
Asma tidak sengaja berpapasan dengan Dokter Leony di sebuah pusat perbelanjaan.
" Ah i, itu kan Dok.....
Asma kembali mengingat apa yang di katakan Dokter Husna mengenai ruangan Dokter Rara, Asma yang awalnya ingin menemui Leony akhirnya mengurungkan niatnya.
" Ah...... tidak, di... dia hantu...... !!!! Ah tidak, apa dia mengikutiku sampai kemari. Tidak...... tidak, aku tidak ada salah apa-apa, kenapa dia harus mengikuti ku. Aku, aku harus pergi dari sini secepatnya. "
Asma bahkan meninggalkan semua barang belanjaannya, Ia lari terbirit-birit kembali ke mobilnya dengan nafas terengah-engah.
" Ya Tuhan, hei Dokter sialan. Pergi sana, jangan ikuti aku, pergi...... ! "
Asma benar-benar ketakutan, Ia bahkan memeriksa isi dalam mobilnya lebih dulu. Takut kalau sampai hantu Rara mengikutinya.
***
" Dimana anak itu. " Tanya seorang Pria dengan satu tongkat di tangannya.
Beberapa Pria di depannya hanya saling pandang, sejak kemarin mereka tidak melihat atasan mereka pulang.
" Belum pulang dari kemarin Bos besar. " Jawab salah satu dari mereka.
Si Pria mengayunkan tongkatnya dan dengan secepat kilat semua barang yang berada di ruangan itu berhamburan ke lantai.
" Lalu apa yang kalian lakukan, hanya diam saja disini tanpa melakukan apapun. " Bentaknya.
Beberapa Pria berlari keluar sementara yang lain masih setia disana.
" Ada laporan dari orang kita, mereka melihat terakhir kali Bos Albert berada di sekitar rumah sakit Cempaka Putih. "
Robert menatap bodyguard kepercayaannya itu.
" Perintahkan mereka untuk menangkapnya sekarang juga, bawa kemari. Jangan sampai anak itu membuat masalah untuk kita. " Titah Robert.
Malam hari beberapa orang menyusup ke sebuah ruangan, mereka sudah merencanakan ini sebelumnya.
Kreekkkย !!!! Dua orang berdiri di depan pintu
Mereka saling pandang karena pintu tidak terkunci.
" Tidak terkunci. " Ujar salah seorang dari mereka.
Meskipun begitu mereka tetap masuk, tanpa terdengar bunyi tiba-tiba keduanya terkejut karena seseorang tiba-tiba menyerang mereka dan mereka merasa tubuh mereka seolah kehilangan kesadarannya dan akhirnya tumbang.
Di luar beberapa Pria juga sedang terlibat perkelahian yang akhirnya mereka juga sama tidak berdaya.
" Do...... "
" Sttt...... ! Bantu aku memindahkannya kedalam mobil. "
Beberapa Pria melaksanakan perintah dari Bos mereka, membawa tubuh seseorang kedalam mobil.
" Tolong masukan mereka semua dan kembalikan ketempat asalnya.
Mereka menjalankan tugasnya tanpa meninggalkan jejak, mobil melaju dengan kecepatan normal sampai tiba ke tempat tujuan.
__ADS_1
" Sean yang mendengar deru mobil segera mengintip keluar, di tengah remang- remang Ia melihat seseorang yang mencurigakan.
Ia melangkah keluar dengan sebilah pisau lipat di tangannya, setelah dekat Sean melayangkan pisau lipat itu pada seseorang di tengah remang-remang malam.
" Ahhhh. " Jerit Leony.
Sean terkejut setelah mengetahui yang Ia anggap maling ternyata adalah adik kesayangannya.
" Ade.... ! "ย Sean mengusap wajahnya kasar.
Jantungnya hampir saja lepas, untung saja serangannya tidak kena sasaran karena Leony mampu mengelak. Meskipun begitu lengannya tetap terasa sakit karena berusaha menghindar dari serangan maut sang Abang.
" Abang, apa- apaan sih Abang. Ada ya seorang Abang mau membunuh Adiknya sendiri. "
Sean minta maaf, kalau sudah bersangkutan dengan Adiknya Pria itu pasti luluh. Adiknya lebih menyeramkan dari seribu harimau dan lebih mematikan dari seribu Cobra.
" Maaf De, lagipula kenapa malam- malam mengendap- endap dirumah sendiri. "
Leony baru mengingat kejadian tadi, mengenai tujuannya mengendap-endap seperti maling.
" Sttt, buruan Abang bantu Ade. Sini, jalan sini. "
Leony menarik lengan Sean dan membawanya ke sisi mobilnya, Ia membuka pintu belakang.
Sean terkejut melihat orang yang selama ini selalu memusuhinya ada di dalam mobil sang Adik.
" Albert......! De, ngapain dia ada disini. " Tanya Sean.
" Panjang ceritanya Abang, pokoknya sekarang yang terpenting adalah Abang bantu Ade dulu. Angkat dia kedalam sebelum ada yang melihatnya. "
Sean sebenarnya enggan, namun akhirnya luluh melihat sang Adik beberapa kali memohon.
