
Andin merenung seorang diri sembari memandang ke luar jendela, Ia mengingat apa yang sudah terjadi padanya selama ini dan mengenai perubahan suaminya yang begitu drastis.
" Nak Andin, makan malam sudah siap. Apa mau makan di luar atau makan malamnya Bibi bawa kemari. " Tanya Bi Rini karena memang kebetulan sudah jam makan malam.
" Nggak usah Bi, Andin makan di dapur saja bareng Bibi, boleh kan. " Tentu saja Bi Rini merasa senang, akhirnya Ia tidak makan sendiri lagi seperti biasanya.
Di tempat lain.
Asma protes pada perubahan Angga beberapa hari ini padanya, Ia semakin menampakkan ke tidak peduliannya padanya. Bahkan terkesan menghindarinya, kemarahan nya semakin menjadi- jadi karena Pria yang selama ini selalu memuaskan nya juga sangat sulit di temui, bahkan nomor ponselnya juga tidak bisa di hubungi.
" Kenapa Mas selalu menghindari ku. " Tanya Asma ketika akhirnya bisa berhadapan langsung dengan Angga.
Angga mencoba mengusir Asma dari kamar miliknya dan juga Kanaya. Ya, setelah perselingkuhan Asma terkuak, Angga memutuskan untuk tidur di kamarnya yang dulu, disana Ia sedikit merasa nyaman.
" Mas, aku membutuhkan mu. Jangan perlakukan aku seperti ini. " Ucap Asma sedikit memohon.
Angga mendengus kesal, entah mengapa Ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk berada di dekat istrinya itu apalagi memiliki hasrat untuk bercinta.
" Membutuhkan ku ! Asma, coba kamu pikir pakai logika, apa kamu masih pantas untuk di perlakukan dengan baik. Tidak pernahkah kamu berpikir sebelum bertindak, apa yang kamu lakukan itu sudah benar-benar mencoreng harga diriku, kehormatan keluarga ini. Ibaratkan kamu melempar kotoran di wajah ku, mungkin masih bisa di sucikan, sedangkan perbuatan mu....... !! "
" Cukup..... !! Cukup Mas Angga, apa kamu pikir kamu orang yang suci, bukankah apa yang kamu lakukan selama ini sama saja. Kita impas, sama-sama pernah melakukan kesalahan, jadi aku mohon berhentilah menghakimi ku seperti ini. "
Terjadilah perdebatan antara keduanya karena sama-sama merasa terzolimi dan sama-sama merasa benar.
***
Siang hari Danang berusaha mencari keberadaan Istrinya, Ia baru saja kembali dari rumah sakit namun tidak menemukan keberadaan Andin. Ia hanya mendapatkan kabar kalau sang Istri keluar dari rumah sakit bersama seorang Pria.
__ADS_1
Berulang kali Danang mengusap wajahnya karena suasana hatinya yang sedang kalut, hal ini baru Ia rasakan beberapa hari ini.
" Bisa kita bertemu sekarang. " Danang mengirimkan sebuah pesan pada seseorang, sebelum kembali meraba dadanya yang terasa sakit.
Setelah mendapat balasan dari pesan yang Ia kirim, Danang bergegas keluar. Ia melangkah setengah berlari sembari memakai jas kerjanya.
" Silahkan duduk. " Danang yang tiba lebih dulu langsung mempersilahkan sahabatnya untuk duduk.
Arman mengangguk dan menarik kursi di depan Danang, Ia duduk santai menunggu apa yang akan di bicarakan oleh sahabatnya itu.
" Dimana dia. " Tanya Danang.
Arman yang sudah tau apa yang di maksud oleh Danang langsung tersenyum.
" Dia berada di tempat yang aman, kamu tidak perlu khawatirkan soal itu. " Jawab Arman santai.
Danang masih memandang ke arah lain, Ia mengerti dengan sangat jelas bahwa semua ini adalah kesalahan nya.
Arman tersenyum kecut, bukan keinginannya seperti itu. Sebesar apapun rasa cinta nya Ia tidak akan mungkin merebut dengan paksa wanita yang begitu Ia cintai itu.
