
Umi Rahayu duduk di ruang perawatan Bi Nur, beliau sangat gelisah. Berulang kali Umi memeriksa ponselnya namun tidak ada pesan apapun dari Naya.
" Dimana kalian Nak, Umi sangat menghawatirkan kalian. "
Di luar ruangan ada beberapa petugas berseragam lengkap yang sengaja di tugaskan untuk menjaga keamanan disana.
Sementara di sebuah gudang bawah tanah, terdengar jeritan yang mengerikan dari beberapa Pria.
" Aku sudah peringatkan kalian sebelumnya, tapi kalian ternyata sudah melupakannya. Baiklah, karena kalian lupa maka aku akan dengan senang hati mengingatkan kepada kalian sekali lagi. "
Sean meminta Haris melakukan tugasnya, tanpa bicara Haris menepelkan alat setrum bertegangan rendah pada tubuh kedua Pria di depannya yang sudah di ikat bergelantungan.
" Cepat katakan padaku, siapa yang meminta kalian untuk melakukan semua ini. " Tanya Sean, meskipun pelan namun terdengar menyeramkan.
Kedua Pria itu kompak diam, meskipun mereka merasakan sakit ketika alat setrum itu menyentuh tubuh mereka.
" Rupanya kalian tidak sayang dengan nyawa kalian. Kalian lebih memilih menutupi semuanya dan mengorbankan nyawa kalian. "
Kedua Pria itu mulai gentar ketika alat setrum bertegangan tinggi menyentuh tubuh mereka.
Teriakan dan jeritan menggema di ruangan itu.
" Haris, lemparkan saja mereka ke kandang. Biarkan mereka jadi santapan singa- singa lapar disana. Kebetulan sekali, sudah dua minggu mereka belum makan daging manusia. " Titah Sean.
Haris mengangguk, di bantu dengan yang lainnya mereka membawa membawa kedua Pria yang sebelumnya sudah mengeksekusi Bi Nur dan juga Pak Rudi satpam yang bekerja di rumah Naya.
Kedua Pria itu bergidik ngeri ketika berada tepat di atas kandang binatang buas yang nampak sudah kelaparan menunggu mereka.
" Haris, tunggu apalagi. Cepat, kita masih punya pekerjaan yang lebih penting dari pada ini. "
Ketika pintu kandang besar itu di buka, kedua Pria itu kompak memohon.
" Tolong, jangan lempar kami. "
Dari sekian banyak anak buah Sean, Haris adalah satu-satunya yang terkenal bengis dan bisa menghabisi nyawa orang lain tanpa rasa iba.
" Baik, baik. Kami akan mengatakan yang sebenarnya. "
Kedua Pria yang ketakutan itu akhirnya mengatakan semuanya. Sean tertawa sinis mendengar apa yang di katakan kedua preman bayaran itu.
" Lempar Haris. "
Di bawah sudah banyak hewan buas menunggu, kedua Pria itu berteriak minta ampun.
" Apa kalian berpikir seperti saat ini sebelum kalian menerima pekerjaan seperti ini. " Bentak Sean seraya meninggalkan mereka.
***
Di kediaman Angga
Bu Aminah dan juga Asma sedang menikmati makan siang, keduanya mendengar bunyi bel.
" Siapa ya. " Gumam Bu Aminah.
" Entahlah Bu. " Jawab Asma.
" Biar Ibu lihat dulu. "
Asma menggeleng pelan sambil menoleh kearah pintu.
__ADS_1
" Biar Asma saja, Ibu silahkan lanjutkan saja makannya. "
Bu Aminah mengangguk, Asma melenggang keluar bak model peragawati.
" Siapa ya, kok nggak ada orang. Ish pasti orang yang iseng. "
Asma mencari sampai keluar pagar namun tidak menemukan siapa pun disana. Ketika akan masuk Ia melihat sebuah kotak di pinggir pagar.
" Apa ini, punya siapa. " Gumam Asma.
Dari dalam rumah terdengar suara Bu Aminah memanggil menantu kesayangannya itu.
" Ada siapa di luar Asma, kok nggak di suruh masuk sih. "
Asma segera masuk kedalam rumah sambil membawa kotak misterius yang beralamatkan dirinya.
" Nggak ada siapa- siapa Bu, hanya ada ini di depan rumah. "
Asma dan juga Bu Aminah sangat penasaran dengan isi kotak itu.
" Bukalah Nak, eh apa ada di cantumkan siapa pengirimannya. " Asma lagi-lagi menggeleng pelan.
Bu Aminah dan juga Asma memperhatikan kotak yang ada di depan mereka. Dengan perlahan mereka membuka kotak tersebut.
