Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 93 Ketakutan Susi


__ADS_3

Susi menahan nafasnya ketika tubuh berat Angga menindih tubuhnya, bahkan nafas Pria itu sangat terasa menyapu wajahnya.


Perlahan Susi menggeser tubuh Angga agar jatuh ke atas ranjang, namun tubuh Pria itu sangat berat.


" Pak Angga, tolong turun. Bapak berat sekali, saya tidak bisa nafas ini. " Ucap Susi yang sudah tidak mampu menahan berat tubuh majikannya.


Angga mengangkat kepalanya yang terasa berat, Ia mengerjakan matanya. Fokusnya tertuju pada bibir merah wanita yang berada di bawahnya.


" Pak Angga, cepat turun. " Pinta Susi.


Angga mengucek matanya pelan


" Asma, kok kamu manggil Mas dengan panggilan Bapak. " Karena mabuk penglihatan Angga menjadi buram jadi Ia tidak begitu mengenali siapa yang ada di bawahnya saat ini.


Perlahan Angga mendekatkan wajahnya ke wajah Susi, tubuh Susi bergetar. Ia ketakutan setengah mati.


" Pak Angga, hentikan. Ini saya Susi, pembantu Bapak, bukan Bu Asma. "


Susi menahan wajah Angga dengan telapak tangannya agar tidak mencium bibirnya, Angga yang sedang di kuasai oleh minuman keras membuatnya tidak bisa mengendalikan diri.


" Hentikan omong kosong mu Asma, jangan banyak alasan. Jangan mengaku- ngaku sebagai pembantu di rumah ini hanya untuk menghindari tugas mu sebagai seorang istri untuk melayani suami mu. "


Angga menepis tangan Susi dan dengan rakusnya Ia menyesap bibir manis pembantunya itu.


Susi terus berontak, apalagi nafasnya sudah mulai tersengal karena kehabisan oksigen.


" Awwww....... !! " Pekik Angga ketika otongnya terasa sakit.


Plaaakkk........ Plaaakkkk !!!


Dua tamparan keras bersarang tepat di pipi Angga, meskipun mabuk namun tamparan itu masih bisa di rasakan oleh Angga. Susi mundur beberapa langkah karena ketakutan.


" Asma........ kamu...... berani beraninya kamu melakukan ini padaku. " Ucap Angga dengan suara keras karena geram.


Angga melangkah mendekati Susi yang sedang ketakutan, Ia jongkok di depan Susi dengan mata memerah karena menahan amarah. Bagaimana tidak, bukan hanya pipinya yang terasa panas tapi lato- larinya sendiri terasa kebas.


" Maaf Pak, maafkan saya. Saya terpaksa melakukan nya karena Bapak sedang tidak sadar melakukan nya. "


Susi memohon ketakutan ketika melihat tangan Angga yang melayang ke udara.

__ADS_1


" Sus.... Susi, ngapain kamu ada disini. " Ucap Angga tiba-tiba


Susi mendongakkan wajahnya, meskipun Ia masih ketakutan.


" Bapak, Bapak sudah sadar. Ma, maafkan saya Pak karena saya sudah berlaku kasar kepada Bapak. " Ucap Susi sedikit memohon dalam ketakutan.


Angga berdiri, Ia mengusap wajahnya kasar begitu juga dengan rambutnya yang di acak- acak menggunakan jari tangannya karena frustasi.


" Bagaimana bisa kamu tiba-tiba ada disini ha...... "


Susi yang ketakutan mencoba menjelaskan semuanya, Ia juga menunjukan gelas yang pecah berserakan di lantai. Angga lagi- lagi mengusap wajahnya frustasi dengan semua yang baru saja terjadi.


" Cepat pergi dari sini sekarang juga. " Usir Angga.


Susi mencoba berdiri dan lari keluar, Ia yang ketakutan langsung berlari ke kamarnya dan menutup tubuhnya di bawa selimut.


Angga sendiri menyentuh bibirnya sekita sekelabat bayangan yang Ia lakukan beberapa menit yang lalu menari nari di otak nya.


" Ya Tuhan, apa tadi aku melakukan nya dengannya. " Gumam Angga


Ia mencari ke seisi ruangan, mencari keberadaan istrinya namun tidak Ia temukan. Tubuhnya mulai terasa panas dan gairahnya membara namun tidak ada tempat untuk melampiaskan semuanya.


