Naya dan mengarahkannya ke barang pusaka miliknya yang sudah menonjol dengan sempurna.


Naya meremasnya pelan dan membuat Angg tidak tahan untuk meracau. Rasanya tubuhnya seakan tersengat aliran listrik ketika Naya menyentuh pusaka miliknya.


" Sayang, kamu bisa buat aku gila kalau terus seperti ini. "


Angga bergegas melucuti busana bagian bawah miliknya, Ia benar- benar sudah tidak sabar bermain- main dengan juniornya itu.


Nafasnya sudah memburu dengan hasrat yang sudah sampai di ubun- ubun, Naya semakin menggodanya.


" Ah Mas, milikmu memang sungguh hebat. Tidak perlu susah payah membangunkannya. "


Angga meminta Naya membelakanginya, Ia sudah membayangkan bagaimana rasanya miliknya berada di dalam sana.


Baru akan mengambil posisi dengan menyodokkan miliknya dari luar sudah terdengar kegaduhan.


Naya masih sempat menggoda suami gilanya itu dengan mendorong bokongnya kebelakang hingga menyentuh ujung kepala junior suaminya, hal itu membuat Angga histeris.


Bersamaan itu pula terdengar pintu di ketuk dari luar.


" Angga buka pintunya. Angga...... buka, apa kamu pingsan di dalam. " Di luar terdengar sudah seperti perang Dunia kedua.


Anggap frustasi, Ia mengusap wajahnya kasar meneguk salivanya kasar ketika melihat sebuah pemandangan yang membuat semua bulu di tubuhnya berdiri.


Naya memang sengaja menunjukkan miliknya pada suaminya dan Ia bahagia melihat Pria itu frustasi.


" Angga........ ! "


Lagi-lagi panggilan di luar membuat kepalanya ingin pecah, ketukan pintu berganti menjadi gedoran yang hampir saja menghancurkan pintu kamar Naya.


Angga berteriak frustasi karena hasratnya yang tidak tersalurkan, Ia melangkah kearah pintu dan membukanya.


Bu Aminah langsung menghambur masuk dan melihat Naya yang duduk di depan meja rias sembari merapikan rambutnya menggunakan sisir rambut.


" Angga kenapa dengan wajahmu, apa kamu demam sehingga wajahmu memerah gitu. Oh rupanya ada ratu dirumah ini ya. "


Bu Aminah menghampiri Naya, Ia menatap menantunya itu dari atas sampai bawah.


" Jangan pernah menciptakan kekacauan, kalau kamu tidak bisa memberikan kebahagiaan di rumah ini setidaknya jangan pernah membuat masalah di dalam keluarga ini, apa kamu mengerti. "


Bu Aminah langsung meninggalkan Naya setelah mengatakan kata- kata yang menyakitkan untuk menantunya itu.


" Angga, cepat temui Istrimu kalau kamu tidak ingin hal kemarin terjadi lagi dan kamu akan menyesalinya. "


Angga kembali frustasi, Ia menatap Naya dengan hasratnya yang belum tersalurkan. Tapi juga Ia takut kalau hal seperti kemarin terjadi lagi, Ia ingat betul pesan Dokter agar tidak sampai membuat Istrinya strees di trimester pertama.


" Aaaaaaaaahhhhhhh..........! " Angga berteriak frustasi dan akhirnya melangkah keluar.


Naya berlari kecil menutup pintu dan tertawa puas, Ia bahagia melihat suaminya tersiksa karena hasratnya yang tidak tersalurkan.


Naya memang sengaja menggodanya, ini adalah hukuman untuk suami yang suka celup sana- sini.


" Apakah aku terlalu kejam. "

__ADS_1


Naya bertanya pada pantulan dirinya di cermin dengan wajah sedih, namun tidak berlangsung lama. Ia kemudian kembali tertawa apalagi mengingat bagaimana frustasinya suaminya. Ia yakin suaminya itu tidak akan bisa tidur sampai pagi dan akan berusaha menemuinya, tapi tentu saja itu tidak akan mudah karena sang pelakor pasti tidak akan mengijinkannya begitu saja.


__ADS_2