Perselingkuhan Berakhir Penyesalan

Perselingkuhan Berakhir Penyesalan
Bab 98 Apakah Sudah Terlambat


__ADS_3

Sean memandang keluar melalui kaca jendela, sejak kemarin Ia terus memikirkan permintaan Kanaya, hingga terdengar sebuah ketukan pelan di pintu.


      " Masuk. " Sean menghela nafas sebelum mempersilahkan tamunya untuk masuk.


" Oh kamu Alvaro, mari silahkan duduk. "


Alvaro mengangguk dan duduk di kursi tepat di depan kursi kebesaran Sean, Alvaro langsung menanyakan perihal saudara sepupunya itu memintanya menemuinya.


Sean langsung mengatakan semua maksudnya pada Alvaro, Alvaro mengerutkan keningnya


      " Apa kamu yakin Sean, kalau kamu akan melakukan ini. Bukankah kamu yang meminta agar Pria itu mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini, lalu sekarang...... !? "


" Sudahlah Alvaro, lakukan saja apa yang aku perintahkan, aku punya alasan yang kuat untuk itu. " Alvaro akhirnya hanya bisa pasrah dan menuruti semua yang di katakan oleh Sean.


Di tempat berbeda


Bimo merasa aneh karena tiba-tiba saja Ia di hubungi oleh utusan dari pihak Alvaro, Bimo segera menemui Erlangga untuk menyampaikan kabar baik yang baru saja Ia dapat.


" Ada apa Bim. " Tanya Angga ketika sekertaris nya itu sudah ada di ruangannya.


Bimo menyampaikan semuanya dan tentu saja Angga merasa senang mendengar kabar yang di sampaikan Bimo padanya.


" Alhamdulillah, ternyata Naya masih peduli padaku. Diam-diam dia masih menyimpan rasa untuk ku, aku sudah bilang kan Naya. Tak segampang itu kamu bisa melupakan ku. " Batin Erlangga


" Ya sudah kalau begitu Bimo, kamu atur lagi jadwal nya, lebih cepat akan lebih baik. " Bimo mengangguk sebelum akhirnya pamit dan meninggalkan ruangan Erlangga.


Di kediaman Kanaya.


Kanaya sedang fokus pada laptopnya, sudah beberapa hari ini Ia nampak menyibukkan diri. Hal itu membuat Umi Rahayu berpikir kalau Putrinya sedang ada masalah.


Kanaya menoleh ketika mendengar pintu ruang kerjanya di ketuk perlahan, Ia tersenyum melihat kehadiran Ibunya.


" Masuk Umi. "


" Apa Umi mengganggu mu Nak. " Tanya Umi Rahayu, Kanaya menggeleng pelan.


Ia berdiri dan menyambut kedatangan Ibunya, membawanya duduk disofa.


" Nak, Umi lihat beberapa hari ini kamu sibuk dengan laptop mu. Apa ada masalah di kantor. "

__ADS_1


Kanaya lagi-lagi menggeleng, Ia tidak mau kalau sampai Umi Rahayu ikut memikirkan masalahnya saat ini.


" Nak, Umi ini adalah Ibumu, Ibu yang melahirkan mu. Jangan pernah merasa tidak nyaman pada Umi, katakan pada Umi kalau kamu ada masalah. Jangan selalu di pendam sendiri. "


Umi Rahayu mengelus pundak Putrinya


" Benar Umi, semuanya baik- baik saja. Perusahan juga stabil, hotel pun sama, butik juga lancar. " Jawab Kanaya.


" Lalu, bagaimana mengenai hubungan mu dengan nya. " Tanya Umi Rahayu kemudian.


Kanaya menghela nafas berat, inilah yang saat ini membebaninya.


" Entahlah Umi, bagaimana menurut Umi. " Kanaya justru menanyakan pendapat Umi nya.


Umi Rahayu menggeser tempat duduk nya, Ia duduk tepat di samping Kanaya.


