Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 58 Kemarahan Asma


__ADS_3

Asma marah besar ketika kembali membaca nota yang di kirimkan oleh orang misterius bersama kotak yang isinya hal yang mengerikan.


Bukan hanya sekali saja, pagi ini Ia juga menemukan paket kotak dengan isi yang sama.


" Bagaimana Ibu Asma Maulida, apa nyalimu masih kuat juga. Kalau kau masih berpikir menyakiti keluarga ku maka kau akan merasakan apa yang ada di dalam kotak itu. Pikirkanlah, jika kau masih sayang dengan leher dan kepalamu itu, maka aku meminta dengan hormat, berhentilah untuk mengganggu keluarga ku. "


Asma meremas kertas itu hingga membentuk bulatan kecil.


" Keluarga, siapa Dia. Siapa yang berani- beraninya mengancam ku. Apa ini kerjaan wanita sialan itu, atau orang lain yang mencoba melindunginya. Kau wanita pembawa sial, wanita brengsek. Bisa- bisanya kau datang lagi dan merebut semua yang sudah menjadi milik ku. " Erang Asma geram.


Asma menghamburkan semua barang- barang miliknya yang berada di atas meja riasnya, giginya gemeretuk serta matanya memerah dengan rambut berantakan.


Sisi baik dan juga sisi buruknya seolah membisikkan sesuatu padanya.


" Asma, terima saja semuanya dengan ikhlas. Ingatlah dengan hukum alam, bahwa apa yang kamu tanam maka itu pula yang akan kamu tuai. "


" Asma, kau akan di tinggalkan. Karena kau tidak punya anak maka kau akan sendiri, dia akan kembali berkumpul dengan anak dan juga Istrinya, hahahaha. ... "


Asma berteriak histeris sambil memegang kepalanya yang serasa berputar- putar, rasa takut kehilangan dan di tinggalkan membuatnya benar-benar frustasi.


Prang  !!!


Sebuah vas dari kaca juga ikutan hancur berkeping-keping berhamburan di lantai.


Bu Aminah yang mendengar kegaduhan di kamar sebelah segera berlari ke kamar Asma, beliau terkejut melihat kamar anak dan juga menantunya itu sudah tidak berbentuk kamar lagi.


" Asma, ada apa Nak. Kenapa kamu jadi seperti ini. "


Bu Aminah mendekat seraya mendekap tubuh menantunya, Asma menangis sejadi-jadinya di pelukan Ibu mertuanya itu.


" Sudah Nak, tenangkan dirimu dulu. Ayo duduk disana saja. Hati-hati Nak, jangan sampai pecahan itu melukai kakimu. "


Bu Aminah menuntun Asma agar duduk di ranjang, Ia takut wanita itu berbuat nekat karena disana banyak pecahan kaca yang bisa saja Ia gunakan untuk melukai dirinya sendiri.


" Sudah Nak sudah, sebenarnya ada apa. Coba ceritakan pada Ibu, ada apa sebenarnya sampai kamu menjadi seperti ini. " Tanya Bu Aminah pelan.


Asma mendorong tubuh Ibu mertuanya, matanya menatap penuh amarah.


" Tidak perlu bersandiwara, bukankah Ibu juga senang melihatku hancur seperti ini. Semua orang akan memandang ku rendah, wanita tak berguna karena tidak bisa memberikan keturunan. Setelah ini Ibu juga akan meminta Mas Angga untuk menikah lagi, iyakan. Kalian benar-benar kejam, manusia yang tidak punya perasaan. " Tuding Asma kasar.

__ADS_1


Bu Aminah perlahan berdiri dan kembali duduk di sisi ranjang.


" Asma, kenapa kamu sampai semarah ini. Memang benar kalau dari dulu Angga menikah agar bisa punya anak, dan kamu juga sudah tau mengenai hal itu. Asma, Ibu masih percaya padamu. Mungkin saat ini memang kalian belum di beri kepercayaan tapi bukan berarti tidak bisa punya anak kan. Kamu sudah pernah hamil, jadi tidak menutup kemungkinan kalau kamu akan hamil lagi. Berhentilah berpikir terlalu jauh, itu akan membuatmu strees dan akan berakibat tidak baik bagi kesehatan mu. "


Setelah perdebatan yang lumayan lama, akhirnya Asma bisa tenang dan memilih untuk diam.


" Istirahatlah Nak, biar Ibu yang bersihkan ini semua. "


Asma merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa bersuara, Ia langsung memejamkan mata. Bu Aminah segera keluar, beliau mencari Kotak P3K yang di simpannya di laci lemari ruang tengah.


Bu Aminah duduk di sofa sembari membersihkan luka di tangannya, luka yang Ia dapatkan karena tak sengaja menyentuh pecahan kaca ketika Asma mendorongnya dengan kuat.


Setelah selesai membalut lukanya, Bu Aminah bergegas kembali ke kamar untuk membersihkan semua kekacauan yang ada dikamar anak dan juga menantunya.


