
Asma kelelahan seusai melayani hasrat Danang, untuk itu Ia memutuskan untuk beristirahat ketika tiba di rumah, bahkan sampai Erlangga kembali dia masih enggan untuk bangun.
Angga pulang dengan wajah kusut, semua itu karena perdebatan nya dengan Kanaya beberapa jam yang lalu.
" Sayang, aku ingin mandi. Bisakah kamu bangun sebentar dan siapkan air hangat untuk ku. "
Asma yang masih sangat kelelahan enggan untuk bangun, Ia justru menarik selimut nya kembali sehingga hampir menutupi seluruh tubuhnya.
" Siapkan sendiri saja Mas, manja banget sih jadi orang. Kalau perlu itu Mas mandi pakai air dingin saja, biar sehat. " Jawab Asma
Angga hanya menghela nafas berat dan mengambil handuk yang baru, Ia terpaksa mandi air dingin. Sesudah mandi Angga kembali membangunkan istrinya, agar menyiapkan makan malam untuk nya namun lagi- lagi Asma menolaknya.
" Sayang, bangun dong. Aku lapar, temani aku makan ya. "
" Mas, bisa tidak Mas melihat ku istrahat dengan nyaman,aku lelah dan ngantuk. Lagi pula ada Ibu dan juga Susi, Mas tinggal minta tolong saja pada mereka. " Asma kembali menepis tangan suaminya dan berbicara dengan suara keras.
Angga menjambak rambutnya sendiri sambil berlalu keluar.
" Punya Istri tapi nggak bisa di harapkan, semua masih saja di kerjakan sendiri. " Gumam Angga seraya menuju ke meja makan.
Angga membuka penutup meja dan ternyata disana sudah tersedia berbagai
macam lauk dan juga sayurnya.
" Eh Pak Angga, Bapak mau makan ya, biar saya panaskan dulu sayurnya. "
Angga menoleh ke asal suara, Ia tersenyum melihat kedatangan Susi sang asisten rumah tangga.
" Ah iya Sus, aku ingin makan. Tidak perlu di panaskan, kamu cukup ambilkan aku nasinya saja. "
Susi mengangguk dan mengambil apa yang diminta oleh majikannya.
" Ini Pak, silahkan. "
__ADS_1
Angga menatap penampilan Susi dan tersenyum.
" Apa kamu sudah makan Sus. " Tanya Angga sambil tangannya mengambil lauk untuk Ia santap.
Susi hanya diam saja, Ia bingung harus menjawab apa. Sebenarnya Ia keluar dari kamar karena memang Ia belum makan sama sekali.
" Ambil piring mu dan temani aku makan. Asma sudah tidur, rasanya tidak enak kalau aku makan sendiri. "
Susi ragu namun karena Angga terus memintanya akhirnya Ia pun mengambil makan malamnya dan duduk berseberangan dengan Angga. Susi makan dalam diam, Ia hanya menunduk saja, takut kalau sampai Ia melakukan kesalahan.
" Makan yang banyak Susi, nggak perlu takut apalagi malu sama Aku. "
Susi hanya mengangguk sembari melanjutkan makan malamnya.
***
Akhirnya apa yang di takutkan Kanaya terjadi juga, Erlangga benar-benar membuktikan ucapannya untuk mereka dan kini keduanya bertemu di pengadilan.
" Sudah Naya, kamu yang tenang. Kita akan usahakan yang terbaik, aku juga tidak akan rela kalau hak asuh si kembar jatuh di tangan Pria itu. " Ucap Sean mencoba menenangkan Kanaya.
" Kehadiran saya disini hanya ingin meminta hak asuh anak saya agar jatuh ke tangan saya Pak, itu semua karena saya tidak yakin kalau tergugat bisa mengasuh anak saya dengan baik. "
Kanaya menghela nafas, Ia menoleh ke arah Sean yang duduk tidak jauh darinya atau lebih tepatnya berada di belakangnya.
