
Bu Aminah mondar-mandir di dalam rumah, sesekali Ia menatap ke arah pintu. Hingga malam tiba Asma belum juga pulang, hal itu membuat Ibu mertuanya khawatir.
" Dimana dia, apa dia marah soal tadi sampai jam segini dia belum pulang juga. Jangan sampai Angga kembali lebih dulu, kalau sampai itu terjadi maka mereka akan bertengkar lagi. " Gumam Bu Aminah.
Berulang kali Bu Aminah menghubungi nomor ponsel Asma namun nomornya berada di luar jangkauan.
Benar saja, pukul delapan Angga tiba di rumah namun Asma belum pulang juga.
" Assalamu'alaikum. " Angga mengucap salam sebelum masuk.
" Waalaikum salam Nak. "
Angga memindai seisi rumah, mencari keberadaan istrinya namun tidak Ia temukan. Ia menuju kamar mereka, karena lelah akhirnya Angga memutuskan membersihkan diri. Saking asyiknya Ia sampai lupa kalau sejak tadi Ia belum melihat keberadaan sang Istri.
" Bu..... ! " Panggil Angga setelah mengingat semuanya.
Bu Aminah yang sudah ada di kamar dan bersiap untuk tidur terpaksa keluar ketika mendengar Angga memanggil.
" Iya Nak, ada apa. Apa kamu ingin makan, semuanya sudah ada di meja. Ibu sudah lelah dan ingin istrahat. "
Angga merasa tak nyaman mendengar ucapan Ibunya, Ia tau bahwa Ibunya itu pasti kelelahan mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri.
" Nggak Bu, Angga sudah kenyang. Angga hanya ingin menanyakan soal Asma, sejak Angga pulang tadi Angga belum melihat dia ada dirumah. Dimana dia Bu, apa dia belum pulang sejak tadi. " Tanya Angga.
Bu Aminah menghela nafas berat, Ia bingung harus memberi alasan apa.
" Ah iya Nak, Ibu lupa kasih tau kamu. Tadi Asma sempat pulang tapi kemudian pergi lagi, Ia ijin ke tempat Tantemu. "
Angga mengerutkan keningnya
" Tante, maksud Ibu. Apa Asma ke Banjarmasin. " Tanya Angga lagi.
Bu Aminah menggeleng pelan dan menceritakan semuanya, Angga akhirnya kembali ke kamarnya lagi.
" Bodoamat, ngapain aku pusing mikirin dia mau kemana. Dia sudah besar, bisa jaga diri sendiri. " Batin Angga.
__ADS_1
***
Asma terbangun di pagi hari, Ia terkejut mendapati dirinya berada di tempat yang sangat asing baginya.
" Dimana aku. "
Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan itu, mulutnya menyunggingkan senyum melihat seorang Pria tidur seranjang dengan nya.
" Sayang, bangun sudah siang. "
Asma tersenyum akhirnya suaminya memaafkan nya dan tidak mempermasalahkan soal uang yang Ia habiskan. Bukan hanya itu, ternyata suaminya mengajaknya bermalam di hotel.
Seorang yang tidur bersamanya menggeliat seperti gaya setiap orang yang baru bangun tidur. Asma mengerutkan keningnya ketika selimut yang menutup tubuh Pria itu perlahan bergeser. Mulutnya melongo, Ia spontan menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
" Siapa kamu. " Tanya Asma dengan suara sedikit keras.
Sang Pria menoleh dan tersenyum nakal pada Asma, Asma mendadak merinding melihat Pria yang sekarang berada sekamar dengan nya.
" Kamu benar-benar hebat ya, aku tidak menyangka kalau dia mau menyewakan wanita penghibur sepertimu. " Ucap sang Pria di sertai tawa yang nampak mengerikan.
Asma bingung, Ia mencoba mengingat semuanya. Kenapa Ia sampai berada di tempat itu namun sekuat apapun Ia mencoba mengingatnya tetap saja tidak bisa.
Sang Pria justru semakin tertawa melihat kemarahan Asma.