Tidak ada satupun yang terlewatkan, karena Bu Aminah takut anak atau menantunya akan terluka kalau tidak sengaja menginjak pecahan kaca yang masih bercecer.


***


Kanaya tersenyum ketika melihat layar ponselnya, dengan cepat Ia menerima panggilan telpon yang masuk ke ponselnya itu.


" Wa' alaikum salam, bagaimana kabarmu disana Aulia. "


" Alhamdulillah, oh ya ngomong- ngomong ada apa Lia. Apa ada sesuatu yang serius disana. " Tanya Naya lagi.


Naya mendengarkan dengan seksama apa yang di sampaikan sahabatnya sekaligus orang kepercayaannya itu.


" Apa !!!? Benarkah, lalu kamu jawab apa, apa kamu memberitahukan dimana alamat kami berada saat ini. "


"....... "


" Baguslah kalau begitu, aku lega sekali. Oh ya, kalau boleh biarkan saja dia seperti itu. Kalau perlu, buat dia percaya kalau butik itu memang sudah bukan milik kita lagi. " Sambung Naya lagi.


Naya menatap wajah kedua buah hatinya dengan penuh rasa bersalah.


" Maafkan Mama Nak, Mama terpaksa melakukan ini. Bukan maksud Mama untuk menyembunyikan kalian dari Papa dan juga Oma kalian, Mama terpaksa melakukan ini untuk kebaikan kita semua. Kelak jika kalian sudah cukup besar dan bisa mengerti semuanya, Mama janji akan menceritakan semuanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. "


Di markas king Cobra.


Albert marah besar pada orang kepercayaannya, entah sudah berapa puluh kali cambukan yang di terima oleh Pria yang selama ini sudah lama mengabdikan hidupnya pada Pria bule itu.

__ADS_1


" Bagaimana bisa kau seceroboh ini Ray, kau membiarkan rekan team mu di tangkap oleh King Leon. Apa kau tau apa konsekuensi yang akan kita terima setelah kejadian ini, sudah aku peringatkan kepada kalian semua. Dari pada mereka tertangkap lebih baik kalian habisi nyawa mereka, jadi tidak akan membawa masalah untuk kita. "


Ray merelakan dirinya terkena cambuk tanpa berucap apapun, namun satu hal yang pasti Ia tidak menyesal untuk itu.


" Kau sudah mengecewakan ku Ray. "


Albert diam beberapa saat sebelum akhirnya bersuara.


" Cukup, sudah cukup. "


Albert membuka matanya pelan.


" Aku mengampuni mu karena semua kerja keras dan juga jasamu padaku selama ini, jika kelak kau mengulangi hal yang sama maka aku sendiri yang langsung turun tangan. "


Tanpa melihat kondisi Ray, Albert pun meninggalkannya dalam kondisi mengenaskan.


***


Ray membuka mata pelan, entah sudah berapa lama Ia di biarkan pingsan, sampai- sampai darah di tubuhnya mengering dengan sendirinya.


Dengan sekuat tenaga yang Ia punya, Ray mencoba berdiri. Ia masuk ke sebuah ruangan yang menjadi tempat ternyamannya selama ini disana. Mengambil kotak P3k dan mengobati lukanya sendiri.


" Ssssssss ohhhhh. " Ray mendesis menahan rasa sakit ketika Ia membersihkan luka- luka di tubuhnya.


Bukan hanya satu atau dua, namun di sekujur tubuh Pria itu terdapat banyak luka, dari yang sudah jadi bekas sampai yang masih baru.


Ray mengambil sebuah foto lama yang Ia simpan di tempat itu, memandangi nya begitu lama. Terlalu banyak beban yang Ia tanggung selama ini, Pria itu bahkan lupa kapan terakhir Ia menangis. Kapan terakhir Ia tersenyum dan juga tertawa.


Setelah puas menatap foto lama itu, Ia meletakkannya kembali pada tempatnya. Sementara di luar terdengar kegaduhan.


" Cari dia sampai ketemu, dasar bodoh. Kenapa kalian semua bisa teledor dan meninggalkannya sendirian disana. Cari di sekitar sini, kalaupun Ia lari pasti belum jauh, karena Ia sedang terluka parah. "


Ray masih diam didalam ruangan rahasia itu, Ia tidak peduli apapun yang akan terjadi kedepannya. Hidupnya juga tidak ada artinya, itulah yang Ia pikirkan selama ini.


✴️✴️✴️


Assalamu'alaikum All readers yang baik hati, author disini mau mengucapkan terima kasih atas semua dukungan kalian. Jangan lupa untuk terus memberikan like dan juga komentar terbaiknya ya.


Oh ya, bagi yang punya yang gratis, misalkan Vote dan ads boleh di klik ya. Sekali lagi, terima kasih. Semoga yang sudah mampir dan juga sudah bersedia memberikan dukungan nya selalu mendapatkan keberkahan, Aamiin🤲

__ADS_1


 


__ADS_2