
Ray sedang memperhatikan isi kamarnya, Ia masih bingung kenapa ketua dari klan singa putih itu mengajaknya ke rumahnya. Sedangkan Leony juga tengah melamun di kamarnya, Ia masih bingung dengan semua yang terjadi.
Tok~ Tok~ !!!
" Rara boleh Abang masuk. "
Rara menghela nafas berat, sebelum akhirnya mempersilahkan sang kakak masuk ke kamarnya.
" Masuk saja Abang, silahkan duduk. "
Rara membuka pintu dan mempersilahkan saudara laki-lakinya duduk, Ia kembali diam sampai Sean menyerahkan sebuah album foto padanya.
Rara mengerutkan keningnya dan menatap Sean dengan penuh tanda tanya.
" Bukalah De. "
Rara perlahan membuka lembar demi lembar foto lama yang ada di album itu. Air matanya tiba-tiba menetes, Ia merasa bersedih ketika melihat foto Ibu dan juga Ayahnya. Disana juga ada foto kecelakaan yang dialami kedua orang tuanya dan juga sang Adik.
" Kenapa Abang memberikan ini padaku. " Tanya Rara sembari menatap Sean.
Sean tersenyum manis pada adiknya, Ia menyerahkan beberapa foto yang di dapatkan William pada penyelidikan mereka beberapa hari belakangan ini.
" Ini, bukankah ini Ray. " Tanya Rara pelan.
Sean menggeleng- geleng berulang kali
" Lionel Adriano Siregar. "
Gedebuk !!!
Album yang ada ditangan Leony jatuh ke lantai karena terkejut. Ia shock, tentu saja Leony masih ingat nama itu.
" Apa maksud Abang, Lionel Adriano Siregar..... Abang, itu kan nama Adik, kenapa Abang sebut lagi. Bukankah Adik sudah meninggal dalam kecelakaan sepuluh tahun silam itu. "
Sean lagi-lagi menggeleng, Ia duduk di samping Leony.
" Dia belum meninggal De, seseorang menyembunyikannya dalam sepuluh tahun terakhir ini. William dan Haris sudah menyelidikinya, meskipun mereka belum menemukan siapa dalang dari kecelakaan itu namun mereka punya bukti kalau Ray adalah Lionel. "
Rara menatap wajah Sean mencoba mencari kebenaran, Ia benar-benar shock karena reaksi Sean begitu meyakinkan.
Rara berdiri dan mundur beberapa langkah, Ia kemudian berlari keluar dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.
" Adek, benarkah itu kamu. " Batin Rara.
Ia terus berlari keluar, ingatan beberapa puluh tahun yang lalu mengiringi langkahnya. Rara langsung mengetuk pintu setelah tiba di depan kamar tamu yang di tempati Ray.
" Ray....... ! " Panggil Rara sembari mengetuk pintu berulang kali.
Rara mencoba memutar knop pintu ternyata tidak terkunci.
" Ray, kamu dimana. "
Rara mencari keberadaan Ray di dalam kamar tamu namun tidak terlihat, Ia juga mencari ke toilet namun kosong.
__ADS_1
Hatinya langsung was- was karena tidak mendapati Ray di kamarnya.
" Oh tidak..... Jangan sampai dia di culik lagi dan kembali kesana. "
Rara keluar dari kamar dan terus berteriak memanggil nama Ray.
" Abang........... !!! Abang kemana. "Panggil Rara panik.
Sean langsung menemui adik kesayangannya.
" Ada apa De, kok teriak- teriak. "
Rara mengelus dadanya dan juga wajahnya.
" Abang, Adek hilang nggak ada dikamarnya. Cepat cari Abang, jangan sampai dia kembali ke tempat itu lagi. "
Sean meminta sang Adik untuk tenang, Pria itu memanggil kedua bodyguard kepercayaannya.
" Willi, Haris. " Kedua Pria itu langsung hadir di hadapannya.
" Ada apa Bos. " Tanya Haris.
" Cek CCTV, Ray tidak ada di kamarnya. " Pintar Sean.
Haris langsung mengambil ponselnya dan mencoba mencari apa yang di perintahkan Sean.
" Dapat. " Haris mengela nafas lega.
Ia menghentikan langkahnya setelah melihat orang yang Ia cari ada disana, nafasnya naik turun karena khawatir.
Bughhh !!!!