" Umi terserah kamu saja Nak, sebentar lagi kan masa iddah kamu juga akan segera berakhir. Meskipun anak-anak juga membutuhkan sosok Ayah tapi Umi tidak bisa memaksa kamu harus bersama siapapun pilihan mu, semua keputusan ada di tangan mu Nak. Kamu yang menjalaninya, kalau kamu merasa sudah siap ya silahkan, begitu juga sebaliknya. "


Setelah beberapa hari memilih bekerja dari rumah, hari ini Kanaya akhirnya memutuskan untuk keluar. Ia memandangi penampilan nya pada pantulan cermin, hari ini Ia berniat untuk melakukan sesuatu hal untuk masa depannya.


" Apa aku hubungi dia saja. " Gumam Kanaya sambil meremas ponsel miliknya.


Di tempat lain.


" Sayang....... !!! Aku sangat merindukanmu. "


Sebuah suara menggelegar mengejutkan Sean, tubuhnya seolah membeku karena mendapatkan pelukan secara tiba-tiba.


" Sayang, kok kamu diam saja sih. Kamu tidak bahagia melihat aku kembali. " Tanya seseorang yang baru saja membuat Sean terkejut.


Sonia mengerutkan keningnya dan menatap heran ke wajah Sean yang nampak biasa saja, tidak terkejut atau senang melihat kedatangannya.


" Sonia, bisakah kamu menjaga sikap mu. "


Bukannya berhenti, Sonia justru semakin memeluk tubuh Sean bahkan mengecup pipi Pria itu. Ketika akan memberikan kecupan pada bagian bibir, Sean akhirnya bereaksi.


" Hentikan Sonia, kamu pilih duduk atau aku terpaksa panggilkan keamanan untuk....


Sonia terkejut, Ia tidak mengira akan mendapatkan penolakan dari Pria yang selama ini Ia incar.

__ADS_1


" Hello sayang, ada apa dengan mu. Aku jauh-jauh dari Australi dan kembali hanya untuk mu loh, seharusnya kamu senang kan. "


Sonia tidak menyerah, Ia masih berusaha menggunakan trik lamanya untuk menggoda para lawan jenisnya.


" Kamu duduk atau aku yang akan pergi. "


Sean terpaksa mengatakan itu karena mulai merasa tidak nyaman dengan apa yang di lakukan Sonia, wanita masa lalunya.


" Oh oke.... oke, aku akan duduk sayang. Tapi temani aku, aku ingin bicara dengan mu. "


Awalnya Sean menolak dan meminta wanita jadi- jadian itu untuk pergi, namun karena kelicikan Sonia akhirnya Sean ikut duduk di samping wanita itu.


" Baiklah, sekarang katakan padaku ada keperluan apa sehingga membuatmu datang kemari setelah menghilang bertahun-tahun lamanya. "


Sean melipat kedua tangannya di dada, melihat hal itu membuat Sonia tersenyum licik. Ia meraih botol minuman yang sebelumnya di berikan Sean dan menuangkannya kedalaman gelas. Ketika akan meminum tiba-tiba matanya menatap orang lain yang berdiri di depan pintu karena kebetulan pintu ruangan itu lupa di tutup.


" Ah....... " Sean mengibaskan tangannya dan mendorong tubuhnya sehingga kursinya ikut terdorong ke belakang.


" Kamu apa- apaan So.......... Naya....... !! " Gumam Sean.


Wajahnya seketika langsung pucat ketika melihat kehadiran Kanaya disana.


" Ah ma, maaf sayang. Biar aku bantu keringkan. " Sonia mengibas- ngibaskan tangannya pada baju dan juga celana Sean.



" Sudah cukup-cukup, aku bisa sendiri. "


Sean melihat kekacauan yang terjadi padanya, belum lagi di depannya saat ini ada orang lain yang begitu Ia perjuangkan selama ini.


" Maaf, karena saya mengganggu kesenangan kalian. "


Kanaya langsung pergi dengan setengah berlari, Sean berusaha mengejar kepergian Kanaya meskipun di halang- halangi oleh Sonia.


" Sayang, biarkan saja dia, kenapa harus di kejar sih, lebih baik kamu temani aku disini. " Ucap Sonia dengan menghalangi langkah kaki Sean.


Sean menepis tangan Sonia dan mencoba mengejar kepergian Kanaya meskipun Ia tidak berhasil karena Kanaya sudah menghilang setelah Sean tiba di parkiran.


Sean ingin mengejar namun mengingat kalau di ruangannya masih ada orang lain, Ia mengusap wajahnya kasar dan memutuskan kembali ke ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2