" Mana ada maling yang mau ngaku, aku mengenal mu. Apa perlu aku ingatkan siapa dirimu Nyonya Wardhana. "
Asma sedikit ketakutan melihat tatapan Pria yang sedang bersamanya itu, apalagi tatapan mata Pria itu yang seperti singa kelaparan yang ingin menyantap mangsanya.
Asma semakin ketakutan ketika Pria itu semakin mendekat kearahnya.
" Eh kau mau apa, jangan bergerak, diam disana. "
Asma turun dari ranjang, ingin berlari namun Ia sadar tubuhnya saat ini sedang tidak mengenakan apapun selain selimut yang Ia pegang.
Sang Pria tersenyum menyeringai, tiba-tiba tangannya menarik selimut yang di gunakan Asma. Asma yang ketakutan berusaha menarik selimut agar tetap menutup tubuhnya, akhirnya terjadilah tarik menarik antara keduanya.
__ADS_1
" Percuma kamu teriak sayang karena disini tidak akan ada yang mendengar suaramu. Sebaiknya kamu diam dan layani aku seperti semalam. Aku belum puas menikmati tubuh indah mu itu. "
Asma mencoba mempertahankan dirinya dari cengkraman Pria itu, namun semakin Ia mencoba lari Pria itu justru semakin terlihat beringas.
" Berhentilah berontak, aku akan menyakitimu jika kamu terus mencoba melawan ku. "
Benar saja, Pria itu membuktikan ucapannya. Beberapa kali Asma meringis karena lengannya di cengkeram dengan sangat kuat, perutnya pun beberapa kali terkena pukulan pria itu.
Dengan tangis berderai akhirnya Asma hanya bisa pasrah membiarkan tubuhnya di nikmati oleh Pria yang tidak Ia kenal itu, pagi ini Ia benar-benar tersiksa. Entah sudah berapa lama Pria itu menyiksanya, semua gaya di lakukan Pria itu membuat Asma hanya bisa merintih merasakan sakit yang teramat menyiksa tubuh dan juga beberapa bagian inti miliknya yang lain.
" Hahahaha, aku menang. Makanya, jangan coba- coba bermain dengan ku. "
Asma samar- samar mendengar tawa jahat Pria yang baru saja membuatnya seperti berada di dalam neraka, sebelum akhirnya kesadarannya hilang.
Sampai siang Bu Aminah terus mencoba menghubungi nomor menantunya namun tetap sama.
" Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan. " selalu saja kata itu yang di dengar Bu Aminah.
" Kamu dimana Asma, kenapa sampai sekarang nomor belum aktif juga. " Batin Bu Aminah.
Pukul tiga sore Asma membuka mata pelan, Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Rasanya Ia tidak punya kekuatan untuk bangun, apalagi perutnya yang terus berbunyi.
" Aku harus pergi dari sini secepatnya. " Gumam Asma.
Dengan sisa kekuatan nya Asma mencoba bangun, Ia mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai.
Di carinya tas miliknya setelah selesai mengenakan pakaiannya, nasib baik karena tas miliknya ternyata berada di sofa yang terletak di kamar itu.
Asma memeriksa semua isinya dan menghela nafas lega, ternyata tidak ada satupun barang miliknya yang hilang.
Asma sempat berpikir apa yang di cari pria itu, motif apa yang melatar belakangi perbuatannya. Memikirkan itu membuatnya semakin lemah, akhirnya Asma memutuskan pergi meninggalkan kamar yang sudah menjadi saksi bisu hal mengerikan yang Ia alami beberapa jam yang lalu.
Asma merintih karena beberapa bagian tubuhnya terasa sakit, dengan susah payah Ia masuk kedalam mobil miliknya.
Air mata mengalir kedua sudut matanya, bukan karena rasa sakit yang Ia rasakan di sekujur tubuhnya namun bagaimana Ia bisa berada di tempat mengerikan itu yang membuatnya menangis.
__ADS_1
" Apa yang akan aku katakan pada Ibu dan juga Mas Angga, mereka pasti bertanya kemana aku pergi, kenapa aku sampai tidak pulang. " Gumam Asma.
Sepanjang jalan Ia memikirkan semua yang terjadi padanya, bagaimana keganasan Pria yang tidak Ia kenal itu di saat menggagahi tubuhnya.