Angga berlari ke kamar mandi dan merendam dirinya di bawah guyuran shower. Lagi- lagi bayangan bibir manis asisten rumah tangganya menari- nari di ingatan nya, seakan begitu jelas Ia rasakan.


Susi bangun seperti biasa, tidak seperti biasanya Ia bebas melakukan semua pekerjaannya. Kali ini Ia memindai seisi dapur, sepertinya apa yang di lakukan Angga menyimpan trauma yang besar baginya.


" Ahhh ampun...... " Teriak Susi ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya.


PRANG !!!


Karena terkejut piring yang Ia pegang di tangannya jatuh ke lantai dan pecah, Bu Aminah terkejut melihat apa yang terjadi.


" Susi, kamu kenapa. Ini Ibu, kenapa kamu ketakutan seperti itu. " Tanya Bu Aminah.


Susi menoleh ke asal suara dan juga ke lantai, Ia melihat kekacauan yang Ia buat saat ini.


" Maafkan Susi Bu, maaf. "


Susi meminta maaf dan kemudian jongkok untuk mengambil pecahan piring yang berserakan di lantai.

__ADS_1


" Sudah, sudah Susi. Tidak apa apa, biar Ibu yang bersihkan, kamu coba tenang dan duduk disana. Kalau kamu seperti ini bisa- bisa pecahannya melukai mu. "


Bu Aminah memegang tangan Susi dan membimbingnya untuk duduk di kursi meja makan. Susi sendiri berusaha menolak karena Ia harus kembali bekerja.


" Sudah tidak apa- apa, biar Ibu bersihkan dulu. Setelah selesai baru kita buat sarapan sama-sama. "


Susi akhirnya mengangguk, Ia memandang kesana kemari takut tiba-tiba Angga sudah ada di sampingnya dan melakukan sesuatu yang menakutkan padanya.


" Sudah selesai Susi, oh ya. Kalau boleh tau kamu kenapa, kenapa kamu seperti ketakutan. Maafkan Ibu karena membuatmu terkejut, Ibu tidak berniat untuk mengejutkan mu. "


Susi mencoba mengendalikan diri, Ia menggeleng pelan masih dengan wajah ketakutan.


" Tidak apa apa Bu, Susi..... Maaf Bu kalau piringnya pecah, sebenarnya Susi semalam nggak bisa tidur karena Susi mimpi buruk. Sekali lagi maafkan Susi Bu, karena tidak hati- hati piring Ibu jadi pecah. "


Bu Aminah menggeleng pelan dan tersenyum, beliau tertawa kecil melihat raut wajah Susi yang ketakutan. Beliau justru merasa kalau wajah Susi saat ini nampak lucu dan menggemaskan.


" Sudahlah Sus, tidak apa apa. Hanya piring juga, lagipula ini bukan murni kesalahan mu. Ibu juga salah karena mengejutkan mu. Ya sudah, ayo sekarang kita bikin sarapan sama-sama. "


Susi mengangguk dan mereka kembali berkutat dengan peralatan masak.


" Oh ya Sus, apa malam tadi Bapak pulang. " Tanya Bu Aminah.


Susi lagi- lagi terkejut, mendengar kata Bapak saja sudah membuatnya ketakutan dan pisau yang Ia pegang akhirnya melukai tangannya.


" Kamu kenapa Susi. " Tanya Bu Aminah lagi ketika melihat Susi melepas pisaunya dan menutupi tangannya. Dari wajahnya juga nampak Ia sedang meringis.


" Kamu terluka. " Bu Aminah langsung berjalan tergesa-gesa mengambil tempat obat yang kebetulan ada di lemari.


Beliau membalut luka Susi dengan pikiran bingung tentang apa yang terjadi pada asisten rumah tangga mereka itu, kenapa gadis itu nampak sangat ketakutan.


" Sudah Susi, sebaiknya kamu istrahat saja di kamar. Ini semua biar Ibu yang lanjutkan. "


" Tapi Bu, Susi tidak apa- apa. Maaf karena selalu buat kekacauan. "


Susi merasa tak enak hati tapi dirinya benar-benar ketakutan.


" Sudahlah, tidak apa apa. Kamu ke kamar saja dan istrahat. "


Karena Bu Aminah terus memintanya istrahat akhirnya Susi pun menurut, Ia melangkah ke kamarnya dengan tetap memindai kiri dan kanan.

__ADS_1


__ADS_2