Satu demi satu terbuka, wajah yang tadinya tersenyum tiba-tiba mengerut.
" Aaaaahhhhh. " Teriak Asma dan juga Bu Aminah bersamaan.
Bu Aminah menutup matanya dan menatap kearah lain. Asma melihat ada sebuah amplop disana.
" Jangan coba- coba mengganggu ketenangan ku, atau kamu. Kamu akan merasakan apa yang baru kamu terima saat ini. "
" Asma, coba lihat apa ada pesan di dalamnya. " Tanya Bu Aminah ketika sudah bisa menguasai keterkejutannya.
Asma menggeleng berulang kali
" Tidak ada Bu, tidak ada apapun selain ayam mati ini. "
Bu Aminah memeriksa kembali paket misterius itu dan benar saja tidak ada apa apa selain ayam mati tanpa kepala.
" Siapa yang sudah iseng mengirimkan barang menjijikkan ini kerumah. "
Lagi-lagi Asma menggeleng, karena Ia belum tau pasti siapa yang tengah berniat tidak baik pada mereka.
Di tempat berbeda
Leony melangkahkan kakinya kesebuah ruangan, sebelum masuk Ia bertanya kepada Sean perihal kenapa dirinya di minta datang ketempat itu.
" Dimana mereka Abang. " Tanya Leony.
Sean menunjuk ruangan yang ada di depannya.
" Mereka di dalam sana, masuklah. "
Leony masuk dengan pelan, matanya langsung tertuju pada sesuatu di atas ranjang.
Senyumnya menghiasi bibirnya melihat dua bayi kembar menggemaskan itu.
" Ya Allah, kalian kembar, sungguh menggemaskan sekali. "
__ADS_1
Leony memandangi kedua bocah lucu nan menggemaskan itu.
" Kenapa di lihatin doang, pakai senyam- senyum segala. Cepat periksa mereka. Apa mereka baik- baik saja. "
Leony menatap wajah Sean dengan tatapan penuh selidik.
" Abang, dimana Abang menemukan bayi lucu ini. Jangan bilang kalau Abang merampok bayi dan memisahkannya dari Ibunya, atau jangan- jangan bayi ini adalah anak Abang yang Abang sembunyikan dariku selama ini. " Leony menunjuk wajah Abangnya.
Sean menepuk jidatnya sendiri, mendengar kekonyolan adiknya.
" Senakal-nakalnya Abang mu ini, tenang saja. Masih aman, bisa di percaya. Abang tidak akan mungkin berbuat sesuatu yang merugikan. "
" Iya deh, sudah. Abang bisa diam nggak, kalau Abang ngomong terus, kapan aku bisa memeriksa mereka. "
Leony mulai memeriksa dua bayi mengagemaskan itu.
" Eh, eh siapa dia Mas. " Tanya Naya yang baru keluar dari kamar mandi. "
Leony dan juga Sean saling pandang.
" Dia ini adikku, aku sengaja memanggilnya untuk memeriksa bagaimana keadaan baby twins. "
Naya duduk di pinggir ranjang memperhatikan apa yang di lakukan Leony.
***
Besok harinya, Asma mulai membuat janji pada Dokter Rara yang tak lain adalah Leony.
Asma bergegas memasuki sebuah ruangan
" Assalamu'alaikum. "
" Waalaikum salam. "
" Mari silahkan duduk. "
Asma duduk perlahan, di bangku tepat di depannya.
" Dok, saya kemari ingin melakukan pemeriksaan yang dulu. "
Rara tersenyum ramah pada Asma.
" Baik Bu, apa Ibu punya keluhan selama minum ramuan itu. "
Asma menggeleng pelan, Ia memang tidak merasakan mual- mual atau sakit kepala sebagai pertanda kalau dirinya tengah hamil.
" Saya baik- baik saja Bu, hanya saja beberapa hari ini saya agak kesusahan buang air besar. "
Rara tersenyum, Ia meminta Asma untuk rebahan guna pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah selesai memeriksa, Dokter Rara duduk kembali.
" Oh iya, mohon maaf Bu. Ibu bisa datang lagi kemari minggu depan. Soalnya hasilnya baru akan keluar minggu depan. Saya harap Ibu bisa bersabar, semoga hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan selama ini. "
Meskipun kecewa namun Asma menyetujuinya, tidak apa-apa juga menurutnya. Kan hanya satu minggu.
" Baiklah Dok, tidak apa- apa. Saya akan kembali lagi kemari minggu depan, terima kasih ya. "
Asma memutuskan kembali kerumah, namun lagi- lagi Ia mendapat sebuah kotak misterius lagi.
__ADS_1