" Itu bukan kemauan ku Danang, dia sendiri yang ingin kesana. Mungkin untuk saat ini Ia lebih memilih menenangkan diri, kamu yang lebih mengetahui bagaimana kondisinya sekarang. "
Mendengar ucapan Arman, Danang tertunduk lesu. Ia kembali mengingat bagaimana reaksi Andin ketika Ia ingin menyentuhnya, mungkin Istrinya itu menyimpan trauma atas semua perbuatan nya selama ini.
Danang melambaikan tangannya pada Arman, mencoba mengusir secara halus. Ia meminta Arman untuk meninggalkan nya seorang diri karena Ia ingin menyendiri. Arman mengerti apa maksud dari sahabatnya, Ia pun berdiri dan hendak meninggalkan Danang, namun tiba-tiba Ia berhenti dan memandang sahabatnya itu.
" Jln Anggrek, nomor tujuh belas, dia ada disana. " Ucap Arman yang merasa tidak tega melihat kesedihan sahabatnya itu.
Setelah mengatakan alamat rumah miliknya Arman pun melangkah pergi, Ia tersenyum ketika mendengar Danang mengucapkan terima kasih padanya.
__ADS_1
Semenjak saat itu Danang selalu mengamati aktivitas Andin dari jarak jauh, Ia masih belum punya keberanian untuk menemuinya. Apa yang di katakan Arman benar adanya, mungkin kehadiran nya akan membuat trauma di hati Istrinya itu.
Beberapa hari ini Andin mulai nampak ceria, karena Ia sudah mendapatkan pekerjaan baru. Pekerjaan yang sudah lama Ia tinggalkan karena lebih memilih melayani suami yang begitu Ia cintai.
Tanpa di sadari ternyata Danang ikut merasa bahagia melihat perubahan Istrinya. Senyum terbit di bibirnya ketika seseorang yang Ia tugaskan mengirimkan bukti keseharian Andin.
Berbeda dengan Danang yang perasaannya sedikit terhibur dengan foto- foto yang di kirim orang suruhannya. Andin justru selalu melamun seorang diri ketika malam tiba, hanya dirinya yang tau bagaimana perasaannya saat ini.
Mereka berdua sama-sama berdiri melamun di tempat yang berbeda sembari memandang keluar jendela, keduanya baru tertidur ketika merasa lelah.
Arman dan juga Bibi yang selalu menjadi saksi bisu atas apa yang terjadi pada Andin selama beberapa hari belakangan ini.
" Hmm.... Dini, aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu, apa kamu punya waktu. "
Setelah sarapan Arman mencoba memberanikan diri menanyakan sesuatu yang sebenarnya sudah Ia pikirkan matang- matang sebelumnya.
" Ada apa Mas. "
Andin mengikuti langkah kaki Arman dan langsung menanyakan apa yang ingin di bicarakan oleh Arman.
" Hm.... begini, aku harus mulai darimana ya. Ah baiklah, begini Dini. Aku tau kalau kamu sekarang masih memikirkan Danang, tapi aku juga ingin mengutarakan perasaan ku padamu selama ini. Dini, sebenarnya aku juga.... aku juga cinta sama kamu. "
Andin tidak terkejut karena memang sejak dulu Ia sudah tau kalau Arman memang menaruh hati padanya namun tidak pernah Ia tanggapi, itu semua karena perasaan cinta nya sudah milik sahabat dari Pria itu.
" Hm.... sebelumnya aku ucapkan terima kasih atas semua hal baik yang sudah kamu lakukan padaku. Tapi untuk soal itu, aku minta maaf. "
Arman memaksakan untuk tersenyum, sebenarnya Ia sudah menduga akan mendapatkan jawaban seperti saat ini.
" Tidak apa-apa Dini, kamu tidak harus menjawabnya sekarang. Aku siap menunggu berapa pun waktu yang kamu butuhkan. "
__ADS_1
Andin menghela nafas, Ia tertunduk lesu. Jujur saat ini Ia sendiri masih belum bisa mengerti bagaimana perasaannya saat ini.