Rara langsung memeluk Ray dari belakang, hal itu membuat Ray terkejut. Rara menangis terisak dan itu membuat Ray semakin bingung.
" Dokter, Dok.....! "
Rara memutar tubuh Ray dan memeluknya dari depan.
" Dokter, Dokter kenapa, kok menangis. " Tanya Ray pelan, Ia bingung setengah mati mendapatkan pelukan dari Rara.
" Jangan pergi, jangan pergi lagi. "
Rara membenamkan wajahnya di dada Ray, air matanya sudah membasahi dada dan juga baju Pria itu.
" Ada apa Dok, kenapa Anda menangis. Saya masih disini, belum ingin kemana-mana. " Ucap Ray setengah berbisik.
Rara mengangguk- angguk namun belum ada niat untuk melepaskan pelukannya.
Rara menatap kiri dan kanan, Ia mengajak Ray masuk kedalam rumah.
" Ray, ayo cepat kita masuk kedalam rumah. Kamu tidak boleh berlama-lama ada diluar. "
William ingin menghampiri Ray namun Sean melarangnya
__ADS_1
" Tidak apa-apa Willi, biarkan saja. "
Willi sedikit mengangguk dan kembali berdiri dengan gaya coolnya.
Ray ngikut saja ketika Rara menarik tangannya masuk kedalam rumah, meskipun Ia bingung dengan apa yang terjadi. Ia menunduk hormat ketika melewati ketiga Pria tampan di depannya.
" Ada apa Dok, apa ada masalah. "
Ray bertanya karena Leony langsung diam ketika mereka tiba di kamar Ray.
" Jangan pernah pergi lagi, jangan pernah tinggalkan kami lagi. "
Ray bingung mendengar permintaan Leony.
" Ho.... tapi kenapa, saya tidak ingin merepotkan kalian untuk itu saya akan segera kembali kesana lagi. "
Rara terkejut Ia langsung menatap tajam pada Ray.
" Kenapa kau harus kembali kesana, disana bukan tempat mu. Aku tidak akan mengijinkan mu kembali kesana bagaimana pun caranya, kalau kau masih memaksa pergi ketempat itu maka aku akan melumpuhkan mu. "
Rara tidak bisa mengendalikan diri dan Ia berteriak pada Ray.
" Kenapa, kenapa saya harus tinggal disini. " Tanya Ray pelan.
Rara berlari memeluk Sean yang baru saja masuk dan berdiri di depan pintu.
" Abang, lihat dia. Dia ingin pergi, dia tidak mau tinggal disini, dia..... "
Rara menangis di pelukan Sean, Sean mengelus kepala sang Adik dengan penuh sayang.
" Tenang De. Bukan dia tidak mau, tapi dia belum mengetahui identitas dia yang sebenarnya, sama seperti kamu yang shock mengetahui hal ini. Beri dia waktu, nanti kita jelaskan perlahan. " Bisik Sean di telinga sang Adik.
Rara mengangguk, Ia membenarkan ucapan sang kakak.
" Ray, bisa kamu disini dulu untuk beberapa hari kedepan. "
Karena Sean yang meminta akhirnya Ray pun mengangguk.
Di markas klan Cobra terjadi keributan.
Plak ~ Plak~ !!!
Tamparan dirasakan oleh beberapa orang yang masih sadar, termasuk Albert yang sudah siuman karena pengaruh biusnya sudah habis.
" Kenapa sampai kalian mengundang klan singa putih itu kemari. Ini juga kalian, apa tidak tau malu, di bodohi oleh wanita. Aku tidak mau tau, kalian bawa kembali Ray, hidup atau mati. Jangan sampai Ia terlebih dahulu mengetahui semuanya, bisa- bisa kita semua dalam masalah. Buat kamu Albert, apa kau tidak malu sampai kalah dari wanita itu, cepat tangkap dia hidup atau mati. "
Albert mengusap wajahnya, Ia mencoba mengingat kejadian beberapa jam lalu. Tangannya menyentuh bibirnya, tanpa Ia sadari bibirnya menyunggingkan senyum.
" Manis. " Gumamnya pelan.
Masih terasa jelas bagaimana Ia mencium bahkan ******* bibir dari gadis cantik itu, sebelum kesadarannya akhirnya hilang setelah Ia merasa sesuatu menusuk kulitnya.
Albert menatap dirinya di depan cermin dengan berbagai rencana yang muncul di benaknya.
__ADS_1