Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 87


__ADS_3

Asma melangkah pelan karena bagian bawah intinya masih terasa sakit.


" Hmm...... Asma ! Alhamdulillah akhirnya kamu pulang juga Nak. "


Asma menghentikan langkahnya, padahal dia sudah mengendap- endap tapi tetap saja ketahuan.


" Iya Bu, maaf Bu, Asma mau ke kamar dulu, capek mau istirahat. "


Asma enggan berbicara dengan Ibu mertuanya, Bu Aminah memperhatikan langkah kaki Asma yang terlihat berbeda.


" Asma, kamu kenapa Nak. Kamu tidak apa- apakan, kok jalan mu seperti itu. " Tanya Bu Aminah yang memang sejak kemarin menghawatirkan keselamatan menantunya itu.


" Bu, aku baik- baik saja. Aku hanya perlu istrahat saja karena aku lelah. " Jawab Asma mencoba menahan kekesalannya.


Bu Aminah menggela nafas dan hanya bisa menerima tabiat buruk menantunya itu, sementara Asma masih terus menggerutu sambil membersihkan diri di bawah guyuran shower.


Berulang kali Ia berusaha mengingat kejadian yang sebenarnya namun sekuat apapun Ia berusaha ingatan itu sama sekali tidak berhasil.


Di tempat berbeda seorang Pria dengan bertubuh tambun tertawa terbahak-bahak, akhirnya Ia bisa mendapatkan apa yang Ia inginkan selama ini, ya meskipun tidak sepenuhnya.


" Bukan selamat tinggal sayang, tapi sampai jumpa lagi. Kita akan bertemu dan bersenang-senang lagi di lain waktu. " Ucapnya sembari memandangi ponselnya.


" Ya Tuhan, bagaimana cara menghilangkan ini. Jangan sampai Mas Angga melihatnya. " Gumam Asma sembari memandangi tubuhnya yang memerah pada pantulan cermin.


Sekitar jam tujuh malam, Angga kembali kerumah. Dari luar Ia sudah mengucapkan salam, Pria itu terkejut melihat Istrinya sudah ada di kamar mereka.


Asma sudah rebahan dengan menutup hampir seluruh tubuhnya dengan selimut, hanya menyisakan kepalanya saja yang mampu di lihat oleh Angga.

__ADS_1


" Akhirnya dia pulang juga. " Batin Angga langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Asma mendadak ketakutan ketika Angga menghampirinya, apalagi suaminya itu menyentuh keningnya. Tidak lama kemudian Ia keluar dari kamar tanpa meninggalkan suara apapun.


Beberapa jam berlalu Asma menunggu namun suaminya itu tidak kembali juga ke kamar mereka. Asma bangun perlahan dan membuka pintu, Ia memeriksa keluar namun lampu sudah banyak yang tidak menyala, Asma menoleh ke lantai atas.


" Apa Mas Angga tidur di kamar atas, ya sudah. Baguslah kalau begitu, paling tidak malam ini aku aman. " Batin Asma lalu Ia kembali lagi ke dalam kamarnya dan melanjutkan tidurnya.


***


Pagi hari Asma sudah bangun, Ia menuju dapur dan mendapati Ibu mertuanya sudah lebih dulu bangun. Asma menawarkan bantuan dan Bu Aminah dengan senang hati mengizinkan menantunya itu membantunya.


Angga turun dengan pakaian yang sudah rapi, pria itu menatap heran pada Istrinya karena tidak biasanya istrinya itu ada di dapur.


" Sini Nak, yuk sarapan sama-sama. " Bu Aminah yang melihat kedatangan Angga langsung menawarkan sarapan bersama.


Asma mencoba bersikap biasa saja dan menarik kursi untuk suaminya, seperti istri yang baik pada umumnya Asma mengambilkan sarapan untuk suaminya itu.


Bu Aminah langsung memberi tatapan tajam pada Putranya, meskipun beliau juga penasaran tapi pertanyaan Angga saat ini bukan pada tempatnya. Di saat mereka baru saja memulai sarapan, Asma juga nampak menghentikan suapan pertamanya.


" Angga, bisakah kita sarapan dengan tenang dulu. Masalah apapun yang ada kita bicarakan nanti. " Ucap Bu Aminah.


Asma menghela nafas lega, alhamdulillah Ia terbebas lagi untuk saat ini. Akhirnya mereka pun sarapan dalam diam, tidak ada yang berbicara sama sekali.


" Ah, sudahlah nanti saja. " Ucap Angga jadi serba salah, ingin bertanya tapi waktu sudah tidak memungkinkan.


Di dalam kamar Asma mengurung diri, Ia berusaha mengingat kejadian semalam.

__ADS_1


" Apa yang sebenarnya terjadi dan siapa Pria itu, kenapa sepertinya dia mengenali aku. " Gumam Asma frustasi.


Ia menjambak rambutnya sendiri dan mengusap wajahnya kasar. Asma semakin frustasi ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.


" Sayang, bagaimana kabar mu saat ini. Apa kamu merindukan ku sama seperti aku merindukan mu. Lebih tepatnya merindukan kehangatan tubuh mu seperti malam itu. "


Asma terkejut dan tanpa sengaja ponsel nya terlepas dari tangan nya.


" Dia..... dia lagi, Pria gila.....!!! Darimana Pria gila itu tau nomor ku. Pria brengsek.........!!! " Maki Asma geram.


Di tempat berbeda Angga sedang berbahagia karena mendapatkan kabar baik dari sekertaris nya.


" Alhamdulillah akhirnya dewi fortuna berpihak juga padaku. Apa aku bilang Bimo, kedua buah hatiku itu memang benar-benar membawa hoki untuk ku. Pokoknya kita harus bisa memenangkan hak asuh mereka, mereka harus kembali padaku bagaimana pun caranya. " Ucap Angga dengan penuh semangat.


Berbeda dengan Angga, Bimo justru hanya diam saja mendengar ucapan atasannya itu.


" Oh ya Bimo, sepertinya aku harus pergi. Tolong kamu urus semuanya dulu sendiri ya. "


" Pak, Bapak mau kemana. " Tanya Bimo berusaha menghentikan langkah Angga.


Masih dengan senyum mengembang di bibirnya, Angga mengatakan niatnya saat ini.


" Aku harus menemui mereka Bimo, aku yakin semuanya akan lancar kalau aku bertemu mereka. "


Bimo menggeleng pelan, Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran atasannya itu.


" Maaf Pak, tapi kalau boleh aku kasih saran, sebaiknya untuk saat ini Bapak tidak menemui mereka dulu. "

__ADS_1


" Kenapa Bimo, mereka anak- anakku. Aku harus menemui mereka agar mereka bisa terbiasa dengan Ayahnya. " Jawab Angga.


Setelah di jelaskan oleh Bimo apa yang menjadi alasan mengapa Ia melarang atasannya itu menemui ke dua anaknya, akhirnya Angga menurut juga. Meskipun sedikit murung namun Ia kembali memeriksa beberapa laporan yang ada di atas mejanya.


__ADS_2