" Saya punya alasannya Pak, tergugat bisa memberi pengaruh buruk pada anak saya karena tergugat selalu membawa Pria yang bukan muhrim nya ke dalam rumahnya. Karena hal itulah saya menginginkan hak asuh anak saya jatuh ke tangan saya. "
Kanaya sangat ingin memotong ucapan Angga namun coba Ia tahan karena mengingat ucapan Sean padanya beberapa saat yang lalu.
Berbeda dengan Kanaya, Erlangga justru tersenyum sinis. Dia begitu yakin kalau akan memenangkan persidangan nya kali ini.
Erlangga mengatakan semua yang menjadi poin penting untuk nya, yang bisa membuat para hakim mengabulkan permohonannya.
Umi Rahayu juga gelisah, mengingat semua yang sudah Erlangga lakukan pada Putrinya tentu saja beliau tidak tega kalau hal yang sama terjadi pada kedua cucunya.
__ADS_1
Tiba giliran Kanaya yang mendapatkan kesempatan untuk memberikan bantahan mengenai semua yang di ajukan Angga.
" Sebelum nya saya ucapkan terima kasih untuk waktu nya Pak, disini saya hanya menyampaikan beberapa hal yang penting saja. Saya tidak pernah melarang penggugat untuk menemui kedua buah hati kami, meskipun selama ini penggugat memang bisa di katakan tidak pernah memenuhi kewajiban nya sebagai seorang Ayah. "
Erlangga yang mendengar ucapan Kanaya langsung bereaksi, Ia tidak terima karena ucapan Kanaya yang terkesan menjatuhkan nya.
" Keberatan yang Mulia. " Ucap Angga lantang dengan mengangkat satu tangannya.
" Silahkan. "
" Saya tidak terima di katakan tidak memenuhi kewajiban saya sebagai seorang Ayah, itu karena tergugat sengaja menjauhkan saya dengan anak saya dan tidak memberikan saya waktu untuk bertemu dengan mereka. " Ucap Angga.
Kanaya berusaha tenang, Ia tidak mau satu saja ucapannya justru membuatnya kehilangan hak asuh kedua buah hatinya.
" Silahkan tergugat, apa saudara punya sanggahan mengenai apa yang di katakan penggugat. "
Kanaya menghela nafas dan mengangguk pelan.
" Terima kasih Pak. Sudah saya katakan sejak awal, bahwa saya tidak pernah melarang penggugat untuk menemui kedua buah hati kami tapi penggugat sendiri yang tidak menggunakan waktu yang saya berikan sebaik- baiknya untuk mengambil perhatian mereka sehingga membuat kedua buah hati kami ketakutan setiap kali melihatnya. "
Kanaya nampak santai sedangkan Angga, dia mulai nampak gelisah dan menahan amarah. Ia bahkan beberapa kali membuat keributan hingga membuat suasana ruang sidang menjadi gaduh.
Akhirnya sidang di tunda dan hampir saja terjadi keributan antara Angga dan pihak Kanaya, namun Bu Aminah dengan cepat membujuk Angga agar bersabar.
" Aku tidak bisa seperti ini Bu, bisa- bisanya dia mencoba menjatuhkan ku. Pokoknya bagaimana pun caranya hak asuh anak anak harus berada di tangan ku. " Ucap Angga, ambisi nya yang begitu besar sudah membutakan mata hatinya.
Bu Aminah terus mencoba mengingatkan Angga agar bisa menahan diri kalau ingin mendapatkan apa yang di inginkan nya, meskipun Bu Aminah sendiri tidak yakin kalau mereka akan memenangkan sidang kali ini.
Di tempat yang sama walau terpisah, Umi Rahayu memeluk Kanaya dan memintanya untuk tenang, meskipun beliau sendiri juga sedang gelisah.
Sean sendiri tengah berbicara dengan pengacara yang mereka sewa untuk membantu mereka memenangkan soal hak asuh si kembar.
Sean nampak manggut-manggut seolah membenarkan apa yang di katakan pengacaranya itu.
__ADS_1
Setelah selesai berbicara dengan sang pengacara, Sean kembali menghampiri Kanaya dan memintanya kembali menahan diri agar tidak terpancing oleh ucapan Angga. Kanaya mengangguk karena semua yang di katakan Sean memang masuk akal.