" Sekarang ceritakan ada apa dan kenapa dengannya, kenapa dia sudah seperti orang yang sudah mati. "
Leony tersenyum, untuk membuat seseorang lumpuh bukanlah hal yang sulit baginya.
" Ah biasa itu Bang. "
Sean hanya bisa geleng-geleng kepala apalagi ketika mendengar cerita sang Adik.
" Lain kali jangan lakukan ini lagi, beritahu Abang kalau ada apa- apa. De, mereka itu sangat berbahaya, Abang tidak mau kamu kenapa- kenapa. "
Leony dengan santainya melangkah menghampiri kakaknya, Ia menyenderkan kepalanya di tempat yang paling nyaman itu.
" Tenang Abang, Leony pasti bisa jaga diri kok. Tidak akan ada yang bisa melukai Adik Abang ini, Leony kan kuat, siapa dulu dong Abangnya. "
Leony tau kalau Sean pasti akan marah dengan semua hal yang Ia lakukan, jadi Ia menarik tangan Sean agar memeluknya. Rayuan paling mujarab yang selalu Ia lakukan.
" Jangan dilepas Abang, biarkan begini. "
Sean lagi- lagi luluh, Ia memeluk Adik kesayangannya itu, mengelus kepalanya dengan sayang.
***
Pagi hari di markas King Cobra, mereka di kejutkan dengan beberapa dari mereka yang tertidur di luar.
__ADS_1
" Bukankah mereka yang di tugaskan membawa Bos Albert pulang, mana Bos Albert. Kenapa mereka pulang dengan kondisi seperti ini. " Gumam bodyguard Robert.
Ia menepuk-nepuk wajah para Pria yang sudah seperti mayat hidup namun tidak ada yang bereaksi.
" Apa mereka semua sudah meninggal. " Tanya salah seorang dari mereka.
Joseph menggeleng, sambil mengamati apa yang sebenarnya terjadi.
" Sepertinya mereka di bius, dan yang bisa melakukan ini adalah..... Wah menarik juga, bukan hanya Kakaknya yang sulit di taklukkan. Rupa-rupanya Adiknya juga, tapi lebih menantang sang Adik untuk di taklukkan. " Joseph tersenyum menyeringai.
Di kediaman Sean.
Leony dan Sean sedang sarapan, tiba-tiba Ray keluar dari kamarnya.
" Ray...... ! "
Leony langsung berlari seperti anak kecil dan bergelayut manja di lengan Ray, Ray bingung dan gugup sekaligus takut apalagi ketika melihat Sean ada disana.
Berbeda dengan Ray, Sean malah geleng-geleng kepala melihat tingkah Adik perempuannya. Di luar rumah Ia nampak bagaikan macan betina tapi di rumah Ia bisa bertingkah seperti anak kecil yang menggemaskan.
" Ayo, sarapan bareng. Sama Aku dan Abang. "
Ray masih enggan namun akhirnya Ia pun luluh setelah mendengar suara Sean.
" Kesinilah Ray. " Panggil Sean dengan tersenyum ramah.
Pagi itu mereka sarapan dengan tenang, sesekali Ray menatap Sean. Jujur Ia masih bingung dengan keadaan yang terjadi saat ini. Sean yang mengetahui Adiknya diam- diam menatapnya hanya bisa tersenyum agar Adiknya tidak semakin takut.
Di dalam kamar, Albert akhirnya siuman. Ia memindai seisi ruangan yang terasa asing baginya.
" Dimana aku sekarang. "
Albert perlahan bangun, Ia langsung ingat pesan Leony agar hati- hati.
" Leony..... ! Panggil Albert sambil melangkah membawa botol infusnya sendiri.
Hampir saja Ia terjatuh karena tersandung kursi namun dengan sigap Leony menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai.
" Kenapa turun dari tempat tidur, kamu masih belum pulih. "
Mendengar suara Leony, Albert memalingkan wajahnya. Ia menghela nafas lega.
" Aku pikir kamu sudah meninggalkan ku Leony. " Albert memeluk tubuh Leony.
" Hei, lepas. Enak saja kamu peluk- peluk Adikku. Menjauh sana, jangan modus. " Protes Sean yang tiba-tiba masuk.
Albert terkejut karena tiba-tiba di ruangan itu ada musuh bebuyutannya. Nyalinya ciut, harapannya tiba-tiba hilang setelah ingat bahwa wanita yang sudah membuatnya hampir gila belakangan ini ternyata adalah Adik dari musuh bebuyutannya.
" Abang, hati-hati. Dia sedang terluka. " Bisik Leony.
Sean mengepalkan tangannya, andai adiknya tidak ada disana mungkin Ia sudah menghajar Pria itu sampai pingsan.
" Albert, kembali ketempat tidurmu. Kamu harus banyak istrahat agar lukanya cepat sembuh. "
Albert mengangguk dan menggenggam erat tangan Leony yang membimbingnya sampai keatas tempat tidur.
__ADS_1
" Aku akan memperjuangkanmu meskipun nyawaku taruhannya, aku berjanji akan meluluhkan gunung es itu untuk mendapatkan mu. "
Sean menatap Albert dengan tatapan tidak suka, apalagi Pria itu seolah- olah sengaja menempel bagai perangko pada adiknya.